Sella dan Sesillia merupakan anak kembar yang baru saja naik ke kelas 2 SMA. Mereka berdua tinggal bersama dengan neneknya, setelah kematian orang tuanya dua tahun lalu. Seharusnya mereka juga ditemani oleh sang kakek, tapi kakeknya sudah lama meninggal ketika mereka masih kecil.
Neneknya selalu mengingatkan dua anak kembar itu untuk tidur malam sebelum pukul 12 malam. Tidak ada penjelasan dari neneknya, tapi mereka beranggapan bahwa, memang seharusnya anak gadis tidak tidur malam terlalu larut.
Suatu hari Sella berlatih voli untuk mempersiapkan pertandingan tingkat provinsi, maka dari itu dia sering pulang malam sekitar pukul sepuluh. Ia pun harus belajar setelah pulang latihan, untungnya sebagian tugas sekolah bisa dibantu oleh Sesillia. Namun, kelas mereka berbeda, tugas rumah pun juga berbeda.
"Sil, udah tidur? PRku matematika udah?" tanya Sella kepada Sesillia yang dilihatnya sudah di kasur.
"Hoamm. Tinggal tiga nomor tuh, besok pagi aja dilanjutin," jawab Sesil.
"Ah, nanggung. Besok sebelum subuh baru belajar yang lainnya."
Bulan tampak semakin meninggi, Sella masih asyik belajar. Ia tidak menyadari pukul 12 hampir tiba. Jam dinding berdering membunyikan suaranya, tanda pukul 12 malam.
Lalu tiba-tiba ada suara ketukan pintu.
Tok.. tok.. tok...
Sella terkejut dan terdiam sejenak, setelah mendengar ketukan dari arah pintu utama. Walau terkejut, dia perlahan berjalan menuju arah suara ketukan. Tangan Sella yang hampir menyentuh gagang pintu, dihentikan oleh suara neneknya.
"Sella!" pekik Nenek.
"Eh??"
Nenek memanggil dari belakang menghentikan pergerakan Sella.
"Nenek terbangun?"
"Jangan kau buka pintu itu, masuk kamar. Segeralah tidur," pinta Nenek.
"Ah, iya. Tapi Nenek denger kan, suara pintu diketuk? Siapa ya?" tanya Sella penasaran.
"Bukan tamu. Mana ada yang bertamu jam segini," jawab Nenek.
"Ya, siapa tahu. Mungkin ada yang darurat," ucap Sella.
"Masuk kamar, sekarang!"
Keesokan paginya, Nenek dan Sella saling membisu, membuat curiga Sesil. Sesillia melihat Neneknya menyuruh orang untuk mengutak-atik jam dinding. Disuruhnya untuk memberhentikan suara dentingan pada jam itu.
"Kamu kena marah Nenek ya? Habisnya, situ pulang malam terus. Minta maaf duluan sana ke Nenek, Sel," kata Sesillia.
"Shh, ada pengumuman kematian," sela Nenek.
"Innalillahi, semalam kayaknya aku dengar burung gagak berkicau," ucap Sesillia.
Nenek mengajak Sella dan Sesillia ke rumah duka orang yang meninggal tadi pagi. Di sana mereka banyak mendengar desas-desus berita yang kurang nyaman.
Ada yang mengatakan bahwa, jika ada gagak yang bertengger atau terdengar di sekitar rumah, maka tidak lama kemudian akan ada anggota keluarga yang meninggal. Bukan hanya itu, orang-orang mengaitkan dengan kejadian lampau mengenai ketukan pintu tengah malam. Dikatakan bahwa, orang yang meninggal semalam membukakan pintu yang diketuk sekitar pukul 12 malam.
Deg!
Sella yang mendengar langsung bergidik.
"Maksudnya apa? Mengetuk pintu kan hal lumrah," tanya Sesil.
"Kalau tengah malam, itu gak wajar," ucap salah seorang warga.
"Jangan dibuka, nanti bakalan ada yang mati," sambung warga desa lainnya.
"Hushh, mari berdoa saja. Ayo Sel, Sesil, pulang!" Nenek menghentikan perbincangan dan mengajak pulang Sella dan Sesil.
Sella waswas dengan kejadian kemarin. Ia sebisa mungkin harus pulang latihan sebelum pukul sembilan. Lalu bersih-bersih diri dan segera tidur. Di desa memang banyak rumor atau mitos terkait hal-hal gaib. Namun, perlu diwaspadai juga.
Patroli desa sudah berjalan sangat lama, baru-baru ini saja warga desa meminta bantuan kepada pihak yang berwajib untuk mengusut tragedi ketukan pintu yang sering terjadi dari rumah ke rumah. Setelah diusut, ternyata itu hanya orang-orang usil yang melakukan hal tidak bermanfaat. Bukan hanya itu, ada motif tersembunyi lainnya. Mereka akan merampok rumah yang pemiliknya akan membukakan pintu rumah yang diketuk.
Hati Sella dan Sesillia mulai tenang, setelah ditangkapnya para perampok tersebut. Tidak bagi sang Nenek, masih ada yang mengganjal di hatinya.
Satu bulan peristiwa penangkapan perampok terjadi, setidaknya ada tiga orang yang meninggal. Yang mana, oleh warga desa masih saja dikaitkan dengan hal-hal gaib.
Sella sering tidur malam terlebih dahulu, setelah beberapa hari yang lalu kelelahan karena sehabis bertanding. Sedang Sesil sulit tidur, apalagi besoknya ada ulangan harian fisika.
Sesaat sebelum memejamkan matanya, Sesil mendengar bunyi suara familiar, dentingan jam dinding. Sontak dia kaget, berpikir bahwa itu halusinasinya saja. Karena jelas di ingatan Sesil bahwa jam itu sudah tidak dinyalakan lagi suaranya.
Tok... tok... tok...
Sesil kaget, dia langsung terduduk dan melirik Sella.
"Sel, dengar pintu diketuk-ketuk gak sih? Takut nih, mana gak bisa tidur," ucap Sesil yang bergidik ketakutan.
"Uhh, kenapa sih? Tidur aja sana, doa dulu," jawab Sella yang langsung tidur lagi.
Tok.. tok...
"Ya ampun, diketuk lagi. Ini gimana ini?" batin Sesil yang tambah takut.
Sesillia dengan memberanikan diri perlahan berjalan menuju pintu utama rumahnya. Kunci pintu dibukanya dengan pelan, agar tidak menganggu orang tidur. Pintu terbuka, kepala Sesil celingukan ke luar. Ia tidak menemukan tanda-tanda siapa pun di luar. Akhirnya dia berbalik ke dalam. Saat akan menutup pintu, tubuhnya ditarik sesuatu.
Ahhh!
Teriakan Sesil membangunkan Nenek dan Sella. Mereka melihat pintu yang terbuka dan tidak ada siapa pun di depan.
"Sesil mana, Nek?" tanya Sella khawatir. "Itu tadi suara Sesil, kan?"
Nenek melihat jam dinding, menunjukkan pukul 12.05. Nenek terjatuh lemas dan menangis. Melihat neneknya seperti itu, Sella terduduk diam.
Tiga hari berlalu semenjak hilangnya Sesillia. Para tetangga maupun orang poskamling yang berjaga malam itu, sama sekali tidak mendengar ataupun melihat Sesil. Anehnya, hanya Nenek dan Sella yang mendengar teriakan Sesil.
Pencarian dilakukan terus-menerus, bahkan mengerahkan anjing pelacak. Beberapa warga desa pun meminta bantuan dukun untuk mencari Sesil. Tak ada hasil. Di malam ketiga pencarian, seorang warga yang pulang dari sawah, melintasi kebun belakang rumah Nenek. Ia mendengar suara erangan. Setelah dilaporkan oleh pihak berwajib, ditelusurilah kebun belakang, lalu menemukan seseorang tergeletak bersimbah darah dan beberapa luka sayatan. Sesillia ditemukan, luka-luka di tangan, kaki, serta lehernya membuat Nenek menangis di tempat kejadian.
Sesil dibawa langsung ke rumah sakit. Nenek dan Sella tak henti-hentinya bersyukur, karena Sesil dapat bertahan. Sella baru mengetahui dari neneknya peristiwa sebelum meninggalnya kakek. Kejadiannya hampir sama yang dialami oleh Sesil. Namun, kakek ditemukan jauh dari rumah dan hanya ada bekas genggaman di pergelangan tangan kanannya yang berwarna biru kehitaman.
Sepulangnya dari rumah sakit, Sesil suka mengurung diri dan tak mau bertemu dengan orang lain kecuali keluarganya. Ia pun berhenti sekolah. Sella tetap bertahan dan selalu menjaga kembarannya, walau kadang hatinya sakit melihat kondisi Sesil seperti itu. Belum lagi, dia harus mendapat cercaan dari teman-teman sekolahnya. Sella tetap bersabar dan menghadapi mereka dengan tenang.