Beberapa puluh menit lalu, Jimin mendapatkan panggilan dari ibunya bahwa kakaknya akan pulang dari Inggris. Mendengar kabar jika kakaknya kembali ke Korea membuatnya rela membatalkan semua jadwal meeting pentingnya dengan klien. Dia sangat senang karena bisa kembali bertemu dengan kakaknya yang sudah sekian lama tinggal di Inggris.
Namun, siapa sangka jika malam ini laki-laki itu akan mendapatkan satu peristiwa yang mengejutkan. Detik dimana dirinya tepat berada di dalam mansion milik kedua orang tuanya, dia terkesiap.
Pandangannya terkunci pada satu objek. Presensi seorang gadis cantik yang sudah berhasil mengambil seluruh ruang dalam hatinya tengah berdiri mematung. Pandangan mereka bertemu dalam kejut yang sama.

Hanna Aliensky.
Satu nama yang selalu tersimpan dalam hatinya. Yang sudah mewarnai kehidupannya. Senyum cantiknya, suara indahnya, sampai perhatian manisnya semua menjadi nilai lebih bagi Jimin untuk selalu mencintai gadis itu.
Namun, ada satu hal yang membuat mereka terpisah. Hanna memilih pergi tanpa memberikan alasan. Memilih mengakhiri hubungan tanpa berbicara secara baik-baik dengannya. Lebih memilih meninggalkannya dengan sejuta tanya dan menanamkan luka yang teramat dalam bagi Jimin.

Meski begitu, dia tak pernah lelah untuk mencarinya. Jimin masih ingin tahu alasan dibalik tindakan gadis itu yang memilih pergi darinya. Karena Jimin teramat mencintai gadis itu. Sampai kapan pun, takkan pernah ada yang bisa menggantikan posisinya. Bahkan dirinya sudah berjanji untuk menjadikan gadis itu miliknya, hanya miliknya.

“Sayang, kenapa melamun?” suara Seokjin membuyarkan segala keterdiaman. Kedua matanya melihat jelas bagaimana sang kakak mengelus sayang pipi Hanna dan bahkan telinganya mendengar cukup baik jika kakaknya memanggil gadis yang selama ini menjadi cinta pertamanya dengan sebutan istimewa.
Mungkinkah?
ᘛ°•ᘛ°•ᘛ°•ᘛ°•ᘛ
Seokjin belum menyadari kehadiran adiknya. Namun, saat melihat kekasihnya tengah mematung dan menatap lurus pada satu titik, akhirnya dirinyal mencoba mengikuti arah pandang kekasihnya. Tak jauh dari tempatnya berpijak, Jimin berdiri dengan raut wajah sendu. Dan, disaat suasana seperti ini, Seokjin menangkap satu firasat ganjil.
“Oh, Jimin? Kenapa hanya berdiri disana? Ayo, kemari!” ajak Seokjin seolah menghancurkan keheningan diantara adik dan kekasihnya.
Jimin mencoba tersenyum dan kini mulai mendekat. Satu senyuman getir yang seharusnya dia tunjukkan kepada Hanna yang tampak diam seribu bahasa.
“Kau semakin tampan, Jimin.”
Sang empu hanya tersenyum sebagai respons. Atensinya terkalihkan pada Hanna yang kini masih setia menatapnya dalam diam.
“Kau membawa seseorang, Hyung?”
Tatapannya semakin terfokus pada Hanna begitu intens. Seokjin tersenyum saat menyadari gelagat adiknya yang berbeda. Ternyata memang ada yang janggal disini.
Untuk mengklarifikasi segalanya agar lebih jelas, Seokjin merangkul bahu gadis disampingnya dengan lembut, dan dapat laki-laki itu lihat jika adiknya menunjukkan raut tak suka secara terang-terangan.
“Hanna Aliensky. Dia calon istriku. Eum.. Sayang, dia Jimin, adikku yang paling tampan.”
Dunia Jimin seakan berhenti berputar. Detik dimana kakaknya berhasil melontarkan satu kalimat menyakitkan dan mengejutkan baginya sangat fatal untuk keadaan hatinya. Telak menohok dan Jimin begitu yakin, jika takdir begitu senang mempermainkannya.
Hanna tersenyum sekilas. “Senang bertemu denganmu, Jimin.”
Drama macam apa ini? Batin Jimin tertawa miris.
Rasanya hati Jimin mulai memberontak saat melihat senyum dan mendengar suara gadis itu. Ingin sekali memeluk tubuh mungil Hanna dan mengatakan bahwa dia sangat merindukannya dan selalu mencarinya selama ini.
Namun, tampaknya terasa rumit untuk saat ini. Karena Hanna memilih untuk menjadikan kesan pertemuan mereka kali ini tampak seperti pertama kali, bukan kesan pertemuan kedua insan yang dulu sempat terpisah oleh satu tragedi.
“Tidak merindukanku, Han?”
Tatapan Seokjin berubah, begitu pun dengan Hanna yang kini semakin terpuruk dengan suasana saat ini. Namun, Seokjin mencoba tersenyum tipis, melirik kekasihnya yang masih setia terdiam lalu kembali menatap adiknya yang terlalu fokus menatap kekasihnya.
“Maaf, Jimin... Kita tidak seperti dulu lagi.”
“Aku tak pernah melepaskanmu, Han!” bantah Jimin dengan suara dominannya.
“Kau sebaiknya berpikir tentang ucapan calon istriku, Jimin! Jika kau tak melepaskannya, akan tetapi Hanna sudah berhasil aku miliki saat ini. Itu artinya, dia sudah memilih pergi dan melupakanmu.” final Seokjin.
Pada akhirnya Seokjin sudah tidak tahan dengan drama didepannya. Laki-laki itu sempat teringat dengan cerita Hanna perihal mantan kekasihnya yang berkhianat. Dan, dia langsung menyimpulkan jika laki-laki yang sudah berani menyakiti kekasihnya adalah adiknya sendiri ; Jimin Gavinlee.
Kalimat yang Seokjin ucapkan tadi telak membuat adiknya bungkam. Jimin tampak mengepalkan kedua tangannya menahan kesal. Awal pertemuan mereka setelah sekian lama berpisah, dimulai dengan saling bertaruh untuk bisa mendapatkan hati gadis yang sama-sama mereka cintai.
Yang lebih menyakitkan bagi Jimin adalah disaat Hanna seakan menganggap semua kenangan mereka sudah terlewatkan dan usang. Dan satu hal lagi, kenapa harus kakaknya yang menjadi pembatas baginya
Dunia memang sempit !
Dan kisah cinta rumit mereka dimulai dari sini.
ᘛ°•ᘛ°•ᘛ°•ᘛ°•ᘛ
Jimin masih belum bisa melepaskan Hanna seutuhnya. Tidak semudah itu setelah gadis itu sudah memenuhi seluruh ruang hatinya sejak dulu. Yang sudah banyak melewati berbagai macam kenangan manis yang selalu Jimin simpan begitu rapi dalam ingatannya.
Katakan jika dia memang egois karena masih ingin memiliki Hanna hanya untuk dirinya. Dia tidak akan keberatan jika gadis itu lebih memilih orang lain daripada dirinya. Tidak dengan Seokjin, yang tak lain adalah orang yang begitu dia hargai sebagai seorang kakak. Mungkin, jika Hanna memilih orang lain dia akan berusaha untuk melihatnya bahagia dengan pilihannya.
Meski kenyataannya dia memang tak akan pernah rela melepaskannya, namun dia akan mencoba melakukannya untuk kebahagiaan gadis yang dia cintai. Namun, jika itu Seokjin akan sangat sulit sekali untuk melepaskannya.
Malam itu, pada acara makan malam keluarga sekaligus penyambutan kepulangan sang kakak ke Korea menjadi malam terburuk bagi Jimin pribadi. Dimana, kedua orang tuanya tampak senang saat mendengar kabar jika kakaknya akan segera menikahi Hanna secepatnya.
“Ayah, Ibu... Aku berencana untuk menikah dengan Hanna akhir bulan ini. Bukankah lebih cepat lebih baik?” tanya Seokjin di tengah acara makan malam mereka.
Suara Seokjin menginterupsi semua anggota keluarganya. Dan kalimat singkat darinya berhasil membuat kedua orang tuanya tersenyum senang.
“Itu bagus, Sayang. Ibu senang mendengarnya.”
“Ayah juga senang mendengarnya. Jangan terlalu lama menunda acara pernikahanmu lagi, Seokjin” timpal Ayahnya.
Seokjin tersenyum begitu tampan, “Tentu Ayah.” tukasnya sambil menggenggam jemari kekasihnya.
Hanna menatap Seokjin dengan senyum cantiknya begitu pun sebaliknya, laki-laki itu balas tersenyum begitu lembut. Satu-satunya orang yang tampak tak menyukai topik pembicaraan saat ini hanya Jimin. Dia benci saat mendengar jika kakaknya akan segera memiliki Hanna dalam waktu dekat.
“Jadi, Jimin... Kapan kau akan melangsungkan pertunangan mu dengan Jessie?”
Jimin tiba-tiba tersedak. Ayahnya menyinggung soal Jessie di waktu yang tidak tepat. Hanna bisa saja membencinya karena hal ini. Sebisa mungkin, dirinya memberanikan diri untuk menatap kearah gadis itu yang kini tampak menatapnya balik dengan satu senyuman. Dan Jimin yakin jika Hanna tengah menampilkan sebuah senyum kapitalis.
Tiba-tiba, Jimin bersuara. Membuat semua yang berada di meja makan menatapnya dan memusatkan atensi penuh padanya.
“Apa Ayah dan Ibu hanya mementingkan kebahagiaan Seokjin Hyung saja? Bagaimana denganku?” tanya Jimin dengan nada serius.
Kedua orang tuanya menatap putra bungsu mereka penuh tanya. Mereka bingung sekaligus kaget dengan pertanyaan Jimin yang tiba-tiba dan tak biasanya.
“Apa maksudmu, Jimin? Ayah dan Ibu selalu memikirkan yang terbaik untuk kalian berdua.” sahut ayahnya.
“Aku tidak setuju dengan niat Seokjin Hyung menikahi Hanna. Karena dia milikku!” tukas Jimin mengklaim tanpa mau dibantah.
“Jimin, jaga bicaramu!” Seokjin sudah tak tahan lagi. Namun, Hanna sebisa mungkin mencoba untuk menggenggam jemari kekasihnya agar bisa menahan emosinya.
Jimin tersenyum remeh, “Lihatlah, bahkan kalian melayangkan tatapan tak suka padaku. Apa aku terlalu berlebihan?” tanyanya.
Ayahnya mencoba untuk meredam aura panas saat ini, “Tolong jaga sikapmu, Jimin. Jika dulu kau memiliki masalah yang belum selesai dengan Hanna, kalian bisa selesaikan terlebih dahulu. Kalian bisa bicara berdua dan menentukan pilihan terbaik untuk kedepannya. Jangan mengecewakan ayah!”.jelas lelaki paruh baya itu, mencoba untuk memberikan petuah kepada putranya.
“Tetap saja, aku tidak akan pernah bisa menerima kenyataan jika Seokjin hyung yang akan mendapatkan Hanna. Aku masih mencintai Hanna. Tolong mengerti diriku!”
Keras kepala. Tipikal Jimin sekali. Laki-laki itu benar-benar tak bisa menerima kenyataan. Sebab dia teramat mencintai Hanna sedalam ini.
“Jimin, jangan seperti ini, Nak...” ujar ibunya dengan raut wajah sendu.
Jimin menggelengkan kepalanya, mencoba menoleh kearah kakaknya yang tampak didampingi oleh Hanna. Gadis itu setia menggenggam jemari kakaknya dengan erat, seolah memberikan sebuah afeksi.
“Hyung, kau masih ingat dengan janjimu dulu?” tanya Jimin pada Seokjin dengan tatapan tajamnya.
Detik itu juga, Seokjin seolah dibawa oleh dimensi dari masa lalunya. Mencoba mengingat janji yang mungkin harus dia tepati saat ini. Dan, dia tak pernah melupakannya sama sekali.
“Aku menagih janjiku malam ini.”
Semua yang berada disana masih diam, mencoba menyimak semua yang diucapkan Jimin.
“Aku menginginkan Hanna.”
Satu-satunya alasan keluarga kecil ini terlihat rumit adalah hadirnya Hanna. Gadis itu menyadari sekali jika presensinya berpengaruh terhadap dua Putra Gavinlee. Bisakah waktu diputar kembali?
“Kau bercanda?”
Jimin mendengus senyum, “Aku hanya ingin menguji seberapa besar rasa yang kalian miliki. Aku ingin, Hanna bersamaku meskipun itu hanya satu hari saja. Jika dia tetap pada pendiriannya, maka aku akan mencoba melepaskannya untukmu. Namun, jika Hanna kembali goyah... Aku berharap, kau yang harus mencoba melepaskannya. Bagaimana?” tawarnya.
Kedua orang tuanya tampak menghembuskan nafas lelah. Mereka tak habis pikir dengan jalan pemikiran Jimin. Hanna benar-benar membuatnya menjadi orang yang tampak terobsesi.
“Kau tidak bisa melakukannya, Jimin. Tolong hargai kakakmu!”
Pada akhirnya sang ayah murka. Namun, Seokjin mencoba untuk bersikap dewasa disaat dirinya pun tengah menahan gejolak amarah.
“Ayah, tidak apa-apa. Aku mengerti dengan perasaan Jimin.” timpal Seokjin.
Hanna menatap kekasihnya dengan harap cemas. Jangan bilang, jika kekasihnya akan menyetujui permintaan dari Jimin?
“Kau keterlaluan, Jimin. Kakakmu sudah banyak berjuang untukmu.” timpal ibunya.
“Ibu... Ayah... Maaf... Tapi, aku hanya sedang mencoba untuk menguji mereka.”
“Kenapa kau tidak mencoba untuk membuka hatimu pada Jessie?”
“Ayah, aku mohon... Jangan bahas Jessie disaat seperti ini.”
“Ayah hanya ingin menyadarkanmu!”
“Kenapa ayah tak pernah mengerti aku?” tegas Jimin meminta keadilan.
“Sudah cukup! Jimin, kau jadi terlihat tak sopan kepada ayah dan ibu. Jangan terlalu banyak mengecewakan mereka. Baiklah, aku akan menepati janjiku. Kau puas?”
Jawaban Seokjin membuat Hanna dan juga kedua orang tuanya tak percaya. Sementara Jimin tampak tersenyum puas. Jika bukan karena janji dan Jimin bukan adik kandungnya, Seokjin sudah menghajarnya sejak awal. Jimin benar-benar sudah keterlaluan.
“Seokjin Oppa, apa yang kau katakan?” tanya Hanna tak percaya.
Seokjin mencoba untuk tersenyum dan mengelus sayang kepala kekasihnya, “Semua akan baik-baik saja, percaya padaku.” jawabannya.
Namun, Hanna tak menyukai hal ini. Dia lebih memilih pergi dari sana, meninggalkan semua orang yang kini tampak sibuk bergelut dengan pemikiran masing-masing.
“Han? Hanna?” panggil Seokjin.
Gadis itu sama sekali tak menghiraukan panggilan dari kekasihnya. Memilih pergi dengan perasaan kecewa.
“Aku akan coba berbicara dengan Hanna.”
Kalimat singkat dari Seokjin menjadi penutup percakapan mereka malam itu. Kini, semuanya meninggalkan Jimin di meja makan. Seokjin yang mencoba untuk mengejar kekasihnya, sementara kedua orang tuanya tampak berlalu melewati Jimin dengan raut kecewa.
“Ibu kecewa padamu, Jimin.”
Detik itu juga, Jimin seakan terpuruk dengan semua yang sudah terjadi.
“Apa aku terlalu berlebihan?” gumamnya.
ᘛ°•ᘛ°•ᘛ°•ᘛ°•ᘛ
Pagi ini, Jimin sama seperti sebelumnya, berdiri dengan pikiran berkelana di balkon apartemennya. Tubuh kekarnya dibalut kemeja putih dengan lengan yang dia lipat sampai siku. Dua kancing kemeja atasnya yang sengaja tak dikaitkan, serta kaki jenjangnya yang dibalut celana bahan warna hitam.
Mungkin, pagi ini dia memilih untuk berangkat lebih siang dari biasanya karena sungguh perasaannya cukup mengganggu kinerja otaknya. Tadi malam, bagaikan sebuah mimpi buruk. Dapat kembali melihat Hanna memang suatu kebahagiaannya. Akan tetapi, setelah mengetahui kembalinya gadis itu hanya dapat merusak hatinya dia sungguh kecewa dengan semuanya. Takdir begitu kejam mempermainkan hidupnya.
Terlalu sibuk dengan lamunannya, sehingga membuat dirinya nyaris tak menyadari seorang gadis sudah masuk ke dalam apartemennya dan menghampiri dirinya yang masih berdiri di balkon dengan kedua tangan yang dimasukkan pada saku celananya. Tubuh jangkung Jimin begitu indah dipandang dari belakang, aura dominan yang begitu kental selalu menjadi satu poin paling penting dalam mendeskripsikan laki-laki itu.
Namun, tak lama bagi laki-laki itu untuk tersadar dari lamunannya ketika mendengar ketukan heels pada lantai apartemen dikamarnya yang menggema. Dirinya teramat hafal siapa yang kini berada dibelakangnya, teramat tahu karena memang sudah terbiasa dengan kehadiran orang tersebut.
Jessie Andrews.
Seperti biasa gadis itu akan selalu mengunjunginya sepagi ini hanya untuk mengajaknya sarapan bersama atas permintaan kedua orang tuanya. Meskipun sudah beberapa kali dia tolak, gadis itu sama sekali tak pernah berhenti untuk terus mengusik paginya.
Kali ini Jessie sudah hampir melewati batasnya karena ketukan heels yang seirama dengan langkah gadis itu membuat Jimin membuka suaranya untuk menghentikan niat gadis itu yang semakin mendekatinya.
Tidak seperti biasanya, sebelumnya gadis itu hanya berdiri tak jauh darinya dan mengatakan padanya jika sarapan pagi sudah disiapkan di meja makan meskipun pada akhirnya dia tak pernah mencicipi sama sekali. Namun, kali ini berbeda dan membuat Jimin geram. Kalimat dingin dan tegasnya mampu menghentikan langkah gadis itu seketika.
“Pergi dan kenali batasan mu, Jess!”
Hening sejenak, tanpa menoleh pun Jimin tahu jika gadis itu tengah berdiri mematung dan masih mencerna segala ucapannya barusan. Dan dapat dipastikan jika gadis itu tengah memasang wajah sedihnya dan dia tak peduli sama sekali. Dirinya masih setia di posisinya, membelakangi gadis itu dan menutup kedua kelopak matanya sambil bernafas gusar.
Namun, ketukan heels itu terdengar kembali dan tampak cepat dari sebelumnya ditambah dengan sepasang tangan melingkar apik pada pinggangnya begitu erat membuat Jimin tersentak nyaris akan melontarkan umpatan untuk mencoba membuat gadis yang kini tengah memeluknya dari belakang untuk melepaskannya. Namun tercekat di tenggorokan begitu gendang telinganya mendengar sebuah suara lembut yang begitu dia rindukan selama ini.
Pelukan yang awalnya dia kira Jessie pelakunya, kini berganti dengan sebuah rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya setelah tahu siapa pemilik pelukan manis tersebut. Pelukan yang selalu dia rindukan dan selalu menjadi candu untuknya.
Hanna Aliensky.
“Kau mengusirku? Jahat sekali.”
Benarkah ini Hanna?
Lantas tak ada lagi alasan bagi Jimin untuk melepaskannya. Awalnya dia tak percaya, karena takut jika ini hanya halusinasinya saja karena terlalu banyak memikirkan gadis itu. Namun, ini benar-benar nyata.
Dengan sigap laki-laki itu berbalik dan membawa gadis itu ke dalam rengkuhan hangatnya. Membubuhi beberapa kecupan pada puncak kepalanya dengan sayang sambil mengeratkan pelukannya. Menikmati setiap detik kegiatan yang selalu dia rindukan selama ini.
“Hanna? Kau kembali? Kau benar-benar menerimanya?”
Hanna bergumam sebagai jawaban dan semakin membenamkan wajahnya pada dada bidang Jimin dan menghirup aroma maskulin disana. Aroma yang tak pernah berubah dan selalu membuatnya nyaman. Mengeratkan pelukannya seakan tak ada lagi hari untuk memeluk laki-laki itu seerat ini karena memang begitu adanya.
Mungkin?
“Aku sudah tahu semuanya, Jimin. Tadi malam aku bertemu Jessie dan dia menjelaskan semua kesalahpahaman saat itu. Maafkan aku, seharusnya aku tak mengambil kesimpulan tanpa mendengar penjelasanmu sama sekali.” sesal Hanna sambil menahan tangis.
“Tak apa. Aku lebih senang jika kau benar-benar memenuhi permintaanku. Dan tahu, jika semua yang terjadi adalah kesalahpahaman. Aku lega sekarang.”
Rasanya lega sekali mendengar hal itu. Selama ini hubungan mereka direnggangkan karena kalimat yang diucapkan Jessi yang membuat keduanya terpisah cukup lama dan harus menanggung beban lain setelahnya.
Hanna tahu alasan dibalik Jessie yang berbohong hamil oleh Jimin, karena dia mencintai laki-laki itu. Sama sepertinya dulu. Jessie melakukan berbagai cara untuk bisa membuat Hanna menjauh dari Jimin.
Tapi, malam tadi Jessie seolah menyesali semua perbuatannya dan menjelaskan semuanya tanpa ditutupi. Tak terlewat, gadis itu meminta maaf pada Hanna.
“Han?”
“Ya?”
“Jadi apa pilihanmu selanjutnya?”
Hanna melepaskan pelukannya dan mendongak untuk menatap pahatan wajah Jimin lekat. Tersenyum manis dan kembali memeluk laki-laki itu sehingga membuat sang empu tersenyum tampan namun perasaannya cukup gelisah untuk mendengar jawaban yang akan diberikan Hanna padanya.
“Satu hari penuh bersamamu. Aku akan memenuhi permintaanmu tadi malam.” imbuhnya sambil menahan air matanya yang tampak sudah memenuhi kelopak bawah matanya. Mata Jimin mulai memanas karena lagi-lagi harus mencoba untuk menerima kenyataannya.
Pada akhirnya, dia mengangguk menyetujui meskipun hatinya meminta lebih. Satu hari memang tak cukup baginya untuk bersama dengan Hamna karena pada dasarnya dia sangat menginginkan gadis itu selamanya berada dalam rengkuhannya.
Namun, Hanna masih tetap setia pada pilihannya. Menikah dengan Seokjin setelah perjanjiannya dengan Jimin selesai. Hal itu yang membuatnya tak lagi bisa bernafas lega setelah percakapan mereka tadi malam dan berakhir melihat air mata Hanna kembali.
Jika saja waktu bisa diputar, Jimin ingin mengulang kembali masa-masa dimana dia masih bisa merengkuh Hanna seutuhnya tanpa sebuah batasan.
“Tak bisakah kita bersama seperti dulu? Memulai dari awal bukan hal yang buruk, bukan?”
“Tidak, Jim. Mulai sekarang, ayo hidup bahagia dengan pasangan yang sudah Tuhan berikan pada kita. Aku mohon, biarkan Tuhan memberikan takdir masing-masing pada kehidupan kita.”
Pada akhirnya Jimin mencoba untuk tersenyum miris, tanpa melepaskan pelukan keduanya karena kali ini dia akan mengeluarkan segala kerinduannya pada gadis itu. Hanya satu hari dan dia harus memanfaatkan waktu itu untuk membuat Hanna merubah kembali perasaannya.
Jimin memilih bungkam dengan perasaan berkecamuk.
ᘛ°•ᘛ°•ᘛ°•ᘛ°•ᘛ
Sisi lain, Seokjin mencoba membuat pikirannya penuh dengan hal lain setelah dia menyetujui permintaan adiknya untuk memiliki kekasihnya meski hanya satu hari saja. Jika harus egois, dia sama sekali tak pernah menginginkan Jimin kembali menyentuh Hanna yang sudah jelas akan menikah dengannya satu bulan lagi.
Namun, entah apa yang membuatnya menyetujui dan berakhir dengan menyesali segalanya. Sangat menyesal karena sudah membiarkan Hanna kembali terjerat dalam skenario terburuk yang mungkin dia terima di kemudian hari. Lebih parah dari itu, dia meminta kekasihnya untuk menyetujuinya meskipun sempat ditolak mentah-mentah oleh gadis itu. Jika Seokjin lebih peka, Hanna menolak karena dia takut tak bisa menahan segala perasaannya dan berakhir melukainya.
“Kau sama saja membuatku selingkuh di depanmu dengan wajah bodohku. Sejak awal aku mencoba untuk menolak dan kau memaksaku untuk menerima permintaan itu. Aku bisa melakukan sesuatu yang lain untuk memperbaiki hubunganku dengannya. Tidak dengan cara seperti ini.”
Seokjin masih ingat raut wajah kekasihnya yang tampak sangat marah. Malam tadi, dirinya mencoba mengajak kekasihnya untuk berbincang mengenai permintaan Jimin.
Hanna benar-benar tak ingin kembali terjerat oleh masa lalu. Karena dia yakin, jika hatinya masih menyimpan sedikit rasa pada laki-laki yang sudah mengisi ruang hatinya selama hampir 5 tahun. Namun, Seokjin seakan membuatnya kembali untuk mengulang episode perjalanan keduanya yang sempat terpotong karena sebuah konflik.
“Kau sama saja membuatku kembali pada kenangan yang sudah aku lupakan dengan susah payah. Setelah kau datang, aku benar-benar sudah tak ingin kembali mengingatnya.”
Seharusnya tadi malam dia langsung menyetujui apa yang Hanna inginkan. Dia tahu, jika kekasihnya mencoba untuk tidak kembali terjerat pada masa lalu, sangat tahu. Meskipun dari tatapannya seakan menyiratkan kerinduan yang cukup mendalam pada adiknya.
Satu hari memang waktu singkat, namun dia yakin jika Jimin akan dengan mudah menjerat Hanna kembali. Mengingat hubungan mereka berakhir karena kesalahpahaman tak menutup kemungkinan jika mereka dapat memperbaiki semuanya dan memulai dari awal. Berakhir dengan dirinya yang ditinggalkan. Itu bisa saja.
Namun, Seokjin dan segala pemikiran anehnya menjadikan Hanna kalut. Meskipun sudah berulang kali gadis itu menolak, Seokjin tetap pada keputusannya. Meminta dirinya untuk masuk kembali dan mencoba memperbaiki hubungannya dengan Jimin sebagai permintaan maaf, hanya itu.
“Hanya satu hari tak akan lebih, Hanna. Setelah itu semuanya selesai dan kita akan menikah. Anggap saja sebagai permintaan maaf dan mungkin menjadi kenangan terakhir kalian berdua.”
Seokjin berujar dengan wajah yang begitu terluka. Hanna sadar, namun masih tak habis pikir dengan jalan pemikiran laki-laki didepannya yang bersikukuh membuatnya menyerah dan menyetujui dengan mudahnya.
“Bagaimana jika aku kembali jatuh cinta pada adikmu? Apa kau benar-benar akan melepaskanku dari jeratannya? Atau kau memang ingin melepaskanku menggunakan cara ini?”
Kalimat itu membuat Seokjin tertohok ditempat. Mungkin itu adalah salah satu dari ketakutannya saat ini. Meskipun dia yakin jika Hanna tak akan pernah mengingkari janjinya untuk tetap mencintainya. Tetapi, hati manusia terkadang sulit untuk diprediksi dan Seokjin semakin gelisah. Hanya dengan memikirkannya saja sudah membuatnya nyaris frustrasi.
“Aku tidak bermaksud untuk membuatmu lepas dariku. Aku juga tidak akan pernah melepaskanmu dan membiarkan hal itu terjadi. Aku tidak akan pernah mau merelakan mu sekalipun pada adikku sendiri. Aku mencintaimu, Hanna.”
“Lantas kenapa kau memaksaku untuk melakukan itu semua, Oppa? Kau tahu, aku seperti seseorang yang bodoh jika benar-benar melakukan hal itu.”
Seokjin berujar dengan berat hati, “Ini... Demi Jimin, adikku... Dan aku akan selalu percaya padamu. Aku janji.” tukasnya.
Pada akhirnya, Seokjin menyesal setelah kejadian semalam. Membayangkan bagaimana Hanna yang kini tengah bersama Jimin membuat hatinya terasa sesak. Menyibukkan dirinya dengan pekerjaan hanya tameng baginya untuk mengalihkan pikiran dari kekasihnya, namun selalu gagal.
Tak ada hal lain yang dapat membuatnya melupakan Hanna yang tengah bersama adiknya. Jangankan satu hari, satu jam pun rasanya dia tak pernah rela mengizinkan siapa pun menyentuh kekasihnya sama sekali. Bohong jika dirinya tak cemburu dan marah. Karena pada dasarnya sikap posesif adalah tipikalnya. Dan mulai detik ini, Seokjin Gavinlee tengah menikmati kesakitan yang dia buat sendiri.
“Jika itu yang kau minta, akan aku lakukan. Dan jangan pernah salahkan aku jika pada akhirnya aku kembali pada Jimin.”
Seokjin akan menikmatinya seorang diri sampai waktu dan keputusan Hanna yang menjawab semuanya suatu saat.
Dan Seokjin belum bisa memastikan jika suatu saat hatinya akan baik-baik saja ketika kenyataan pahit kembali menyapa kehidupannya yang sudah dia rajut sedemikian rupa untuk dia impikan menjadi sebuah kebahagiaan.
Hanna Aliensky.
Gadis yang memiliki sejuta pesona yang sudah berhasil memikatnya dalam sekali pandang. Dan tak akan pernah dia relakan untuk melepaskannya pada siapa pun terutama merelakannya pada adiknya sendiri sekali pun. Karena Seokjin teramat sangat mencintainya melebihi rasa cintanya pada diri sendiri.
Tetapi, dibalik semuanya dia menyimpan satu alasan kuat dia meminta Hanna untuk menuruti permintaan adiknya. Karena dia pun memiliki satu janji pada adiknya, dulu. Sebagai seorang kakak dan laki-laki, dia memang harus menepati janjinya meski hatinya harus terluka.
“Seokjin hyung, maukah kau berjanji satu hal padaku?”
“Apa itu?”
“Jika suatu hari nanti aku meminta satu permohonan padamu, aku ingin kau memenuhinya meskipun dalam keadaan apa pun. Apa kau keberatan?”
“Jika itu bisa membahagiakan adikku, aku tidak akan keberatan sama sekali.”
“Terima kasih, Hyung.”
Janji yang terucap saat keduanya akan menginjak masa remaja adalah hal yang paling Seokjin benci. Nyatanya janji itu ditagih untuk hal yang Seokjin haramkan.
Dan tadi malam Jimin seakan menagih janjinya dulu. Membawanya pada ambang kesakitan yang cukup mendalam. Dia memang sangat menyayangi adiknya, dulu dia selalu berjanji untuk membahagiakan adik satu-satunya. Namun, takdir begitu mempermainkan kehidupannya. Mereka mencintai gadis yang sama dan sama-sama tak ingin melepaskannya.
“Malam ini aku menagih janjiku.”
Satu kalimat yang tegas seakan membuat tenggorokannya tercekat. Adiknya yang dia lihat malam ini begitu berbeda. Adiknya yang sekarang tampak seperti musuh bebuyutan baginya. Tatapannya datar, raut wajahnya gusar terpatri begitu kentara. Lantas tak ada alasan baginya untuk mengelak karena dirinya sendiri pun sudah menyetujui permintaan Jimin.
“Aku menginginkan Hanna”
ᘛ°•ᘛ°•ᘛ°•ᘛ°•ᘛ
Hanna tengah sibuk berkutat di dapur karena sedang mempersiapkan sarapan pagi. Kebiasaan ketika gadis itu sempat menginap di apartemen Jimin dulu saat mereka masih bersama. Sementara, laki-laki itu tengah duduk dengan senyum tampannya yang tak pernah pudar dari bibirnya sambil terus memperhatikan gerak-gerik gadis didepannya dengan menopang dagu diatas meja.
Dia senang, Hanna bersikap biasa saja dan sama seperti dulu saat mereka masih sepasang kekasih. Bisakah dia berharap hari ini dan seterusnya pun sama? Tidak! Bahkan dirinya menginginkan lebih dari seorang kekasih.
Hanna memang terlihat tanpa ada rasa canggung sama sekali. Namun, hatinya tetap gelisah mengingat tadi malam sempat berdebat dengan Seokjin. Dia takut, pada akhirnya dia akan memilih pilihan yang mungkin akan menyakiti hati seseorang.
Di tengah lamunannya, Hanna dikejutkan dengan sepasang lengan kekar Jimin yang memeluk pinggangnya erat serta punggungnya yang bertabrakan dengan dada bidang laki-laki itu yang menghantarkan rasa hangat pada seluruh tubuhnya. Laki-laki itu pun menopang dagu diatas pundaknya dan bernafas dengan tenang disana.
Jantungnya tak bisa dikatakan baik-baik saja, karena sungguh baginya selama dia menjadi kekasih Jimin hal yang seperti ini selalu membuatnya gugup seketika.
“Memikirkan apa, hm? Nasi gorengnya bisa saja gosong karena kau terlalu banyak melamun, Sayang.” Jimin menghirup dalam-dalam aroma manis dari Hanna yang selalu menjadi candunya. Tanpa dia sadari membuat sang empu menahan gelenyar aneh dalam dirinya. Semacam, perasaan rindu yang sudah lama dipendam.
“Ji-min?”
“Hm? Kenapa?”
“Le–pas dulu!” cicit gadis itu.
Jimin menggeleng dan tangannya meraih tombol kompor mewah didepan Hanna dengan mematikannya dan segera mendudukkan tubuh mungil gadis itu pada meja pantri setelah berhasil membalikkan tubuhnya. Tubuh Jimin terhimpit diantara kedua kaki Hanna dan tangannya memeluk posesif pinggang gadis itu dengan senyum yang tak pernah luntur dibibirnya sehingga membuat gadis itu merona dan menunduk malu. Lagi-lagi Jimin tersenyum gemas melihatnya.
“Hei, tatap aku!”
Suara lembut itu membuat Hanna perlahan mendongak dan tatapannya bertemu dengan tatapan teduh laki-laki itu.
“Aku begitu merindukanmu, sangat. Jangan tanya seberapa besar, karena rindu yang aku pendam selama ini begitu besar dan tak bisa diukur oleh apa pun itu.”
Jimin semakin mendekatkan wajahnya pada Hanna yang kini semakin merona karena ucapannya. Bahkan hidung mereka nyaris menempel jika saja Hanna tak berusaha untuk semakin menekan dada Jimin agar memastikan jika laki-laki itu tak akan mengikis jarak mereka dengan mudah. Jimin terkekeh dan mengarahkan tangannya untuk mengelus lembut pipi berisinya dengan penuh kasih sayang.
“Aku merindukanmu, Han. Sangat merindukanmu.”
Semakin banyak kata rindu yang terucap di bibir Jimin, semakin lebih lagi laki-laki itu mencoba untuk mendekatkan wajah keduanya. Hanna semakin menahan dada sang dominan agar memberikan jarak yang cukup jauh dari sebelumnya. Namun, pada dasarnya kekuatan dirinya tak bisa menandingi kekuatan Jimin yang memiliki tenaga lebih besar darinya.
“Ji-min a–pa yang kau lakukan?”
Laki-laki bergumam dan semakin terkekeh gemas melihat Hanna yang semakin merona. Manis dan menggemaskan hingga Jimin harus benar-benar bisa mengontrol dirinya untuk tidak langsung berbuat lebih jauh.
“Maafkan aku, Hanna.”
Jimin tersenyum penuh arti, tangannya merangkum wajah bagian kanan gadis itu. Matanya sama sekali tak bisa lepas dari manik kelam milik gadis didepannya. Kembali mendekatkan wajahnya dan mencium ujung hidung Hanna sekilas dan menjauhkan wajahnya kembali untuk melihat ekspresi yang ditampilkan gadis itu saat ini.
“Jimin!”
“Hal seperti ini harus dilakukan tiba-tiba, sayang. Agar efeknya terasa begitu berkesan dihatimu...”
Kalimat yang Jimin ucapkan selanjutnya membuat Hanna lebih lama memahami arti dari semuanya. Karena Jimin tiba-tiba semakin mendekatkan wajahnya padanya kembali. Kali ini laki-laki itu tampak tak menerima jarak yang aman sama sekali.
“Maaf... Aku sangat merindukanmu dan tak bisa menahannya lagi.”
Maka tak ada lagi yang bisa menghentikannya untuk melakukan hal yang membuat jantung Hanna kembali berdetak lebih kencang dari biasanya. Jimin menarik tengkuknya dengan pelan dan menyatukan bibir keduanya. Membawa Hanna pada ciuman sarat akan kerinduan juga rasa cinta yang begitu dalam. Awalnya Hanna terkejut, namun tak lama dia memejamkan matanya untuk menikmati ciuman yang begitu membuatnya hanyut dalam perasaan dulu. Jimin tersenyum disela-sela ciumannya ketika kedua netranya melihat Hanna memejamkan kedua kelopak matanya.
Kini, keduanya pun hanyut pada pagutan yang didominasi oleh Jimin dengan penuh kelembutan. Tak ada nafsu, karena cinta mendominasi segalanya. Seakan-akan dirinya memberikan isyarat bahwa dia memang benar-benar mencintai Hanna sehingga memperlakukan gadis itu begitu manis.
Di tengah kegiatan mereka, Hanna tersadar. Jika dia kembali goyah. Dia merasa sudah mengkhianati Seokjin.
“Maafkan aku, Seokjin Oppa. Aku goyah.” isak batinnya.
Tanpa mereka sadari, Jessie tengah mematung diambang pintu dapur Jimin, menatap dengan tatapan penuh luka pada kedua orang yang tengah bermesraan. Lantas tak ada alasan baginya untuk bertahan lebih lama disana. Meninggalkan apartemen laki-laki itu dengan tangis yang mengiringi tiap langkahnya.
“Jimin—hiks”
ᘛ°•ᘛ°•ᘛ°•ᘛ°•ᘛ
Hanna berdiri di hadapan Seokjin dengan membawa satu keputusannya. Pilihan yang tulus dari hatinya. Setelah menghabiskan waktu satu hari bersama Jimin, Hanna menemukan satu perasaan yang tertinggal. Dia memang merindukan sosok laki-laki itu dan dia masih memiliki perasaan padanya. Katakan jika Hanna labil dengan perasaannya saat bersama Jimin. Dan hari ini, gadis itu akan menyatakan segala perasaannya pada Seokjin.
Sementara itu, Seokjin akan berusaha menerima semua keputusan kekasihnya meskipun pada akhirnya dia yang harus pergi. Dan itu adalah hal yang paling sulit baginya.
“Sesuai dengan permintaanmu padaku, Oppa. Aku sudah memenuhi syarat Jimin dan menghabiskan waktu satu hari dengannya. Dan aku meninggalkan satu perasaan pada saat itu.”
Seokjin sempat tercekat, namun laki-laki itu mencoba untuk menampilkan senyum getirnya. “Kau goyah, Han? Apa kau berubah pikiran dan ingin kembali pada adikku?”
Hanna balas tersenyum getir. Sementara itu, Seokjin merasakan gelisah dalam dirinya. Dia takut kehilangan Hanna. Keputusannya beberapa hari lalu memang salah dan dia sungguh menyesal. Tampaknya sang kekasih benar-benar merubah perasaannya.
“Ya, kau benar. Dan, aku benar-benar masih mencintai Jimin.”
Seokjin merasa jantungnya berhenti berdetak. Kalimat itu telak membuat hatinya sakit. Gadis yang selama ini memenuhi ruang hatinya berkata jujur soal perasaannya mencintai laki-laki lain secara lugas. Tampaknya bukan laki-laki asing bagi Seokjin. Hanna mencintai adiknya.
“Satu hari sangat cukup untuk menguji perasaanku, Oppa. Dan maaf, aku tak bisa lepas dari Jimin.”
Seokjin sudah mengira jika akhirnya akan begitu, Hanna akan kembali jatuh ke dalam pelukan adiknya dengan mudah. Mengingat hubungan keduanya renggang karena kesalahpahaman membuat Jimin dengan mudah meraih Hanna kembali menjadi miliknya. Mungkin kali ini dia harus rela melepaskan kekasihnga dengan mudah pada adiknya. Meskipun hatinya sesak dan dia sangat kecewa.
Dengan berat hari, Seokjin mencoba untuk berujar tegas, “Jika itu pilihanmu, aku akan...”
“Kau menganggap aku akan kembali pada Jimin?”
Sesaat, Seokjin dibuat kebingungan dengan pertanyaan Hanna.
“Bukankah kalimat yang kau jelaskan tadi bermaksud demikian?”
Gadis itu terkekeh riang, “Dasar bodoh!” tukasnya.
Dan tanpa basa-basi Hanna memeluk Seokjin. Awalnya laki-laki itu kebingungan, namun setelahnya dia membalas pelukan Hanna tak kalah erat. Tak lupa membubuhkan kecupan ringan pada pucuk kepalanya. Ternyata dia ditipu oleh kekasihnya.
“Aku pikir kau akan kembali padanya.”
“Satu hari bersama Jimin terasa berbeda seperti dulu. Rasanya canggung, dan kau tahu... Jika perasaanku sudah dimiliki olehmu, Seokjin Oppa.”
“Lalu bagaimana dengan Jimin?”
“Dia melepaskanku. Dan kami sepakat untuk menjadi teman.”
Seokjin bernafas lega, “Aku senang mendengarnya. Terima kasih. Aku mencintaimu.” tukasnya.
Hanna mengangguk dipelukan kekasihnya, “Aku juga. Maaf, aku pernah mengecewakanmu.” ujarnya.
“Tak apa, sayang. Yang terpenting, kau ada bersamaku.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Seokjin melepas pelukannya dan berlangsung membawa Hanna pada ciuman sarat akan cinta dan kasih sayang. Dia sangat bahagia bisa memiliki gadis itu tanpa ada rintangan lagi Sungguh melegakan, badai akhirnya selesai. Dan akhir bulan ini, mereka melangsungkan pernikahan. Keduanya tampak bahagia bahkan kedua orang tua mereka pun terkena imbasnya.
Kali ini, Jimin mencoba untuk menerima seseorang yang baru. Yang akan menjadi pengganti hatinya yang telah terbawa oleh Hanna. Dia mencoba membuka hati sedikit demi sedikit untuk bisa melupakan masa lalunya. Satu langkah yang berhasil membawanya pergi dari masa lalu. Mengenal seorang gadis yang bernama Choi Minha, salah satu rekan kerjanya sekaligus teman sekolah Hanna dulu.
Waktu bergulir begitu cepat. Pada akhirnya Jimin mulai terbiasa dengan kehidupan barunya setelah lepas dari perasaan masa lalunya. Minha membuatnya sedikit demi sedikit merelakan Hanna untuk sang kakak.
Sisi lain adalah Jessie, gadis itu memilih untuk menemukan pengganti Jimin. Sebab, dia tahu jika Jimin tak akan pernah bisa mencintainya. Maka dari itu, Jessie memilih pergi untuk menemukan kebahagiaannya.
Pada hari pernikahan Hanna dan Seokjin, kehadiran Jimin membuat kedua mempelai senang. Karena melihat Jimin yang membawa Minha sebagai pasangannya. Akhirnya, Jimin bisa tersenyum kembali. Membuka hatinya untuk kehidupan yang baru.
“Semoga kau bahagia, Hanna.”
“Aku akan bahagia bersama Seokjin Oppa. Dan kau, Jim... Tolong jaga Minha. Jika kau macam-macam, aku tidak akan pernah memaafkan mu. Dia teman baikku.”
“Tentu. Aku janji.” sahut Jimin sambil tersenyum. Kemudian beralih kearah kakaknya dan memberikan sebuah senyum penyemangat.
“Selamat, Hyung... Dan, maaf sebelumnya untuk semua yang sudah terjadi.”
Seokjin memeluk adiknya sekilas, “Lupakan! Berjanjilah untuk tidak menyakiti orang yang kau cintai. Tolong jaga Minha, bahagiakan dia.” pintanya.
“Tenang saja, Hyung. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.”
“Jadi, kapan kalian akan menikah?”
Pertanyaan dari Hanna sukses membuat pipi Jimin maupun Minha merona. Pertanyaan terlalu sensitif untuk mereka berdua. Gelak tawa dari Seokjin dan Hanna menular sehingga membuat mereka tertawa bersama-sama.
Pada akhirnya, badai sudah usai. Bukan hidup namanya jika tak pernah merasakan sakit dan jatuh. Oleh sebab itu, Tuhan telah menggariskan takdir masing-masing tanpa melebihi batas kemampuan ciptaan-Nya. Tuhan Maha Adil, Dia tak akan pernah membiarkan siapapun terlalu lama larut dalam kesedihan. Sebab, ada saatnya mereka mencicipi sebuah kebahagiaan sekalipun hal sederhana.
Jangan pernah menyakiti seseorang yang kita sayang dan menyayangi kita. Seburuk apapun mereka, cobalah untuk menghargai perasaan orang lain. Sebab, manusia tidak ada yang sempurna.
TAMAT