Janji Ratik Pada Senja
Petang itu, terakhir kalinya aku mendengar derai tawamu. Petang dimana sebelum kau ucapkan selamat tinggal untukku. Selamanya, kini kau pergi bersama hancurnya hatiku dan lenyapnya kenangan kita.
"Kau tau? Senja itu selalu datang tepat waktu...dia tak pernah mengingkari janjinya untuk kembali lagi esok hari!"
Masih setia aku menatap ukiran namamu di atas gundukan tanah yang masih basah. Aku lihat beberapa helai rumput liar mulai tumbuh di sekitar pusaramu. Sudah berapa lama kau tertidur sayang?
"Hai...aku datang! Apa kabarmu?"
Air mataku kini menggenang, mengenang semua tentangmu, tentang kita. Ratik yang aku rindu, Ratik kekasih yang selalu aku tunggu di setiap senja namun tak pernah datang lagi menemaniku menatap langit jingga.
***
"Aku tidak menyukai senja, kau tau kenapa?" tanyaku pada pemuda yang tampak berbinar menatap pada warna biru langit yang sebentar lagi akan berganti lembayung.
Tanpa memalingkan wajahnya ia menarik senyum tipis, tentu saja senyum itu untukku. "Suatu hari kau pasti akan menyukai senja!" desisnya.
"Bagaimana bisa kau seyakin itu?" Cibirku
Aku lihat wajah tampan itu terkekeh geli, senyum usil yang kerap kali kulihat akhir-akhir ini membuatku sedikit jengah. Belum lagi kalimat yang keluar dari bibirnya itu sungguh menyebalkan.
"Tentu saja aku yakin...kau pasti akan menyukai senja sama seperti kau menyukai ku!" ucapnya sembari mengangkat sebelah alisnya usil.
Aku berdecak, mengalihkan gemuruh di dadaku yang mungkin bisa di dengarnya jika saja aku tak segera berdiri dari sisinya. Belum sempat kakiku melangkah namun satu ayunan tangannya berhasil menangkap pergelangan tanganku dan membawaku duduk kembali didekatnya.
"Jangan mencoba lari dari sesuatu yang tidak kau sukai! kau tau, sesuatu yang tak kau sukai itu bisa saja akan menjadi sesuatu yang kau rindu suatu saat nanti!"
Aku beranikan diri menyelam kedalam manik kelam itu, aku dapati kesungguhan dalam kalimat yang di ucapkannya.Mungkin benar apa yang dikatakannya, suatu hari aku akan rindu, rindu dengan banyak hal.
"Hai nona...jangan menatapku seperti itu! nanti kau bisa jatuh cinta!"
Tentu saja kalimat itu membuatku sesegera mungkin berpaling. Dengan gaya usilnya yang super tengil itu membuatku gelabakan. Buru-buru aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan meninggalkannya yang pasti sedang menertawakanku.
"Kanina! mengapa kau tidak terima saja cintaku dan kita pacaran!" teriaknya dengan nyaring sembari mengejar langkah cepatku.
Aku tidak memperdulikannya. "Dasar gila!" pikirku.
"Kanina...yuk kita pacaran atau langsung nikah aja! bahahhaha...!"
"Tolong...ada orang stres!" pekikku berlari.
Dan kamipun meninggalkan petang yang perlahan bergulir menyambut senja.
****
Ini senja ketujuh aku menantinya. Berteman debur ombak dan langit yang kian menggelap. Aku mulai merindukan lelaki itu, lelaki yang selalu membuatku jengkel dan juga merona. Lelaki yang tiba-tiba saja datang dan membuat gaduh detak jantungku. Ratik Bagaskara, lelaki muda yang membuatku jatuh cinta pada senja dan juga pada dirinya.
"Ternyata kau tak menepati janjimu untuk datang!" lirihku.
"Siapa bilang aku tidak menepati janji?" tiba-tiba saja suara itu menyeruak dari arah belakangku, "aku ini seperti senja, tidak pernah ingkar janji dan selalu datang tepat waktu!"
Dan senyuman khas seorang Ratik itu kembali kulihat. Aku hamburkan diriku dalam pelukannya dan ia sambut dengan dekapan hangat yang menenangkan jiwaku.
"Lihatlah nona manis ini...sudah mulai merasakan rindu rupanya?"
Seperti biasa dia menggodaku. Aku tidak peduli.
Waktu terus saja beranjak tanpa memberi jarak di antara kami. Hari-hari yang terlewati rasanya begitu ringan dan indah. Senyuman dan tatapan matanya begitu memabukkan sampai aku terlena dan selalu ingin hanyut dalam derasnya arus jatuh cinta.
Ratik tak pernah memberiku waktu untuk bersedih, tak pernah memberi kesempatan untukku menjeda tawa. Ini terlalu sempurna, dan aku lupa bahwa kesempurnaan itu bukanlah milik kita.
"Kanina!"
"Kanina!"
"Kanina!"
Untuk ketiga kalinya aku mendengar ada yang memanggil namaku. Dan, "oh...ternyata aku tertidur begitu nyenyak!"
"Ratik?" gumamku pelan.
Aku beranjak dari tempat tidurku, aku lihat ia berdiri di ambang pintu kamarku dengan senyumnya yang selalu manis.
"Hei...kenapa malam-malam kesini?"
Lagi, dia hanya tersenyum. "Aku hanya ingin memastikan kalau kau tidur nyenyak...sayang!"
Aku tertawa mendengar dia menyebut "sayang" di akhir kalimatnya. Tidak biasanya kekasihku ini memanggilku dengan sebutan itu.
"Tidur lagi ya...masih malam!" ucapnya yang kemudian mengusap puncak kepalaku lembut.
Aku ambil telapak tangannya yang kokoh itu dan ku genggam erat. Dingin, itu yang aku rasakan pertama kali menyentuhnya, "kau memakai motor datang kesini?" tanyaku.
Tanpa menjawab pertanyaanku, Ratik kembali merengkuhku, memelukku dengan erat seakan begitu berat berpisah dariku malam ini.
"Aku pulang Kanina! Selamat tinggal...jangan pernah berhenti tersenyum!"
"Ratik?"
"Ssttt...tidurlah sayang! Aku akan menemanimu kala senja tiba."
"Ratik...Ratik?"
Sekejap mata ia menghilang dari hadapanku, tak kurasakan lagi dekapan hangatnya. Semuanya hilang dan lenyap seperti angin. Aku kehilangan Ratik dan aku baru menyadari bahwa itu ternyata hanya mimpi saat cahaya mentari yang cukup menyilaukan menembus pada celah jendela dan membangunkan ku.
Bersambung....
***