Apa yang akan kamu lakukan, jika mendengar lonceng di tengah malam? Lari atau Cari.
***
Sekelompok anak remaja sedang berdiskusi di kantin sekolah, mereka adalah Baim si ketua kelas, Surya si anak baru pemberani, pasangan kekasih Mike dan Yuke, juga si cantik berkacamata, Ayu.
Mereka mempunyai rencana untuk uji nyali malam ini di gedung tua tak jauh dari sekolah.
Konon kabarnya, gedung tua yang sudah tak berpenghuni selama puluhan tahun itu, menjadi tempat tinggal makhluk tak kasat mata. Banyak cerita berkembang di masyarakat bahwa tempat itu dikuasai oleh sosok pembawa lonceng kematian.
Warga sekitar gedung tua tak ada yang berani keluar dari rumah saat malam hari, mereka juga sering mendengar suara lonceng bersahutan dari dalam gedung.
"Brakk ...." suara meja dipukul oleh Baim karena usulannya untuk pergi ke gedung tua ditolak oleh teman-temannya.
"Apa yang kalian takutkan? Hah!" Baim memandangi temannya satu per satu. Dia merasa berkuasa, tak ingin ada penolakan.
"Siapa yang takut? Dengar! Namaku Surya Winoto. Takut! Tak ada dalam kamus hidupku," ucap angkuh Surya berdiri dari tempat duduknya seraya bertolak pinggang.
"Ta-tapi, di-di sana banyak hantunya, Aku takut," ucap Ayu terbata-bata, sambil membenarkan kacamatanya yang tidak miring, dia pun melanjutkan ceritanya, "Kata orang, di sana ada hantu pembawa lonceng, siapa pun yang masuk ke sana tidak ada yang bisa keluar."
"Eh, Yu. Kalau kamu takut, gak usah ikut deh! Entar yang ada kamu pingsan, bikin repot." Mike menyilangkan tangannya didada, menatap tajam Ayu.
"Sayang ... nanti, siapa dong yang bawa in tas aku? Terus ... yang siap in keperluan aku? Pokoknya Ayu harus ikut," ucap manja Yuke yang bergelayut manja di lengan Mike.
"Kamu gak usah ikut deh Ke! Ini permainan buat cowok," sela Surya.
"Kenapa? Oh ... aku tahu, kalian sebenarnya mau pergi ke tempat lain kan!" seru Yuke yang curiga karena ia tak dibolehkan untuk ikut.
"Udah ... udah, gak usah ribut. Kita semua pergi. Malam ini jam 11.00 WIB, kita kumpul di depan gerbang gedung tua. Jangan lupa bawa kamera dan barang-barang lainnya, aku yakin kalau kita berhasil dokumentasi hantu di gedung tua, maka kita akan terkenal," ucap Bima meyakinkan teman-temannya.
Mereka pun meninggalkan kantin sekolah setelah bel berbunyi.
***
Jam sebelas tepat, Baim, Surya, dan Ayu tiba di depan gerbang gedung tua. Mereka sudah mempersiapkan diri untuk melakukan petualangan mistis. Mike dan Yuke belum juga nampak batang hidungnya, membuat Surya nampak kesal karena lama menunggu.
"Mike sama Yuke lama banget, jadi ikut gak sih! Kalau takut gak usah janji gini. Sial! baru kali ini aku nunggu orang," umpat Surya yang kesal, dia menendang keras sebuah kaleng kosong di tanah lalu mengenai tiang listrik depan gerbang.
Dua dentingan keras terdengar oleh Ayu, padahal kaleng yang ditendang hanya satu. Ayu masih berpikir, tapi tiba-tiba Mike dan Yuke datang dengan sepeda motornya.
"Maaf banget nih, udah lama nunggu ya," ucap Mike segera turun dari motornya dan menggandeng tangan Yuke berjalan mendekati Baim.
"Kamu mau ke mana Ke! Bawa barang banyak banget," tanya Baim memperhatikan dandanan Yuke, matanya beralih ke tas besar di belakangnya.
"Aku kira kalian bohong mau ke gedung ini. Kupikir kita akan ke puncak, jadi ... aku udah persiapan buat ke sana. Kalian serius mau masuk?" tanya Yuke. Diedarkan pandangannya sekeliling gedung tua, hawa menyeramkan dirasakannya, bulu kuduknya merinding padahal dia memakai baju berlapis dan jaket yang tebal tetapi terasa masih dingin.
"Ayolah cepat kita masuk! Sudah tak sabar aku mau melihat hantu." Surya berjalan duluan. Dia menyalakan senter diarahkan ke depan untuk menerangi jalan.
Surya membuka pintu gerbang, perlahan berjalan masuk diikuti teman-temannya. Semilir angin malam menyambut kedatangan remaja yang penasaran dengan mitos hantu lonceng kematian.
Gedung tua tampak kusam, dinding juga mulai retak dan berlumut, ilalang tumbuh tinggi menjalar di setiap sudut bangunan berasitektur khas Belanda zaman dulu. Ada dua pohon tinggi dan besar yang terletak di sisi kiri dan kanan yang menambah kesan keangkeran tempat ini.
Lima remaja ini melangkah menginjak ranting dan daun berserakan di halaman yang tak terawat. Hingga sampai di depan pintu utama, sejenak mereka berhenti lalu saling memandang. Baim membuka pintu besar yang masih kokoh tak termakan rayap.
Kreekk ....
suara pintu yang sudah tua yang tak pernah dibuka selama puluhan tahun. Lima remaja yang memiliki rasa ingin tahu satu per satu masuk dengan keyakinannya.
"Assalamualaikum," ucap Ayu yang paling akhir masuk ke dalam, ke empat temannya berbalik memandangnya.
"Ngapain ucap salam, gak ada yang jawab," sindir Surya.
"Walaupun gak ada orang, tapi kita harus punya tata krama saat masuk ke tempat baru," jawab Ayu menunduk, dia sadar tak ada gunanya membantah.
"Dasar culun, gak usah ceramah. Nih, bawain tas aku!" Yuke memberikan tas besarnya ke Ayu. Tak berani membantah, Ayu hanya diam dan membawa tas itu.
Suasana di dalam kosong, hanya ada sarang laba-laba yang menempel di dinding dan langit-langit atas. Mereka mulai mengeluarkan kamera dari tas. Surya yang paling antusias, ia menyalakan kamera video dari ponselnya dan mulai aksinya berbicara layaknya pembawa acara.
Ting ... ting ....
Bunyi lonceng menggema di dalam ruang kosong. Ayu yang ketakutan langsung memeluk orang di sampingnya.
"Apa-apaan sih! Jangan cari kesempatan ya Yu, peluk-peluk pacar orang," bentak Yuke yang melihat Mike dipeluk Ayu.
"Maaf, ta-tapi ...."
Ucapan Ayu terputus saat dia melihat ada bayangan yang melintas dari kejauhan. Dia hanya berpikir apakah ada orang lain selain mereka di sini!.
"Udahlah, cowok aja diributin. Sudah jam 12 tepat, saatnya kita mulai. Kita akan bagi tugas, Aku, Surya, dan Mike akan keliling tempat ini, Yuke dan Ayu diam saja di sini, jangan kemana-mana sebelum kami kembali!" tegas Baim memberi perintah.
Baim pergi ke arah belakang, Mike dan Surya ke atas lantai dua. Menyisakan Ayu dan Yuke di ruang utama.
Baim berjalan sendirian menyusuri setiap ruangan. Dia menyalakan lampu senter dan juga kamera video. Tak ada hal apapun yang tertangkap dalam kamera videonya, hingga sampai di area dapur, ia mendengar suara gemericik air. Baim menajamkan pendengarannya, suara air berasal dari kamar mandi.
'Apa kran air masih berfungsi, mana mungkin?' batinnya, Baim yang penasaran mendekati pintu kamar mandi, karena yakin dengan asal suara, Baim mendorong pintu dengan kasar.
Braakk ....
Suara pintu jatuh ke lantai karena dorongan yang kuat dari Baim, ditambah pintu kamar mandi yang sudah tua dan rapuh. Anehnya, tak ada air yang keluar, bahkan bak mandi juga sudah kering dan banyak serangga di dalamnya.
Baim menoleh ke belakang, seperti ada bayangan seseorang yang mengikutinya. Baim ingin mengejar bayangan itu, nahas, dia menginjak paku, kakinya mengucurkan banyak darah.
Baim mengerang kesakitan, namun bau darah segar mengundang sang pembawa lonceng mendekatinya, Baim terkejut saat sosok hitam tiba-tiba berada di dihadapannya.
Sosok menyeramkan itu membunyikan lonceng, tak lama kaki baim ditarik paksa hingga putus, begitu juga dengan kedua tangannya, tak peduli dengan teriakan kesakitan Baim. Darah segar dari potongan tangan kanan Baim di teteskan ke lonceng kematian.
Ting ... ting ... ting
Suara lonceng terdengar hingga ke ruang utama. Yuke dan Ayu saling menatap, mereka mulai cemas karena teman-temannya belum kembali.
Sementara di lantai atas, Surya dan Mike masih mencari keberadaan makhluk yang ditakuti warga. Akan tetapi belum juga ada tanda kehadirannya, mereka belum menyadari bahwa sebenarnya mereka sangat dekat dengan sosok hantu pembawa lonceng kematian.
"Mike, gak seru ah ... daritadi kayaknya gak ada apa-apa. Kita turun aja deh!" Seru Surya menarik Mike turun karena dia tak mendapatkan apa-apa.
"Tunggu! Kita belum memasuki kamar itu." Mike menunjuk sebuah pintu di sudut kiri yang tertutup rapat.
Mereka berdua berjalan mendekati pintu lalu membukanya perlahan, bau anyir menyeruak seketika. Tiba-tiba lampu senter yang dipegang Mike, mati. Surya menghidupkan lampu darurat dari ponselnya, cahaya yang minim membuat sesak, apalagi ruangan ini benar-benar tertutup.
Surya ingin keluar dari ruangan ini, karena perasaannya tidak enak. Dia menarik tangan Mike, tapi Mike terasa berat, matanya merah, tubuhnya kaku, dan pucat. Mike menggertakan giginya, seperti kesurupan Mike menyerang Surya. Mike mencekik leher Surya, namun Surya membalas dengan memukul kepala Mike.
Surya lari menjauh tapi saat berada dekat tangga Mike berhasil menarik kakinya dan menyeretnya. Surya teringat, dia selalu membawa senjata api yang disimpan di balik bajunya, karena tak ingin mati konyol, Surya melepaskan tembakan tepat di kepala Mike.
Dorr ... dorr ...
Dua kali tembakan membuat Mike jatuh dari lantai atas ke bawah dan tepat di hadapan Yuke dan Ayu.
Aaaaaaaa ............
Mereka menjerit melihat tubuh Mike bersimbah darah. Surya turun dengan napas terengah-engah, lalu menodongkan senjata dihadapan keduanya.
"Apa yang kalian lihat tidak seperti yang kalian pikirkan, Dia bukan Mike, dia telah dirasuki hantu dan dia ingin membunuhku, jadi aku terpaksa menembaknya. Apa kalian percaya?" Mike menjelaskan keadaan dan masih mengangkat senjatanya, sementara Yuke dan Ayu mengangguk saja, mereka sudah ketakutan.
Ting ... ting ... ting ....
Suara lonceng berbunyi lagi, mereka bertiga lari ingin meninggalkan gedung ini, tapi pintu yang tadinya terbuka tiba-tiba tertutup rapat. Mereka menggedor pintu dan berteriak minta tolong. Tak ada angin kencang, tiba-tiba saja tubuh Surya melayang dan berputar-putar.
"Toooolonggggg ...." teriak Surya.
Yuke dan Ayu berpelukan karena takut, mereka juga tak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya histeris dan menangis. Tubuh Surya dihempaskan dengan kuat dari atas ke dinding, hingga membuat kepalanya pecah dan darah muncrat mengenai wajah mereka berdua.
Ting ... ting ... ting ... ting ....
Suara lonceng berbunyi lagi, Yuke dan Ayu berlari mencari jalan keluar. Mereka berlari hingga akhirnya menemukan sebuah ruangan, banyak buku di sini karena ini adalah ruangan untuk membaca. Mereka bersembunyi di ruangan itu.
Yuke terduduk di lantai, air matanya jatuh. Dia mulai meratapi nasibnya, bahkan dia mulai menyadari semua kesalahannya yang diperbuat selama ini pada Ayu.
"Ayu, aku minta maaf kalau selama ini selalu merendahkanmu. Aku tahu selama ini punya sikap yang buruk. Yu, aku tidak mau mati di sini yu ... hiks ... hiks, aku ingin pulang." Tangisan Yuke membuat Ayu terharu dan memeluk erat Yuke, merasakan ketakutan akan kematian.
Yuke tak sengaja melihat sebuah gambar di dinding. Gambar yang besar, cukup untuk melihat dari tempat Yuke duduk. Sebuah gambar keluarga, tapi yang menarik perhatiannya adalah ada seorang wanita cantik berpakaian khas noni Belanda dan membawa lonceng di pangkuannya, mirip sekali dengan Ayu, hanya saja tidak berkacamata.
Yuke mulai panik, dia bangkit dari duduknya memastikan gambar yang dilihatnya salah. Yuke melihat gambar dengan jarak terdekat, lalu membandingkannya dengan temannya Ayu. Melihat gambar itu lagi lalu beralih menatap Ayu, banyak pertanyaan yang ada di pikirannya.
Ayu terseyum penuh arti, kemudian membuka kacamatanya, melepas ikat rambutnya, lalu mengeluarkan lonceng dari sakunya.
"Apakah lonceng ini sama seperti dalam gambar?" tanya Ayu dengan tersenyum mengerikan lalu berjalan selangkah demi selangkah mendekati Yuke yang sudah berkeringat karena takut.
Yuke berjalan mundur, tapi langkahnya terhenti karena dia sudah berada di sudut ruangan, begitu juga detak jantungnya seakan ingin berhenti saat itu, namun sayangnya Ayu belum mengijinkannya.
Ayu tertawa menyeramkan, suaranya menggema membuat siapa saja bergidik ngeri bila mendengarnya, apalagi Yuke yang berada di hadapannya.
Tiba-tiba Mike masuk mendobrak pintu, lalu menarik Yuke dari cengkraman hantu pembawa lonceng.
"Mike, kau masih hidup. A-aku takut Mike." Yuke langsung memeluk erat Mike. Dia merasa masih ada harapan ada yang menyelamatkannya.
Mike melepaskan pelukannya, mengusap air mata Yuke lalu tersenyum dan menciumnya.
"Maafkan aku Yuke." Mike menusuk perut Yuke dengan kuku panjangnya lalu mengeluarkan isi perut dan membuangnya. Yuke menatap sekali lagi gambar di dinding ada sosok lelaki berdiri di belakang Ayu, dia mirip Mike. Yuke akhirnya jatuh dan mati mengenaskan.
"Kau selalu saja mengganggu kesenanganku, Kak!" ucap Ayu pada sosok laki-laki di hadapannya.
"Aku tidak ingin tanganmu kotor dengan darah, biar aku saja yang menyelesaikannya," jawab Mike santai, dia membersihkan tangannya yang penuh dengan darah.
Mike dan Ayu adalah kakak dan adik. Mereka sebenarnya tidak ingin membunuh, tapi dari awal mereka yang bersikeras untuk masuk ke gedung tua ini. Mereka menantang kematiannya sendiri. Apalagi sikap buruk mereka selama ini, membuat mereka juga tak pantas hidup di dunia.
Mike yang membunuh Baim si penguasa yang keras kepala. Mike juga yang menyerang Surya yang angkuh dan sombong, sebenarnya dia tidak kesurupan, memang itu adalah Mike sebenarnya. Yuke, korban terakhirnya karena sifatnya yang sok cantik, dia merundung teman-temannya yang di anggap lemah.
Mereka menatap gambar yang di dinding. Gambar keluarga bahagia harus terkoyak akibat sebuah fitnah dari sekelompok orang yang tidak menyukai keluarga mereka. Mereka dibantai oleh sekelompok orang lalu mayatnya dibiarkan membusuk di sini.
Ting ... ting ... ting ....
Suara lonceng terakhir berbunyi, pagi menjelang menutup perjalanan mistis ke lima remaja yang berakhir dengan kematian.