Di sebuah kota yang maju terdapat sepasang kakak beradik kembar yang bernama Elizabeth dan Lisa. Elizabeth memiliki wajah yang cantik namun sifatnya yang cenderung jelek sedangkan sang adik yang bernama Lisa memiliki wajah cantik namun sifatnya baik hati dan kalem.
Karena fisik dan wajahnya sama banyak orang yang salah memanggil nama mereka. Namun untuk orang yang jelih pasti tahu perbedaan mereka. Yah benar sekali Lisa memiliki tanda lahir di telinga kanan sedangkan Eliz tidak memilikinya, tentu ditambah dengan sifatnya.
Untuk kehidupannya sendiri jangan khawatir karena orang tua mereka sangatlah kaya. Semua yang mereka inginkan akan terkabul tanpa terkecuali.
Pada pagi hari yang cerah mereka memutuskan untuk berolahraga. Mereka berlari memutari kompleks perumahan elit. Tak beberapa lama datang mobil boks es krim. Sang kakak yang pencinta es krim memutuskan untuk menghentikan penjualan itu kemudian berlari menuju kedua orangtuanya. Saat ingin meminta uang mama dan papa menolak karena tidak tahu es krim itu higienis atau tidak. Eliz yang sangat kesal kemudian mendorong adiknya yang tak bersalah dan berlari menuju rumah.
Malam pun tiba Eliz sudah mengurung diri di kamar. Sang adik yang dari tadi khawatir mencoba membujuk kakak tercinta. Namun dia malah di tusuk dengan kata-kata tajam darinya. Karena merasa sedih Lisa pergi menuju taman. Ia merenung mencoba mencari jalan keluar supaya kakaknya tidak ngambek.
Entah kenapa kebetulan penjual es krim itu datang. Lisa bergegas memberhentikannya dan mengambil uang. Setelah itu dia membeli es krim rasa stroberi dan coklat. Hati Lisa sangat bahagia bisa membelikan kakaknya es krim. Meskipun tidak terlalu mahal sih.
Tok... tok...tok...
Pintu kamar Eliz terketuk. Lisa berbicara dan menegaskan bahwa dia memberikan es krim untuknya. Namun untuk beberapa detik Eliz tidak menyahut ucapan Lisa. Namun bukan Lisa bila tidak bisa membuat kakaknya senang. Lisa terus menerus meminta tolong untuk masuk dan akan memberikan semua es krim yang ia punya.
Tak lama setelah itu Eliz membuka pintu dan menarik tangan Lisa masuk ke kamar. Sang kakak tersenyum dan memeluk sang adik. Akhirnya mereka berdua dapat menikmati es krim yang sangat ia sukai.
Ke esokkan harinya mereka berangkat menuju sekolah. Saat di kelas kakaknya berkelahi dengan seorang anak perempuan. Eliz menghina dan memaki anak itu.
Setelah mendengar ucapan Eliz teman-teman anak itu kemudian membully dirinya (anak yang dibully) dan mencaci makinya. Melihat tindakan yang dilakukan kakaknya Lisa meminta maaf kepada anak itu dan mengajaknya untuk ke kamar mandi. Nama anak itu adalah Olive. Saat berada di kamar mandi Olive menangis dengan keras. Lisa yang melihat itu mencoba membuat Olive tenang dan tersenyum. Lisa menjelaskan bahwa tidak ada provesi pekerjaan orang tua yang membuat kita malu. Lisa juga berkata kepada Olive kalau dirinya menyukai es krim dan kakaknya juga. Mendengar hal itu Olive memeluk Lisa.
Saat jam istirahat berbunyi Lisa dan Olive pergi menuju lapangan Sekolah. Ternyata mereka menunggu antrian es krim ayah Olive. Cukup lama mengantri akhirnya sekarang giliran mereka. Lisa dan Olive berbincang-bincang dengan ayah sambil tertawa. Elizabeth yang melihat adiknya yang sedang bersama dengan Olive mulai marah dan membentak Lisa di depan teman-temannya.
Eliz menyuruh adiknya untuk membuang es krim yang baru saja ia makan. Namun Lisa menolak karena itu adalah buatan ayah temannya. Mendengar hal itu Eliz murka dan menumpahkan es krim yang Lisa bawah. Tak lupa Eliz memarahi ke dua orang itu entah apa alasannya.
Mereka bertiga pun adu cekcok sampai-sampai adu kekerasan. Untung saja ayah Olive dan guru melerai mereka. Setelah itu mereka bertiga dibawah ke kantor kepsek untuk diberikan sanksi yaitu menyalin kata permohonan maaf.
Setelah pulang ke rumah Lisa marah karena sifat kakaknya yang sangat tercela. Sang kakak tidak perduli dan masih menasehati adiknya untuk tidak bersama dengan keluarga Olive lagi karena Eliz tak mau adik kesayangannya terluka. Mendengar hal itu tentu Lisa menjadi marah. Kenapa juga dia akan terluka, bahkan selama ini dirinya yang selalu terluka saat bersama dengan kakaknya.
Mendengar hal itu sang kakak sedih dan pergi menuju kamar. Lisa yang baru sadar apa yang baru ia katakan menjadi sangat sedih sekaligus malu. Melihat pertengkaran anaknya papa dan mama membujuk mereka berdua untuk berdamai namun tidak terpenuhi.
Sejak saat itu Lisa tidak pernah berbicara kepada sang kakak. Lisa selalu menghabiskan waktu dengan Olive dan keluarganya. Tak tanggung-tanggung Lisa bahkan menginap di rumah Olive.
Dua bulan berlalu keluarga Elizabeth akan pergi untuk berlibur ke Swiss. Mereka berencana bahwa besok mereka akan berangkat dan semua pegawai juga ikut serta dalam liburan. Saat sedang rapat Lisa menolak untuk pergi karena sudah berjanji untuk menghabiskan waktu bersama Olive. Mendengar hal itu seluruh anggota keluarga menolak dan menyuruhnya untuk tetap ikut. Lisa masih kekeh untuk tetap tinggal hingga pada keputusan akhir mereka setuju namu Lisa harus di temani oleh 10 bodyguard. Lisa menyetujui usulan itu dan segera pergi ke kamar.
Waktu liburan telah tiba seluruh keluarga menanyakan lagi apakah Lisa berubah pikiran dan mau ikut serta dalam liburan namun Lisa tetap menolak. Mendengar hal itu seluruh keluarga pasrah dan memberikan Lisa perintah agar selalu ada di rumah dan jangan pernah lepas dari pengawasan bodyguard. Lisa pun menyetujuinya.
Lisa pov
Karena waktu janji sudah berlalu aku menuju rumah Olive. Di sana dia sudah disambut hangat oleh keluarganya. Aku bermain dan bersenang-senang dengan Olive hingga aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Tak terasa hari mulai menjelang malam. Ah... mungkin juga ini sudah tengah malam karena suara jam yang menunjukkan angka 12 berbunyi.
Suara benda jatuh membuatku terkejut tak lama terdengar suara orang beradu jotos. Mendengar itu aku kepo dan mencoba lihat kedepan rumah namun ditahan oleh Olive. Setelah cukup malam aku mencari keberadaan bodyguard namun tidak ada seorang pun yang terlihat. Ini sangat aneh bukannya semua bodyguard itu disuruh mama untuk menjagaku selama 24 jam namun kemana perginya mereka?
Pikiranku terhenti karena Olive menyuruh ku ke kamarnya. Dengan percaya aku mulai mengikuti Olive. Di sana sudah terdapat ayah dan ibu Olive. Mereka melihatku dengan tatapan aneh. Saat aku mau pergi keluar tiba-tiba saja tanganku yang berharga di tarik oleh ayah Olive yang membuat tubuh kecilku jatuh. Terlihat dari raut wajah mereka bertiga sangatlah mengerikan. Dari tatapan dan senyuman mereka seperti orang yang melihat hewan buruannya.
Aku mencoba memahami situasi dan kabur karena melihat ayah Olive telah membawa sebuah pisau yang berlumuran darah. Entah dari mana beliau ambil pisau itu. Tak berselang lama mereka semua tertawa ketika melihat wajahku yang ketakutan. Entah kenapa membuatku jadi merinding. Aku menatap ke arah Olivie dan menanyakan apa yang telah terjadi. Olivie tersenyum dan mengatakan "Jika aku tidak bisa bersama denganmu maka aku akan mengambil paksa dirimu". Setelah mengucapkan kata itu olive melepas rambut palsu.
Aku benar-benar terkejut karena baru saja mengetahui bahwa Olive adalah anak laki-laki. 'Dia berjalan menuju arahku dan menyayat pipiku. Karena sakit aku pun berteriak membuat Olive ahhh maksudku 'Dia tertawa. Aku menangis dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi namun, dia hanya menatap ku dengan aneh.
Olive palsu ingin menusukkan pisau itu ke tubuh ku namun dicegah oleh ayahnya. Aku pikir ayahnya cukup baik namun ternyata aku salah. Aku dibawah ke sebuah gudang yang berada di bawah tanah rumah ini. Bau disana sangat anyir dan busuk. Aku mencoba menahan namun tidak bisa dan muntah. Aku melihat wajah 'Dia sangat marah namun kemarahannya redah saat aku menetaskan air mata. Saat berjalan di lorong aku melihat beberapa foto anak kecil yang cantik beserta orang tuanya. Aku tak tahu itu siap dan aku tak mau melihatnya lagi karena foto itu sudah berlumuran darah.
Entah berapa lama aku berjalan rasanya tenagaku habis karena terus menangis. Kadang terbesit dipikiran ku kenapa aku tidak ikut berlibur bersama keluargaku? Kenapa aku tak memperdulikan kata-kata kakak. Yah mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur.
Aku melihat sebuah pintu yang berwarna merah. Mereka mendorongku untuk masuk ke dalamnya. Sangat mengejutkan. Aku melihat semua bodyguard yang bertugas melindungi ku telah tewas terbunuh disini. Tak hanya itu aku sangat mual untuk mengatakannya. Tubuh mereka sekarang di cincang oleh beberapa orang. Melihatnya saja aku sudah mau pingsan. Air mataku mulai bercucuran. Jika saja aku tidak keras kepala mungkin mereka tidak akan menjadi seperti ini.
Ayah 'Dia menunjukkan beberapa proses penyiksaan disini. Setelah mereka dipotong menjadi bagian yang lebih kecil, daging mereka semua digiling dan dicetak di sebuah mesin daging. Organ dalam korban di tampung di sebuah bak sedangkan darah mereka ditampung di sebuah wadah kaca yang sangat besar. Aku mulai mual melihat apa yang telah aku lihat. Brand daging yang selama ini aku makan dari rumah ini adalah daging manusia? T-tunggu jadi es krimnya juga?
Kini apa yang akan terjadi denganku?