"Sudah cukup untuk hari ini. Terimakasih atas kerja kerasnya, dan beristirahat lah dirumah!" Teriak sang manajer konstruksi.
Mendengar itu, semua pekerja segera meninggalkan tempat tersebut setelah sebelumnya merapikan peralatan yang telah digunakan.
Begitu juga dengan Juno, salah satu pekerja konstruksi yang terbilang paling muda di antara yang lain. Usianya setara dengan mahasiswa semester 1. Dia tidak melanjutkan pendidikannya karena kondisi ekonominya yang buruk. Em.. sebenarnya tidak seburuk itu, Juno anak dari seorang anggota Dewan.
Juno anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua saudaranya itu sangat tamak akan harta kekayaan. Seringkali Juno hampir dibunuh saudaranya karena harta warisan sang ayah, yang sebagaimana mestinya akan jatuh ke tangan anak tertua. Tapi Juno tidak menginginkan itu. Tidak mau nantinya dia dan kedua saudaranya akan saling menyakiti hanya karena berebut harta.
Sudah hampir malam dan Juno belum sampai di rumahnya. Masih dalam perjalanan sebab dia berjalan kaki. Dia masuk ke minimarket terdekat untuk membeli sebotol isotonik dan makanan siap saji untuk dirinya. Keluar dari minimarket berniat memakan makanan itu di kursi yang sudah tersedia. Tapi niatnya urung ketika melihat seorang nenek tua di seberang jalan yang duduk sendirian di tepi dengan keadaan lusuhnya.
Lantas anak itu menyeberang jalan, menghampiri si nenek tua. Juno berlutut di depan nenek tersebut, tersenyum, dan mengobrol sebentar. Kemudian Juno memberikan makanan yang baru saja ia beli. Anak itu baru saja pulang bekerja, uang yang ia dapatkan tak seberapa, dia lelah habis membanting tulang, tapi dia sama sekali tidak ragu untuk berbagi.
Sesaat, anak itu menawarkan bantuan untuk mengantarkan nenek itu pulang. Dan sekarang nenek itu sudah berada di punggung Juno. Juno menggendongnya, dia terlihat masih mengembangkan senyum sembari membenarkan posisi nenek tua itu di punggungnya. Dia membawa nenek menuju halte bus.
Menghentikan bus yang kebetulan melewati halte itu. Dia membantu nenek itu naik ke dalam bus, tersenyum lebar ke arahnya, kemudian memeluk tubuh ringkih tersebut sebelum akhirnya keluar dari sana setelah membayarkan ongkos sang nenek. Lalu dia kembali melanjutkan perjalanan ke rumahnya.
Belum sampai dirumahnya, dia melihat pemandangan yang tak menyenangkan. Juno melihat salah satu saudaranya terkapar di pinggir jalan dengan keadaan lebam di wajahnya, serta tangan kirinya berdarah akibat tersayat pisau. Dari pakaiannya, dia seperti habis pulang dari sekolahnya, dan kemungkinan dia dirampok, tas beserta isinya berceceran di jalan.
Tak menunggu lama, Juno menggendong saudaranya. Membawanya ke rumah.
~
"Bagaimana bisa kamu dalam keadaan seperti ini?" ujar Juno. Dia mengobati luka-luka saudara nya.
Saudara nya tetap terdiam, menatap Juno malas.
"Ini sudah malam, kenapa kamu baru pulang? Bukankah sekolah mu selalu pulang sebelum petang?" tanya nya lagi.
"Diamlah. Kamu tidak perlu tahu!" saudaranya bersuara dengan sarkas.
Juno menghela pasrah. Saudaranya yang bernama Jeno, merupakan anak kedua. Hubungan keduanya sudah seperti rival. Tidak ada lagi kata 'saudara kandung' bagi mereka.
"Istirahat lah, aku antar kamu pulang besok,"
"Tidak perlu. Aku akan pulang sendiri." Saudaranya –Jeno, berdiri dari duduknya hendak beranjak dari sana dan pulang ke rumah. Tapi Juno menahannya untuk tidak pergi, lagipula kondisinya sedang tidak bagus, hari pun sudah tengah malam. Juno mana tega.
"Tidak akan kubiarkan kamu!" Juno mencengkeram tangan kiri Jeno yang luka. Jeno sempat merintih menahan sakitnya. Dan akhirnya dia mengalah untuk tinggal di rumah itu semalam.
Anak itu langsung berbaring di sofa dan memejamkan matanya, tidak ingin mendengarkan ocehan Juno selanjutnya.
Juno tersenyum tipis. Mematikan lampu ruangan, lalu tidur di kamarnya.
Keesokan hari nya, sesuai yang Juno katakan, dia mengantar Jeno pulang ke rumahnya. Rumah yang megah, rumah yang pernah ia tinggali. Rasanya senang mengingat masa bersama kedua saudaranya, Jeno dan Jhonny. Jika dibolehkan, Juno ingin memulai semuanya dari awal lagi. Memperbaiki persaudaraan nya.
Mereka sampai di pagar depan rumah, penjaga langsung membuka pagar tersebut ketika melihat Jeno, kemudian mereka berjalan masuk.
"Kenapa kamu sangat benci kepadaku? Apa aku berbuat salah padamu?" ditengah kesunyian itu, Juno bersuara, mengajukan pertanyaan pada Jeno.
Jeno tetap diam sembari berjalan dengan tenang.
Hingga mereka sampai di depan pintu masuk. Jeno memegang kenop pintu hendak membukanya, tapi tindakannya terhenti ketika Juno berbicara lagi.
"Sejujurnya, aku tidak menginginkan harta itu. Aku... aku hanya ingin kita menjadi saudara yang saling membantu dan menyayangi." Ucapnya, "bahkan jika ayah tetap memberiku harta warisan itu, aku berencana membaginya dengan kalian."
Jeno beranjak masuk ke dalam, tidak menghiraukan perkataan Juno barusan. Dia masuk begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Juno menghela napas panjang, menatap jejak kepergian adiknya. Dia berbalik hendak pergi, tapi satu suara itu membuat kakinya berhenti tanpa diperintah.
"Juno"
Itu ayahnya, dengan pakaian jas yang berarti dia akan berangkat bekerja.
Anak itu tetap berdiri membelakangi sang ayah. Menunggu kata selanjutnya yang akan terucap dari mulut ayah nya.
"Kamu tahu, kamu selalu diterima di keluarga ini. Jadi, kembalilah kapan pun kamu mau."
Dia kembali melangkahkan kakinya meninggalkan kediaman keluarga itu.
Itu bukan salahnya. Itu bukan salahnya untuk memutuskan hubungan dengan keluarga nya. Jika bukan karena nenek sihir itu, dia tidak mau meninggalkan tempat tinggal nya, saudaranya, dan ayahnya. Bahkan mendiang ibu nya pun tidak ingin dia berpisah dari saudaranya.
Ini semua karena keadaan yang memaksanya untuk pergi.
_____________________oOo_____________________
Like kalo suka:) makasiii