Pukul 12 malam menandakan sebuah ahir hari sekaligus menandakan awal hari.
Malam itu semuanya tampak bahagia tak terkecuali Putri. Meskipun dia hidup sebatang kara, tetapi berkat bantuan sang nenek kini ia bisa mengikuti sebuah perayaan di kampungnya.
Malam itu dia memakai pakaian yang lumayan bagus dan ia terlihat sangat cantik malam itu. Dia pun berbaur dengan para warga lainnya. Sampai ia pun dikejutkan oleh kehadiran seorang pemuda tampan disampingnya.
"Ngeliatin apa sih sampe segitunya." Sapa pemuda itu.
"I-itu anu kak ..." ucapnya tergagap.
Baru kali ini melihat pemuda tampan di hadapannya. Ia pun terpesona.
"Ga usah gugup gitu, kenalin aku Rean ..." ucapnya sambil mengulurkan tanganya pada Putri.
Dengan raut wajah ketakutan sekaligus kagum, ia pun menyambut uluran tangan Rean.
"Aku Putri..."
"Nama yang sangat manis ..." ucapnya sambil terus memandangi wajah Putri.
Si empunya tentu saja langsung merona kedua pipinya. Ia tak menyangka kalau malam ini ia bisa bertemu dengan pemuda tampan.
Baru kali ini ia keluar dari desanya dan mencoba bergaul dengan masyarakat sekitar. Ia juga sudah diberi amanah oleh neneknya jangan sampai ia pulang lewat tengah malam.
Karena memang jarak desanya dengan tempat acara itu lumayan jauh. Sedangkan dia hanya seorang gadis yang datang sendirian.
Tanpa terasa mereka mengobrol cukup dekat satu sama lain. Sampai tak terasa waktu hampir saja melewati tengah malam.
Rean pun meminta ijin untuk pulang lebih dahulu pada Putri. Ia meminta maaf karena tidak bisa mengantarkannya pulang ke desanya. Karena ia ada urusan lain ia pun segera pamit dan meninggalkan Putri.
Putri pun teringat akan nasihat neneknya.
"Waduh, nenek pasti marah kalau aku pulang telat."
Ahirnya sebelum perayaaan itu usai, Putri dan Rean sudah meninggalkan tempat itu. Ternyata mereka sama-sama melewati hutan yang sama.
Teng ... Teng ... Teng ... suara lonceng tengah malam dari kantor desa tengah berdenting. Itu artinya sudah memasuki tengah malam.
Saat Putri sampai di tengah hutan, ia melihat sebuah cahaya di balik pohon. Ia pun mengintip dari sana.
"Astaghfirullah... " ucap Putri terkejut.
Ternyata suara Putri sampai di tempat Rean berada. Dan alangkah terkejutnya saat Rean mengetahui saat dirinya berubah menjadi seekor panda kecil.
"Ka-kamu ..." ucap Putri sambil menutup mulutnya.
"Ma-maaf Putri, inilah aku ... inilah wujud asliku ..." ucap panda itu yang tak lain adalah perwujudan Rean.
"Ke-kenapa kamu bisa seperti itu?"
"Aku terkena kutukan dari kakek penunggu goa yang ada di hutan terlarang, saat aku mengambilkan obat untuk ibuku."
"Memang kenapa dengan ibumu?"
"Ibuku menderita suatu penyakit langka, dan obatnya ada di gunung itu, aku pun mencari kesana tetapi sang kakek mau memberikan obat penawar itu asalkan aku menerima kutukan darinya."
Putri tampak termenung, ia tersentuh oleh nasib pemuda itu.
"Apakah tidak ada jalan lain untuk mengembalikan wujud aslimu?"
"Ada ..."
"Apa itu?"
"Asalkan aku bisa menemukan seorang gadis yang mencintaiku dengan wujudku seperti ini."
Dengan ragu-ragu ia pun tergugah untuk membantu pemuda itu.
"A-aku mencintaimu kak."
"Sungguh??"
"I-iya kak, aku mencintaimu sejak kita bertemu."
"Kalau begitu ikutlah aku ke gunung itu," ajak pemuda itu.
Entah dorongan darimana, ia ahirnya mengikuti ajakan pemuda itu. Tanpa menunggu lebih lama mereka lalu menuju gunung yang dimaksud.
Dengan mengandalkan cahaya bulan purnama mereka ahirnya sampai di gunung itu. Sampailah mereka di tempat yang dimaksud.
"Ha ... ha ... ha ... kau datang kembali pemuda." Terdengar suara dari dalam gua yang menyapa mereka.
Lalu muncullah seorang kakek tua berambut putih panjang menjuntai. Ia menatap tajam pada panda dan Putri.
"Si-siapa orang itu?"
"Dia penunggu gua itu dek."
"Mau apalagi kamu kesini?"
"Aku membawa seorang gadis yang rela mencintaiku meski dengan wujudku yang seperti ini."
"Ha ... ha ... ha ... benarkah?" Ucapnya menggelegar.
"I-iya aku mencintai panda ini."
"Baiklah... tapi buktikan kepadaku."
Tiba-tiba saja panda itu tertusuk panah yang entah dari mana asalnya. Darah segar mengucur dari mulut panda kecil itu. Putri yang melihatnya berteriak histeris lalu memeluk erat tubuh sang panda.
"Kakek apa yang kamu lakukan padanya, kamu sungguh tidak manusiawi." Gertak Putri pada kakek penunggu goa itu.
Panda itu direngkuhnya erat-erat, entah kenapa hati Putri begitu sakit melihatnya. Tetes demi tetes air mata membasahi tubuh panda yang terkena luka itu.
Tiba-tiba dari luka yang didapat sang panda muncullah cahaya yang sangat menyilaukan mata, ia pun sampai kewalahan melihat cahaya terang itu. Dan tiba-tiba sang panda sudah berubah menjadi lelaki tampan yang dikenal Putri.
"Rean ..." ucap Putri tak percaya.
Rean tersenyum memandang Putri. Tanpa sadar Putri merengkuh tubuh Rean kembali dalam pelukannya, ia sungguh takut kehilangan sosok pemuda didepannya itu.
Meskipun mereka baru saja bertemu tapi ia merasakan hal lain dalam dirinya.
Tiba-tiba saja luka Rean sembuh dan kutukannya menghilang, ia kembali menjadi pemuda tampan.
"Kutukanmu sudah selesai, kamu bisa hidup kembali bersamanya dan jagalah dia baik-baik dan jangan sampai kembali lagi kesini."
"Terimakasih kakek." Ucap mereka berbarengan.
Lalu bersama terbitnya sang fajar mereka kembali menuju kediaman rumah Putri.
"Assalamu'alaikum nenek, Putri pulang."
"Wa'alaikumsalam nak, ahirnya kamu kem-bali..." nenek itu tergagap sembari menatap sepasang manusia di depannya.
Ia tidak menyangka ia bisa menemukan anak lelakinya yang sudah lama menghilang.
"Anakku ..." ucap sang nenek
"I-ibu ..." ucap Rean, ia lalu menyambut pelukan sang nenek yang ternyata ibunya yang sudah lama ia tinggalkan.
Ternyata pemuda yang dibawa Putri adalah anak sang nenek yang telah lama hilang. Nenek bercerita kalau putranya menghilang sejak ia mencarikan obat untuknya beberapa tahun lalu. Tapi ia tak pernah kembali lagi, yang datang hanyalah obat darinya tapi sosok anak laki-lakinya itu tak pernah kembali.
Sampai ahirnya pagi itu Putri lah yang membawanya kembali pulang.
Ahirnya Putri dan Rean menikah atas restu sang nenek. Dan mereka hidup bahagia selamanya.
TAMAT.