Malam yang dingin, diterpa angin cukup kencang. Bulan sudah tidak kelihatan lagi, sebab awan sudah menutupinya. Dibalik larutnya malam kala itu, masih terdapat seseorang yang masih terjaga. Ia menatap keluar jendela sambil meminum teh hangat.
Sesekali meminum sambil memandang suasana sekitar kediamannya. Tenang dan sepi. Tengah malam adalah waktu yang tepat untuk rehat dan menenangkan diri. Itulah yang dipikirkan oleh perempuan bernama Leksa tersebut.
Leksa menyukai suasana malam, terlebih kala sudah memasuki tengah malam. Banyak yang berpendapat minus tentang tengah malam. Akan tetapi berbeda dengan Leksa, yang bahkan menikmati hampir setiap momennya.
Angin malam makin kencang bertiup. Dan Leksa menerka akan turun hujan kali ini. Setelah teh yang ada di cangkirnya habis, perempuan itu berjalan ke dapur dan mencuci cangkir bekas minumnya tadi.
Kembali ke ruang kamar dengan suasana ruangan yang hanya gelap. Leksa beranjak ke tempat tidur dan menarik selimutnya. Namun, ia tidak tidur. Melainkan diam dan berpikir akan sesuatu. Pikiran liarnya muncul dan itu secara tiba-tiba saja datangnya. Ada macam hal yang dipikirkan saat berada di suasana sepi seperti ini. Dan kali ini Leksa berpikir tentang silsilah. Lebih tepatnya Silsilah keluarga.
"Aku penasaran dengan silsilah keluargaku."
Itulah yang di ucapkan Leksa saat sedang memikirkan hal tersebut.
Beberapa menit membayangkan dan berpikir tanpa ujung, membuatnya diterpa oleh yang namanya rasa kantuk. Akhirnya Leksa memutuskan untuk segera tidur.
Saat mata ingin terpejam. Seketika dirinya mendengar suara lonceng dengan jelas. Matanya terbuka lebar dan langsung menoleh ke berbagai arah.
"Siapa itu?!"
Leksa terkejut dan mencari-cari asal suara.
Angin malam masih bertiup, dan hujan belum juga turun sedari tadi. Leksa kembali memejamkan mata untuk tidur.
Namun, lagi-lagi ia mendengar suara lonceng berada di sekitarnya.
Leksa duduk dan memutar pandangan mata ke segala arah. Tidak ada siapapun di ruangannya.
Ia menunggu beberapa saat sampai dirinya kembali mendengar suara lonceng tersebut.
Dan suara lonceng itu berasal dari luar ruang kamarnya.
Leksa memandang ke arah pintu dan bergerak dari tempat tidur. Melangkah secara perlahan dan memegang gagang pintu. Dengan rasa gugup yang ada, Leksa menahan gerak dan tangannya diam di pegangan pintu tersebut.
"Buka atau tidak?"
Leksa berpikir untuk memastikan.
Dan ia pun memutuskan untuk membuka pintu kamar dengan perlahan. Pintu dibuka dan Leksa tidak menemukan siapa-siapa. Perempuan itu pikir ia sudah salah dengar. Akan tetapi di sisi lain ia tak yakin dengan itu. Menutup pintu dan kembali menuju ranjang.
"Aaaaaaaa!!!!!"
Leksa berteriak dan terduduk setelahnya. Ia sangat dikejutkan oleh sesuatu yang dilihatnya. Seseorang sudah berada di tepian ranjang miliknya tanpa Leksa tahu dari mana dia bisa masuk ke ruang kamarnya.
Sekali lagi perempuan itu mendengar suara lonceng. Ternyata lonceng itu berasal dari orang asing yang ada di hadapannya. Leksa tak bisa berkata-kata. Jantungnya berdetak dengan kencang saking terkejutnya. Badan menyandari di pintu kamar sambil menutup wajahnya. Leksa sangat takut dan tak berani bergerak dari posisinya.
Lalu ia mendengar langkah kaki yang mulai mendekat. Leksa semakin takut dan gemetaran.
"Jangan sakiti aku. Aku mohon!"
Perempuan yang sudah ketakutan itu, malah ditertawakan oleh orang yang mendekatinya.
Entah apa yang lucu baginya, membuat Leksa jengkel dalam rasa takutnya. Kemudian orang asing itu berjalan mendekati ranjang dari Leksa dan menyuruhnya duduk di sana bersama. Namun ajakan itu ditolak mentah-mentah oleh Leksa. Jelas dirinya masih takut dan tidak berani mendekat.
"Baiklah. Kita jaga jarak saja kalau begitu."
Ucap orang asing itu.
Leksa duduk di tempat tidur sambil menutupi setengah wajahnya dengan selimut. Orang asing itu hanya berdiri di dekat jendela sambil menatap keluar. Memberanikan diri untuk melihat seluruh perawakan dari orang asing tersebut. Leksa dapat melihat dengan jelas gaya berpakaiannya.
Setelan baju dan celana kain yang terkesan sederhana. Kemudian terdapat sebuah topi berada di atas kepala. Setelah melihat keseluruhan dari tampilan orang yang ada di hadapannya, Leksa kembali menutup wajahnya agar tidak di pandang balik.
Orang asing itu kemudian berbicara dan bertanya tentang Leksa, di awali dengan kabar.
Leksa menjawab dengan sisa rasa takut yang masih ada di dirinya. Kemudian mereka berdua lanjut berbicara dalam gelapnya ruangan.
Terdengar suara lonceng, membuat Leksa kembali takut dan berkata pada lawan bicaranya untuk berhenti membunyikan lonceng itu.
"Oh maaf. Ini yang membuatmu takut? baiklah aku tidak akan membunyikannya."
Kemudian mereka berdua lanjut bicara. Orang asing itu ingin mengenal tentang Leksa. Dan perempuan itu hanya menjawab seadanya mengenai dirinya. Dia tidak mau orang asing mengetahuinya lebih dalam.
Dan tibalah satu pertanyaan yang dilemparkan pada Leksa.
"Seberapa jauh kamu mengenal keluargamu?"
Leksa terdiam dan berpikir akan keluarganya.
Kemudian ia meneteskan air mata. Perempuan itu menangis tanpa suara. Orang asing itu melihatnya dan coba untuk menenangkannya.
"Tenangkan dirimu. Bisakah kamu menceritakan hal itu padaku? Barangkali dengan bercerita, kamu bisa merasa sedikit membaik setelahnya"
Leksa tidak merespon dan orang asing itu pun enggan memaksa.
Mereka berdua dalam suasan hening beberapa saat. Sampai Leksa bertanya pada si orang asing.
"Aku ingin tahu. Kamu ini siapa? Bagaimana kamu bisa masuk kesini?"
Leksa penasaran.
Orang asing itu memandang Leksa dan berkata.
"Aku adalah bagian dari dirimu."
Kalimat itu membuat Leksa tak paham dan meminta agar diberi penjelasan.
Sebelum menjelaskan, orang asing itu meminta izin pada Leksa untuk mendekat. Dan perempuan itu menerima.
Duduk di tepian ranjang sambil mengeluarkan sesuatu. Leksa hanya memperhatikan dengan rasa penasaran.
"Bisakah kamu mendekat?"
Leksa pun coba mendekat dan berharap tidak mendapat perlakuan aneh. Mereka berdua melihat sebuah kertas gulungan yang dibuka lebar.
"Ini.... Silsilah keluarga?"
tanya Leksa yang tak menyangka.
Menangguk seolah membenarkan perkataan dari Leksa, si orang asing langsung menjelaskan tentang silsilah tersebut pada perempuan yang ada di sebelahnya. Mendengar penjelasan diselingi rasa takjub, membuat hati Leksa begitu senang. Dan sesekali ia bertanya pada orang asing itu mengenai orang-orang yang dijelaskannya barusan.
Suasana yang awalnya di isi oleh ketakutan dan tidak yakin, sekarang malah berubah menjadi kesenangan dan yakin.
Sampai di mana orang asing itu berhenti menjelaskan. Leksa kembali bertanya, kenapa dia berhenti untuk menjelaskan silsilah tersebut?
orang asing itu menggelengkan kepala dan berkata.
"Aku hanya bisa menjelaskannya sampai disini saja."
Leksa yang mendengarkan itu merasa tak terima. Sebab dirinya masih penasaran akan silsilah yang belum selesai dijelaskan tersebut. Dan ia berharap dapat di terangkan secara tuntas agar dirinya tahu mengenai para pendahulunya.
Leksa memohon dan menggoyangkan pundak dari orang asing tersebut. Si orang asing itu melihat ke arah sentuhan tangan serta wajah dari Leksa yang penuh pengharapan. Tersenyum dan merasa melunak, si orang asing memutuskan untuk kembali menjelaskan silsilah tersebut. Leksa merasa senang dan duduknya semakin mendekat.
Jari telunjuk terus bergerak ke satu persatu orang yang ada di dalam lembaran kertas itu. Mata terfokus pada satu arah dengan rasa senang yang melekat di hati.
Hingga...
Di satu ketika, si orang asing berkata pada Leksa.
"Namamu Leksa kan? Lalu sejauh mana kamu mengenal keluargamu?"
Leksa menjawab sambil menunjuk orang-orang yang tercantum di dalam lembaran kertas silsilah.
"Bahkan aku memiliki fotonya." jawabnya.
"Kamu begitu senang memiliki fotonya?
tanya orang asing itu kembali.
"Ya! Aku jadi tahu mengenai pendahuluku. Aku senang bisa mengetahuinya."
kata Leksa sambil tersenyum.
Lalu perempuan itu bergerak mengambil sesuatu dari rak buku. Dan menunjukkan pada orang asing mengenai album foto yang ia miliki. Kini berganti pula Leksa yang menerangkan tentang keluarganya pada si orang asing.
Setelah keduanya saling menjelaskan, Kini saatnya si orang asing untuk pergi.
"Sudah waktunya aku pergi."
Mereka berdua saling memandang sebelum berpisah. Masih ada rasa penasaran, membuatnya kembali bertanya akan hal yang sama.
"Kamu belum menjelaskan tentang dirimu padaku. Jadi siapa dirimu ini?"
orang asing itu memegang sebelah pundak dari Leksa.
"Aku ini bagian dari dirimu. Yaitu keluargamu."
Si orang asing menunjukkan dimana posisi dirinya di lembaran kertas gulungan silsilah.
"Apakah kamu melihatnya?"
"Tidak."
jawab Leksa singkat.
"Tapi aku melihatnya."
"Bagaimana bisa?" tanya Leksa.
"Sebab aku tahu mengenai silsilah ini. Meskipun diriku tidak tercatat di dalam lembaran ini."
ungkap si orang asing.
Leksa penasaran sampai berkata.
"Kamu tidak di anggap?"
"Benar. Aku di lupakan oleh keluargaku sendiri."
Waktu terus berjalan, dan si orang asing sudah di desak oleh waktu. Berdiri tegak dan mengakhiri perjumpaan mereka berdua.
Sebelum itu, Leksa menahan dengan memegang helai pakaiannya.
"Tunggu. Ada yang ingin aku minta padamu sebelum pergi."
Permintaan telah di wujudkan, dan si orang asing itu pun pergi sambil melambaikan tangan pada Leksa.
Kini suasana kamar kembali sunyi. Angin sudah tidak bertiup serta bulan sudah kembali tampak.
Diterangi sinar malam yang masuk melalui jendela, Leksa masih berpikir tentang silsilah dan juga orang yang baru ditemuinya tadi.
Permintaan darinya sudah di kabulkan dan Leksa memiliki sesuatu dari hasil permintaannya.
Sebuah tulisan tangan yang berupa tanda tangan milik si orang asing tersebut.
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu, tetapi aku senang karena kamu telah hadir malam ini. Dan ini menjadi suatu momen spesial buatku."
Sebuah kertas berisi tanda tangan itu di selipi Leksa dalam album foto.
"Terlepas dari apa yang kamu hadapi, aku tetap menganggapmu sebagai leluhurku. Sebab aku tahu mengapa aku meyakinimu sebagai bagian dariku."
Memandang ke arah luar jendela. Dan melihat bulan yang tengah bersinar.
"Karena kamu memiliki cincin yang mirip dengan milik orang tuaku, serta kakek nenekku. Aku yakin itu adalah cincin pernikahan yang diwariskan dari dirimu. Sebab di cincin itu terdapat tulisan L.A."
Membalikkan badan dan melangkah menuju ranjang.
"Laksen Arnevis. Itulah yang masih tersisa dari dirimu sampai sekarang di keluarga ini."
Tanda tangan sebelumnya juga terdapat tanda tulisan L.A. Dan itu membuat Leksa sangat yakin dan percaya bahwa dia bagian dari keluarganya.
Leksa tertidur dengan lonceng yang berada di dekatnya. Sebuah lonceng pemberian sang pendahulu, Laksen Arnevis.
-----SELESAI-----