Saat aku yakin ini adalah keputusanku, saat itu pula aku pergi dari kota mati di mana ini adalah kota perjuanganku selama ini. Berbagai kisah telah aku lewati, baik itu tentang kehidupan, percintaan dan persahabatan. Tapi kali ini aku benar-benar akan keluar dari zona nyaman.
"Selamat tinggal kota yang penuh perjuangan, aku harus menemukan kisah baru di kota lain." Ucapku saat terbang di atas ketinggian bersama dengan pesawat dan juga mimpi-mimpiku.
Namaku adalah Sinta Rahmadani, aku lahir di bulan puasa jadi nama akhir ku ada kata ramadhan-nya. Aku biasa di panggil Sinta, aku sangat suka dengan petualangan dan juga hal-hal yang baru apapun itu. Keputusan besar ini awalnya benar-benar membuatku dilema parah, saat aku sudah bekerja dan lulus kuliah tapi aku memilih untuk pergi hanya karena untuk keluar dari zona nyaman. Aku adalah orang yang gampang bosan dan selalu berani ambil risiko atas semua yang aku lakukan. Karena aku percaya pada diriku sendiri.
Pagi itu aku sudah berada di kota yang tak ku kenali sama sekali tapi rasa nyaman dan kebahagiaanku terus mengalir hanya karena penasaran.
"This is time to tersesat di jalan dan aku akan segera mengenalinya."
Mataku celingukan di siang hari ini, satu persatu ku perhatikan bangunan gedung tinggi menjulang di Ibukota ini. Suasananya benar-benar terasa baru, apalagi kosanku.
Pagi-pagi sekali Ku langkah kan kaki untuk mencari pekerjaan supaya ada pemasukan, dan beruntungnya aku satu minggu kemudian sudah bekerja di sebuah perusahaan yang biasa saja.
"UMK? Gak apa-apalah yang penting gak zonk." Itu ucapku saat hendak berangkat kerja di hari pertama.
Wah ini benaran suasana baru, semuanya serba baru. Mulai dari kota, tempat kerja dan juga orang-orangnya.
"Hei lo anak baru di sini ya?" Ucap seorang wanita ketika hendak masuk ke dalam perusahaan.
Ceklek, ID card kutempel di pintu supaya bisa masuk. Aku berjalan dan menjawab wanita itu, "Iya mbak saya baru kerja hari ini."
"Eh lo baru pindah ke sini ya?" Tanya wanita itu.
"Hem.. Ya mbak."
Sambil berjalan wanita itu terus saja mengajakku untuk bicara.
"Lo kalau ngomong sama teman di sini gak usah pakai aku kamu, tapi lo gue aja." Ucapnya.
"Okay mbak."
Beberapa bulan pertama semuanya terasa indah, bisa punya teman baru, jalan-jalan ke tempat baru. Tapi setelah aku menjelajahi dari segala penjuru kota semuanya terasa kembali membosankan. Pagi kerja pulang tidur, libur jalan-jalan bareng kawan, tak ada sama sekali waktu yang ku nikmati bersama keluarga. Aku sangat-sangat merindukan momen bersama keluarga.
Tadinya sendiri berada di kota yang beda memang mengasikkan, tak ada yang melarang, tak ada yang memarahi di saat telat makan atau pun pulang larut malam, itu rasanya kebahagian yang hakiki namun itu semua hanyalah kebahagian sesaat dan semu.
Keputusan harus ku ambil kembali, aku akan pulang ke kota tempat lahir ku. Rasa rindu pada ortu dan keluarga sudah terlalu menggebu-gebu.
"Lah lo mau kemana Sin sampai harus resign segala, baru juga kerja tiga bulan." Tanya Lily, dia adalah teman kerjaku.
"Aku kangen keluarga Li, aku mau pulang."
"Tapi kan sayang, sekarang lagi susah cari kerja dan juga lagi covid. Nanti nyesal loh. Kalau lo udah bosan di sini lo harus cari seseorang yang bisa menghilangkan bosan itu seperti pacar? Mungkin."
"Aduh Li, aku ini tak secantik dirimu untuk mendapatkan pacar secepat memetik daun."
"Udah nanti aku kenalkan lo sama teman gue, mau ya? Please jangan resign." Ucap Lily penuh harap.
Aku mengangkat jempol ku sebagai tanda jawaban iya.
Dan benar aku mengurungkan niatku untuk resign dari tempat kerja. Aku lebih memilih untuk bersenang-senang dengan hal yang masih semu.
Malam itu pulang dari tempat kerja, aku dan Lily pergi ke salah satu mall yang ada di kota ini untuk menemui calon pacarku ya istilahnya mungkin ngedate bagi jaman sekarang. Karena aku terbilang orang kuper (kurang pergaulan) jadi ya gitu-gitu aja.
Aku dan Lily mulai memasuki area mall yang ada di bagian dalam, kami berdua mencari kafe Ria untuk mencari pria yang akan ku temui.
"Nah itu dia Sin, ayo cepat kita ke sana." Tunjuk Lily sambil berjalan ke arah pria yang sedang duduk itu.
"Hai Kev, kenalin ini Sinta teman gue. Kalian ngobrol aja dulu gue mau ke toilet bentar."
"Duduk Sin." Ucap pria itu.
Aku pun menarik kursi yang ada di hadapanku dan mulai duduk. Pria yang ku temui kali ini sangat tampan dan benar-benar tipe aku banget. Karena wajah tampannya seperti oppa yang ada di negeri ginseng.
"Em.. Kenalin nama gue Kevin Saputra, panggil aja Kevin. Nama lo Sinta kan?" Tanya Pria itu.
"Iya namaku Sinta, salam kenal." Ucapku sambil menjabat tangannya.
"Lo udah berapa lama tinggal di sini?"
"Udah tiga bulanan? Tapi kayaknya udah lebih."
"Oh.. Kita langsung ke intinya saja ya, kita bertemu kan untuk ngedate. Jadi mau gak kamu jadi pacarku?" Tanya Pria itu dengan santai.
Astaga pria setampan itu nembak aku? padahal kita baru pertama kali bertemu. Karena dia adalah tipe aku banget jadi gak mungkin aku bilang tidak.
"Okay." Jawabku sambil senyum-senyum bahagia.
Hahaha.. Pria itu tertawa puas di hadapanku dan aku kebingungan dong.
"Maaf-maaf itu hanya bercanda, masa gue nembak lo padahal baru kenal nama doang."
Deg! Hatiku kok rasanya sakit ya? Kenapa aku seperti sedang terbang lalu jatuh hancur pada kenyataan. Aku harus ikuti permainan kata-katanya itu.
"Hahahaha.. Gue juga bercanda masa ya kan ada orang seganteng lo bilang mau gak pacaran sama lo dan gue jawab enggak? Itu sangat gak mungkin kan? Karena gue masih normal jadi otomatis bibir ini berkata iya."
Kami berdua pun tertawa garing karena becandaan kami tak ada sama sekali lucu-lucunya tapi karena untuk mencairkan suasana, tertawa terpaksa adalah jalan ninjanya.
Tak lama kemudian, Lily datang dari toilet. Ia terlihat senang karena pas dia datang kami berdua sedang asik tertawa bareng. Itu yang terlihat di mata Lily walau kenyataannya beda jalur.
"Cie.. Cocok nih ye, bakalan dapat PJ nih aku." Ucapnya sambil tertawa ngejek.
"Em.. Li, maaf ya gue harus pergi karena ada meeting mendadak dari kantor. Em.. Sin maaf banget ya, nanti kita ketemuan lagi ya." Ucap Kevin sambil berdiri dan meninggalkan kami berdua.
Kini di meja tempat kami duduk tinggallah aku dan Lily.
"Gimana lancar gak Sin?" Tanya Lily yang agak kurang yakin.
Aku menggeleng pelan.
"Gak Li, dia kayaknya gak suka sama gue. Masa tadi dia ngeprank nembak gue coba."
"Yaudah Sin, lo tenang aja. Gue bakal atur kencan berikutnya untuk lo."
"Gak usahlah Li, Gue mau pulang aja. Karena ini gak menyenangkan sama sekali. Padahal dia tipe aku banget." Ucapku sambil menunduk.
Satu minggu setelah aku bertemu dengan Kevin, aku benaran memutuskan untuk pulang ke kotaku.
Lily pun sudah membujukku agar tetap berada di sini bersamanya tapi keras kepalaku gak bisa di atur dengan baik.
"Hallo Bu, aku pulang gak apa-apa ya Bu? Aku rindu banget ni sama masakan Ibu, udah 2 tahun gak makan masak Ibu." Ucapku pada saat menelpon Ibu.
"Iya nak, pulang aja dulu. Ibu juga sudah sangat Rindu dengan Sinta. Kapan kamu balik ke sini nak?" Tanya Ibu.
"Hari ini Bu, nanti malam aku sudah tiba di sana."
"Yaudah nak, Ibu tunggu ya nak. Mau di masakin apa?"
"Apa aja Bu, kalau masakan Ibu mah semuanya enak. Dah ya Bu, Sinta mau cek in dulu. Ini Sinta lagi di bandara." Ucapku sambil mengakhiri panggilan ini.
Aku di antar oleh Lily untuk ke bandara, dia dari tadi berdiri menungguku menyelesaikan panggilan dengan Ibu.
Setelah menelpon Ibu segera aku memeluk teman kerjaku itu, dia sudah seperti kakak bagiku dia pun juga sudah menganggap ku sodara meski kami baru kenal beberapa bulan.
"Hati-hati ya Sin, i'm gonna miss you. Nanti kalau bosan di kotamu datang lagi ke sini ya." Ucapnya yang masih memelukku.
Di ujung pelupuk mata, sebuah cairan bening mulai menetes saat mendengar kata-kata dari Lily. Dengan cepat tanganku menghapus cairan bening itu dan melepaskan pelukan Lily.
"I'm gonna miss you too, Li.. Bye, gue harus cek in nih nanti telat." Ucapku sambil berjalan meninggalkan Lily.
Di atas ketinggian kilo meter yang entah berapa karena aku tak mengerti sama sekali tentang ini. Aku kembali terbang bersama pesawat yang akan membawaku menuju kota kelahiran ku. Setelah terbang menghabiskan waktu sekitar 4 jam lebih, aku tiba di kota kelahiran ku. Aku sudah sangat merindukanmu Aceh, ku hirup udara yang ada dengan perlahan lalu ku hembuskan kembali rasanya ah mantap.
"Bu, Aku pulang!" Ucapku sambil berjalan membawa koper.
Ibuku sudah duduk di depan teras rumah untuk menunggu kedatanganku. Dengan segera Ia bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiriku dan memelukku erat.
"Sin, Ibu sangat merindukanmu." Ucapnya sambil memelukku.
"Sinta juga merindukan Ibu." Ucapku yang kemudian melepas pelukan itu dan menatap mata sang Ibu yang sedang digenangi oleh air.
"Ibu sudah masak untukmu nak, ayo makan dulu." Ajak Ibu untuk masuk ke dalam rumah untuk makan.
Ku langkahkan kakiku memasuki rumah yang sudah sangat aku rindukan.
"Ini jauh lebih nyaman di banding yang lainnya." Ucapku dalam hati.
Pada saat aku makan bareng dengan Ibu, ponselku berbunyi. Ada pesan yang masuk, itu adalah dari Kevin.
"Hai Sin, Ini gue Kevin. Maaf banget belum menghubungimu sama sekali usai dari pertemuan kita karena gue lagi sibuk banget. Kapan nih kita ketemuan lagi, gue sudah sangat merindukanmu."
Itu isi pesan dari Kevin.
What dia ngajak ketemu aku? Ini sesuatu yang sangat langkah. Aku harus kembali ke Jakarta.
"Bu, boleh gak 2 minggu lagi Sinta balik ke Jakarta?" Tanyaku pada Ibu yang sedang mengunyah makanan.
"Emang kemarin kerjanya minta cuti atau ngundurin diri Sin?" Tanya balik Ibuku.
"Ya keluar Bu, nanti Sinta cari aja lagi kerjaan di sana."
"Udah Sin, Kamu di sini aja dulu temani Ibu selama beberapa bulan ke depan. Setelah itu kalau mau pergi lagi silahkan."
"Baik Bu."
"Sorry Kev, gue udah balik ke kota gue nanti kalau gue ke sana lagi kita ketemuan ya." Jawabku pada pesan itu.
"Okay Sin, gue akan selalu menunggumu." Isi balasan pesan dari Kevin.