*Aku tak pernah tahu tentang rahasia apa saja yang telah terkubur selama ini di semesta. Aku hanya mau menjalani hidup tanpa ada rahasia disekeliling ku. Tapi ternyata itu tak seperti yang aku harapkan*
Tok, tok, tok.
Tak terdengar sahutan dari dalam rumah bangsawan itu. Tapi, ternyata ada yang membukakan pintu yang terkunci.
Klak, pintu telah terbuka lebar.
"Ada apa kau kemari Marco?" Isabella, putri bangsawan Antonio menanyakan kedatangan Marco dengan ketus.
"Hey, sopan lah terhadap tamu mu! aku kesini mau menunjukkan sesuatu pada ayahmu!" Marco menyahut.
"Duduklah dahulu, aku akan memanggil ayah sebentar!" Isabella melangkah.
"Maria! buatlah minuman untuk Marco!" suruh Isabella pada pelayan rumah nya.
"Baiklah nona!" jawab Maria.
Isabella menaiki tangga dan mengetuk pintu kamar orangtuanya. Ia memberi tahu bahwa Marco ingin menunjukkan sesuatu yang penting.
Ayah Isabella yang bernama Antonio turun dan menemui Marco.
"Hola Marco! ada apa kamu kesini? apalagi sudah malam begini?" tanya monsier Antonio.
"Saya sudah menyelidiki kasus tersebut tuan! penyebabnya seperti di terkam binatang buas. Tapi sepertinya bukan, ada kuku yang menempel dan itu adalah kuku manusia!" Jelas Marco panjang lebar.
"Bagus anak muda! besok kamu ke kantor ku, kita akan membahas nya lebih jauh!" tuan Antonio merespon penjelasan Marco.
"Siap tuan Antonio! saya pamit untuk pulang, terimakasih atas minumannya!" Marco pamit pulang.
"Tunggu, ada apa sebenarnya?" tanya Isabella penasaran.
"Pulanglah Marco, nanti saya sendiri yang akan menjelaskan pada Isabella!" seru tuan Antonio.
Marco hanya mengangguk dan berjalan menuju pintu keluar. Ia juga sempat melambai pada Isabella.
Antonio mendekati anaknya, ia menjelaskan bahwa ada orang yang telah dibunuh di sekitar hutan di pegunungan Alpine dan mereka mulai menemukan titik terang.
"Apa? benarkah? berapa korban yang telah dibunuh ayah? siapa sebenarnya penjahatnya?" Isabella gusar, ia merasa ketakutan sekarang.
"Tenang saja nak! tadi Marco bilang itu ulah binatang buas, jadi kamu tak perlu khawatir!" Antonio berbohong.
"Tidur lah, sebentar lagi tengah malam! besok kamu harus latihan balet!" suruh Antonio.
Isabella mengangguk dan naik kelantai atas, dimana kamar nya berada.
Teng...teng...teng.
Suara lonceng dari jam di rumah Isabella berbunyi nyaring. Semua orang masih terlelap dan terbuai dengan mimpi. Ada seorang gadis keluar dari kamar Isabella. Ia bergerak gesit dan lincah, kukunya tajam. Matanya bergerak nyalang, rambutnya acak-acakan. Bola mata itu hitam legam. Entah itu monster atau manusia. Ia melompat keluar dari jendela rumah. Makhluk itu menuju hutan Alpine yang mencekam. Tak berapa lama manusia yang serakah akan hawa nafsu tengah berbuat mesum di tempat itu. Makhluk itu menyerang pasangan muda mudi dan mencakar dengan cepat. Kedua orang itu tak selamat, mereka menggelinjang menuju ajal.
********
Pagi hari.
Isabella bangun dari tidur nya. Ia merasa sekujur badannya pegal. Entah mengapa beberapa minggu ini badannya merasa remuk ketika bangun tidur.
Ia memulai harinya yang padat. ayahnya sudah berangkat bekerja di kantor detektif swasta sebagai seorang eksekutif.
*Marco dan Antonio.
Marco memberikan foto yang aneh pada Antonio, di leher korban terdapat beberapa gigitan dan cakaran yang jelas berbeda dengan binatang manapun. Serigala bukan, beruang juga bukan.
"Aneh sekali, apa kita harus berpatroli malam ini?" tanya Antonio.
"Ide tuan bagus juga! tapi kita harus memanggil banyak pasukan agar bisa menyudutkannya." Usul Marco.
"Tak mengapa, malam ini juga kita harus menghentikan monster itu bagaimana pun caranya!" tekad Antonio.
"Baiklah tuan, saya akan mengumpulkan orang-orang yang mau mendukung kita!" Marco tak kalah bertekad.
Keputusan sudah diambil. Malam ini mereka akan berjaga dihutan Alpine sampai menemukan titik terang. Senjata tajam dan pistol untuk berburu telah disiapkan. Marco segera mencari orang-orang yang mau berpartisipasi.
Rumah Antonio.
"Maria, apakah latihan balet ku terlalu padat? sudah beberapa minggu terakhir aku merasa pegal dan kesakitan!" keluh Isabella.
"Mungkin saja nona! oh iya, kapan nyonya akan kembali dari rumah keluarganya?" tanya Maria si pelayan.
"Ibu akan pulang lusa! hey lebih keras lagi pijatan nya!" Isabella tengah di pijat oleh Maria.
Sore ini Isabella tak mau keluar rumah lagi. Ia tak mampu menggerakkan kakinya lebih lama karena sudah berlatih balet seharian ini.
Senja sudah pulang keperaduan. Malam kelam telah datang. Sang rembulan pun tak mau memberikan sinar nya. Malam ini sesuai dengan kesepakatan Marco dan tuan Antonio, para pemburu monster telah bersiap-siap.
"Ayah! ini sudah malam, kenapa ayah mau keluar rumah?" tanya Isabella.
Isabella melihat ayahnya mengendap menuju pintu.
"Tidur lah nak! ayah akan berburu dengan Marco dan teman-temannya!" Antonio tersenyum.
"Baiklah ayah, aku akan tidur. Berhati-hatilah!" pesan Isabella.
Antonio hanya mengangguk. Ia mulai melangkah keluar rumah dan berkumpul ditempat yang sudah ditetapkan. Ada belasan orang berkumpul dan sudah siap dengan senjata masing-masing.
"Ayo kita berangkat!" perintah Antonio.
Semua bergerak menuju hutan Alpine. Mereka berpencar menjadi 4 tim yang terdiri dari 3 orang.
Suara burung hantu di hutan telah berbunyi. Para pemburu masih berada di tempatnya.
"Apakah ini akan berhasil?" tanya seorang pemuda.
"Saya yakin kita bisa menangkap monster itu!" ujar Marco yakin.
Di rumah Isabella, Maria terbangun dan berjalan kearah dapur. Tiba-tiba, teng...teng...teng.
Suara lonceng jam berbunyi nyaring dan mengejutkannya.
"Aw, dasar jam tua! hampir saja aku menjatuhkan cangkir ini!" Maria mengelus dada mencoba menenangkan diri.
Ada bayangan sekelebat keluar dari kamar Isabella. Maria terperanjat dan terperangah, matanya membulat sempurna ketika melihat siapa yang keluar dari kamar itu.
"Kamu.....?" Maria bergetar ketakutan.
Maria melihat seorang gadis yang berbeda dari biasanya. Matanya hitam legam, nyalang dan nampak kelaparan. Jari kuku nya runcing dan tajam. Belum sempat Maria melarikan diri, ia sudah diterkam duluan oleh makhluk itu.
Setelah puas mencabik-cabik daging Maria dan menghisap darah Maria, makhluk itu keluar dengan cara melompat seperti biasanya.
Makhluk itu menjilati kukunya. Ia tersenyum lebar menampakkan giginya yang runcing.
Ia melompat ke arah hutan Alpine.
Suasana di hutan Alpine masih sepi. Para pemburu belum menemukan tanda-tanda ada monster atau binatang buas. Tapi, seketika ada suara ranting yang patah. Semuanya bersiap dengan senjata masing-masing. Marco mulai mengawasi pergerakan dari lawannya yang belum nampak jelas karena tertutup semak belukar.
"Bersiaplah tuan, sepertinya kali ini kita akan berhasil memburunya!" Marco optimis.
Antonio hanya tersenyum lebar mendengar perkataan Marco.
Makhluk itu tengah mengendus bau manusia. Ia bisa merasakan bau darah manusia. Ia mencari manusia yang dirasanya dekat dengan posisi nya saat ini. Dan.....Roarrrr.
Ia menerjang salah satu pemburu. Seketika semua menghampiri makhluk yang tengah menyerang satu pemburu itu.
"Semuanya, kepung dan arahkan senjata kalian padanya! panah sekarang juga!" perintah tuan Antonio pada pemburu yang membawa busur panah. Seketika makhluk itu meraung ketika dihujani puluhan anak panah dan mengenai seluruh tubuhnya. Makhluk itu masih berusaha melarikan diri. Ia meloto dan mendelik ke arah Antonio dan Marco.
"Bukannya itu ayah dan Marco? sedang apa mereka? kenapa aku bisa berada disini? sakit, sakit sekali!" Isabella mulai bertanya-tanya.
Entah apa yang ada dipikirannya sekarang ini. Isabella merasa ini hanya halusinasi belaka. Ia merasa berlari kencang menuju kesebuah sungai. Ia menatap wajah yang berada di pantulan air sungai dibawah sinar rembulan.
"Tidak, siapa itu? siapa kamu sebenarnya?" teriak Isabella ketakutan.
Ia mendengar suara orang berlari di belakangnya. Ia tak bisa menghindar kerumunan para pemburu.
"Siapa kamu?" kenapa kamu membunuh penduduk disini?" tanya Antonio.
Makhluk itu hanya terdiam. Ia menunjuk ke arah Antonio dan Marco.
"Sialan, ternyata dia menantang kita! kita serang sekarang!" perintah Antonio.
Anak panah menyerang kembali. Makhluk itu mengeluarkan darah segar dari tubuhnya. Makhluk itu tak bisa berlari, ia segera diikat oleh para pemburu.
"Ayah.....!" Isabella memanggil lirih.
"Tuan, kenapa dia memanggil mu ayah?" tanya Marco pada Antonio.
Ayam hutan mulai berkokok, makhluk itu berubah menjadi Isabella.
Semua orang terperangah tak percaya.
"Isabella anakku.....!" pekik Antonio segera memeluk anaknya yang sudah tak berdaya.
Nafas Isabella naik turun, ia tersenyum ke arah Antonio.
"Ayah, se-be-narnya aa- kuu kenapa? ke-na-pa sssakit ssse-ka-li!" rintihan suara Isabella terbata dan melemah.
"Kenapa kamu bisa berubah menjadi makhluk buas itu nak! apa yang kamu perbuat?" tanya Antonio tak percaya.
"App-pa mak-sud ayy-ah! aku iii-ni a-nak mu yah!" jawab Isabella terbata.
"Diamlah, Marco tolong anakku! kalian semua harus menolong nya!" sesal Antonio.
"Tapi tuan, kita tidak tahu kalau dia itu Isabella putri tuan Antonio!" sesal Marco.
Akhirnya Isabella di bawa pulang kerumah dengan berhati-hati, tuan Antonio memanggil dokter untuk merawat lukanya. Nafas Isabella melemah, dia tertidur dengan sendirinya.
Tuan Antonio sungguh tak menyangka anaknya menjadi monster pembunuh. Maria yang selama ini melayaninya juga sudah di buru oleh Isabella.
Tok, tok, tok.
Ceklek, pintu terbuka. Antonio memeluk Lauren istrinya yang baru datang.
"Kamu kenapa sayang? kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Lauren khawatir.
"Anak kita, lihatlah dia! aku tak sanggup!" Lauren berlari ke kamar Isabella dan terkejut akan keadaan Isabella yang penuh dengan perban.
Setelah melihat Isabella, Lauren meminta penjelasan pada suaminya. Ia sungguh tak tega melihat Isabella dengan keadaan seperti itu.
Antonio menjelaskan kejadian semalam dengan detail dan rinci.
Raut wajah Lauren berubah pias. Ia menjadi cemas, khawatir dan takut.
"Maafkan mama Isabella!" lirihnya pelan.
Antonio mendengar lirihan Lauren.
"Apa maksudmu? cepat beritahu aku! apa yang kau sembunyikan selama ini? kenapa anak kita menjadi makhluk pembunuh?" Antonio mengguncang bahu Lauren berkali-kali.
"Maaf kan aku Antonio. Itu semua ulah ibuku! dia sudah berjanji akan memberikan tumbal setiap malam pada iblis, dia menyerahkan jiwa anak kita satu-satunya. Karena itulah Isabella berubah menjadi sosok pembunuh dan menyerahkan jiwa buruannya pada iblis yang di sembah ibuku. Hiks, hiks, hiks!" air mata menetes membasahi pipi Lauren.
"APAAA? KENAPA KAU TIDAK MEMBERI TAHU?" Antonio emosi. Ia berteriak pada Lauren.
"Maaf, maafkan aku!" pinta Lauren.
"Semua sudah terlambat! lihatlah sekarang anak kita! kita tidak pernah tahu kapan dia akan mati!" Antonio berkata dengan penuh penyesalan.
Isabella yang berada di kamar nya terusik dengan perdebatan orang tuanya. Ia bangkit dari tidurnya. Ia berhenti di depan sebuah cermin, ia melihat dirinya yang sudah penuh dengan luka-luka. Ia tersentak ketika ada sosok bermata hitam pekat dan berkuku runcing mulai memandangi dirinya di pantulan cermin. Seketika Isabella mulai terjatuh.
Suara Isabella yang terjatuh terdengar, kedua orangtuanya naik menuju kamar Isabella.
"ISABELLLLLL!" teriak mamanya.
Isabella sudah tak bernafas lagi, Antonio dan Lauren menangis sesenggukan melihat nasib putri satu-satunya. Mereka menyesali perbuatannya.
Isabella menjadi korban terakhir, Isabella dihisap jiwanya oleh iblis yang berada di dalam tubuhnya. Iblis itu akan muncul ketika lonceng mulai berbunyi di tengah malam. Namun kini, jiwa Isabella sudah pergi bersama sang iblis. Iblis mulai mencari korban manusia berikutnya yang mau menuruti semua keinginan nya.
End.
Selamat membaca.
Jangan lupa hatinya 😍😍