4 tahun masa kuliah telah terlewati dan hari ini setelah beberapa bulan acara kelulusan, Arima bersiap menempuh satu cerita baru dalam hidupnya sebagai seorang pegawai perusahaan IT ternama.
"Gawat! Gawat! Gawat!" Kata Arima dalam hati di dalam KRL (Kereta Rail Listrik) yang ia naiki pagi ini.
"Aduh! mana tinggal 20 menit lagi." Ucap Arima setelah melihat jam tangannya.
Perasaan cemas menemaninya disepanjang perjalanan menuju tempat kerjanya dengan kereta yang sebetulnya hanya memakan waktu tak lebih dari 15 menit. Maklum saja ia merasa begitu cemas sebab ini adalah hari pertama Arima masuk kerja, ia takut memberi kesan yang buruk kepada atasan apabila ia datang terlambat hari ini.
12 menit berlalu hingga akhirnya kereta yang ia naiki berhenti di stasiun tujuan, Arima pun berdiri dari tempat duduk dan mengantri untuk bisa keluar dari kereta sebab pagi ini begitu padat penumpang. Setelah berdesak-desakan untuk bisa keluar Arima dengan langkah sedikit berlari menuju pintu keluar stasiun, waktu pun menyisakan 6 menit Arima dengan terburu-buru melangkahkan kakinya dengan cepat dan beruntungnya tempat ia berkerja tidaklah jauh dari Stasiun. Sesampainya di tempat kerja di lobi utama Arima langsung saja melakukan scan finger print untuk absensinya.
Arima menghembuskan napas lega. "Huh, hampir saja telat untung masih sisa 2 menit lagi."
"Gara-gara maraton nonton drama aku jadi begadang, terus lupa kalau besok kerja." Ucap Arima dalam hati sambil berjalan menuju lift.
"Arima! Arima!" Panggil seseorang dari belakang Arima namun ia tidak mendengarnya.
"Arima." Setelah menyusul langkah Arima orang tersebut pun menepuk pundak Arima yang seketika membuatnya kaget.
"Heh, eh maaf." Kata Arima setelah berbalik badan.
"Ini name tag trainee kamu ketinggalan." Ucap orang itu dengan ramah sambil menyodorkan name tag untuk pegawai trainee.
"Eh, iya terima kasih, maaf saya tadi buru-buru." Kata Arima dihadapan pria yang memanggilnya tadi.
"Sama-sama." Kata pria itu dengan senyum.
Mereka pun sama-sama menaiki lift menuju lantai 3 di mana tempat Arima akan berkerja nanti. Di dalam lift Arima masih sedikit heran kenapa pria disampingnya ini bisa mengetahui bahwa ia adalah Arima.
Mereka pun sampai di lantai 3, sambil berjalan keluar lift pria itu pun bertanya. "Kamu mau kemana?"
"Saya mau ke ruangan kepala divisi dulu." Jawab Arima.
"Loh sama dong, saya juga mau ke sana." Kata pria itu.
Mereka lalu bersamaan menuju ruangan Kepala Divisi. Disana mereka sudah ditunggu untuk diarahkan perkerjaannya.
"Permisi." Ucap pria tersebut sambil membuka pintu ruangan.
"Silakan masuk dan duduk." Ucap pria plontos berpakaian rapih yang tak lain adalah Kepala Divisi mereka.
Arima dan pria tersebut pun duduk berhadapan dengan Kepala Divisi. "Selamat pagi Reno, Arima."
"Pagi Pak." Balas kedua orang tersebut berbarengan.
"Seperti yang sudah saya jelaskan kemarin kepada Arima saat interview kemarin, bahwa selama masa menjadi trainee kamu akan dibimbing oleh mentor atau senior yang sudah saya tunjuk." Kata Pak Kepala Divisi kepada Arima.
"Dan yang akan membimbing kamu Arima adalah Reno." Arima pun menoleh kesamping kanan melihat pria yang ternyata namanya adalah Reno dan lalu mengangguk.
"Begitu juga seperti yang saya jelaskan kemarin kepada Reno tolong kamu bantu Arima selama menjadi trainee." Ucap Pak Kepala Divisi yang dibalas anggukan oleh Reno.
Setelah dijelaskan oleh Kepala Divisi, Arima dan Reno pun keluar dari ruangan tersebut. Reno mengajak Arima berkeliling sejenak untuk memperkenalkannya kepada ruangan yang akan menjadi tempatnya berkerja. Arima menyimak betul apa yang diberitahukan Reno kepadanya bahkan sampai-sampai ia mencatat, padahal tidak diperlukan.
"Dan ini tempat kamu berkerja." Ucap Reno sambil menunjuk satu meja kerja kosong yang bersebelahan dengan karyawan lain.
"Okee." Jawab Arima singkat.
"Oiya kita belum berkenalan, saya Seni Mareno panggil saja Reno." Ucap Reno sambil mengulurkan tangan.
"Salam kenal, saya Citra Arima, biasanya saya dipanggil Arima atau Ima atau bisa juga Rima." Reno tertawa kecil mendengar banyaknya nama panggilan Arima.
"Oke Arima, kamu saya tinggal sebentar untuk menggambil berkas-berkas yang akan kamu kerjakan hari ini. Jadi silakan duduk dan menunggu." Kata Reno lalu pergi sejenak meninggalkan Arima.
Hari itu Arima sudah mulai berkerja, beberapa tugas kecil yang diberikan oleh Reno terselesaikan dengan cukup baik dan tentunya tak terlepas dari bimbingan Reno. Hingga tak terasa jam kerja pun telah berakhir tepat pada jam 4 sore, sebelum selesai Arima kembali melakukan scan finger print untuk absensi pulang. Setelah absen selesai Arima pun berjalan menuju pintu keluar gedung dan pulang.
"Arima!" Tiba-tiba dari belakang Reno memanggil Arima.
Arima menoleh. " Eh, Pak Reno ada apa Pak?"
"Kamu mau bawa pulang itu name tag?" Ucap Reno dengan tersenyum ke arah Arima.
"Oh! Iya saya lupa. Hehehe." Ucap Arima sedikit malu.
"Sini biar saya yang kembalikan." Arima lalu memberikan name tag tersebut kepada Reno.
"Terima kasih, Pak Reno."
"Iya, sampai jumpa besok ya, bye." Ucap Reno dengan kembali melempar senyum kepada Arima.
Setelah kurang lebih 1 jam perjalanan pulang, Arima akhirnya sampai di rumahnya dimana di rumah tersebut terdapat keluarga yang lengkap, Ayah, Ibu dan satu adik laki-laki Arima. Sesampainya di rumah Arima langsung saja menuju kamar tidurnya dan mengunci pintu serapat-rapatnya.
"Argghh! Kenapa senyumnya tadi manis sekali sih?" Ucap Arima sambil memeluk erat guling di kasurnya.
"Duh! Aroma parfumnya masih tercium wangi." Ucap Arima dengan berguling-guling di atas kasur.
"Pak Reno...." Arima memanggil lirih nama Reno sambil membenamkan wajahnya yang nge-blush pada guling yang ia peluk.
Jadi hingga selesai perkejaan, Arima menahan rasa kagumnya kepada Reno yang tak bisa ia ucapkan dan akhirnya ia lepas kan rasa kagumnya itu setelah di dalam kamar.
Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu kamar Arima oleh seorang anggota keluarganya. " Kak! Kata mama mandi abis itu makan." Kata seorang anggota keluarga Arima yang ternyata adalah adik lelakinya.
"Iya, iya sebentar." Jawab Arima dari dalam kamar.
"Hari ini harus cerita ke Gina, biar dia iri." Kata Arima sambil tersenyum dan beranjak dari kasur.
Setalah mandi lalu makan, Arima pun kembali kedalam kamar dan bersiap menelpon sahabatnya bernama Gina untuk bercerita atas apa yang telah ia alami hari ini. Sekali percobaan menelpon dan langsung dijawab oleh Gina.
"Halo Gin! Gin!" Ucap Arima begitu antusias.
"Woy apaan! Ceria banget suaranya kayak orang abis menang kuis." Balas Gina.
"Eh, eh lo tau gak? Tau gak?"
"Ya nggak tau lah Rima, emm... Gue tau, lo pasti lagi stress ya?"
"Hahaha, bukan, gue lagi seneng banget tau!"
"Seneng karena lu lagi stress ya?" Balas Gina dengan bercanda.
"Bukan! Jadi tuh hari ini kan gue baru masuk kerja, terus gue tuh dapet pembimbing yang, aduh! Manis plus ganteng banget!" Arima menjelaskan kepada Gina penyebab ia begitu senang hari ini.
"Dih! Dih! Wah beruntung banget lo ya."
"Sumpah hari ini kayak drama yang gue tonton kemarin malam."
"Aduh, lagi-lagi nyamain realitas sama drama." Saut Gina kepada sahabatnya tersebut.
"Bomat! Yang penting malam ini dan seterusnya ada bahan buat ke haluan gue Gin!" Kata Arima diakhiri dengan tawa yang benar-benar riuh nan bahagia.
"Arima, Arima, halu terus aja digedein." Ucap Gina membalas perkataan halu sahabatnya tersebut.
Percakapan mereka pun berlanjut hingga pukul 9 malam. Arima malam ini sepertinya akan tidur dengan bayang-bayang Reno dan rasanya ia tidak sabar untuk kembali bertemu Reno keesokan harinya.
Esok pun tiba, Arima kali ini datang lebih awal ke tempat kerja dan bahkan setengah jam lebih awal hanya untuk cepat-cepat bertemu Reno. Pagi ini Arima sudah berada di meja kerjanya dan tidak lama Reno datang dengan pakaian yang casual, rambut yang klimis, wajahnya yang manis nan tampan bak seorang pangeran yang membuat Arima senyum-senyum sendiri ketika melihatnya.
"Hai! Pagi Arima." Sapa Reno kepada Arima.
Arima tersenyum. "Pagi juga Pak Reno."
Reno melihat jam tangannya. "Awal sekali kamu datang hari ini."
Arima kembali tersenyum. "Ah, itu ... Itu karena saya bersemangat hari ini." Jawab Arima malu-malu.
Reno mengacungkan jempolnya kepada Arima. "Good!"
Hari itu berjalan seperti biasa, Arima mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik tentu juga tidak terlepas dari bimbingan Reno. Hingga tidak terasa jam kerja pun hampir selesai.
Reno menghampiri Arima yang tengah merapihkan meja kerjanya. "Arima." Reno membuka percakapan.
"Iya Pak, ada apa?" Jawab Arima.
"Nanti kamu ada acara nggak setelah kerja?" tanya Reno kepada Arima.
"Emm ... Nggak ada sih Pak."
"Mau ikut makan-makan?" Reno langsung saja mengajak Arima.
Arima terkejut bukan main mendengar ajakan Reno. "Ber- berdua aja nih?"
"Nggak kok, sama temen-temen satu Divisi kita. Ada pak kepala juga loh, dia yang bayarin kok." Jawab Reno.
"Ohh ... Boleh, kirain berdua aja." Balas Arima atas ajakan Reno.
"Belum waktunya." Ucap Reno lirih.
"Hah? Apa Pak?" Arima mendengar apa yang Reno katakan tadi.
Reno tersenyum lalu tertawa kecil. "Bukan apa-apa kok. Yaudah kamu tunggu di lantai bawah nanti saya susul." Kata Reno yang dibalas anggukan oleh Arima.
Sore ini Arima tidak langsung pulang, ia menerima ajakan Reno untuk ikut makan-makan bersama teman-teman satu Divisi. Tidak lama Arima menunggu, Reno berserta teman-teman yang lain datang terhitung ada 10 orang termasuk Reno dan Arima.
"Arima, kamu berangkat sama saya." Kata Reno kepada Arima yang tak pelak kembali membuat Arima terkejut.
"Hah? Eh, iya Pak." Jawab Arima yang tiba-tiba saja menjadi gugup.
Semuanya pun berangkat beberapa ada yang menaiki mobil dan beberapa lagi menaiki sepeda motor begitu juga Reno yang membonceng Arima dengan motornya. Lagi-lagi Arima dibuat benar-benar gugup sebab ini adalah pertama kalinya ia dibonceng oleh seorang pria selain Papanya.
"Aku mimpi, kan!? Aku beneran mimpi, kan!?" Ucap Arima dalam hatinya saat berboncengan dengan Reno.
"Arima pegangan, awas nanti jatuh." Kata Reno ditengah motornya yang tengah melaju.
Arima menjadi salah tingkah mendengar perkataan Reno. "Mauuuu! Aku mau peluk biar nggak jatuh tapi-tapi aku malu." Ucapnya dalam hati dan saking malunya Arima akhirnya berpegangan pada tas ransel yang Reno kenakan.
Akhirnya tidak lama mereka sampai di tempat tujuan di sebuah restoran yang cukup besar dan di sana Pak Kepala Divisi sudah datang lebih dulu. Reno, Arima dan yang lainnya telah memasuki restoran tersebut dan sudah disambut oleh berbagai makanan yang terhidang. Arima memilih duduk di samping Reno, sebelum acara makannya dimulai Pak Kepala Divisi meminta Arima untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu.
"Sebelum dimulai saya meminta Arima untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu sebagai anggota baru." Kata Pak Kepala Divisi kepada Arima.
Dengan sedikit gugup Arima pun berdiri dan memperkenalkan diri. "Perkenalkan saya Citra Arima biasa dipanggil Arima dan motivasi saya berkerja disini adalah agar tidak terlalu lama menganggur. Mohon bantuannya dan terima kasih." Seketika saja apa yang dikatakan Arima mengundang tepuk tangan dan juga tawa seluruh teman-teman begitu juga Reno tak bisa menahan tawanya.
"Kamu suka ngelawak juga ya." Kata Reno kepada Arima yang sudah duduk di kursinya.
Setelah itu acara makan-makan tersebut dilanjutkan hingga selesai tepat pukul 7 malam. Reno mengajukan diri untuk mengantar Arima pulang dan Arima menyetujui ajakan tersebut. Cukup lama berkendara menuju rumah Arima dan mereka pun sampai.
"Ini rumah kamu?" tanya Reno.
"Iya." Jawa Arima singkat.
"Gede juga." Kata Reno mengomentari rumah Arima.
Arima tersenyum. "Pasukannya banyak Pak." Reno pun tertawa atas perkataan Arima.
"Terima kasih, Pak Reno sudah repot-repot anter saya pulang."
Reno tersenyum. "Sama-sama, oiya kalau di luar kantor jangan panggil saya pak panggil saja Reno."
"I-iya, saya akan coba." Jawab Arima malu-malu padahal ia ingin sekali memanggil Reno dengan panggilan yang lain.
"Good, yaudah saya pulang dulu. Bye." Kata Reno seraya kembali tersenyum manis kepada Arima.
Hari itu pun ditutup dengan Arima yang lagi-lagi kegirangan bukan main di dalam kamarnya atas apa yang terjadi hari ini. Rasanya seolah ke haluannya menjadi nyata.
2 Bulan berlalu, Arima kini bukan lagi seorang trainee namun ia tetap dibimbing oleh Reno dan hubungan mereka berdua semakin dekat saja.
"Arima." Panggil Reno kepada Arima di meja kerjanya.
"Iya, ada apa ya Pak?"
"Emm ... Gini ... Eh...." Ucap Reno malu-malu.
"Ada apa ya Pak?" tanya Arima sekali lagi.
"Besok Minggu kamu ada acara nggak? Sibuk nggak?"
"Emm ... Nggak ada sih Pak, acara saya paling maraton nonton drama sampai pagi." Jawab Arima dengan canda.
Reno tiba-tiba tersenyum lebar. "Beneran?"
"Iya bener kok." Jawab Arima.
"Yes!" Ucap Reno karena terlalu senang.
"Kok keliatannya senang sekali Pak?" Tanya Arima dengan sedikit menahan tawa karena jarang melihat Reno begitu ekspresif.
"Ehemm. Jadi kamu mau nggak aku ajak jalan-jalan. Kali ini berdua aja." Ucap Reno dengan ekspresi serius. Arima yang mendengar ajakan Reno tersebut terkejut dan membuat jantungnya berdebar cepat hingga tidak bisa berkata-kata.
"Arima? Gimana? Mau?" tanya Reno kepada Arima yang tiba-tiba bengong melihat Reno.
"Eh! Iya! Iya sama mau!" Ucap Arima dengan sedikit keras sehingga membuat pegawai yang lain menoleh ke arah mereka berdua.
Reno tersenyum sumringah. "Okee! Sampai jumpa besok jam 7 malam. Saya akan jemput kamu." Kata Reno dan beranjak pergi dari Arima yang masih tidak menyangka bahwa Reno akan mengajaknya jalan-jalan berduaan saja.
Esok telah tiba di hari Minggu dan di jam yang telah disepakati oleh Arima dan Reno untuk jalan-jalan berdua. Sejak kemarin hingga hari ini Arima masih begitu tidak percaya, perasaannya senang bukan main namun juga gugup secara bersamaan, wajar ini adalah kali pertama Arima menerima ajakan seorang lelaki yang ia sukai.
"Aduh! Sumpah aku gugup. Apakah ini kencan? Atau jalan-jalan biasa? Atau jangan-jangan Reno mau nembak?" Ucap Arima lirih dengan memeluk erat guling yang ada di kamarnya.
"Sumpah ini beneran kayak drama. Arghhh! Terima kasih Tuhan telah menjadikan nyata kehaluan ku." Ucapnya lagi sambil menggerak-gerakan guling yang ia peluk.
"Kak! Ada yang nyariin tuh di depan." Teriak adik laki-laki Arima. Dan Arima yang sudah memakai baju terbaiknya dan bersegerah keluar.
Di luar rumah Reno sudah menunggu Arima dengan menaiki sepeda motor bergaya retro kesayangannya itu. Mereka pun berdua pergi dengan tujuan utama mereka adalah Kota Tua. Pertama mampir pada sebuah kedai kopi untuk sekedar ngobrol dan memecah kegugupan mereka berdua lalu setelah sekitar satu jam bercengkrama dan memecah kegugupan Reno mengajak Arima berjalan-jalan sejenak mengelilingi Kota dengan nuansa retro yang begitu kental.
"Arima." Reno menghentikan langkahnya di sebuah jembatan kecil yang mereka lewati.
"Arima, saya ingin mengakui sesuatu." Reno berjalan mendekati Arima yang hanya terdiam dengan jantungnya yang berdebar-debar saat Reno mulai menggengam tangannya.
"Hehhh? Situasi macam apa ini!? Kenapa aku begitu gugup juga begitu senang!?" Ucap Arima dalam hatinya.
Reno menarik napas panjang dan menghembuskannya lalu berkata. "Sa-saya suka kamu! Maukah kamu menjadi patner hidup saya!" Seketika detak jantung Arima semakin kencang saat mendengar pengakuan Reno barusan.
"Pa-patner? Maksudnya?" Ucap Arima dengan pipi yang mulai memerah.
"Maaf, maksud saya kekasih atau apalah itu, atau istri bila kamu mau." Ucap Reno dengan malu-malu.
"Haaaahhhh!?" Spontan saja Arima mengatakan hal tersebut karena begitu terkejutnya. Ia tidak menyangka bahwa Reno ingin Arima menjadi kekasihnya atau bahkan istri.
"Tidak mau ya?" tanya Reno yang masih menggenggam tangan Arima.
"I-iya tentu saja saya mau! Sejujurnya saya juga suka dengan Reno sejak pertama bertemu." Jawab Arima malu-malu diiringi detak jantungnya yang masih berdebar.
Reno tersenyum begitu bahagia hingga rasanya ia ingin menangis sebab ini pertama kalinya ia berani menyatakan perasaannya kepada seorang wanita. "Te-terima kasih Arima!" Ucap Reno yang lalu memeluk erat Arima yang membuatnya Arima pingsan saking senangnya.
"Arima!"
"Arima!"
"Arima! Bangun!"
Arima membuka matanya. "Reno...."
"Reno? Reno siapa?"
Arima terbangun. "Reno?" Katanya sambil mengusap-usap matanya.
"Ini mama nak, mama kamu bukan Reno."
"Hah!?" Arima terkejut mendapati bahwa yang didepan matanya adalah Mama bukan Reno.
"Kamu pasti mimpi indah ya, ayo bangun katanya hari ini mau ada interview kerja." Ucap Mama yang duduk di samping putrinya itu.
"Makanya kamu jangan keseringan nonton drama, begitu kan jadinya. Halunya kebawa sampai mimpi." Ucap Mama lalu meninggalkan putri sulungnya itu.
"Haha, haha ... Jadi, yang tadi itu cuma mimpi ya?" Ucap Arima sambil memeluk erat gulingnya.