Beberapa hari ini rasa malas menggelayut dalam diri Paul, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan hari-hari yang dijalaninya. Setiap malam mulai bertandang ia mulai dihimpit kegelisahan yang tak kunjung ia mengerti.
Apakah malam ini akan bisa berdamai dengan Paul?. Tak ada yang salah dengan malam, karena ia hanya siklus waktu yang terus berganti, sayangnya kali ini Paul harus mengistimewakan malam yang sudah menampakkan gelapnya.
"Jangan lupa malam ini tepat pukul 12, lokasi seperti tahun lalu."
Begitu pesan yang ia terima dari Rudd sepupunya, sebetulnya ia tak bisa mengatakan mereka berdua akrab, hanya karena pertalian keluarga yang membuat mereka harus berbasa-basi saat ketemu. Rudd menyebutkan lokasi tahun lalu, maka Paul menebak itu adalah taman bermain yang berada di dekat jembatan kota, itu adalah tempat dimana Paul menemukan Rudd hampir kehilangan nyawanya. Malam ini kejadian nahas itu tepat setahun, sementara hubungan Paul dan Rudd hanya begitu-begitu saja, penuh basa-basi.
Pukul setengah dua belas, Paul meninggalkan rumahnya di sebuah kawasan perumahan elit. Salah satu pencapaian yang bisa dibanggakan Paul adalah tinggal di perumahan elit, meskipun cicilan rumahnya cukup menguras setengah dari gaji bulanannya. Jarak taman bermain dari lokasi rumahnya hanya sekitar 20 kilometer, artinya ia bisa mencapai tempat itu dengan kecepatan standar mobilnya kurang dari setengah jam. Mobil tunggangan Paul memang tidak mahal, namun satu hal yang ia syukuri mobil ini sudah lunas cicilan sehingga ia bisa menikmatinya dengan bebas.
Di perempatan lampu merah, seharusnya dari sini jarak taman bermain tinggal beberapa kilometer lagi, Paul melirik jam tangannya, waktu menunjukkan kurang 10 menit jam 12. Tiba-tiba ia harus mengerem mobilnya karena jalan didepan dipenuhi orang-orang yang saling berhamburan, beberapa orang malah saling adu pukul sehingga menambah kemacetan.
Beberapa petugas keamanan terlihat tak mampu lagi mengendalikan keadaan, dengan keadaan seperti ini Paul memperhitungkan waktu yang tersisa dengan jarak yang harus ia tempuh. Berkali-kali ia memencet klakson agar orang-orang yang berkerumun di jalan memberikannya ruang untuk lewat, namun ia hanya bisa berjalan perlahan.
Sekarang tinggal 5 menit lagi sebelum jam 12. Paul lalu memarkir mobilnya di sebuah halaman ruko, ia berharap semoga lokasi yang dipilihnya ini aman meskipun berjarak beberapa meter dari lokasi kericuhan. Setelah memastikan mobilnya terkunci rapat serta alarm malingnya berfungsi dengan baik, Paul segera berlari menuju ke taman bermain, beberapa kali ia harus menghindari orang-orang yang hendak menahannya, untung saja ia masih gesit dan kemampuan larinya masih lumayan.
Keringat deras sudah membanjiri tubuh Paul, beberapa meter lagi ia akan sampai di taman bermain. Begitu sampai di lokasi tersebut ia menarik nafas dalam-dalam untuk mengatur kembali ritme jantungnya serta mengurangi rasa lelahnya. Ia melihat jam tangannya kembali, sekarang waktu kurang beberapa detik lagi jam dua belas.
Seorang pria bertubuh jangkung berjaket hitam tebal dan memaki topi mendekati Paul, ya dialah Rudd yang mengirimkan pesan ke Paul tadi. Ia lalu memberikan sebuah benda terbungkus kertas amplop berwarna coklat.
"Sesuai janjimu padaku, jika dalam setahun aku belum bisa sembuh dari depresi ini, maka kamu harus membunuh aku".
"Lalu apa yang terjadi padaku setelah membunuhmu?." Tanya Paul ke Rudd.
"Didalam amplop itu selain ada pistol juga ada instruksi yang harus kamu lakukan setelah membunuhku."
Paul meraba pistol yang masih ada didalam amplop, disertai dengan nafas yang begitu tak beraturan dan dentang bel menara jam kota pertanda waktu sudah masuk jam 12 malam Paul mengeluarkan pistol tersebut dan mengarahkannya tepat di kepala Rudd.
***