"Aku dimana? Kenapa kamarnya beda sekali dari biasanya?"
Aku terjaga di sebuah kamar yang tak ku kenali sama sekali, yang pasti kamar itu sangat aneh. Semua komponen yang ada di sini terbuat dari kayu, dan lagi banyak ukiran indah di dindingnya.
"Hah? Kenapa aku pakai kebayak? Bukannya kemarin aku pakai baju kaos putih dan.. Hah??? Aku di mana?" Teriakku.
Tiba-tiba seorang pria masuk ke dalam kamarku.
"Dinda kamu sudah bangun?" Tanya pria itu.
"What, Dinda? Siapa Dinda?" Teriakku lalu bangkit dari kasur dan keluar dari kamar itu.
Aku melihat sekeliling dan mencoba mengingat kembali kejadian sebelum apa yang sebenarnya terjadi sampai aku bisa tiba di sini.
*Di dunia nyata sebelum masuk ke dalam dunia novel*
Namaku adalah Melati Harum, hari itu aku sedang mengikuti kampus tour di jembatan ampera yang berlokasi di provinsi Palembang. Pemandangannya indah sekali, namun tidak dengan pikiranku semerawut bagai benang yang terlalu kusut.
Pada saat aku kebingungan ke mana aku harus cari uang untuk bayar biaya kuliah, eh mala ikut kampus tour pakai uang tabungan yang selama ini aku kumpulin. Uang itu adalah tabunganku selama kerja paruh waktu di kafe, minimarket dan juga hotel. Tapi bodohnya aku mala di pakai untuk hal yang tidak berguna.
Di bawah jembatan ampera adalah sungai musi, aku berdiri di dekat sungai itu untuk menenangkan pikiran. Karena pemandangannya sangat indah jadi aku memotret sedikit pemandangan itu.
Cekrek.. Cekrek.. Cekrek..
"Duh gak nampak sunset nya lah, aku harus maju lagi." Ucapku yang sambil maju mendekati sungai itu.
Kaki ku terus melangkah maju dan bur.. Aku masuk ke dalam sungai itu.
"Ahkkkk..." Teriakku di depan kamar yang aneh itu.
"Nona tenang, nona." Ucap seorang wanita muda yang ada di sampingku menggunakan pakaian kebaya.
"Ini aku di mana? dan.. em..
"Sepertinya aku terjun ke dunia lain, gimana ini? tapi ini kayak jaman kerajaan." pikirku dalam hati.
"Ini di Palembang Non." Jawab wanita itu.
"Bukan itu maksudnya bun, tapi aku sedang di kerajaan ya? Kerajaan apa ini?" Tanyaku dengan nada tinggi.
Pria yang tadi bertanya padaku geleng-geleng bingung melihat tingkahku. Dia adalah Jaka kakaknya Dinda yang sedang ku rasuki tubuhnya ini.
"Ini kerajaan Sriwijaya non."
Aku benar-benar tak habis pikir, kenapa aku bisa sampai di tempat ini? Dan aku pun pingsan kembali. Sebelum pergi Jaka pun menggendongku dan membaringkan tubuhku ke kamar aneh itu.
"Dia kenapa Bi?" Tanya Jaka.
"Gak tau den, dia kemarin terpeleset di sungai murni. Terus pingsan dan pas sadar tadi jadi kayak gitu tingkahnya, aneh." Ucap wanita itu, dia adalah pelayan di rumah Jaka.
"Yaudah Bi, kalau dia sudah bangun lagi. Panggil saya ya Bi."
"Baik den."
Saat aku kembali membukakan mata, saat itu pula aku berteriak ketakutan. Tapi aku mulai menyadari kenyataan kalau aku memang sedang berada di dunia lain. Bibi Mirna yang dari tadi berdiri di kamar menjagaku dengan baik terkejut saat mendapati ku teriak-teriak kembali.
Aku bangkit dari kasur dan mencari sebuah benda yang bisa memantulkan bayangan rupa ku.
"Hah? Kenapa aku jadi cantik? Ini bukan wajahku? Tubuh ini? Milik Dinda yang di sebut oleh pria tadi?" Gumam Ku dalam hati.
Aku banyak bertanya dengan Bibi Mirna tentang tempat ini dan siapa aku sebenarnya. Dengan sangat telaten Bibi Mirna menceritakan segalanya, kalau aku itu adalah adiknya Jaka dan namaku adalah Dinda. Sebelum bercerita Ia sangat syok mengetahui kalau aku sedang hilang ingatan.
"Jam berapa ini Bi? Masih siang kah?" Tanyaku celingukan.
Aku teringat dengan cerita Bibi Mirna kalau aku terpeleset di sungai Murni yang ada di bukit belakang rumah. Jadi aku bermaksud untuk pergi ke sana agar bisa kembali ke duniaku yang sebenarnya.
"Ini masih siang non, kenapa?" Tanya Bibi Mirna.
"Antar aku ke sungai di mana tempat aku terjatuh itu Bi." Pintaku dengan memohon.
Bibi Mirna jadi khawatir mendengar permintaanku, karena sungai itu sudah membuatku kehilangan ingatan.
"Bibi harus tanya ke Den Jaka dulu kalau gitu non."
"Jangan-jangan, tunjukan saja jalannya padaku Bi. Setelah itu Bibi pulang aja."
"Gak, Nona gak boleh pergi ke sana lagi." Ucap Bi Mirna dengan nada tinggi.
Bi Mirna keluar dari kamar dan pergi menemui Jaka untuk memberitahukan kalau Dinda sudah sadar sekaligus menceritakan tentang keinginan Dinda untuk pergi ke sungai itu lagi.
Saat Bi Mirna pergi, saat itu juga aku menyelinap keluar diam-diam menuju bukit yang ada di belakang. Bukitnya cukup tinggi dan sangat gelap saat aku berada di sana. Pohon-pohonnya sangat rindang dan lebat, itu benar-benar membuatku rada takut.
Tak lama aku menelusuri bukit itu akhirnya aku menemukan sungai itu.
"Wah sungainya indah dan jernih sekali." Ucapku kagum.
"Aku akan kembali ke duniaku, ya.. Ini bukan duniaku."
Tanpa pikir panjang aku melompat ke sungai itu, padahal sungai itu adalah sungai yang dalam. Dan aku tak bisa berenang, tubuhku ke bawah arus, aku hanya bisa pasrah dan aku sudah tak sanggup untuk bernapas akhirnya mataku perlahan kembali menutup diri. Harapanku setelah aku membuka mata lagi aku sudah berada di dunia nyata.
"Hei, sadar! Bangun!"
Terdengar suara pria yang terus menyuruhku untuk bangun, tangannya menepuk-nepuk pipiku. Dengan perlahan aku membuka matamu dan..
"Aku di mana?" Ucapku saat tersadar.
"Di rumahku." Ucap Pria itu.
"Ini jaman kerajaan atau pemerintahan?" Tanyaku lagi.
Pria itu mengernyitkan wajahnya dengan bingung.
"Maksudmu apa? Pemerintahan itu apa?"
"Dahlah aku belum kembali." Gerutu ku dalam hati.
Saat aku jatuh di sungai itu, pria inilah yang menemukanku dan menyelamatkanku.
"Ini gila. Gimana caraku untuk kembali?"
"Kenapa di sini harum sekali?" Tanyaku pada pria itu.
"Ini karena bunga kenanga sedang bermekaran, jadi wanginya sampai sini."
Pria itu masih menjawab pertanyaan ku walau dengan ekspresi yang jengkel. Namanya adalah Kian dan itu mengingatkan ku dengan novel yang ku baca.
"Namanya Kian? Rumahnya di keliling dengan bunga kenanga dan tinggal di dekat sungai murni? Astaga ini adalah novel magic of melati? Kenapa aku baru ingat? Berarti aku aku harus menemukan bunga melati lebih dulu dibanding dengan pemeran utamanya? Kian? What Kian? Pria ini pemeran utama pria, dan pemeran utama wanita? Siapa ya aku lupa.
Aku harus menjadi penemu pertama bunga melati yang hanya ada satu di dunia ini, kalau tidak aku tidak bisa kembali."
Di dalam cerita novel itu, siapapun yang pertama kali menemukan melati murni yang belum di sentuh siapapun maka kamu bisa membuat permintaan apapun.
"Ini adalah sebuah novel pertualangan, Kian belum pergi dari rumah ini. Berarti kemungkinan besok dia baru akan mulai pertualangannya. Aku harus ikut dia." Pikirku dalam hati.
Hari sudah berganti, Kian sedang beres-beres menyiapkan barang untuk Ia bawa untuk berpetualang. Setelah sudah selesai Ia datang ke kamar yang aku tempati itu.
"Kamu harus cari keluargamu atau temanmu, aku harus pergi dan meninggalkan gubuk ini." Ucapnya padaku yang sudah duduk di atas kasur.
"Aku tidak punya keluarga ataupun teman, jadi aku akan ikut kamu pergi kemana pun."
Pria itu menatapku heran.
"Kamu hanya beban jika ikut aku pergi."
"Tidak aku tidak akan jadi beban mu, aku akan mengikuti mu dari belakang. Jadi apapun yang terjadi padaku, jangan dihiraukan." Bujuk ku pada Kian.
Tanpa menggubris sedikit pun ucapan ku Kian langsung saja pergi meninggalkanku. Aku pun bangkit dari dudukku dan mengikutinya dari belakang.
"Semoga perjalanan ini adalah perjalanan akhir dari novel ini dan aku akan segera menemukan bunga melati." Ucapku sambil mengikuti Kian yang mulai berjalan memasuki hutan belantara.