Di kedalaman laut yang gelap, saat belut listrik tengah sibuk menggoyangkan sirip mereka, seekor ikan lampu tengah berenang dengan tergesa-gesa.
Tidak tau apa tujuannya, tapi dia berhenti di depan sebuah lobang gelap dan sempit. Tak ada satupun ikan yang berenang di dekat sana.
Dengan rasa was-was, ikan lampu itu masuk ke dalam lobang gelap tersebut.
Setelah beberapa saat, ikan lampu itu tak kunjung keluar.
"Ke ... Kenapa i-ikan itu belum keluar juga?!" Gumam sesosok yang bersembunyi di balik sebuah batu di dekat lobang gelap itu.
🌊🌊🌊
Matahari mulai bersinar dengan terang menembus air bening lautan dalam.
Seekor duyung kecil terlihat sibuk menggoyangkan dua sirip kecil di balik rambut panjangnya. Bukan tidak ada alasan, dia selalu melakukan itu disaat perasaanya gelisah.
"Syren? Sedang apa kau? Kau baik-baik saja?" Tanya Turt si kura-kura kecil yang tiba-tiba muncul di belakang duyung tersebut.
"A-aku ... Baik-baik saja, Turt." Jawab Syren dengan wajah terkejut.
Syren adalah nama seekor duyung cantik yang memiliki ekor berwarna hijau terang. Dia seekor duyung yang ceria dan penuh semangat.
Dia selalu berbaur dengan penghuni laut lainnya. Namun, ada satu hal yang tidak diketahui oleh siapapun, termasuk Ibu Laut. Syren bermimpi untuk pergi ke daratan dan melihat festival manusia.
Tapi, tak ada yang bisa dilakukan Syren saat hukum laut melarangnya untuk mendekati wilayah daratan apalagi manusia.
Namun, keinginan mutlak sang duyung kecil, membuatnya mencari cara agar dia bisa melihat daratan. Selain itu, jika Syren ingin pergi ke daratan, dia harus memiliki sepasang kaki agar dia bisa berjalan. Hal itulah yang membuat Syren gundah.
Saat bermain bersama duyung lain, dia mendengar rumor bahwa ada duyung hitam di pelosok dasar lautan dalam yang memiliki kekuatan untuk memenuhi semua keinginan dari duyung, apapun keinginan itu pasti bisa ia penuhi.
Karna hal itu, semalam Syren sudah menyelidiki lokasi duyung hitam.
Malam ini dia berencana untuk kesana dan meminta bantuan duyung hitam tersebut walau itu sangat beresiko.
🌊🌊🌊
Malam pun menjelang dan perlahan semakin larut dan gelap.
Syren sudah siap untuk melakukan misinya malam ini. Dia hanya berharap tidak banyak belut listrik yang berkeliaran.
1 jam kemudian ...
Syren sampai di depan mulut lobang gelap itu. Disitulah duyung hitam itu tinggal.
Duyung kecil itu terlihat ragu untuk melanjutkan aksinya. Dia merasa gugup dan takut, tapi rasa takutnya itu hilang ditelan rasa ingin melihat daratan yang di dengarnya sangat indah dan menarik.
Tanpa pikir panjang lagi, Syren segera berenang masuk ke dalam lobang gelap itu.
🌊
Di dalam lobang gelap itu terasa begitu dingin dan sempit. Tiba-tiba, beberapa ikan lampu menghampiri Syren yang tercegat tak berkutik.
"Hei ...!!! Apa yang kau lakukan disini ikan kecil?!" Bentak salah satu ikan lampu yang bergigi tajam itu.
Dengan segera Syren menjawab.
"A-aku ... Ingin bertemu dengan Nyonya duyung hitam! Apa aku boleh bertemu de-dengannya sekarang?!" Karna gugup Syren terbata-bata saat menjawab.
"Ohh ...! Pelanggan! Baiklah! Ikut aku sekarang!" Suruh seekor ikan lampu.
Dengan segera Syren mengikuti di belakang ikan lampu menakutkan itu.
Belasan mutiara bersinar terlihat berjejer di sepanjang lorong gua laut itu. Syren tak menyangka bahwa di dalam lobang kecil dan gelap itu ada tempat luas dan indah seperti ini.
"Kita sudah sampai! Masuklah ke dalam situ! Masuklah dengan senyap! Jangan berisik!" Jelas ikan lampu itu dengan tegas.
"Ba-baiklah ...!" Angguk Syren dengan gugup.
🌊
Terlihat sebuah lengkungan batu karang yang berlumut dan di tutupi oleh rumput laut bagaikan tirai. Dibalik sanalah sang duyung hitam berada.
Rasa gugup dan cemas mulai menyelimuti jiwa Syren. Dengan hati-hati, duyung itu masuk ke balik tirai itu.
Di sana, sebuah mutiara besar bercahaya terletak di atas meja batu yang bundar. Tak terlihat siapapun di situ.
Syren mulai menoleh ke kiri dan kanan mencari keberadaan sang duyung hitam.
"Hohoho ... Ada makhluk cantik yang menemui ku malam ini." Ucap seseorang di dalam kegelapan dinding gua.
Syren tercegat di tempat. Dia begitu takut sehingga tak dapat berkata-kata.
Dari balik kegelapan itu, tiba-tiba muncul seekor duyung yang memiliki ekor berwarna hitam. Anehnya, duyung itu tidak berenang melainkan dia duduk di atas kursi karang yang di bawa oleh dua ekor ikan lampu.
Wajah duyung hitam itu tidak jelas terlihat karna tertutup rambut hitamnya yang panjang dan lebat.
"Duduk lah, cantik." Suruh duyung hitam itu dengan suara yang pelan.
Dengan rasa was-was, Syren mendekat ke arah kursi batu di dekat meja bundar itu.
"Katakan ... Apa yang membawamu hingga ketempat terbuang ini?" Tanya sang duyung hitam.
Syren menelan salivanya, "A- aku ... ingin meminta bantuan dari Anda."
"Bantuan? Apa itu? Bantuan seperti apa yang kau inginkan?" Tanya duyung hitam itu kembali.
"Se ... Sebenarnya, Aku ... Ingin pergi ke daratan manusia." Jelas Syren dengan gugup.
Seketika kedua ikan lampu itu terkejut mendengar ucapan dari Syren. Namun, tidak dengan duyung hitam itu. Dia terlihat tenang dan tidak sedikitpun terkejut.
"Apa alasanmu ingin pergi ke daratan?" Tanya sang duyung hitam.
"Emh ... Aku ... Mendengar bahwa daratan manusia itu sangat indah dan menarik, jadi aku ingin sekali melihatnya. Se ... Selain itu, aku juga ingin melihat festival yang diadakan manusia." Jelas Syren.
"Jadi ... Kau ingin ramuan pengubah wujud dariku?" Tebak duyung hitam yang membuat Syren menatapnya dengan terkejut.
"I ... Iya! Apa Anda punya ramuan itu?" Tanya Syren berharap.
"Tentu saja! Apapun yang kau inginkan, pasti dapat aku penuhi. Tapi, hanya kau satu-satunya yang berani meminta ramuan itu. Apa kau yakin dengan permintaan mu itu?"
"Iya! Aku yakin! Tolong berikan padaku, aku akan membayar berapapun biayanya." Jawab Syren dengan yakin.
"Hohoho ... Luar biasa ... Baiklah, tunggu disini." Ucap duyung hitam dan berlalu dari hadapan Syren.
Beberapa saat kemudian,
Duyung hitam itu kembali ke ruangannya. Dia meletakkan sebuah botol kaca kecil di depan Syren.
"Itu adalah ramuannya. Jika kau meminum itu, maka ekor mu akan berubah menjadi sepasang kaki seperti manusia." Jelas duyung hitam.
Dengan ragu, Syren mengambil botol di depannya itu.
"Tapi ingat, ramuan itu tidak bertahan lama. Saat tepat tengah malam, kakimu akan berubah kembali menjadi ekor. Jadi, kau harus kembali ke lautan sebelum tengah malam." Jelas duyung hitam kembali.
Syren terlihat terkejut dengan ucapan dari duyung hitam tersebut. Tapi, Syren sudah bertekad, dia akan pergi ke daratan walau itu hanya sehari.
"Baiklah, aku akan mengingat hal itu. Tapi, berapa biaya yang harus ku bayar untuk ramuan ini?" Tanya Syren.
Perlahan, terlihat senyuman tipis di wajah duyung hitam itu.
"Berikan ... Satu mutiara kehidupanmu untukku."
Ucapan dari duyung hitam tersebut membuat Syren terdiam.
Setiap duyung memiliki tiga mutiara kehidupan yang terletak di perut mereka. Ketiga mutiara itu menjadi tanda kehidupan mereka. Jika salah satu dari mutiara itu hilang, maka masa hidup mereka berkurang seratus tahun.
"Bagaimana? Kau bisa membayarnya dengan itu? Jika tidak, berhentilah bermimpi untuk ke daratan." Jelas sang duyung hitam dengan seksama.
DEG! DEG! DEG!
Jantung Syren berdetak amat kencang, dia tidak tau bahwa bayarannya sangat beresiko untuk hidupnya. Tapi, mimpinya akan segera menjadi kenyataan jika dia menerima permintaan sang duyung hitam.
Pikiran Syren semakin kacau, apakah dia akan mempertaruhkan masa hidupnya demi kesenangan satu hari?
"Baiklah! Akan ku berikan mutiara itu untukmu." Putus Syren.
🌊🌊🌊
Setelah kembali dari tempat duyung hitam, Syren mengurung diri di dalam kerang raksasa tempatnya beristirahat.
Keputusannya sudah bulat. Esok hari saat matahari mulai terbit, Syren akan pergi ke daratan.
Takdir, sudah menunggu kedatangan Syren.
🌊
Pagi itu, saat lautan masih senyap dan sepi, Syren berangkat menuju ke permukaan laut. Tak banyak bekal yang dia bawa. Dia hanya membawa sehelai pakaian manusia dan beberapa mutiara untuk ditukar menjadi uang.
Saat sampai di permukaan, Syren segera berenang mendekati bibir pantai. Saat air laut sudah sepinggangnya, Syren mengeluarkan ramuan pengubah wujud itu dan segera meminumnya.
Beberapa detik kemudian, cahaya terang bersinar di tubuh Syren. Ekor duyung nya seketika berubah menjadi sepasang kaki manusia.
Syren terlihat kagum dan tidak percaya. Dengan perlahan, Syren mencoba bangun dengan kedua kakinya itu.
Walau di awal-awal Syren tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya dengan kaki barunya, tapi perlahan-lahan Syren mulai terbiasa dan sudah bisa berjalan layaknya manusia.
Baju putih selutut yang diberikan oleh duyung hitam padanya, segera ia kenakan.
Sebuah gelang permata ia pakai di tangan kanannya. Gelang itu akan menjadi jam alaram untuknya saat dia harus kembali ke lautan.
"Baiklah! Ayo mulai beraksi!" Seru Syren dengan semangat.
Syren pun memulai perjalanannya.
🌊🌊🌊
Jarak lautan dan kota manusia lumayan jauh. Walau demikian, Syren dengan semangat melangkah menuju tujuannya.
Beberapa jam kemudian,
Langkah Syren terhenti saat melihat gerbang masuk Kota. Matanya berbinar bagaikan permata. Dengan segera Syren berjalan menuju gerbang kota.
Betapa terkejutnya Syren saat melihat puluhan manusia yang berlalu-lalang di sana. Anak kecil, pria, dan wanita terlihat antusias mengawali hari mereka.
"Waaahhh ...!!! A ... Akhirnya ... Aku sampai disini!" Gumam Syren dengan puas.
🌊
Tidak butuh waktu lama bagi Syren untuk beradaptasi dengan dunia manusia.
Dia terlihat seperti anak kecil yang baru diajak oleh ibunya pergi ke pasar. Begitu sibuk melihat kesana kemari tanpa lelah.
"Tuan! Apa ini dijual?" Tanya Syren pada penjual manisan.
"Tentu saja Nona! Apa Nona mau beli satu?" Jawab si tuan manisan dengan antusias.
"Iya! Berikan aku satu!" Pinta Syren dengan tidak sabar.
"Nah! Ini untukmu Nona manis!" Pria itu memberikan sebatang manisan ceri yang ditusuk di bambu kecil pada Syren.
"Terimakasih, Tuan!" Syren mengambil manisan itu dari si tukang manisan.
Hari sudah siang, matahari semakin terasa panas di kulit. Syren mulai mencari tempat untuknya berteduh dari terik matahari.
Namun, saat Syren tengah sibuk mencari tempat berteduh, tiba-tiba ada suara seperti teriakan seseorang yang berasal dari gang sempit yang tidak jauh dari tempat Syren berdiri.
"Eh! Aku mendengar sesuatu," Syren segera berlari kearah suara itu.
Sesampai di mulut gang, Syren melihat beberapa pemuda tengah memukuli seorang pria di sana.
"Hei ...!!! Apa yang kalian lakukan?!!" Seru Syren dengan keras.
Ketiga pemuda itu menghentikan aksinya.
"Hei kau ...! Jangan ikut campur jika tidak mau mati di sini! Pergi sana!" Bentak salah satu pemuda itu.
Syren tidak tau apa yang harus dia lakukan. Jika pemuda-pemuda itu tidak berhenti, bisa saja lelaki itu akan mati.
"TOLONG! TOLONG! ADA YANG MEMUKULI ORANG DISINI ...!!! TOLONG ...!!!" Teriak Syren dengan keras.
Tiba-tiba orang-orang mulai menghampiri Syren, serta petugas yang berjaga juga datang kesana. Karna hal itu, para pemuda kejam itu menghentikan aksinya dan kabur dari sana.
Syren berjalan menghampiri pemuda yang tergelak di tanah dengan darah yang keluar dari mulut dan hidungnya.
"Kau ... tidak apa-apa?" Tanya Syren khawatir.
"Ti ... Tidak, aku baik-baik saja." Ucap pemuda itu dengan menahan sakit.
"Ayo ... Aku bantu," Syren mencoba memapah pemuda itu untuk berdiri.
🌊
Syren membawa pemuda itu ke sebuah toko kecil yang sedang tutup.
Tubuh pemuda itu terlihat banyak memar karna pukulan.
"Yakin kau baik-baik saja, Tuan?" Tanya Syren memastikan.
"Panggil aku Vir. Sebelumnya, terimakasih sudah membantuku tadi." Ucap pemuda yang bernama Vir itu dengan tulus.
"Ah! Tidak masalah!" Jawab Syren dengan cepat.
"Em ... Apa kau pendatang baru di kota ini?" Tanya Vir.
"Iya! Aku baru kesini hari ini. Aku ingin melihat festival, jadi karna sebab itu aku datang." Jelas Syren dengan semangat.
"Oh ... bagus sekali kalau begitu, kebetulan aku lagi libur, jadi bolehkah aku menemanimu em ... maksudku ... ikut melihat festival nanti malam dengan mu?" Dengan sedikit malu Vir mencoba untuk mengajak Syren bersamanya.
"Wahhh ... ! Aku sangat senang! Baiklah ayo kita ke festival bersama!" Seru Syren dengan semangat.
"Baguslah kalau senang." Vir tersenyum dengan puas.
🌊🌊🌊
Matahari sudah terbenam meninggalkan jejak jingga di angkasa.
Festival bulan sudah dimulai, para masyarakat sudah mulai memadati alun-alun kota.
Syren dengan sabar menunggu Vir di dekat sebuah taman bunga. Malam yang sangat indah dan ramai. Tak henti Syren tersenyum bahagia. Dimana mimpi yang mustahil baginya akhirnya bisa dia gapai.
"Vir ...!!!" Syren melambaikan tangannya kearah Vir yang tengah sibuk mencari keberadaan Syren.
"Kau disini rupanya, ayo!" Vir menarik tangan Syren dan menyeretnya masuk dalam kerumunan orang.
Festival yang begitu meriah, dengan kembang api yang indah menghias gelapnya langit. Tawa bahagia orang-orang yang memekak telinga. Serta musik klasik yang beralun merdu membuat tubuh ingin menari.
"Vir ...! Apakah manusia selalu tertawa seperti ini?" Tanya Syren pada Vir yang berjalan di sampingnya.
"Tentu saja, jika hati bahagia maka manusia akan tertawa seperti ini. Apa kau bahagia?" Ucap Vir di selingi senyumannya.
"Sangat bahagia!!!" Syren tersenyum penuh kebahagiaan.
Seketika itu, Vir yang melihat wajah cantik Syren, membuatnya tersipu dan terpesona. Untuk sesaat Vir ingin memeluk tubuh kecil gadis polos itu.
Menit demi menit berlalu, festival masih saja berlangsung. Para masyarakat masih tenggelam dalam musik yang terus mengiringi tubuh untuk menari. Tak terkecuali Syren dan Vir yang tampak menikmati kebersamaan mereka yang singkat.
Vir mengajak Syren keluar dari keramaian kota.
"Kita mau kemana, Vir?" Tanya Syren yang hanya jalan mengikuti Vir.
"Sebentar lagi sampai!" Ucap Vir yang terus berjalan
Beberapa saat kemudian ...
Vir dan Syren sampai di sebuah bukit.
"Lihatlah! Itu tempat dimana kita menari tadi." Jelas Vir.
Syren tak dapat berkata, dia hanya membisu terpana dengan keindahan di hadapannya.
"Bagaimana, Kau suka?" Tanya Vir.
"Ini ... Ini sangat indah, Vir! Sangat indah ...! Aku hampir ingin menangis melihat ini." Mata bulat Syren mulai berkaca-kaca.
"Syukurlah ... Jika kau suka." Senyuman Vir yang menawan, membuat Syren tak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Dalam gelapnya malam, disaat hektaran tanah subur dan indah tengah penuh dengan tawa manusia yang bahagia, takdir jiwa dan hati mengikat Vir dan Syren semakin dalam.
Kecupan hangat Vir di bibir mungil Syren semakin dalam menjerat dua insan yang tengah dipeluk oleh cinta.
Namun, takdir berkata lain. Gelang permata penanda waktu milik Syren telah berubah warna menjadi kuning. Itu menandakan tengah malam akan segera datang.
Seketika itu, Syren dengan terpaksa harus meninggalkan Vir yang menatap Syren heran.
"Ada apa? Kau mau kemana?!" Tanya Vir dengan bingung.
"Maaf, Vir. Aku harus pergi!" Tanpa menoleh, Syren berlari meninggalkan Vir yang masih bingung.
"Tu ... Tunggu! Si-siapa namamu ...! Nona ...!"
Vir kehilangan jejak Syren saat dia ingin mengejarnya.
Malam itu berakhir dengan kembalinya Syren ke lautan luas. Tanpa ada yang tau dan ingat akan keberadaannya.
🌊🌊🌊
Sebulan telah berlalu, disaat cinta buta tengah menelan hati duyung yang polos, membuat dia sakit Karna rindu yang tak dapat diobati.
"Syren ... Kau sudah membaik? Kenapa kau bisa sakit seperti ini? Apa yang terjadi?" Tanya Turt si kura-kura kecil sahabat Syren.
Tak ada jawaban dari Syren. Dia tidak mungkin memberitahu Turt penyebab sakit yang ia derita.
"Baiklah, istirahat saja. Nanti ku bawakan makanan." Putus Turt dan segera meninggalkan Syren sendiri.
🌊
Malam itu, cuaca sedang sedikit buruk. Bahkan lautan juga terlihat tidak tenang. Namun, dalam keadaan itu, Syren mengambil keputusan besar dalam hidupnya kembali.
Tanpa ragu, Syren kembali menemui duyung hitam untuk ia minta kembali ramuan pengubah bentuk itu.
"Kau yakin? Jangan sampai kau menyesal, karna itu tak akan lagi berguna." Jelas duyung hitam itu dengan serius.
"Anda tidak perlu khawatir, tolong berikan ramuan itu." Putus Syren tanpa ragu.
"Baiklah, jika itu keputusan mu."
Satu lagi mutiara kehidupan milik Syren lenyap. Kini, takdir hidup Syren semakin surut.
🌊
Rindu yang menyayat membuat hati sang duyung tak dapat memilih. Jikapun itu menyangkut masa depannya.
Tanpa sedikitpun keraguan, dengan tertatih dalam guyuran hujan, Syren terus berlari memapah rindu yang menuntut untuk dilepas.
"Vir ... Vir ... Vir ..." Tak henti bibir yang mulai bergetar mengucap nama sang penawar rindu.
Alun-alun kota sudah di depan mata. Namun, tak ada manusia yang berlalu-lalang disana. Mungkin karna langit yang sedang meneteskan butir air yang tak surut.
Dengan tanpa helaan nafas, Syren mencari dan terus mencari keberadaan sang kekasih.
"Dimana ...? Dimana kau Vir ...?!" Tak ada yang menjawab.
Namun, sang pemberi takdir mulai merasa iba dengan duyung itu.
Beberapa orang pemuda yang tidak asing di mata Syren keluar dari sebuah gang sempit dengan balok kayu di tangannya.
"VIR ...!!!"
Syren segera berlari dengan kaki yang sudah terluka karna batu kerikil tajam yang ia pijak.
DEG!!!
Apapun yang ada di depan Syren kali ini, terlihat jelas dengan raut wajah Syren yang memucat.
"Vi ... Vir ... Ke-kenapa kau diam disana ...? Vir ..." Tubuh Syren seakan tak meresponnya untuk bergerak.
Rasa takut dan takut terus saja menghitamkan jalan pikiran Syren.
Betapa hancurnya hati Syren saat melihat sang kekasih tak lagi bernafas dengan luka dan darah yang tak henti keluar dari mulut dan dadanya yang tertusuk.
"Vi ... Vir ... Bu-buka ... Matamu Vir! BUKA MATAMU!!!"
Suara perih sang duyung tak mencapai sang kekasih yang telah terbaring kaku.
"Tidak ... Bu ... Bukan seperti ini yang aku mau, a-aku ingin melihat ... senyummu, Vir ...?"
Hati terus hancur terluka, disaat mata indah itu tak ingin lagi melihat sang duyung.
"Maafkan aku Vir ... Aku tidak bisa datang tepat waktu kali ini. Maafkan aku ... yang tidak bisa melindungi mu kali ini. Aku hanya rindu senyuman dan kehangatan mu ... Walau kau tidak percaya, tapi aku sangat mencintaimu." Air mata itu tak lagi ingin keluar.
Malam semakin dingin dan larut. Diam membisu itu, seakan membunuh hati Syren perlahan-lahan.
"Terimakasih sudah menemaniku malam ini dan malam itu. Aku bahagia kau mengengam tanganku malam itu. Kau seperti pria jantan untuk ku. Vir, terimalah hadiah kecil ini dariku. Dan hiduplah dengan senyuman mu yang menawan itu. Bahagia lah, Vir. Aku berharap kau mengingatku walau hanya sedetik dalam hidupmu."
Cahaya yang amat terang keluar bersamaan dengan waktu yang seketika berhenti.
Sang duyung yang ingin melepas rindu, yang ingin melihat wajah hangat sang pemilik cinta, dengan ikhlas memberikan sebutir kehidupan miliknya sebagai cenderamata kehidupan kedua untuk sang kekasih.
"Selamat datang kembali, Vir. Dan selamat tinggal untukmu. Semoga kau bahagia dan hidup dengan damai bersama orang yang kau cintai kelak."
Sang duyung malang itu menghilang dalam kabut yang dingin, menjadi butiran air yang terbang ke angkasa bersama dengan angin yang menerbangkan tanpa jeda.
Cinta yang ingin ia gapai, cinta yang ingin dia miliki harus hilang tertanam dalam mimpi yang takkan pernah lagi menjadi kenyataan.
Lautan menangis kala itu, dimana satu lagi jiwa duyung menjadi buih di lautan yang akan hilang disaat ombak menerjangnya.
*TAMAT*
Semua.... jangan lupa like dan komennya ya😭😭🤤 salam hangat dari Syren🧜
Semoga yang membaca suka dan suka.😁