Diceritakan Ken Dedes tengah dilanda kebosanan akut. Images ayu anggun yang terlanjur menempel di jidatnya raib. Ia bolak-balik bak setrikaan kurang panas, langkahnya lebar, mulutnya mencebil gemas.
“Centini!!!”
Seorang gadis seumur kencur tergopoh menghadap, tangan disusun di atas kepala.
“Dawuh Gusti Ratu.”
“Suamiku sudah tidur belum?”
“Sejak jam delapan tadi Paduka sudah masuk kamar Gusti Umang, Gusti Putri.”
“Baguslah, ayo sekarang saatnya.”
“Tapi Gusti Putri ...”
Ken Dedes menarik Centini. Mengendap-endap menuju kamar Ken Arok. Ketika sudah di dalam Ken Dedes mengunci pintu lalu menggeser lemari jati tempat Ken Arok biasa menyimpan benda-benda pusaka.
“Lihat Centini, kubilang juga apa, di sini ada jalan rahasia.”
Centini diam, ia lebih berkonsentrasi pada jantungnya yang cenat-cenut.
“Ayo Centini kamu masuk duluan.”
“Saya tidak berani Gusti Putri.”
“Oalah dasar penakut. Ya sudah aku duluan.”
Ken Dedes menekan dua bola mata arca kala di dekat lemari. Tiba-tiba dinding bergeser perlahan.
Tanpa menunggu lebih lama Ken Dedes masuk. Centini yang kebingungan terpaksa mengikuti.
***
Rupanya jalan rahasia itu dipakai Ken Arok untuk melihat dunia luar. Ken Dedes baru menyadari ternyata selain gemar perang suaminya juga gemar traveling. Tapi kenapa harus sembunyi-sembunyi?
“Gusti Putri lihat itu!!!”
Centini menunjuk tepat di bawah ujung jalan rahasia. Di sana ramai sekali. Genderang bertalu-talu bersama nyanyian.
Ken Dedes terpekik. Ia menutup wajah dengan kedua tangan tapi masih bisa mengintip lewat celah-celah jari.
“Centini, mereka semua gila ya? Siang bolong begini telanjang!!.”
“Saya tidak tahu Gusti Putri,” Centini menyahut sambil mesam-mesem.
“Akh, kamu itu banyak tidak tahunya. Ya sudah kita datangi saja.”
Centini mengangguk. Berdua mereka menuruni bebatuan dengan luar biasa lamban. Ketika sampai di bawah, musik sontak berhenti. Kulit-kulit legam tak terbungkus terperangah.
Ken Dedes keki. Ia tidak suka dianggap aneh, maka diangkatlah dagunya, dipasanglah mimik anggunnya. Centini Sigap merapikan kainnya agar betis Ken Dedes yang bercahaya tidak menuai petaka kedua kali.
“Tepangken, kulo Ken Dedes ratu Tumapel. Panjenengan sinten? Kenging manopo kulitpun sami cemeng-cemeng?[1]”
Bengong. Suara merdu Ken Dedes menghentikan waktu. Hanya beberapa detik setelah itu hingar bingar. Orang-orang hitam itu berteriak-teriak tidak jelas, perempuan-perempuannya menjerit sementara anak-anaknya menangis.
Ken Dedes dan Centini berpandangan. Takut sekaligus bingung.
“Kamu ko. Asal mana ko dari?[2]” tanya lelaki yang paling besar dengan aksesoris paling banyak.
“Kulo Ken Dedes bukan Ko, Kulo Ratu Tumapel bukan Ratu Monako?[3]”
Ken Dedes geram, tidak terima dikatakan ratu monako. Adalah orang-orang itu kian ribut membangunkan semesta. Bisingnya dilarikan angin ke telinga bule ganteng yang tengah lelap dalam honai[4].
Bule itu bernama Peter Dheep. Sesuai namanya, wajahnya mirip-mirip aktor Hollywood Jhonny Dheep. Ia adalah doktor jebolan Harvard yang tergila-gila oleh bumi Papua.
“Ada apa ini ribut-ribut?”
Peter menyapu orang-orang. Saat membentur Ken Dedes, ia takjub. Wanita itu demikian elok. Seorang lelaki maju, dengan bahasa Indonesia cekak ia bertutur.
Peter mengangguk-angguk. Ia berpaling pada Ken Dedes dan Centini.
“Anda ini siapa dan dari mana, ada keperluan apa datang ke sini?”
“Saya Ken Dedes, Ratu Tumapel dan ini emban saya Centini.”
“Ken Dedes??” Kening Peter berkerut. Matanya mengamati ulang dandanan Ken Dedes yang memang menyerupai seorang ratu.
“Bagaimana bisa Anda sampai ke tempat ini, Tumapel sangat jauh dari sini?”
“Saya memakai jalur rahasia suami saya, Ken Arok.”
Peter takjub, wanita di hadapannya penuh kejutan.
“Memangnya ini di mana?”
“Ini Irian Jaya, satu dari ribuan pulau di Indonesia.”
“Negara apa itu Indonesia?”
Peter menggaruk kepala. “Indonesia itu Negara besar, lebih besar dari Tumapel.”
“Benarkah?” mata Ken Dedes berbinar. “Siapa rajanya, apa dia lebih hebat dari Ken Arok?”
“Rajanya presiden, mungkin lebih hebat mungkin juga sebaliknya”
Senyum Peter mengembang lalu diajaknya dua wanita kesasar itu untuk sejenak beristirahat, berkenalan dengan penduduk lokal.
Ken Dedes terbengong-bengong melihat honai yang menurutnya aneh dan tak layak huni, tak ada lemari apalagi pakaian ganti, tak ada cermin perak, gincu, jarik, ranjang kayu jati maupun bantal sutra untuk berlepas lelah.
Perut Ken Dedes berbunyi tapi bingung mau makan apa, tak ada makanan yang sesuai dengan lidahnya. Ken Dedes tidak betah. Itu bukan liburan yang diharapkan. Lalu Peter mengajaknya ke pemukiman khusus orang-orang tambang.
Tempat pertama yang didatangi adalah KFC karena dua wanita Tumapel itu benar-benar lapar. Di dalam KFC, mereka terheran-heran melihat orang, benda dan setiap aktifitas yang terjadi. Beberapa kali mereka dibuat meringis oleh soda cola.
Setelah KFC Peter mengajak mereka keliling mall, membeli beberapa baju, sepatu, tas dan make up yang tentu saja semua memakai uangnya karena uang Ken Dedes dan Centini ditolak mentah-mentah.
Ken Dedes berdecak. Mata bening bagusnya berkelebat dari wajah ke wajah. Betapa orang dalam mall itu rupa-rupa, ada yang berkulit putih pucat, kuning gading, cokelat, hitam legam, sawo matang dan putih bintik-bintik. Kesamaan mereka hanya pada ekspresi yang tak mau tahu. Ken Dedes sakit hati karena orang-orang itu sama sekali tak memandangnya apa lagi untuk menjura penuh hormat.
Ini jauh lebih buruk dari orang-orang hitam di lembah tadi. Walaupun mereka dekil dan kebingungan setidaknya mereka terpesona dengan kehadirannya. Hati Ken Dedes mencelos apalagi ketika dilihatnya orang-orang itu diperlakukan seperti ratu oleh gadis-gadis berseragam serupa.
Mendadak Ken Dedes ingin pulang dan Peter berbaik hati mengantar mereka sampai di depan jalan rahasia. Sebagai tanda terima kasih Ken Dedes menghadiahkan kalung emas pemberian Bhatara Wisnu kepadanya.
Diluar dugaan ternyata Ken Arok menyusul. Pria tampan temperamental itu rupanya pintar menerawang. Mereka bertemu di dalam lorong yang hanya diterangi obor. Ken Dedes pucat, takut kena hukum.
“Dari mana kamu Diajeng?” Ken Arok menyapu wajah istrinya kemudian beralih pada kantong plastik Mat***ri yang ditenteng Centini.
“Kang Mas, aku minta maaf.”
Ken Arok tersenyum demi dilihat wajah Ken Dedes kian pucat. Direngkuh bahunya mesra.
“Tidak apa-apa, bagaimana di luar sana, enak tidak?”
Ken Dedes menatap Ken Arok heran.
“Tidak Kang Mas, lebih enak di Tumapel. Aku bisa mati kesal kalau lama-lama berada di sana. Kang Mas, bagaimana kalau kita kuasai saja Indonesia itu.”
“Untuk apa?”
“Untuk dididik biar tahu tata karma. Mereka kok sombong-sombong sekali, tak menghargai aku Kang Mas, padahal kalau bukan karena aku mana bisa mereka seperti itu.”
Ken Arok tertawa. Dibelai rambut istrinya yang harum.
“Diajeng, sepertinya kamu harus lebih banyak mengheningkan cipta. Indonesia itu milik keturunan kita, kalau kita rebut sama saja kita mengacaukan sejarah, apa Diajeng mau dikutuk Sang Hyang Widi?”
“Tapi Kang Mas ....”
“Sudahlah Diajeng, jangan nggeremet terus nanti banyak kerutan.”
Ken Dedes tercenung, meski tidak puas ia tak berani membantah lagi. Mungkin saran Ken Arok untuk banyak mengheningkan cipta ada benarnya, hatinya belakangan ini memang kerap didera gelisah serta was-was tak berujung tak berpangkal.
“Inggih Kang Mas.[5]”
“Nah begitu dong, itu baru namanya istriku. Oh ya Kang Mas dibelikan sepatu tidak? Besok Kang Mas mau main futsal sama para tumenggung.”
“Tentu Kang Mas, Diajeng juga beli lingerie untuk Umang.”
***
NOTED : Keseluruhan cerita adalah murni fiktif/karangan author. Tidak ada keterkaitan dengan sejarah. Apabila ada yang tidak berkenan author menggunakan nama2 tokoh sejarah author memohon maaf yang sedalam-dalamnya.
Tidak ada sedikitpun niat author untuk menghina, melecehkan, memframing dll nama2 tokoh sejarah yang author gunakan ke arah yang buruk. Semua penggambaran karakter tokoh dalam cerpen ini murni fiktif, hanya rekaan author semata.
Author harap kita bisa menilai karya yang tidak seberapa bagus ini dari sisi yang positif. Adapun negatifnya mohon dimaafkan, lempar saja ke muka author ga pa2 diterima, apalagi kalo ngelemparnya pake gepokan merah sama biru, matursuwun pisan heheee..
Selamat membaca karya pertama author di noveltoon..
Hatur nuhun 😊
[1] Kenalkan, aku Ken Dedes Ratu Tumapel. Kalian siapa? Kenapa kulit kalian hitam-hitam ?
[2] Kamu siapa, asal dari mana?
[3] Aku Ken Dedes bukan Ko, aku Ratu Tumapel bukan Ratu Monaco
[4] Rumah khas Irian Jaya
[5] Iya Kang Mas
cover ; canva