Pembunuhan sadis terjadi pada keluarga Rahardi dan istrinya serta peristiwa menakutkan dan membuat trauma bagi anaknya yang bernama Reno. Pada malam hari pukul 23.00, semua keluarga Rahardi begitu sangat nyenyak tidur hingga mereka tak menyadari keberadaan 2 orang asing yang telah memasuki rumah mereka.
2 orang asing itu membuka pintu kamar Rahardi perlahan dan mendapati mereka yang masih terlelap tidur. Kesempatan pun sangat menguntungkan bagi 2 orang asing itu untuk mencelakai sepasang suami istri yang tengah tertidur.
Dengan cepat 2 orang asing itu menusuk perut Rahardi beserta istrinya dengan sangat dalam menggunakan pisau.
"Arghhhh....!!" teriak Rahardi dan istrinya.
Teng...teng...teng...
Pukul 12 tengah malam, suara lonceng jam dinding pun berbunyi disertai suara teriakan dari sepasang suami istri secara bersamaan karena penusukan itu.
Rahardi menggeliat kaget dihadapannya telah ada seorang lelaki yang memakai baju hitam di sisi kanannya lalu dia memegang perutnya yang telah berlumuran darah begitu pun dengan istrinya.
"Ka-kamu siapa, kenapa membunuh keluargaku?" tanya Rahardi dengan suara kesakitan.
Prok...prok...prok
Suara tepuk tangan seorang lelaki dari depan pintu yang kali ini dikenal oleh Rahardi.
"Hahaha ... Rahardi, kau akan mati sekarang. Jangan buang-buang tenaga dengan menggerakan tubuhmu itu," ucapnya mengejek Rahardi.
"Ka-kau Jony, kenapa kau membunuhku dan istriku?" tanya Rahardi bersuara lemah.
"Maafkan aku teman, karena kau telah merusak reputasiku sehingga aku dikeluarkan dari perusahaan. Sedangkan kau bahagia di atas penderitaanku. Aku tidak bisa diam saja. Kau harus merasakan apa yang aku rasakan. Selamat tinggal Rahardi, hahahaaa...!!"
"Da-dasar kau bedebah!!" suara Rahardi semakin lemah.
Jony dan 2 anak buahnya segera pergi meninggalkan Rahardi dan istrinya yang sebentar lagi akan menghembuskan nafas terakhirnya.
Reno, sang anak Rahardi yang masih berumur 10 tahun melihat peristiwa pembunuhan sadis kedua orang tuanya saat suara teriakan dan lonceng jam berbunyi bersamaan, Reno bangun saat itu tapi dia tidak punya keberanian untuk menyelamatkan kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu ... tolong bertahanlah, jangan tinggalkan Reno, hiks...hiks...!!" Reno mendekati ayah dan ibunya lalu menggenggam tangan kedua orang tuanya masing-masing.
"Re-no maaf-kan ibu, to-long jaga diri kamu baik-baik, sayang!" ucap ibu Reno terbata-bata sembari memegang pipi Reno berlumuran darah lalu dia menghembuskan nafas terakhirnya
"Ibuuu!!" teriak Reno menangis.
"Re-no jika kamu sudah dewasa, to-long balaskan dendam A-yah pada Jony yang te-lah membunuh Ayah dan Ibu. Ber-janji lah, Nak!" pesan Rahardi pada Reno dan menghembuskan nafas terakhirnya menyusul istrinya.
"Ayah... Ibu jangan tinggalkan Reno. Reno sendirian, hiks...hiks... bagaimana Reno tanpa kalian, hiks...hiks!!" tangisan Reno tiada henti begitu pilu dan menyisakan trauma dalam dirinya.
"Reno berjanji, saat dewasa nanti Reno akan membalaskan dendam kalian pada orang yang sudah merenggut ayah dan ibu dari hidupku. Aku berjanji Ayah ... Ibu. Di hari yang sama, waktu yang sama dan tanggal yang sama serta suara lonceng dan teriakan yang menyatu adalah saksi dari pembalasan dendamku nanti," Reno memeluk ayah dan ibunya dengan berlumuran darah yang begitu banyak.
13 tahun kemudian, Reno berumur 23 tahun dan dia sudah dewasa serta menjadi pria sukses. Ini adalah waktunya untuk membalaskan dendam kedua orang tuanya pada Jony.
Reno begitu cerdas, dia ingin pembalasan dendamnya berjalan mulus, maka dari itu Reno memanfaatkan Keysa yang merupakan anak dari Jony. Reno sedang menjalin hubungan dengan Keysa sesuai dengan rencana awal untuk membunuh Jony dengan mudah.
"Keysa, bagaimana jika aku adalah orang jahat. Apa kamu masih bisa terima aku, sayang?" tanya Reno iba.
"Apaan sih kamu Reno, kamu kok ngomong gitu, sayang? Pokoknya aku percaya sama kamu dan terima kamu bagaimana pun keadaan kamu, sayang," ucap Keysa menyatakan perasaannya pada Reno dan meyakinkan.
Reno tersenyum pada Keysa dan langsung memeluk tubuh keysa dengan erat. Ada rasa sakit yang menusuk hatinya, saat Reno mengingat pembunuhan di malam berdarah yang membuatnya kehilangan kedua orang tuanya.
"Maafkan aku Keysa, pembalasan dendamku melebihi rasa cintaku padamu. Tepat di hari ini, bunyi lonceng jam dinding bersatu dengan suara teriakan di malam ini akan menjadi saksi atas pembalasan dendamku di hari kematian orang tuaku karena perbuatan ayahmu," batin Reno sembari mengepalkan kedua tangannya di belakang tubuh Keysa tanpa diketahui oleh kekasihnya itu.
Malam hari pukul 23.00, Reno telah mengantar Keysa ke rumahnya. Mereka pun masuk ke dalam rumah. Reno melihat sekeliling rumah itu dengan sangat teliti dari depan sampai ke ruang tamu mencari-cari keberadaan Jony.
"Ayah kamu mana, Keysa?" tanya Reno.
"Paling di ruang tengah lagi nonton TV. Aku mandi dulu ya, sayang! Kamu gabung saja sama ayah di ruang tengah," ucap Keysa dan berlalu ke kamarnya.
"Ok, aku akan nyusul ayah kamu, sayang!" Reno pun bangkit menemui Jony.
Langkah Reno perlahan mendekati Jony yang sedang duduk menonton TV membelakangi Reno. Ingin sekali Reno langsung membunuhnya dengan sekali tembakan. Tapi niat itu diurungkannya sebelum dia berbincang terlebih dahulu pada ayah kekasihnya itu.
"Selamat malam, Om. Boleh Reno bergabung?" sapa Reno lalu bertanya.
"Hei, Reno silahkan, Nak. Mana Keysa?"
"Keysa sedang ganti baju, Om." Reno duduk di sofa bersampingan dengan Jony.
Perbincangan pun terjadi selama 10 menit, tiba-tiba Reno mengalihkan pembicaraan mereka sesuai dengan rencananya yang telah dia rancang.
"Emm ... Om Jony tahu nggak desas-desus pembunuhan 13 tahun lalu pada keluarga Rahardi yang katanya kasus itu akan dibuka kembali dan saat ini polisi sedang mencari pelaku pembunuhan sadis itu karena anak dari Rahardi mengusut kasus itu," ucap Reno menyinggung Jony.
"Pem-pembunuhan? Bukannya anak itu diambil pihak panti asuhan dan aku dengar dia sudah meninggal karena sakit saat umurnya 15 tahun," ucap Jony gugup dan sedikit bercerita tentang anak Rahardi yang sekarang ini duduk di samping dirinya.
"Om tahu banyak tentang anaknya, ya? Apa Om tahu nama anak dari Rahardi?" tanya Reno yang membuat Jony tercekat.
"I-itu Om pernah dengar di berita saja kok dan Om nggak tahu siapa namanya. Lalu kenapa kamu tiba-tiba bertanya soal pembunuhan itu?" sahut Jony kemudian bertanya pada Reno dengan heran.
"Karena ... saya adalah anak dari Rahardi, kau membunuh ayah dan ibuku saat aku berumur 10 tahun. Kau tahu betapa sulitnya hidupku saat itu tanpa orang tua, tapi kau tega membunuh mereka," Reno langsung menodongkan pistol di kepala Jony. Reno beranjak berdiri dari sofa dan sudah siap untuk menembakkan peluru di kepalanya.
"Ka-kau ... sialan, coba saja dari dulu aku membunuhmu. Dasar kau ... bisa-bisanya memanfaatkan anakku Keysa dalam masalah ini. Kau ingin balas dendam padaku, hahaha! Jangan mimpi, jika kau membunuhku maka Keysa akan membencimu."
"Aku tidak peduli, karena tujuan utamaku adalah membunuh kamu si pembunuh sadis, pembunuh keluarga Rahardi, keluargakuuu...!!" teriak Reno yang masih memegang pistol di kepala Jony dengan mata memerah dan tajam.
"Reno, apa yang kau lakukan?" tiba-tiba Keysa datang ke ruang tengah dan terkejut melihat Reno menodongkan pistol di kepala ayahnya.
"Key, kau mau tahu ayahmu ini adalah seorang pembunuh sadis 13 tahun yang lalu, dia membunuh keluarga Rahardi dan mereka adalah kedua orang tuaku!" ucap Reno menjelaskan dengan sangat tenang tetapi matanya penuh dendam.
"Nggak ... nggak mungkin, Reno. Ayahku nggak mungkin melakukan itu. Apa benar, Ayah?" ujar Keysa tak percaya sehingga mendekati Jony yang masih duduk di sofa.
Jony hanya diam tak menjawab perkataan Keysa.
"Reno, tolong jangan bunuh Ayahku, sayang. Please, aku mohon!!" Keysa menangis meminta pada Reno.
"Aku telah berjanji akan membalaskan dendam orang tuaku pada Ayahmu ini," Reno benar-benar khilaf dan hendak melayangkan tembakannya tapi waktunya belum tepat.
"Reno jangan, sayang. Bunuh aku saja, jangan Ayahku!!" seru Keysa menarik pistol ke arah kepalanya.
"Minggir Keysa, ini urusanku dengan Ayahmu bukan dengan kamu!!" Reno menarik tangan Keysa hingga terjatuh di lantai hingga Reno menyesali perbuatannya.
Sontak Jony berdiri tegak melihat Keysa terjatuh di lantai karena ulah Reno.
"Kau sialan, Reno. Kau itu persis seperti ayahmu yang tidak tahu malu itu," maki Jony menjelek-jelekan Rahardi membuat Reno bertambah marah.
"Diam ... hentikan menjelek-jelekan ayahku, dia orang yang baik. Ayahku di jebak. Sebenarnya kau itu di kambing hitamkan oleh Anton, sahabatmu sendiri. Anton sudah mati karena aku yang membunuhnya, dan sekarang giliran kau yang akan mati di tanganku," jelas Reno pada Jony yang selama ini Jony baru mengetahui kebenarannya.
"Apa, jadi selama ini Anton menghianatiku. Arghhhh sialan kau Anton," sesal Jony bersimpuh lemas di lantai.
Keysa sangat panik hingga dia mengambil senapan ayahnya yang di gantung di dinding yang pernah ayahnya gunakan untuk menembak binatang.
"Reno, jika kau membunuh ayahku maka aku akan membunuhmu!" ancam Keysa yang menodongkan senapannya ke arah Reno.
"Silahkan, Keysa kau menembakku dan aku akan menembak ayahmu, jadi kita sama-sama impas, bukan!" ancam balik Reno pada Keysa.
Jony hanya pasrah dengan apa yang telah dia alami dan penyesalan hanya berujung dengan kematiannya yang sebentar lagi akan menjemputnya.
Pukul sudah menunjukkan 23.59, itu artinya 1 menit lagi entah hanya kematian Jony saja atau kematian kedua-duanya. Jika Reno dengan tega membunuh Jony bagaimana dengan Keysa yang akan membunuh sang kekasih yang dicintainya itu.
"Baiklah, aku akan menghitung mundur, 5, 4, 3, 2, 1...!!" ucap Reno perlahan sambil menatap Jony tajam.
Dor
Dor
Teng...teng...teng...
"Aghhhhhhh...!!"
Suara tembakan dan suara lonceng jam dinding pukul 12 tengah malam, serta teriakan secara bersamaan menggema di sekitar ruangan itu.
"Ayah ... ayah bangun ayah!!" tangis Keysa mendekati dan memeluk ayahnya.
"Ma-afkan A-yah, Keysa!" ucap Jony dengan kata terakhirnya.
Keysa meletakkan tubuh Jony di lantai yang terbujur kaku dengan darah yang mengalir deras. Kemudian Keysa mendekati Reno sang kekasih.
"Kenapa kau tidak menembak tepat di jantungku agar aku mati, Keysa?" tanya Reno sembari memegang bahunya kesakitan karena Keysa menembaknya di bahu sebelah kiri.
"Karena aku mencintaimu, Reno. Maafkan ayahku yang telah membunuh kedua orang tuamu," tangis Keysa kembali pecah.
"Aku seorang pembunuh, Keysa!" ucap Reno sedikit lemah.
"Aku akan tetap mencintaimu apapun yang telah terjadi, Reno!!" Keysa memeluk Reno sangat erat.
Keysa begitu mencintai Reno hingga dia tidak akan pernah bisa membunuh kekasihnya itu. Begitu pun Reno yang awalnya hanya memanfaatkan Keysa sebagai alat balas dendam tapi kenyataannya Reno pun mencintai Keysa.
Suara lonceng jam dinding tengah malam pun berhenti sejalan dengan berseminya cinta diantara kedua anak manusia itu, Reno dan Keysa.
-----END-----
Terima kasih sudah mampir di cerpenku, semoga kalian semua terhibur 😃😃