Aku tinggal di sebuah desa terpencil di kota Sirv. Pekerjaan penduduk desa kebanyakan petani ataupun peternak. Jadi saat kalian datang ke desa ku jangan heran bila melihat lebih banyak hewan ternak daripada manusia. Namun, kalian pasti tidak akan menyesal setelah datang karena pemandangan di sini sangat indah. Udara juga terasa sangat segar.
Aku punya satu sahabat bernama Lizi. Aku memang memiliki banyak teman, tapi dia yang paling dekat denganku. Kami selalu bermimpi bisa pergi ke kota Sirv. Karena menurut pengakuan beberapa penduduk desa yang pernah ke kota, di sana sangat luar biasa. Gedung-gedung menjulang tinggi. Tentu saja itu tidak ada di desa kami. Aku juga tau, orang kota berbeda dengan orang desa. Bahkan menurutku orang di desa ku sangat aneh. Mereka sangat mempercayai tahayul dan hal-hal gaib.
Buna adalah seorang peramal yang sangat dipercaya warga desa. Dia adalah seorang wanita tua yang tinggal di ujung desa. Banyak orang yang mempercayainya termasuk orangtuaku. Suatu hari ayah menghilangkan berkas penting desa. Karena sudah mencari kemanapun dan tidak ketemu, akhirnya mereka menemui Buna. Buna bilang bahwa berkas itu ada di bawah kasur tempat tidur. Dan benar saja, berkas tersebut ada di bawah kasur.
Aku dan Lizi iseng ingin bertemu Buna. Kami ingin membaca masa depan. Sebenarnya aku tak percaya tentang ramalan. Aku hanya menganggap ini sebagai candaan.
Kami berjalan menuju rumah Buna. Dari jauh kami melihat bahwa Buna sudah mengamati kami dari jendela. Kami awalnya agak takut karna wajah Buna sedikit menyeramkan. Namun kami tak mungkin kembali karena kami sudah hampir sampai.
Saat tiba, Buna langsung membuka pintu. Bau-bau aneh mulai menyeruak. Aku mengernyitkan hidung, tak menutup hidung, takut Buna tersinggung. Ia tersenyum ramah dan mempersilahkan kami masuk. Kemudian kami mengatakan padanya bahwa kami ingin melihat masa depan. Buna mengangguk lemah. Lalu kami memberinya uang 10 ribu untuk dua orang.
"Aku ingin melihat pekerjaan ku di masa depan," ucap Lizi secara langsung.
Buna tak memiliki bola kristal, juga tak memiliki kartu. Ia mengulurkan tangan memegang tangan Lizi kemudian memejamkan mata. Setelah beberapa saat ia kembali membuka mata.
"Kamu akan bekerja di pabrik celana terkenal," ucap Buna.
Lizi sangat bahagia kemudian dia melirik ke arahku.
"Saya akan mendengarkan dengan senang hati. Tidak harus tentang pekerjaan," ucapku langsung mengulurkan tangan.
Buna meraih tanganku dan menutup mata. Kali ini matanya lebih cepat terbuka. Ia sedikit terkejut di awal.
"Sesuatu yang membunuhmu sedang diasah,"
"Sesuatu yang membunuhmu sudah terlatih,"
"Sesuatu yang membunuhmu berjalan perlahan."
Kami membeku. Udara di sekitar terasa semakin dingin. Buna terlihat menyesal telah mengatakannya pada kami.
"A ... apa yang harus saya lakukan?" tanyaku gugup.
"Kamu harus membantunya. Ambil uang ini dan cepatlah pulang," ucap Buna langsung mengantar kami ke depan pintu.
Aku masih terdiam. Terlalu tidak masuk akal aku harus membantu orang yang akan membunuhku. Dan lebih tidak masuk akal aku malah mempercayai Buna. Setelah tersadar aku pun menenangkan diri.
Saat akan berpisah dengan Lizi, ia menenangkanku.
"Bagaimana mungkin ia tau pekerjaanku?" Lizi berkata sambil tertawa kecil. "Dan bagaimana mungkin kau akan dibunuh oleh seorang master. Di dunia ini master tersebut sangat kurang kerjaan mengincarmu hahaha. Lupakan saja omongan kosong dia," Lizi tertawa mencoba menghiburku.
Kami pulang ke rumah masing-masing. Saat itu aku berumur 15. Aku juga sedikit parno. Aku selalu takut seseorang akan menikam ku dari belakang. Aku juga berpikiran buruk saat melihat orang yang jalan perlahan.
Namun setelah beberapa tahun aku tak menemukan apapun. Aku juga memutuskan pindah ke kota setelah mendapat beasiswa kuliah di sana.
Di kota baru, aku menceritakan ramalan itu pada teman baruku. Namun, mereka semua hanya menganggap lelucon. Akhirnya aku juga berpikir demikian. Semenjak aku pindah, keparnoan ku juga berkurang.
Saat itu sabtu sore. Aku sedang bersantai sambil memainkan ponselku. Aku membuka sosial media dan melihat postingan Lizi. Walau kami sudah beda kota, kami tetap menjalin komunikasi. Di postingan tersebut Lizi sedang berfoto di depan sebuah perusahaan celana yang cukup besar.
Aku kembali takut. Hal yang dikatakan Buna tentang Lizi benar adanya. Lalu bagaimana dengan hal yang dikatakan Buna padaku?
Aku mengirim pesan pada Lizi, bertanya apakah ia benar-benar bekerja di sana. Dan dia menjawab iya. Lizi menenangkanku. Dia juga mengajakku tinggal bersamanya agar aku tidak terlalu takut. Namun aku tidak bisa meninggalkan kuliahku. Akhirnya Lizi lah yang pindah ke tempat tinggalku.
Aku mulai sedikit tenang. Dengan Lizi bersamaku harusnya aku tak perlu takut apapun, kan?
Kini kami tinggal bersama. Karena jarak tempat tinggal dan tempat kerja Lizi cukup jauh, aku selalu mengantar makanan untuknya. Seperti biasa, siang ini aku mengantar makanan untuk Lizi.
Aku menaiki taksi. Butuh 30 menit untuk sampai di perusahaan tempat Lizi berkerja. Lizi bekerja di bagian permesinan. Pekerjaannya agak santai karena ia hanya mengendalikan mesin.
Setelah sampai aku langsung melapor pada pak satpam. Ia yang sudah mengenalku hanya tersenyum mengangguk. Aku pun memasuki perusahaan lewat jalur belakang agar lebih cepat.
Kini aku sudah tiba di ruangan belakang. Namun keanehan muncul. Ada bau anyir darah yang sangat menyengat. Selain itu, ruangan yang biasanya ramai saat ini sangat sunyi. Aku pun memberanikan diri masuk lebih dalam.
Saat membuka pintu, aku membeku. Banyak mayat tergeletak di hadapanku. Siapa yang melakukan hal sekeji ini? Aku merasa tertekan. Badanku tak bisa digerakkan.
Dengan mataku yang tajam, aku mencoba mencari Lizi, berharap ia tak ada ditumpukkan mayat itu. Setelah beberapa saat aku menenang. Lizi tak ada di sana. Saat aku ingin berbalik, aku mendengar suara yang tak asing. Suara Lizi! Ya aku sangat yakin.
Aku mencoba sekuat tenaga agar bisa bergerak. Aku berlari, melewati tumpukan mayat. Bau anyir semakin kuat. Aku menutup hidung. Aku melompat dengan hati-hati, tentu agar tak menginjak mayat itu. Suara Lizi berasal dari kanan. Aku belok ke kanan. Ada ruangan tertutup di sana. Aku langsung mendobrak dan mendapati Lizi penuh dengan luka.
"Lari!" teriak Lizi saat melihatku.
Aku tak mungkin membiarkannya. Aku menghampirinya dan melihat sesuatu yang melukainya.
Apa ini? Celana? Bagaimana celana bisa begerak? Bagaimana celana bisa melukai Lizi? Tak mungkin! Aku pasti berhalusinasi.
"Lari!" Lizi berteriak lagi.
"Siapa yang melukaimu?" aku bertanya dan mencoba menenangkannya.
Lizi hanya menggeleng, darah masih mengucur dari kepalanya. Kemudian ia menatap dengan takut ke arah belakang. Aku bergetar. Ada apa di belakang?
Saat aku berbalik aku benar-benar melihat celana bergerak. Aku menggeleng berusaha tak percaya. Namun itu nyata! Celana itu bergerak.
"Sesuatu yang membunuhmu sedang diasah,"
tadi aku melihat celana-celana sedang dijahit.
"Sesuatu yang membunuhmu sudah terlatih,"
terlatih? Celana ini tak mungkin terlatih!
Tunggu! Aku menatap Lizi seram. Bukankah Lizi sudah ahli membuat celana?
"Sesuatu yang membunuhmu sedang berjalan perlahan,"
Aku melihat celana itu mulai mendekatiku. Aku bergantian melihat Lizi. Wajahnya sudah tak takut. Bahkan ia dengan santai menyeka darahnya. Kemudian mengeluarkan pisau dari belakangnya.
Aku berlari. Celana itu mengejarku. Bukan! Itu robot! Robot itu mengejarku. Aku berlari semakin kencang. Lizi berteriak menyuruhku berhenti. Aku melewati lorong, melompati mayat, segera aku membuka pintu belakang dan langsung menguncinya. Terdengar gedoran di belakangku. Aku menahan pintu.
Tang!
Pisau Lizi menembus pintu besi, hampir mengenai pinggangku. Aku segera berlari. Aku menghampiri satpam segera melaporkan apa yang sedang terjadi. Satpam itu kaget melihatku berlumuran darah. Ia juga melihat secara langsung Lizi masih mengejarku dengan pisau di tangannya. Akhirnya dengan bantuan orang-orang yang ada di sana, mereka berhasil menangkap Lizi.
Mereka menenangkan ku dan membawa ku ke rumah sakit terdekat. Aku masih bergetar. Tatapan membunuh Lizi masih menghantuiku. Dokter menyuntikkan sesuatu yang membuat ku segera tertidur.
*
Aku bangun dengan sekujur badan terasa sakit. Aku melihat ibuku tertidur di sebelah. Saat aku bergerak, ia juga bangun.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Ibu khawatir. Aku mengangguk kecil.
"Lizi sudah di bawa ke kantor polisi," jawab Ibu, tau apa yang akan ku tanyakan.
Aku masih merasa pusing, jadi aku memutuskan untuk tetap beristirahat.
Setelah beberapa hari, akhirnya aku diperbolehkan pulang ke rumah. Aku masih tinggal di tempat lama ku. Barang-barang Lizi juga masih tersusun di tempatnya.
Aku langsung memutuskan untuk pindah. Aku membereskan barang ku dan barang Lizi. Saat itu tak sengaja buku harian Lizi terjatuh.
Aku takut membukanya, tapi aku ingin penasaran. Lizi pasti punya alasan melakukan ini. Akhirnya aku membaca di ruangan yang lebih terang.
Aku membeku, halaman terakhir membuatku menangis. Ternyata selama ini Lizi sangat kesusahan. Ia di bully di tempat kerja bahkan di tempat tinggalnya. Maka ia tak ragu untuk pindah ke rumah ku. Aku menangis. Selama ini sahabat ku di bully tapi aku tidak tau. Aku tak menolongnya. Aku menyesal.
Andai aku tau, aku pasti membantunya. Andai aku bisa, kejadian ini tak akan terjadi dan Lizi akan baik-baik saja.