"Kana Frisca! Mulai detik ini, aku membatalkan pertunangan kita! dan aku ingin kau mengakui semua kejahatan yang engkau lakukan!"
'Seperti yang Pria itu katakan namaku Kana Frisca, Puteri dari seorang Marquis. '
"Mohon maaf atas kelancangan saya yang mulia, tapi jika saya boleh tahu, apa sekiranya kejahatan yang telah saya perbuat?"
"Hmph! apa katamu? apa kamu sedang berlagak bodoh? atau kamu ingin berpura-pura tidak bersalah? kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu selama ini selalu membully Mano!?"
'Pria ini adalah tunanganku, Pangeran Aiden Sparkel. Lalu gadis yang bersembunyi di belakangnya...'
"Yang kukatakan barusan, itu benarkan, Mano?"
"Ya!"
'Manohara vient, Puteri seorang Baron.
Belakangan ini ia sering berada disekitar Pangeran Aiden.
Melihat dari kejadian ini bisa kusimpulkan kalau Pangeran Aiden dan Manohara adalah sepasang kekasih.'
'Sebenarnya apa yang telah aku perbuat? mengapa bisa jadi begini... Mengapa aku harus mengakui kejahatan yang bahkan tidak aku lakukan? lalu dari semua tempat kenapa harus di pesta kelulusan... '
"Dia menyebarkan rumor buruk tentangku dan mengambil barangku, dia bahkan berbuat kasar denganku, mendorongku dari tangga! tolong minta maaf lah, aku tidak akan meminta lebih..." pinta Mano dengan ekspresinya yang licik.
Pangeran Aiden berbalik dan memeluk Manohara kemudian ia berkata, "Manoharaku yang malang... dirimu yang bisa memaafkan semua kejahatannya hanya dengan permintaan maaf, kamu terlalu baik..."
Bisikan demi bisikan terdengar oleh telingaku, mereka semua tahu kalau aku tidak pernah melakukan hal itu, aku terlalu sibuk persiapan menjadi ratu hingga waktu istirahatku hanyalah saat waktu tidur.
Walaupun begitu... Tak ada satupun orang yang membelaku saat ini. Ketakutan akan Putra Mahkota kesayangan Raja membuat mereka bungkam.
Melihat Pangeran yang dengan gampangnya memberikan pelukannya pada gadis lain membuatku kecewa, seolah-olah apa yang selama ini kulakukan tidak berguna, bahkan jika aku menolak tuduhan yang dilontarkannya saat ini, tak akan ada yang mau menjadi saksi atas kebenaran ucapanku. Situasi Skakmat tanpa ada jalan keluar.
"Lihat dirimu yang sombong itu? tatapan tanpa perasaanmu itu tidak berguna sekarang ini Kana!"
'Bukannya aku sombong, bukan juga tak berperasaan, aku hanya sulit mengekspersikan emosiku.'
"Berapa lama lagi aku harus menunggumu buka mulut! cepat! Akui semua kejahatanmu sekarang juga!"
'Perasaanku saat ini campur aduk, padahal aku baru saja kehilangan ayahku. Jika saja ayah ada disini, beliau pasti akan membelaku walaupun harus menjadi musuh kerajaan, ayah... aku... rindu denganmu... '
"Ta-tapi aku benar-benar tidak per—
"Cukup!!"
Pangeran Aiden membentakku dengan keras, hatinya telah dibutakan oleh cinta.
Pangeran Aiden berjalan dan berlutut menghadap Raja.
"Yang Mulia, tolong berikan hukuman pada Kana Frisca, atas semua kejahatannya,"
Raja Elban Sparkel berdiri dari tahtanya hendak mengumumkan keputusannya, sudah bisa kutebak dia yang sangat menyayangi anaknya itu pasti akan menghukumku dengan kejam.
"Tunggu!!"
Teriakan itu bergema membelah keheningan, seorang pria dengan jubah hitam dan sebilah pedang dipinggangnya maju dengan tenang.
"Apa yang anda katakan tadi benar, Pangeran Aiden?"
Rambut hitam Pria itu bersinar dibawah lampu kaca, mata merah menyala nampak menyeramkan sangat cocok dengannya...
"Jika itu benar, bukankah harus ada bukti dan saksi sebelum memutuskan hukuman?"
Dia adalah Kepala Ksatria kekaisaran yang sangat 'berjasa dalam perang besar dengan Ras Iblis dua tahun yang lalu. Karena jasanya Kekaisaran secara khusus mengangkat derajatnya yang semula Orang Biasa menjadi hampir setara dengan Raja. Ada rumor yang beredar kalau kaisar menganggapnya seperti anak sendiri.'
'Dia disini untuk mempelajari etika kebangsawanan, entah kenapa cukup menyeramkan mendengar ucapan pria yang pendiam dan kerjanya hanya tidur saat disekolah...'
Ksatria Fenrir Es Malam, Alexis Fenrya. Ia berjalan dengan tenang kearahku dan berhenti tepat didepanku, aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang Ksatria menyeramkan ini lakukan, apa dia ingin menawarkan diri menjadi algojo? 'Seram...'
"Pangeran Aiden... apa anda punya bukti bahwa Nona Kana, membully gadis itu?"
'Eh?'
"Ti-tidak, tapi pengakuan Manohara sudah lebih dari cukup untuk menjadi bukti kejahatannya!"
"Hah... itu namanya bukan bukti tapi saksi, apa anda menganggap Nona Manohara sebagai barang? lucu juga~"
"Eh? Ah.. Itu tidak..."
'??? Apa yang Kepala Ksatria ini lakukan? Apa dia membelaku? Atau ini jenis muslihat? Menyeramkan... '
"Hmm... Nona Manohara, bisakah anda jelaskan, apa yang Nona Kana lakukan kepada anda?"
"Eh? ah te-tentu, sekitar seminggu yang lalu, saat saya berjalan sendirian, Nona Kana mengambil barang yang saya bawa, sepertinya ia cemburu dan mengira bawaan saya semacam bekal makan siang untuk Pangeran Aiden..."
"Sungguh mengerikan..." [Bisik]
"Dia melakukan itu pada Nona Mano yang baik hanya karena cemburu... Seram... " [Bisik]
'Sudah kuduga Ksatria Alexis kemari untuk menghakimi dan mempermalukanku... Apa yang tadi aku harapkan dari Ksatria berdarah dingin ini...'
Alexis berbalik dan menatapku tajam, wajahnya memerah marah lalu ia bertanya,
"Apa benar anda cemburu Nona Kana!!?"
Dihadapan wajah marahnya mulutku tak mampu berkata-kata, tubuhku gemetar, kepalaku seolah dipaksa untuk menunduk, aku hanya bisa menggelengkan kepalaku untuk menyangkal tuduhan yang ia lemparkan.
"Lihat... Nona Kana bilang ia tidak melakukan hal itu... Lagi pul—
"Dia berbohong!"
"Kamu bahkan membuat Kepala Ksatria Kerajaan berbohong untuk kepentinganmu."
"Diam!! beraninya memotong ucapanku..."
Ksatria Alexis berteriak membuat semua orang terdiam. 'Sekarang aku mengerti dari mana gelar Es Malam itu berasal, sifatnya yang dingin melambangkan Es lalu hatinya yang gelap diartikan sebagai malam. Menyeramkan... Ayah... Tolong aku...'
"Ck, tadi anda bilang kalau anda berjalan sendirian lalu Nona Kana mengambil barang bawaan anda, benar?"
"I-iya, benar..."
"Nona Kana bilang kalau dia tidak melakukan itu sekarang bagaimana anda bisa meyakinkan saya kalau hal itu benar-benar terjadi? karena anda berjalan sendirian jadi tidak ada saksi mata, jadi apa anda punya barang bukti seperti barang yang hilang ada pada Nona Kana?"
"Ti-tidak, saya tidak punya bukti..."
"Kalau begitu, Nona Kana tidak bersalah atas kejadian ini, karena bisa saja anda mengarang kejadian tersebut."
"Ta-tapi... "
"Apa!?"
"Ti-tidak."
"Bagaimana menurut anda yang mulia, Raja Elban?"
"Hm? benar... itu tidak cukup untuk membuktikan sebuah kejahatan, setidaknya harus ada saksi dan bukti."
"Ya-yang mulia..."
'Eh? apa dia membantuku? Maafkan prasangka burukku Ksatria Alexis, ternyata anda benar-benar seorang Ksatria yang adil dan baik.'
"Jadi Nona Manohara, apa anda punya saksi atau bukti atas pembullyan lainnya?"
"Eh-ah... emm... Ya! saya punya saksi dan juga bukti untuk pembullyan yang lain!"
'Brengs** ternyata dia benar-benar mempermainkanku, adil dan baik apanya, ugh!!!'
"Jelaskan!"
"Baik tuan, tiga hari yang lalu saat saya hendak pergi ke UKS karena tidak enak badan. Didepan tangga Nona Kana memukul saya dari belakang membuat saya terjatuh dari tangga... saat saya terbangun saya sudah ada di pangkuan yang mulia Pangeran Aiden."
'A-apa? Apa yang ia katakan? u ka es itu apa?'
"Apa benar apa yang Nona Mano katakan, Pangeran Aiden?"
'Kau percaya hal absurd semacam itu??'
"Ya benar!! Saat itu saya melihat dengan mata kepala saya sendiri ketika Mano terjatuh, setelah itu saya langsung memeluknya dan memangkunya hingga ia terbangun."
'Apa?'
"Apa anda melihat Nona Kana saat Nona Mano terjatuh, Pangeran Aiden?"
"Ah, aku tidak melihatnya..."
"Hmm.. Begitu ya..."
"Apa anda orang yang memukul Nona Mano, Nona Kana?"
"Bukan saya!" kataku gemetar. Sekarang aku tidak tahu lagi ada dipihak mana Ksatria Alexis berada.
"Lihat... Nona Kana bilang, bukan dia pelakunya~"
"Tak ada saksi dan bukti, bisa saja Nona Mano menjatuhkan dirinya sendiri untuk mendapatkan pelukan Pangeran Aiden~"
"Sampai kapan kamu akan berbohong Kana Frisca, mengapa kau ingin membuat Mano sebagai orang jahatnya?" geram Pangeran Aiden marah ketika orang-orang mulai menganggap perkataan Ksatria Alexis ada benarnya.
"Haih... Sejujurnya... Anda yang berbohongkan, Nona Mano?"
"....Eh?"
'????????????????????????????'
"Ah... Tidak. Salah ya... Pangeran Aiden lah yang dibodohi olehnya."
"...t-tuan Ksatria?"
"Nona Manohara bilang dia dibully tiga hari yang lalu, padahal saat itu hari rabu... Tiap hari rabukan Nona Kana seharian pergi keperpustakaan, aku juga ada disana, lagipula apa itu u ka es?"
"Anda bilang, Nona Kana memukul anda dari belakang, tapi tak ada saksi, bagaimana caranya anda bisa tahu yamg memukul anda Nona Kana? apa anda punya semacam mata ketiga ditengkuk? Seram... "
'???????'
"Dan juga... hampir setiap waktu aku berada didekat Nona Kana, mana mungkin hal itu terjadi... Kebohongan anda benar-benar bikin merinding, ya!"
'...itu benar, dia selalu berada didekatku, tapi aku tak menyadarinya karena ia pendiam dan selalu nampak tertidur...'
"Tu-tunggu apa maksud anda Manohara vient, membohongi saya?"
"Itu yang aku katakan!"
"Urgh... sungguh merepotkan... Nona Kana, cepat setujui pembatalan pertunangan anda dengan Pangeran Aiden!"
"Ap-???"
"Eh-Ah..."
"Dia sudah mencoreng reputasimu. Inilah saat yang tepat memutus hubunganmu dengannya, cepatlah!!"
"B-Baik saya menyetujui pembatalan pertunangan kami?"
'???????'
"Pyuh... Baguslah, sekarang kalian semua yang ada disini menjadi saksi pembatalan pertunangan mereka, ya!"
'??????'
"Nah Nona Kana Frisca, sekarang anda jadi tunanganku oke?"
"Eh? Ah? Oke?"
"Yosh!!"
"Eh... Tunggu? Tunangan apa??"
Ksatria Alexis berbalik, menggandeng lenganku dan menyeretku pergi.
"Ayo Nona Kana, kita pergi ke Kekaisara—
"Tuk!!"
"Kepala Ksatria Kerajaan!! apa yang engkau lakukan!?" geram sang raja memukulkan tongkatnya kelantai.
Ksatria Alexis berhenti. Tubuhku merinding dingin saat menatap wajahnya yang murka, tanpa berbalik ia mengancam,
"Hey Gendut, berani sekali kau memotong ucapanku! orang yang kerjanya cuma duduk dikursi sepertimu, beraninya padaku..."
"Apa!!! apa kamu menghinaku Kepala Ksatria? sudah kuduga harusnya Orang Biasa tak punya sopan santun sepertimu tidak boleh diberikan kedudukan, dasar lancang!!!"
Para Prajurit berkumpul mengelilingi kami. Ksatria Alexis menarik tubuhku kepelukannya yang hangat, ia menundukan kepalanya dan berbisik, "Nona Kana, bisa tutup matanya sebentar? tak akan lama kok..."
Napas hangatnya menggelitik telingaku. Aku mengangguk dan menutup mataku rapat-rapat.
"Elban Sparkel dari kerajaan Vionesia, Raja terburuk dari tujuh kerajaan dibawah naungan kekaisaran. Penjualan budak. Pelecehan terhadap pembantu. Hukum yang tajam kebawah tumpul keatas. Keluarga kerajaan bertingkah seperti Dewa. Pajak yang tidak masuk akal. Bisnis gelap melibatkan wanita dan anak dibawah umur. Rasisme. Pemuja Hukum Kasta."
'Apa? aku tak pernah mendengar tentang hal itu sebelumnya?'
"Dengan semua kejahatan yang kalian lakukan itu, Hari ini aku Alexis Fenryu dari Kekaisaran menyatakan, Keluarga Sparkel pengurus Vionesia dari Timur, resmi dieliminasi dari Kekaisaran."
'Eliminasi? apa artinya itu?'
Setelah itu aku tak mendengar sepatah katapun selain teriakan ketakutan yang menyatu dengan suara lonceng pertanda pergantian hari.
*****
Suatu ketika pernah aku bertanya pada suamiku, tentang gelarnya Fenrir Es Malam.
Awalnya kupikir dia akan marah, walaupun selama ini ia tak pernah begitu... tapi ternyata ia menjawabnya dengan ringan, seolah apapun yang aku minta akan ia berikan... katanya...
"Sayang~ apa kamu tahu apa gelar Kaisar... gelarnya adalah Fenrir Es Siang, singkatnya baik itu Kaisar ataupun Aku, kami berjuang bersama membangun dunia yang lebih baik dari sisi kami sendiri... ngomong-ngomong mukamu kenapa memerah, sayang? mau buat yang kedua?"
Aku bersyukur menikah dengannya~