Aku pernah begitu tak menyukai hujan. Hanya karena dia akan membuatku basah menyedihkan. Namun kini aku begitu menyukai hujan karena akan membantu kesedihanku. Ketika aku menangis dibawah hujan, takan ada orang yang tahu aku saat itu menangis. Tak ada yang tahu betapa menyedihkannya aku saat itu.
Aku sering mendengarkan lagu saat hujan, lagu yang diciptakan oleh laki-laki yang begitu aku sukai. Ya hanya aku yang menyukainya. Setiap lirik nya aku menyukainya, dan saat itu aku akan mulai menangis. Bukan karena aku begitu mendalami lagu itu. Hanya saja mengingat setiap kisah pahit yang dulu pernah aku alami.
Saat hujan bisa menjadi momen yang begitu romantis untuk pasangan yang dimabuk cinta,saling menghangatkan, momen yang pas untuk saling berbagi keluh kesah. Momen yang pas untuk berbagi kecupan hangat juga, namun tidak untuk orang yang sedang patah hatinya. Itu akan membuat luka lama tak sengaja terbuka. Kau bisa saja menikmati cokelat hangat saat hujan, namun hatimu akan merasa begitu kesepian. Saat kau menatap ke atas langit dibalik jendela kaca. Hatimu akan sedikit teriris perlahan. Sampai tak tersadar setiap tetes air mata keluar.
Entah mengapa aku begitu menyukai hujan meski aku tahu aku akan menangis saat itu, namun setelah hujan reda hatiku sedikit lega. Hujan seperti membantuku mengeluarkan segala beban dalam hatiku tanpa diinginkan.
Ini berlangsung begitu lama, beberapa menit sampai beberapa jam. Namun berkat hujan ada kehidupan baru yang diharapkan, meski terkadang seringnya hujan mendapatkan musibah yang tak diharapkan. Ya meski itu kebanyakan ulah diri sendiri.
Kenapa ada ketertarikan sendiri pada hujan, meski terkadang hujan dibarengi petir dan badai. Entahlah aku masih menyukaimu. Mungkin lebih tepatnya sekarang aku masih menyukaimu.