Seorang pria muda tampan berumur 23 tahun tengah berjalan menuju kebun mereka yang tak jauh dari desa yang ia tinggal. Desa Sekar Wangi namanya. Panji adalah nama pria tersebut hidup bersama ibunya seorang sedang ayahnya sudah meninggal saat dirinya berumur 5 tahun.
Memasuki kebun nya namun sebelum itu ia harus melewati pagar kayu sebagai tameng dari hewan-hewan buas yang menyerbu habis isi tanaman kebun nya. Saat memijakan kakinya di atas tanah kebun nya tiba-tiba sebuah cahaya menerpa di depan mata berubah menjadi sebuah istana besar nan megah.
"Apa yang aku lihat...? Sebuah istana besar? Bukankah yang aku masuk tadi adalah kebun ibu kenapa berubah menjadi istana besar...?" Tanya Panji heran dengan dahi berkerut kecil.
Karena penasaran apa yang terjadi kakinya terus melangkah namun dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara, saat melewati sebuah pohon apel tak sengaja matanya menangkap sosok cantik tengah tertidur di bawah pohon rindang. Kulit putih bibir merah layaknya buah ceri.
Panji memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri memastikan jika tidak ada orang yang melihat nya, dengan penuh kehati-hatian dia berjalan menghampiri gadis cantik yang sedang tertidur. Panji duduk di atas tanah berumput mengamati wajah halus nan putih itu.
"Apakah gadis ini adalah seorang putri dari kerajaan sana...?" bisik nya dalam hati sembari memegang dadanya yang berdegup kencang.
"Ada apa dengan diriku...? Kenapa jantungku berdetak kencang tidak mungkin aku menyukainya! Aku sudah memiliki pacar di desa" Gumam Panji menggeleng kepalanya pelan.
"Aku harus pergi dari sini" Panji hendak berdiri namun sebuah tangan menghentikan nya. Mata Panji melebar melihat gadis tertidur itu tengah melihat ke arahnya.
"Dia terbangun..." Batin Panji mendadak kaku.
"Tampan, sangat tampan" Gadis itu tersenyum dan langsung mendudukkan dirinya.
"Siapa nama mu tampan...?" Panji terhipnotis kala melihat senyum manis terukir di bibir ceri milik gadis itu.
"Seharusnya aku yang bertanya siapa kamu? Kenapa bisa ada di kebun kami...!" Panji berusaha tenang. Gadis itu terkekeh ia tahu jika pria di depannya tengah grogi akan dirinya.
"Namaku Putri Embun, dan di sana adalah kerajaan ayahku. Kami sudah lama menempati tempat ini sepertinya kau di takdirkan untuk bisa melihat kami" Putri Embun itu tersenyum manis pada Panji.
"Aku harus pergi dari sini sebelum aku tidak bisa keluar, mereka bukan bangsa manusia" Batin Panji.
"Aku tidak tahu jalan keluarnya bisakah kau menolong ku Putri...?" Tutur Panji menatap dalam mata Putri Embun. Gadis itu mengangguk sembari tersenyum tipis.
"Tapi kau harus berjanji untuk datang lagi, jika tidak maka aku tidak akan membantu mu" Seringai licik tersirat di wajah cantik Putri Embun. Tanpa pikir panjang Panji menyetujui nya.
"Baiklah" Putri Embun hanya diam tanpa sepatah katapun, Panji yang tahu bahwa gadis di depannya ragu ia pun kembali bersuara. "Tenang saja aku tidak mungkin mengingkari janjiku, kami sebagai pria pantang melanggar janji". Putri Embun tersenyum lebar tangannya terulur menyentuh Panji membuat Panji tersentak kaget.
"Ayo akan ku tunjukkan jalannya!" Masih dengan memegang tangan Panji keduanya pun berdiri lalu berjalan menuju jalan keluar. Saat berada di antara dua pohon apel Putri Embun pun berhenti.
"Apakah di sini...?" Panji menoleh sekilas lalu menatap dua pohon di depan nya. Putri Embun mengangguk kepalanya.
"Datanglah besok aku akan menunggu mu" Pinta Putri Embun dengan terpaksa Panji mengiyakan. Panji berjalan masuk di antara dua pohon apel dan tiba-tiba ia berada di luar pagar kebunnya.
"Syukurlah akhirnya aku keluar juga" Mengelus dadanya dan langsung pergi meninggalkan tempat misterius itu.
Saat sudah sampai di desanya Panji bertemu dengan Mila yang adalah pacar Panji. "Panji!" Panggil Mila. Panji menoleh ke samping yang di mana Mila berada.
"Kamu darimana...?" Tanya Mila tersenyum, Panji ikut tersenyum dan berjalan mendekati Mila.
"Aku baru saja dari kebun, kamu sendiri darimana...?" Tanya Panji balik, mereka berjalan beriringan dengan Mila memegang tangan Panji membuat pria itu menoleh sambil tersenyum. "Kenapa tidak ada getaran di hatiku saat Putri Embun menyentuh ku" Batin Panji namun dengan cepat Panji menyadarkan dirinya bahwa mereka berbeda dunia.
"Aku dari rumah ku dan akan menuju rumah mu, apakah boleh...?" Mila menatap wajah tampan Panji.
"Tentu saja kenapa tidak" Panji terkekeh kecil, Mila ikut tertekeh merasa nyaman berada di dekat Panji pria lembu dan baik hati. Mereka terus berjalan hingga mereka sampai di depan rumah Panji rumah berdindingkan kayu dengan atap menggunakan daun sagu, halaman yang tak terlalu luas dengan tanaman bunga berjejeran di samping rumah Panji terlihat sangat cantik dan anggun.
"Kamu sudah pulang Nak, oh ada calon ibu rupanya ayo masuk sayang" Ibu Panji tersenyum kala melihat Panji dan Mila masuk ke rumah. "Apa kau tidak membawa sesuatu Nak...? Apa pisang belum masak? Juga singkong kau tidak mengambil nya...?" Tanya Ibu Asri pada anak semata wayangnya.
Panji teringat kejadian di kebun mereka ia mengingat sosok cantik dan lembut Putri Embun membuat hatinya kembali berdetak kencang. Panji tersadar saat ibu Asri menyentuh pundaknya.
"Hehehe ibu aku lupa membawa karung juga parang besok aku akan ke kebun lagi" Jawab Panji. Dan benar memang saat pergi tadi Panji lupa membawa karung dan parang.
"Baiklah kalau begitu ayo kita makan dulu ibu sudah memasak jantung pisang rebus, pisang rebus juga ada singkong goreng ada buah-buahan juga" Jelas Bu Asri dan kedua sejoli itu mengangguk dan menuju dapur beralaskan tikar. Mereka makan berlesehan karena tidak mempunyai meja dan kursi alhasil mereka makan di atas tikar.
******
Pagi kembali hadir Panji sudah bangun dari tidur nyenyaknya hari ini ia akan menepati janjinya pada Putri Embun ia akan menemuinya kembali. Kali ini Panji menggunakan pakaian bersih jika kemarin ia berpakaian lusuh maka tidak dengan hari ini tak lupa pula ia membawa karung juga parang berjalan santai menuju kebun mereka.
Saat sudah berada di depan pagar kebun ia menarik napas panjang. "Apakah tidak salah menemui makhluk yang tak sebangsa dengan ku? Tapi aku sudah berjanji padanya bahwa hari ini aku akan menemuinya" Mendesah berat Panji menaiki pagar yang tak terlalu tinggi itu sama seperti kemarin saat kakinya menginjak tanah dirinya langsung berada di dunia lain dan betapa terkejutnya ia mendapati putri Embun di depannya.
"Akhirnya kau datang juga, aku sudah menunggu mu lebih dari setengah jam" Tutur Putri Embun.
"Sangat cantik" gumam Panji pelan. Memang benar Putri Embun lebih cantik dari kemarin, rupanya gadis itu telah menaruh hati pada Panji hingga membuat para pelayan nya untuk mendandaninya dengan berbagai macam serbuk kecantikan.
"Ayo aku akan mengantarmu ke istana akan ku perkenalkan dirimu pada ayah serta saudaraku" Ujar Putri Embun meraih tangan Panji namun dengan cepat Panji menggeleng.
"Tidak putri, aku tidak berani" Putri Embun tertawa pelan. "Tidak apa-apa jangan takut" Dengan langkah berat Panji mengikuti Putri Embun.
Mereka sudah sampai di istana besar itu para penjaga menunduk pada Putri namun juga heran dengan pria manusia di samping Putri raja tidak ingin ikut campur penjaga itu hanya tersenyum.
Putri Embun dan Panji memasuki istana besar itu butuh beberapa waktu hingga sampai di singgasana raja.
Raja Daren namanya ia terkejut kala Putri nya membawa pria dari kalangan manusia.
"Ayah" Panggil Putri Embun. Gadis itu menyeret Panji untuk duduk di sebuah kursi emas berdekatan dengan seorang raja.
"Ayah aku mencaintai Panji semoga kau tidak melarang ku" Putri Embun tiba-tiba berkata dengan mata memohon. Raja Daren yang tidak bisa memarahi Putri nya hanya bisa menghela napas lalu melirik Panji sekilas.
"Ayah tidak akan melarang keinginan mu tapi pria itu harus tetap tinggal di sini" Jawab raja Daren yang sontak membuat Panji menatap pada raja Daren.
"Maaf Putri, aku tidak bisa dunia kita berbeda" Sahut Panji menggeleng, Putri Embun membulatkan matanya begitupula raja Daren.
"Aku akan memberikan apapun yang kamu mau menikahlah dengan putriku dan tinggal di sini" Bujuk raja Daren yang tidak tega melihat putrinya itu sedih.
"Bisa saja aku menikah dengan Putri Embun tapi dia harus ikut dengan ku...!" Tegas Panji dan itu membuat raja Daren terkejut.
"Tidak bisa! Putriku akan mati jika dia pergi ke dunia manusia" batin raja Daren.
"Tidak bisa!! Putri ku Embun tidak bisa keluar dari area ini!" Bentak raja Daren menatap tajam ke arah Panji.
"Ayah jangan meneriaki nya!" ujar Putri Embun dengan linangan air mata. "Apa kau tidak mencintaiku Panji...?" lirih Putri Embun menatap sayu pada Panji. Ada sedikit rasa sakit di dada Panji.
"Aku mencintaimu Putri tapi dunia kita berbeda, kita tidak bisa bersama" Panji mengusap air mata di pipi gadis nya ia memberanikan diri mencium kelopak mata indah itu. Raja Daren begitu terpukul kenapa putrinya harus mencintai bangsa manusia yang akan membawa petaka bagi dirinya.
"Terima kasih sudah mencintai ku, pulanglah Panji sebelum kakak ku Guntur membunuh mu...!" lirih Putri Embun. Panji langsung beranjak sedikit tak rela harus berpisah namun itulah kenyataannya mereka tidak bisa bersatu, dan pada akhirnya Panji keluar dari kerajaan itu dan pulang menuju rumahnya membawa hati yang sakit.
******
Di tengah malam tepatnya jam 12 malam suara jangkrik dan burung hantu menjadi nyanyian orang-orang yang tidur Panji terkejut kala Putri Embun datang padanya dengan senyum merekah.
"Apa yang kau lakukan Putri...?" Tanya Panji menatap sayu wajah cantik namun penuh penderitaan itu.
"Aku lebih baik hidup dengan mu walaupun nantinya aku akan mati" Jawabnya dengan senyum manis.
DEG
Tubuh Panji mendadak kaku. "Pulanglah dan menikahlah dengan pria sebangsa mu!" Ujarnya menahan rasa sesak di dada.
"Tidak Panji! Aku akan tetap tinggal dengan mu, aku ingin selalu melihat mu berada di dekat ku kau sudah mengisi hatiku sepenuhnya jika kau tidak hidup bersama ku maka jiwa ini perlahan-lahan akan menghilang juga" Tutur Putri Embun dengan linangan air mata.
"Apakah tidak apa-apa aku tinggal dengan nya...? Baiklah keputusan ku sudah bulat aku akan bersama nya selamanya" Batin Panji bulat ia tersenyum tipis.
Namun tiba-tiba tubuh Putri Embun mendadak berubah menjadi tetesan air Panji terkejut dengan mata membesar.
"Putri apa yang terjadi...? Aku setuju aku akan tinggal bersama mu di istana!" Seru Panji khawatir dengan apa yang di lihatnya.
Putri Embun tersenyum lebar "Terima kasih sudah mau menikahi ku tapi sepertinya sudah terlambat tubuh ku akan berubah menjadi Embun kala aku menginjak dunia mu" Runtuh sudah hidup Panji matanya sudah berkaca-kaca hatinya ikut tersayat dengan tubuh Putri mulai berubah menjadi tetesan air. Jika saja ia tahu hal itu mungkin ia tidak akan egois dan mau ikut tinggal bersama Putri Embun.
"Kenapa? Apa yang sudah aku lakukan?!" Teriak Panji histeris kala tubuh Putri benar-benar lenyap bersamaan dengan cucuran air mengering.
Panji terbangun dari tidurnya dadanya naik turun peluh keringat membasahi wajahnya. Ia mengingat mimpinya tadi dirinya benar-benar takut namun tiba-tiba embun berjatuhan dari atas membasahi tubuhnya.
"Apa ini? Embun. Tidak! Tidak mungkin mimpi itu nyata" Lirih Panji meneteskan air matanya, di saat bersamaan bunyi guntur terdengar jelas memekakkan gendang telinga, sepertinya Guntur itu juga merasa kehilangan sama halnya dengan Panji.
"Apa yang sudah aku lakukan...?" Panji menekuk lututnya menenggelamkan wajahnya di atas lutut menangis merutuki kebodohan nya.
"Apakah ini akan menjadi akhir cintaku...?"
"Apa kau akan terlahir kembali Putri...?" Pertemuan singkat membawa diri mereka pada cinta yang tak semestinya pertemuan awal itu pula yang akan menjadi akhir bagi kisah antara Panji dan Putri Embun walau kisah mereka akan selalu di kenang dan di tulis dalam sejarah dunia Jin.
.
.
.
.
.
.
.
TAMAT
.
.
.
.
.
.
Jadi nih teman-teman cerita ku ini di ambil dari kisah nyata di kampung ku tapi aku sedikit tambahin ceritanya. Saudaraku cowok itu pernah di sukai jin cantik dan kerajaan mereka itu di kebun saudaraku hanya sekarang saudara ku sudah menikah memiliki anak enam orang