Angel & Jerry
Angel janjian bertemu lagi dengan Jerry di kafe langganan mereka. Sudah hampir tiga bulan mereka berteman dan kini keduanya sangat akrab dan kian kompak dalam hal apapun. Mereka bahkan memesan kopi yang sama, kopi hazelnut kesukaan Angel dan roti bakarnya, srikaya favoritnya Jerry. Di sana mereka asik bercakap melewati minggu sore yang mendung, saling memberi semangat dan nasehat. Sebagai sahabat baru, keduanya mulai memperlihatkan perhatian yang lebih, terutama Angel yang makin sering menelpon atau menulis komen di WA-nya Jerry. Di sana mereka duduk bersebelahan di atas sofa empuk kafe.
"Umpama... bila ada seorang gadis jatuh cinta padamu, apa yang akan kau lakukan, Jer?" tanya Angel, sedikit gugup sambil melirik Jerry.
"Apa ya... kalau misalnya aku juga jatuh cinta kepadanya, kau pasti tahu cerita selanjutnya." jawab Jerry.
Angel meneguk kopinya lalu melirik Jerry lagi. "Bagaimana caranya kau tahu bahwa kau suka padanya, maksudku kau bisa tahu kalau kau juga jatuh cinta padanya?"
"Cium bibirnya!" seru Jerry, cepat. "Kau akan tahu kalau rasa itu ada atau gak ada cinta sama sekali."
Angel tersenyum simpul mendengar pendapat Jerry barusan. "Tapi bisa saja kau cium bibirnya tanpa ada rasa apa-apa di dalam hati, iyakan?"
Jerry menaikan pundaknya. "Bisa saja... mungkin karena terpaksa atau pura-pura atau hanya sekedar nafsu belaka."
Angel membulatkan mulutnya, paham. Kepalanya mengangguk-angguk pelan sambil tangannya memainkan sendok di dalam gelas kopinya.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau dia suka padamu?" ucap Angel, makin gugup.
"Sangat mudah."
"O ya?"
"Dari tatapan matanya, senyumannya dan yang paling jelas adalah perhatiannya."
"Perhatian?"
"Dia akan memanjakanmu dan menasehatimu untuk hal-hal kecil, seperti, 'sudah makan?' 'Jangan begadang, nanti sakit' atau sekedar mengirim pesan 'nice sleep, sweet dream'.'" jelas Jerry, merapatkan kedua telapak tangannya lalu menempelkannya di pipi sambil menatapi Angel. Mereka pun tertawa bersamaan.
Angel menyentuh lengan Jerry. "Soal perasaan itu... bagaimana jika kau tak bisa menciumnya karena alasan-alasan tertentu, bagaimana kau bisa tahu kalau kau punya perasaan..."
"Gampang," potong Jerry, cepat.
"Ooh..."
Jerry meraih roti bakarnya dari piring dan menggigit bagian ujung roti yang garing, lalu menoleh Angel. "Kalau kau ingin sekali bertemu lagi dengannya, itu artinya kau telah jatuh cinta padanya," sebut Jerry.
"Begitu?"
"Trust me!" ujar Jerry, menjentikkan jarinya.
Wajah Angel kembali berseri-seri. Dia berkata lagi, "Bila kau tak punya keinginan bertemu seperti itu..."
"Pergi menjauh, jangan beri dia harapan. Jangan merasa sungkan atau merasa bersalah, itu akan sangat menyakitkan dirinya nanti," sebut Jerry, lebih serius.
Dua jam kemudian, Jerry mengantar pulang Angel. Hari sudah malam dan hujan mulai turun. Di atas motor, Angel duduk menyamping di belakang Jerry. Keduanya membisu dengan pikiran masing-masing di benak mereka.
Jerry memarkir sesaat motornya begitu mereka sampai di depan pintu pagar rumah Angel. Hujan masih turun dan keduanya telah basah kuyup. Jerry melangkah di sisi Angel, melintasi halaman luas. Situasinya sepi dan agak remang karena hanya satu lampu di taman yang menyala selain lampu teras yang bercahaya redup.
"Pulanglah, Jer. Terima kasih sudah mengantarku," ucap Angel, bahagia, di depan teras.
"Aku ingin ayah atau ibumu tahu kau tidak pulang sendiri..."
"Nanti aku bilang kepada mereka kau yang mengantarku, pergilah, nanti kau makin lama kedinginan, bisa sakit," kata Angel.
"Oke..." kata Jerry, tersenyum, "kau juga mandi dengan air hangat dan jangan tidur telat, nanti kau bisa sakit juga."
Angel mengangguk senang dan membalas senyuman Jerry.
"Kalau begitu aku pulang sekarang."
"Hati-hati ya, dan Jer... jangan ngebut, awas lho!" seru Angel, memasang wajah-emak-emak-memberi-nasehat.
Jerry mengangguk lagi lalu berbalik memunggungi Angel dan melangkah pergi.
"Jer..."
Jerry menghentikan langkahnya dan menggerakkan kepalanya, memandang kembali wajah Angel.
"Kita ketemu lagi besok, kalau kau mau," ucap Angel, lirih.
"Ya, aku mau. Kau?"
"Eh-he." Angel mengangguk dan menahan tawa sambil menempelkan kedua telapak tangan ke mulutnya.
"Nice sleep," seru Jerry.
"Sweet dream," balas Angel.
Sesaat keduanya terdiam, saling pandang. Jerry mendadak datang mendekati Angel dan berhenti tepat di depan Angel yang kini berdiri tegang. Wajah mereka berhadapan sangat dekat. Di bawah cahaya remang lampu teras, kedua pipi Angel merona. Jerry mendekatkan bibirnya ke bibir Angel dan Angel menutup kedua matanya.
Dua menit kemudian, Jerry telah pergi meninggalkan Angel yang masih berdiri tertegun di depan teras. Angel mamandangi bunga-bunga taman di depan rumah dengan senyuman manis terus mengukir di wajah cerianya. Malam ini dia telah mendapatkan jawaban yang sejak lama ingin dia tahu.
Angel berlari kecil masuk ke dalam rumah. Bunga-bunga di taman pun tersenyum menyambut cinta baru yang telah bersemi.