"Selamat pagi cantik, bangun dong." Ucap seorang pria di hari minggu ini kepada ku. Ia mencoba membangunkan ku yang masih terbaring diatas kasur, malas rasanya bangun pagi ini.
"Hmmm...." Aku hanya menggeram. Kembali ku tarik selimut hingga menutupi wajah, akan tetapi pria ini menarik selimut lalu meraih tangan ku dan ia menarik ku untuk beranjak dari kasur.
"Ayo dong sayang bangun. Kamu lupa ya ini hari apa?" Bujuk dan tanya pria itu yang berhasil memaksa ku bangun. Aku terbangun dalam posisi duduk dipinggir kasur.
"Hari minggu." Jawab ku polos dengan sesekali menguap dihapannya.
Sungguh aku masih begitu mengantuk, sebab semalam aku ingat menemani pria ini menonton pertandingan klub sepak bola favoritnya. Klub dari kota Turin adalah klub favoritnya, seingat ku.
"Yah, kamu nih nyebelin banget." Ucapnya dengan tangan memegang pinggang.
Aku tertawa kecil, "Hahaha, iya aku inget kok, anniversary kita, kan."
Pria itu tersenyum, lengkungan senyum itu begitu manis dibawah kumis tipis yang nampaknya ia cukur pagi ini. Setelah tersenyum dia kemudian tekekeh, "Hehehe. Siip!"
Entah kenapa saat melihat senyum dan mendengar tawa darinya, aku selalu merasa begitu bahagia. Mungkin ini yang dinamakan jatuh hati, sebuah perasaan yang lebih dari sekedar jatuh cinta.
"Jangan lupa mandi." Pintanya dengan menekan-nekan pipi ku dengan jarinya.
"Iya, iya." Ucap ku dan lalu ... Ia tiba-tiba saja mengecup kening ku.
Hal itu membuat jantung ku begitu berdebar, senyum langsung timbul membentang, mengangkat pipi yang memuculkan secara samar rona kemerahan. Aku bahagia bukan main, wajar saja karena dia jarang sekali melakukan itu, meski di usia pernikahan kita yang menginjak empat tahun. Walau pun begitu aku tahu dia sangat menyayangi ku.
Lalu ia beranjak dan keluar dari kamar, sebelum ia keluar dan menutup pintu, dia berkata, "Oh iya, hari ini aku bikin sarapan buat kamu loh." Lagi-lagi hal yang sangat jarang ia lakukan.
Ia menutup pintu dan langkah kakinya terdengar menuruni tangga menuju lantai bawah. Aku pun bersegerah mandi, sekitar 15 menit aku selesai, waktu yang cukup cepat untuk seorang wanita. Memilih-milih pakaian yang pada akhirnya pakain yang sama yang aku kenakan dua tahun belakangan. baju lengan panjang berwarna hitam dengan size M. Lalu semua persiapan ku telah selesai, aku pun bergegas menuju lantai bawah. Aku tidak mau suami ku menunggu terlalu lama. Beberapa saat setelah menuruni tangga, langkah ku terhenti dan mata ku tertujuh pada meja makan. Disitu telah terhidang makanan paling kusuka, 3 lapis panekuk dengan siraman madu dan sebuah stroberi diatasnya.
Tanpa banyak kata langsung ku hampiri makanan tersebut. Dan suapan pertama telah ku telan, "Sumpah ini enak banget!" Dengan lahap panekuk segera ku habiskan, saat suapan terakhir akan ku telan, suami ku muncul dari dapur dengan membawa segelas susu stroberi yang tentu saja itu favorit ku.
Melihat ku yang begitu lahap suami ku berkata, "Wuih cepat sekali habisinnya."
Aku tertawa kecil, "Hehehe, maaf, habisnya kamu keterlaluan enak si bikinnya. Bikinan ku sendiri aja kalah nih."
Dia tersenyum sumringah lalu memberikan segelas susu itu kepada ku, "Nih minum, pasti seret tuh di tenggorokan kamu."
Aku meraih segelas susu itu dan segera ku minum habis. "Terima kasih, hari ini kamu manjain aku banget sih," Ucap ku dengan senyum paling manja dihadapan.
Dia tersenyum lalu menarik kursi dan duduk tepat berhadapan dengan ku. "Hai, lihat aku sebentar." Pintanya kepada ku dengan kedua tanggannya mengenggam tangan kanan ku. Matanya mulai menatap dalam kearah mata ku dan entah kenapa jatungku lagi-lagi berdebar dibuatnya.
"Seaindainya ... Ini adalah hari terakhir buat ku,"
"Tidak ada yang paling aku inginkan selain bahagia mu,"
"Dan saat sebelum waktu berhenti untukku, aku ingin kamu tahu."
"Bahwa aku mencintai mu ... Selalu."
Mendengar ucapan itu seketika perasaanku begitu aneh, ada perasaan bahagia yang bercampur rasa takut. Sehingga sama sekali tidak bisa ku ekspresikan, yang akhirnya berujung bengong.
"Hahaha! Malah bengong ni." Tawanya yang riuh sekita menyadarkan ku.
"Hah? Nggak, siapa yang bengong sih!?" Sangkal ku sambil meminum kembali susu buatannya.
"Ehmm, itu buktinya. Gelas udah kosong masih aja diminum."
Dengan cepat kulihat gelas yang ku pegang itu, "Hehehe, kosong."
Lalu dia beranjak dari tempat duduk, "Sudah, ayo kita pergi."
"Kemana?" tanya ku pura-pura tidak tahu.
"Ke tempat dimana semua kenangan bisa kita ceritakan kembali." Ucapnya dengan diakhir senyum simpul. Aku menganguk dan mulai beranjak dari tempat duduk.
Waktu menunjukan pukul 10 pagi dan kami pun pergi menuju tempat dimana aku dan dia bisa merayakan anniversary kita yang ke-4. Kami berangkat dengan menaiki taksi online, sebenarnya kami punya mobil, tapi sayangnya mobil kami masih dalam perbaikan di bengkel.
Di tengah perjalanan aku meminta supir taksi untuk memberhentikan mobil tepat di depan toko bunga langganan, Omoide Florist namanya. Dari depan toko ini memang tidak terlihat seperti toko yang menjual bunga, hanya ada beberapa bunga yang terpajang dan sebuah papan kayu yang berdiri tegak dengan tulisan menggunakan huruf Jepang.
"Hai! Selamat datang kembali Nona!" Sapa seorang wanita tua dari meja kasir saat melihat kedatangan ku.
Wanita itu terlihat begitu gembira, lalu ia menghampiri dengan tangan yang direntangkannya lebar-lebar dan memeluk ku yang belum sempat membalas sapaannya tadi. Tidak berselang lama setelah berpelukkan, wanita tua itu berkata, "Sudah lama sekali kamu tidak mampir, nak." Logat Jepang wanita ini sama sekali tidak luntur meskti lama tinggal di Indonesia.
"Maaf saya sedikit sibuk." Ucap ku dengan senyum dihadapannya.
"Tidak apa-apa, apakah kamu datang untuk membeli bunga yang seperti biasa?" tanya wanita itu yang hapal bunga apa yang selalu aku beli.
Aku menggelengkan kepala, "Bukan, saya ingin yang berbeda kali ini."
"Bunga yang sangat digemari suami saya."
"Suami ya, bunga apa yang ia sukai?" tanya wanita itu lagi.
"Bunga matahari." Jawab ku singkat, wanita itu pun mengangguk dan membawaku ke halaman belakang tokonya. Cukup lama dan akhirnya aku keluar dari toko itu, dengan satu buket penuh bunga matahari yang aku sembunyikan dalam kardus berbentuk persegi panjang. Aku menyembunyikannya agar suami ku tidak tahu, karena ini kejutan untuknya.
Kami pun melanjutkan perjalanan, di dalam mobil suami ku hanya tersenyum melihatku dan sesekali aku merasakan erat genggaman tangannya seolah ... Ia mengisyaratkan bahwa ia takkan pernah pergi meninggalkan ku. Sekitar 1 jam 35 menit, akhirnya sampai juga ditempat yang dimaksud diawal. Setelah keluar dari taksi dan aku menyusuri jalan setapak, disepanjang jalan aku melihat juga beberapa orang tengah duduk dengan dipayungi payung hitam.
Akhirnya sampailah ditempat dimana anniversary ini akan dirayakan dan menjadi tempat dimana semua kenangan bisa diceritakan kembali. Ya, disini disamping makam dengan batu nisan bertuliskan nama suami ku yang meninggal 2 tahun yang lalu.
2 tahun lalu suami ku meninggal diakibatkan kehabisan darah untuk menolongku yang sekarat setelah mengalami pendarahan hebat. Padahal kata dokter suamiku juga sedang terluka parah namun ia masih tersadar dan bersikeras mendonorkan darahnya untuk ku.
Kami berdua terluka parah akibat tabrakan beruntun yang disebabkan truk yang mengalami rem blong. Dalam kecelakaan itu aku bukan saja kehilangan sosok suami yang sangat-sangat aku cintai, aku juga kehilangan bayi dalam kandunganku. Aku begitu terpukul dan hancur setelah itu, aku merasakan kehilangan dan kesepian yang begitu menakutkan. Namun dokter menyampaikan sesuatu dari mendiang suamiku untukku,
"Aku tidak pernah pergi meninggalkan kamu malah sebentar lagi akan menyatu dalam dirimu. Setelah ini tolong jangan pernah ada air mata. Memang akan begitu berat tapi tegarlah, kamu adalah wanita yang sangat kuat dan aku beruntung bisa menghabiskan waktu bersamamu. Maka ingatlah bahwa aku mencintaimu selalu."
Pesan terakhir mendiang suami yang hingga detik ini menguatkanku. Bukti bahwa diakhir hayatnya ia masih mampu mencintaiku. Dan aku masih merasakan kehadirannya meski kerap kali dalam wujud imajinasi ku saja. Aku bersimpuh disamping makamnya, "Hai, happy anniversary ya, yang ke empat.”