"Izinkan aku menikahimu! Aku mohon!"
Bahkan kalimat itu masih terngiang dengan jelas di pendengaranku. Lelaki yang hampir saja bisa aku lupakan itu kini kembali dengan membawa sebilah belati yang seakan akan menikam ulu hatiku, lagi.
Dengan senyum separuh aku mengejek kata-kata yang keluar dari mulutnya, 𝑏𝑢𝑙𝑠ℎ𝑖𝑡! Menikah katanya? bahkan aku tak pernah sudi menjadi bagian dari hidupnya.
Aku meneguk kembali coklat yang tadi masih ku kira panas, ternyata sudah cukup dingin. Sudah lama rupanya aku melamun, mengingat kembali ucapan pria yang sangat aku benci.
"Beri aku kesempatan sekali lagi...Nilam! Aku mohon!" Begitu ia mengiba padaku siang tadi.
Aku lagi-lagi menyeringai mengingat pria bejat itu. Kemana dia selama ini? Lima tahun aku hidup dalam ketidakwarasan, aku hampir gila. Ya, jika saja aku tak mengingat ada hidup seseorang yang masih harus aku perjuangkan.
***
Malam kian larut dan angin malampun kian menusuk kulit hingga ke tulang. Bukan tanpa sebab aku masih berada di luar malam ini. Sebuah mobil sedan mengkilap ini yang menjadi alasan mengapa aku masih terjaga.
"Ada apa lagi kau mencariku?" begitu ketusku padanya.
Hening mendominasi diantara kami. Helaan napas beratnya seakan menyiratkan seberapa berat pula ucapan yang akan keluar dari mulutnya. Aku menatap ke arahnya sejenak. Aku dapati ia tengah menerawang jauh ke arah depan yang gelap. Pandangannya telah menembus kegelapan yang sunyi dan mencekam.
"Kau tau...aku pernah menjadi seorang pembunuh dan...psikopat!" Ucapku tegas.
Seketika ia menoleh ke arahku. Alisnya yang tebal menukik tajam menikam sorot mataku yang sendu.
"A-pa maksudmu? Nilam!"
"Dia hanya sebesar ini!" aku memberinya isyarat lewat jari telunjuk dan ibu jari yang tak bertaut rapat, "tak lebih besar dari seekor cicak!"
"Nilam!"
"Aku membunuhnya!" Sergahku cepat, "...dan setelah itu aku memakannya!"
Mata elang yang kelam itu kian menikam ke arahku. Aku tetap tak peduli, aku segera beranjak dari sisinya. Melangkah pasti menuju kembali kedalam rumahku yang sangat sederhana. Di dalam sana ada seseorang yang tengah terlelap damai yang menjadi pusat hidupku.
***
Dengan tergesa aku menyusuri koridor rumah sakit ini. Lorong yang aku lewati terasa amat panjang dan sempit. Entah kenapa waktu tempuhku menjadi begitu lambat, padahal langkahku sudah beberapa kali lipat aku percepat.
Ah, aku tidak boleh kehilangannya. Karena dialah satu-satunya alasan untuk aku tetap hidup. Jika bukan karena dia, aku sudah mengakhiri hidupku sejak lima tahun lalu.
"Mbak Nilam!" tegur seseorang yang sudah sangat aku kenal. Perempuan cantik dengan bola mata bulat dan iris sedikit kebiruan. Dokter Clara, satu-satunya dokter yang bersedia menerima adikku menjadi pasien pribadinya. Entah karena apa dokter Clara dengan begitu tulusnya membatu aku dan adikku tapi yang jelas aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang sebaik dia di dunia ini.
"Bagaimana keadaanya?" tanyaku tak sabar.
"Kami akan melakukan tindakan operasi secepatnya! tapi..."! dokter Clara menggatungkan ucapannya.
"Katakanlah! apapun itu aku akan berusaha memenuhinya!"
"Kemungkinan untuk dia bertahan sangat tipis!"
Seketika tulang-tulang di tubuhku seakan lenyap. Aku merasa menjadi Avertebrata yang lemah tanpa ada tulang penompang di badanku. Aku kira kendalanya adalah uang. Bukan karena aku punya banyak uang untuk menyanggupi semua biaya operasinya, tapi aku akan melakukan apapun jika masalahnya adalah uang.
"Berapa persen kemungkinan dia bisa tetap hidup?" tanyaku tanpa niat.
"Semuanya tergantung pasien dan...!"
"Berapa persenpun itu, aku mohon segera selamatkan adikku!" potongku cepat dan mendapat anggukan dari dokter muda itu.
Detik yang terus beranjak semakin membuat detak di jantungku tak karuan. Perasaan sedih, bingung, takut semua bercampur dan mengaduk-aduk isi di kepalaku. Nayla adik kecilku yang belum pernah merasakan kesenangan hidup.
"Beri aku kesempatan sakali lagi Tuhan!" Do'aku dalam diam dan tangis yang tak dapat lagi ku bendung.
***
Semua orang di atas dunia ini selalu di berikan kesempatan kedua oleh yang maha kuasa. Begitupun dengan aku. Tuhan berikan hidup sekali lagi untuk adik kecilku Nayla dan lihatlah sang pencipta itu juga memberiku kesempatan untuk membahagiakan Naylaku.
"Lima tahun lalu adalah waktu terburuk dalam hidupku!" begitu aku memulai cerita di depan dokter cantik dan baik hati ini. Dengan ditemani secangkir capuchino panas dengan uap yang terus mengepul keatas seakan membentuk tarian dengan tiupan angin sebagai melodinya. Dokter Clara menatapku sendu, menanti kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulutku.
"...hari itu Tuhan memberiku kejutan-kejutan yang luar biasa!" aku tersenyum getir, menerawang saat dimana hidupku hancur dan melebur dalam kesakitan, "Ayah dan ibuku meninggal karena kecelakaan dan...Nayla yang saat itu baru berusia lima tahun baru saja di vonis oleh dokter mengidap penyakit mematikan! Dan kau tau apa kejadian yang paling buruk lagi di hari itu?"
Dokter Clara semakin menatapku penuh tanya, iris matanya yang kebiruan itu terlihat menikam menembus pada bola mataku. Aku menarik napas dalam, aku berikan seulas senyum samar ke arahnya sebelum aku lanjutkan cerita hidupku.
"Aku di perkosa oleh lelaki bejat yang tak punya hati! Saat itu...aku yang hendak mengambil pakaian di sebuah hotel untuk di loundry harus berakhir menjadi korban lelaki itu!"
Bersambung....