Waktu tengah malam tiba-tiba Sirena terbangun di sebuah hutan.
Sirena menatap hutan itu,dan Sirena teringat tadi Ia melompat dan terjungkal ke jurang.
Aku tertegun saat mendengar suara lonceng. Memoriku berkelana padanya, wajahnya terus berdesakan dalam kepalaku. Pening. Ekspresi teduh darinya membuat mataku berkunang-kunang, enggan menerjemahkan suara lonceng itu sebagai tanda keberadaannya.
Memoriku langsung berubah warna. Hutan ini, segala tentangnya adalah hitam. Aku pernah masuk dan takkan pernah mau kembali. Ya, bertemu dengannya pertama kali di sini. Tempat yang paling ia benci, tapi mengapa kini ia berada di sini? Tidak, aku menyangkal dia di sini. Dia takkan ada di sini, suara lonceng ini hanya kebetulan. Tidak, dia di sini.
“Aaaaaaaa!!!!” Aku berlari membabi buta masuk ke dalam hutan. Hatiku terus mengatakan dia di sini meski otakku menolak. Mataku terasa panas, memutar kembali memori kelam masa laluku di hutan kematian ini.
***
Aku berjalan terseok dengan pandangan kosong. Pukulan, pengucilan, dan keputusasaan membayangi benakku. Aku tidak dibutuhkan, itu yang kutahu. Aku diabaikan, itu yang kumengerti. Aku tidak berguna, itu yang kupahami. Aku memandang ke sekeliling, masih dengan perasaan kalut, gelap menyelimuti semua suasana hutan ini sekalipun pada siang hari. Sesekali, sekelebat bayangan berhasil membuat bulu kudukku berjingkat.
Aku tersandung. Kutatap ngeri mayat yang terbujur kaku di sampingku. Aku bergidik, merangkak menjauh dengan perasaan kalut luar biasa. Tangan dan tubuhku mulai bergetar ketika bau anyir juga menyergap penciumanku. Hutan ini benar-benar memberikan kesan yang sangat mengerikan untuk orang yang baru pertama kali masuk. Sampah berserakan, barang-barang ditinggalkan pemiliknya yang telah memutus nyawa, dan seakan selalu ada sesuatu yang mendorongku untuk terus berangsak masuk.
Aku berdiri dengan susah payah, aku kemari untuk bunuh diri, aku hampir melupakannya. Tidak ada waktu bagiku untuk merasa takut dan kalut melihat semua ini karena seharusnya aku sudah tahu akan seperti ini jadinya. Aku memandang sekali lagi pada mayat yang tergeletak di tanah penuh dedaunan dan akar-akar yang muncul ke permukaan, lalu memutuskan untuk pergi ketika sebuah bayangan kembali berkelebat di depan mataku.
Sejauh kakiku bergerak, sebanyak itu pula mataku terus menangkap mayat-mayat yang bergelantungan di hampir semua pohon. Mungkin tidak semuanya karena sebagian besar telah menjadi tulang-belulang, yang aku yakin mayat-mayat ini memiliki rasa keputusasaan yang sama.
***
Hutan aokigahara. Nama yang tidak cocok untuk hutan ini, mengapa tak disebut Hutan Harakiri saja? Toh, sepanjang mata berkeliaran yang ada di sini hanya mayat, tulang belulang, dan pohon dengan tingkat persuasi sangat kuat untuk menggantungkan diri. Cukup menggiurkan untuk orang-orang yang diselubungi oleh rasa putus asa berlebih.
Aku menatap ke arah salah satu pohon yang membuatku ingin berhenti. Aku tidak tahu ada apa, tapi lumut-lumut yang melekat di salah satu sisinya menarik perhatianku.Aku menghampirinya sambil mengeluarkan tali dari tasku.
Aku membuat lingkaran pada tali. Ini adalah cara yang paling tepat untuk mengembalikan kehormatanku, aku menyeringai. Aku selalu merasa ketakutan akan ancaman teman-temanku, hutangku menumpuk pula pada mereka. Hutang yang tak pernah kupinjam. Mereka memaksaku memberikan uang dan sebuah pukulan tak segan mampir di tubuhku saat sakuku kosong uang.
Kupanjat dahan pohon, sedikit sulit karena banyak lumut yang menghalangi jalanku. Aku mengikatkan tali pada ranting, dan memakai tali dengan ujung lingkaran, di leherku. Bekas-bekas lebam di tubuhku terus membuat keputusasaanku menggelora. Aku menangis. Seharusnya setiap orang bisa hidup tenang, bukan berada di bawah ancaman. Seharusnya setiap orang bebas hidup, bukan sewaktu-waktu direnggut.
Aku menjatuhkan diri. Leherku tercekik. Panas melilit semua anggota tubuhku, terutama dadaku. Sesak. Kerongkonganku terasa seperti lepas dari tubuhku. Pandanganku sedikit kabur, tapi aura-aura hitam terlihat terbang mengelilingiku. Aura dengan seringai yang mengerikan, seakan menyemangati nyawaku untuk segera pergi dari ragaku. Sakit. Leherku memaksa lidahku terjulur ke luar.
"Hai kenapa kau melakukan ini!" Ucap seseorang yang berhasil mengagetkan ku.
Dia langsung memotong seutas tali tersebut.Dan akhirnya Aku terjatuh dengan tubuh yang sudah memerah.
"Uhuk uhuk" Sirena terbatuk karena merasakan sesak didadanya.
"Kenapa kau melakukan ini?" Tanya nya lagi.
Suara itu seperti tidak asing bagi ku.Dan aku mencoba untuk melihat muka nya.
"Aaa mengapa kau ada disini,malam hari begini?" Tanya Sirena kaget melihat siapa pria itu.
"Seharusnya aku yang bertanya" ucap laki-laki itu.
"Mengapa kau selalu ingin bunuh diri?”tanya nya lagi.
"Karena aku tidak penting" teriak Sirena.
"Hiks orang tua ku juga tidak peduli dengan keadaanku sehat atau tidak bahkan mereka memperlakukan ku seperti boneka"ucap Sirena sambil berderai air mata.
" Lalu mengapa kau selalu ingin bunuh diri disini"tanya pria itu lagi.
"Entah mengapa aku selalu ingin kesini Dan setiap kali kesini seperti ada yang menarikku untuk melakukan nya" ucap Sirena.
"Sebaiknya kau pergi dari sini,disini tempat nya bahaya"ajak nya sembari menarik Sirena untuk keluar dari hutan tersebut.
"Ada yang ingin aku tanya kan" ucap Sirena.
"Apa kah dulu kita pernah berteman?"tanya Sirena.
"Wajah mu seperti tidak asing bagi ku" ucap Sirena.
"Kau akan mengingat nya suatu saat nanti" ucap nya.
"Mengapa aku tidak bisa mengingat nya sama sekali.Apa kah karena aku ingin selalu bunuh diri dan selalu tidak berhasil?"tanya Sirena pada diri nya sendiri.
Saat aku tertidur aku bermimpi bahwa aku kembali ke masa lalu.
Dimana saat itu keluarga ku masih utuh dan sangat bahagia.
Aku juga melihat bahwa Aku sedang bermain bersama seorang anak kecil laki-laki.
Tetapi tubuh ku bukan lah tubuh seperti manusia melainkan aku adalah seorang putri duyung.
Dan saat aku terbangun aku sudah ingat segalanya.
" Ternyata aku adalah putri duyung"batinku.
"Dan pria itu yang telah menyelamatkan ku dulu saat aku ditangkap oleh warga?" ucap ku.
"Akh kepala ku sakit" ucap ku sambil memegang kepala.
Aku pun langsung bergegas menuju pantai untuk memastikan itu semua.
"Lonceng ini,mengapa bisa tergeletak disini" gumam ku.
"Hai,mengapa kau ke sini malam hari seperti ini,apa lagi disini udara nya sangat dingin"ucap pria itu.
Waktu tengah malam tiba-tiba aku terbangun di sebuah hutan.
Aku menatap hutan itu,dan Aku teringat tadi aku melompat dan terjungkal ke jurang.
Aku tertegun saat mendengar suara lonceng. Memoriku berkelana padanya, wajahnya terus berdesakan dalam kepalaku. Pening. Ekspresi teduh darinya membuat mataku berkunang-kunang, enggan menerjemahkan suara lonceng itu sebagai tanda keberadaannya.
Memoriku langsung berubah warna. Hutan ini, segala tentangnya adalah hitam. Aku pernah masuk dan takkan pernah mau kembali. Ya, bertemu dengannya pertama kali di sini. Tempat yang paling ia benci, tapi mengapa kini ia berada di sini? Tidak, aku menyangkal dia di sini. Dia takkan ada di sini, suara lonceng ini hanya kebetulan. Tidak, dia di sini.
“Aaaaaaaa!!!!” Aku berlari membabi buta masuk ke dalam hutan. Hatiku terus mengatakan dia di sini meski otakku menolak. Mataku terasa panas, memutar kembali memori kelam masa laluku di hutan kematian ini.
***
Aku berjalan terseok dengan pandangan kosong. Pukulan, pengucilan, dan keputusasaan membayangi benakku. Aku tidak dibutuhkan, itu yang kutahu. Aku diabaikan, itu yang kumengerti. Aku tidak berguna, itu yang kupahami. Aku memandang ke sekeliling, masih dengan perasaan kalut, gelap menyelimuti semua suasana hutan ini sekalipun pada siang hari. Sesekali, sekelebat bayangan berhasil membuat bulu kudukku berjingkat.
Aku tersandung. Kutatap ngeri mayat yang terbujur kaku di sampingku. Aku bergidik, merangkak menjauh dengan perasaan kalut luar biasa. Tangan dan tubuhku mulai bergetar ketika bau anyir juga menyergap penciumanku. Hutan ini benar-benar memberikan kesan yang sangat mengerikan untuk orang yang baru pertama kali masuk. Sampah berserakan, barang-barang ditinggalkan pemiliknya yang telah memutus nyawa, dan seakan selalu ada sesuatu yang mendorongku untuk terus berangsak masuk.
Aku berdiri dengan susah payah, aku kemari untuk bunuh diri, aku hampir melupakannya. Tidak ada waktu bagiku untuk merasa takut dan kalut melihat semua ini karena seharusnya aku sudah tahu akan seperti ini jadinya. Aku memandang sekali lagi pada mayat yang tergeletak di tanah penuh dedaunan dan akar-akar yang muncul ke permukaan, lalu memutuskan untuk pergi ketika sebuah bayangan kembali berkelebat di depan mataku.
Sejauh kakiku bergerak, sebanyak itu pula mataku terus menangkap mayat-mayat yang bergelantungan di hampir semua pohon. Mungkin tidak semuanya karena sebagian besar telah menjadi tulang-belulang, yang aku yakin mayat-mayat ini memiliki rasa keputusasaan yang sama.
***
Hutan aokigahara. Nama yang tidak cocok untuk hutan ini, mengapa tak disebut Hutan Harakiri saja? Toh, sepanjang mata berkeliaran yang ada di sini hanya mayat, tulang belulang, dan pohon dengan tingkat persuasi sangat kuat untuk menggantungkan diri. Cukup menggiurkan untuk orang-orang yang diselubungi oleh rasa putus asa.
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu" ucap Sirena.
"Apa kah benar aku ini seorang putri duyung?" Tanya Sirena.
Felix tidak membalas apa pun Ia hanya memandangi wajah Sirena.
"Mungkin hanya dengan cara ini agar aku tidak merasakan kesakitan lagi" ucap Sirena.
"Apa kah kau akan pergi lagi dariku?"Tanya Felix
"Aku hanya akan pergi sebentar" ucap Sirena sambil tersenyum.
"Tetapi jika aku tidak kembali lagi carilah pasangan lain" ucap Sirena lalu melompat ke laut.
Akhirnya Sirena kembali ke tempat asalnya walau pun hati sirena sungguh sakit.
Sirena juga bisa saja menghapus ingatannya.
Tetapi lebih baik mengingat walaupun hati ini sakit.
~TAMAT~
Bantu Ria untuk like carpen ini ya🥰
Dan jangan lupa untuk mampir ke cerpen Ria lainnya😗
Tank you