"Eh Sif, lihat deh pelatihnya ganteng banget! Dia jomblo gak ya kira-kira?" Bisik Mery pada Sifa yang tengah duduk di kelas.
Sifa melotot kan matanya pada Mery untuk menegurnya agar diam dulu, karena kurang menghargai pelatih jika bicara di kelas pada saat pelatih itu mengenalkan dirinya.
"Perkenalkan nama saya Rendy Putra, panggil saja Rendy. Kali ini saya akan mengisi kelas pelatihan bahasa Inggris. Umur saya 27 tahun dan saya masih single." Ucapnya sambil dibarengi senyumnya yang manis.
"Tuh kan jomblo." Ucap Mery yang ketawa ketiwi.
Pelatihan pertama yang Sifa ambil saat libur kuliah adalah pelajaran bahasa Inggris, awalnya ia hanya ikutan Mery untuk mengisi waktu yang kosong. Tapi ternyata pelatihan itu berlangsung dari pukul 8 pagi hingga pukul 7 malam. Sifa kaget bukan maen.
"Lah gimana aing kerja Mer, kalau dari pagi sampe malam. Aku bisanya sampe jam 2 aja, jam 3 mesti kerja aku tu." Protes Sifa pada Mery.
"Yaudah kita ke ruang adminnya aja yuk, biar tanya boleh gak ikut pelatihannya sampe jam 2 aja." Ajak Mery pada Sifa.
Kebetulan sekarang pukul 10 pagi, jadi waktunya istirahat 15 menit. Sifa dan Mery pergi ke ruang admin untuk minta izin. Keberuntungan di tangan Sifa, dia diizinkan untuk mengikuti pelatihan hingga pukul 2 siang, dengan syarat pas ujian harus lulus.
"Aman deh." Ucap Mery pada Sifa yang sedang menuruni anak tangga untuk keluar sebentar dari ruko itu.
Mereka berdua terus berjalan menuruni tangga, tapi langkah keduanya terhenti saat melihat di depan pintu berdiri seorang pria berpostur tinggi yang sedang menghirup udara. Pintu ruko itu sedang tertutup karena pintunya terbuat dari kaca jadi orang yang berada di luar pun nampak dari dalam.
"Yok kita ke sana Sif." Ajak Mery dengan semangat.
Mery dan Sifa berjalan keluar dan menyapa Pak Rendy. Entah karena refleks atau gimana saat keduanya menatap Pak Rendy mereka berdua terus tersenyum girang dan itu terlihat sangat kentara.
"Bapak ngapain berdiri sendiri di sini?" Tanya Mery dengan sopan.
"Gak ngapa-ngapain si, cuma menghirup udara pagi." Jawab Pak Rendy yang sedang menatap bangunan tinggi hotel yang ada di depan.
"Bapak udah sarapan tadi? Kita mau beli roti sama air mineral. Bapak mau juga kah?"
Tanya lagi Mery.
Rendy menatap Mery lalu beralih ke Sifa, keduanya pun jadi salah tingkah. Tatapan Rendy pada Sifa durasinya lumayan lama, itu benar-benar membuat Sifa jadi kurang nyaman.
"Ayo Mer buruan kita beli roti ke sebelah nanti waktu istirahat habis loh." Bisik Sifa pada Mery.
Hehehe.. Mery hanya ketawa cengengesan saat Sifa mengajaknya cepat-cepat.
"Yaudah saya titip roti isi stroberry ya?" Ucap Rendy tersenyum saat melihat tingkah Sifa yang terus malu-malu itu.
Kedua sejoli itu berjalan menuju minimarket yang ada di sebelah untuk membeli roti. Mereka berdua sudah terbiasa tak sarapan dari rumah, karena anak rantauan jadi keduanya gak sempat masak.
"Eh benaran kamu Sif gak suka sama Pak Rendy? Dia loh ganteng. Ayo lah kita kejar dia, siapa tau dia mau samamu Sif." Ucap mery yang sambil milih-milih roti.
Sifa hanya diam tapi tersenyum malu, karena sebenarnya dia juga tertarik dengan pelatih itu.
"Okay, ayo kita lakukan! Kira-kira kamu atau aku yang bisa jadian sama Pak Rendy." Ucap Sifa yang penuh tekat.
Pak Rendy adalah pria yang sangat masuk dalam tipe ideal Sifa, dia ganteng, manis, pintar dan juga rajin ibadah walau belum di ketahui.
Setelah selesai membeli roti Sifa dan Mery berjalan kembali menuju ruko tempat pelatihan itu.
"Ini Pak rotinya, rasa strawberry." Ucap Sifa yang menyodorkan roti pada Rendy.
"Baik, makasih. Nama kalian siapa?" Tanya Rendy.
"What! Dia nanya nama kita Sif.." Bisik Mery kegirangan.
"Namaku Mery." Ucap Mery sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Namaku Sifa." Ucap Sifa yang juga ikut mengulurkan tangannya dengan malu.
Mereka bertiga memakan roti itu di ruang kantin yang ada di atas. Perbincangan mereka makin lama makin asik, hingga mereka bertukar nomor ponsel.
Kring.. Kring.. Kring.. Bel berbunyi menandakan waktu untuk masuk kelas sudah di mulai.
Materi yang di berikan oleh Rendy cukup mudah untuk di pahami hingga tak terasa waktu istirahat pun kembali datang.
Bukannya beli makan atau ambil kopi/teh di kantin para personel yang ikut pelatihan mala main ludo bersama termasuk si Rendy.
Seminggu telah berlalu, tak terasa waktu tinggal satu minggu lagi yang tersisa untuk mengikuti pelatihan. Mery jadi gelisah karena belum ada kemajuan yang dia dapatkan agar bisa dekat dengan Rendy. Walau sudah bertukar nomor ponsel ternyata Mery belum cukup kuat batin untuk menghubungi Rendy.
"Mer, udah berangkat belum kamu ke tempat pelatihan?" Sebuah pesan masuk dari Sifa untuk Mery.
"Belum nih, aku kayaknya telat. Ini baru mau berangkat padahal udah jam delapan kurang. Wkwkwkwk." Jawab Mery via pesan.
"Yaudah.. Kalau gitu gak jadi lah aku bolos, karena ada kamu yang telat juga. Kalau udah sampe di parkiran jangan naik dulu ke atas, tunggu aku. Awas aja kalau duluan. Aku pulang." Balasan pesan yang di kirim oleh Sifa.
"Ok-ok.." Balas Mery.
20 menit kemudian, Mery dan Sifa tiba di tempat pelatihan. Merek berdua mengendap-endap berjalan untuk menaiki anak tangga dan melalu beberapa ruang kelas lainnya.
"Yaudah, ketuk dan buka aja pintunya." Bisik Mery pada Sifa.
"Kok aku si, gak maulah." Jawab Sifa.
"Heh, gak boleh gitu! Kamu harus belajar untuk jadi berani. Jangan aku mulu yang buka pintu kalau telat."
Dengan berat hati, Sifa membuka perlahan pintu itu. Ceklek.. Pintu terdorong ke depan dan terbuka, Sifa yang menolehkan kepalanya pada Mery menyuruhnya masuk duluan. Tapi saat menolehkan kepala nya kembali berdiri si Rendy yang sudah berdiri dari tadi.
"Kenapa kalian berdiri di sini, sudah masuk sana." Ucap Rendy.
Sifa mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Rendy walau hanya sebentar.
"Hehehe.. Maaf Pak."
Sifa cengengesan minta maaf lalu menyalip untuk masuk ke ruang kelas begitu juga dengan Mery.
"Aduh, aku nyerah deh Sif.. Kamu ajalah sama Pak Rendy, karismanya terlalu tinggi untuk di dekati. Aku belum mumpuni untuk berada di sampingnya." Bisik Mery pada Sifa yang lagi duduk di kelas walau jam istirahat sedang berlangsung.
"Kok gitu Mer? Aku loh udah lama gak ketemu cowok yang bisa buat aku respek. Aku juga takut sama Pak Rendy, tapi.." Jawab Sifa.
"Kenapa takut sama saya." Sahut Rendy yang tengah berjalan ke depan untuk duduk kembali di mejanya karena jam istirahat sudah usai.
Sifa dan Mery kaget mendengar sahutan itu, keduanya sama-sama melotot kan matanya seolah sedang berbicara, owala kacau ini.
Kelas di mulai lagi, kali ini Rendy tidak memberikan materi tapi soal untuk di jawab. Dari meja depan masing-masing estafet memberikan soal dari si Rendy.
"Eh ini kan so do i gak si Mer." Tanya Sifa dengan nada pelan pada Mery yang ada di sampingnya.
"Iyaa maaf itu memang so do i, mungkin karena salah ketik." Jawab Rendy yang ada di depan.
Deg! Sifa kembali kaget mendapat sahutan dari Rendy. Bagaimana bisa Rendy mendengar ucapannya, lokasi jarak mereka lumayan jauh. Sifa dan Mery duduk di meja yang paling akhir sedangkan Rendy ada di depan. Nada suara Sifa juga terbilang rendah, tapi kok?
"Wih, tajam sekali pendengaran pelatih kita ini." Bisik Mery sambil senyum mengejek.
Setelah tes latihan soal, di jam istirahat yang ke tiga kali ini seorang panitia dari pihak pelatihan datang untuk memberi instruksi agar foto bersama sebagai bukti kalau pelatihan ini memang benar adanya.
Sorak para peserta pelatihan dengan gembira, apalagi teruntuk yang cewek-cewek. Mereka maju ke depan dengan cepat supaya bisa foto berdekatan dengan Rendy. Tapi panitia tempat pelatihan itu menganjurkan supaya yang pendek yang di depan.
Sifa dan Mery tersenyum bahagia, keduanya pun berdiri di depan. Mery berdiri tepat di samping Rendy, tapi entah kenapa Rendy mala pindah ke sebelah Sifa yang ada di samping Mery.
Rendy yang bergerak pindah tersenyum pada Sifa yang ter sontak kaget saat melihat Rendy ada di sampingnya.
"Baik, satu dua tiga.. Senyum." Ucap seorang pria yang sedang menekan tombol kamera.
Kebetulan hari ini adalah hari jumat, entah ada masalah apa? hari ini kami pulang cepat jadi setelah foto dan isoma (istirahat, solat dan makan) kami pun pulang. Tepat pukul 13 kami semua meninggalkan ruko itu dan segera menuju parkiran. Seperti biasa Sifa dan Mery memilih untuk keluar dari kelas di akhir saja karena tak mau jalan dengan dempetan, apalagi di tangga yang harus sabar menunggu untuk turun.
*Di parkiran*
"Sif aku duluan ya." Ucap Mery yang kemudian melajukan motornya dan berlalu dari pandangan Sifa.
Sifa yang tinggal sendirian di parkiran pun menaiki dan melajukan motornya.
"Eh, bukannya itu Pak Rendy?" Ucap Sifa dalam hati.
Sifa pun berhenti dan menyapa Rendy.
"Kenapa Pak dengan motornya? Pecah Ban?" Tanya Sifa.
Rendy menoleh karena tiba-tiba ada yang bertanya.
"Eh Sifa.. Iya nih."
"Mau aku bantuin Pak?"
Keduanya pun gantian motor, Rendy pakai motor Sifa dan Sifa memakai motor Rendy.
"Gimana ni Pak? aku cuma diam aja ni kan di motornya?" Tanya Sifa.
Rendy tersenyum mendengar pertanyaan Sifa dan berusaha untuk menahannya.
"Iya, diam aja. Biar aku yang mendorong motor itu dengan kaki ku. Jadi nanti motor yang kamu naiki itu jalan juga." Jawab Rendy.
Tak lama kemudian, mereka berdua menemukan bengkel dan segera turun dari motor.
"Makasih ya Sif, kamu udah bantu saya. Kamu setelah ini mau kemana?" Tanya Rendy.
Mendengar pertanyaan Rendy, Sifa melihat jam yang ada di tangannya.
"Aku harus pulang nih Pak, karena bentar lagi udah mau kerja."
"Oh.. yaudah makasih ya, nanti kalau ada waktu luang aku traktir kamu sebagai tanda terima kasih."
"Iya Pak.. Saya pulang dulu ya Pak, bye!" Ucap Sifa yang kemudian melajukan motornya.
Ceheett... Sifa mengerem tiba-tiba motornya yang baru ia gas itu.
"Kenapa Sif?" Tanya Rendy heran.
"Em gimana kalau minggu aja Pak, saya libur kerja hari itu dan pelatihan juga libur kan?" Ucap Sifa dengan gugup.
"Minggu? Ok dah. Nanti aku jemput kamu tapi jangan share lokasinya." Jawab Rendy sambil tersenyum.
Sifa mengangguk bahagia.
"Ok Pak, say pulang dulu."
Menunggu dua hari rasanya sangat terasa lama, tapi akhirnya hari itu tiba juga. Ini adalah hari minggu, Sifa akan pergi jalan bareng Rendy. Deg-deg ser rasanya sampai-sampai kasur Sifa penuh dengan baju yang akan di pakainya nanti.
"Duh jelek semua lagi! Pakai baju mana coba aku ini?" Gerutu Sifa sendirian di kamarnya.
Setelah memakan waktu lebih dari 1 jam akhirnya Sifa memakai blouse berwarna moccha disandingkan dengan jean panjang.
"Akhirnya aku bisa jalan dengan Pak Rendy." Ucap Sifa dengan girang.
Tin.. Sebuah klakson motor terdengar dari kosan Sifa. Dengan cepat tangannya meraih ganggang pintu dan membukakannya.