Cklek..
Pintu ruangan operasi terbuka menampilkan seorang dokter dengan pakaian khasnya.
"Maafkan saya, Pak. Ternyata Allah lebih menyayangi pasien. Saya turut berduka cita." Ucap dokter memandang iba pada sepasang suami istri yang kini menangis histeris.
"Pa, anak kita.. Pa" Mama Ira terduduk lemas mendengar penuturan sang dokter. Air matanya tak dapat terbendung lagi. Ia histeris, anak gadis satu-satunya meninggal dengan keadaan yang mengenaskan.
Ini semua salahnya, tidak seharusnya ia memaksa anaknya untuk belanja kebutuhan dapur hingga anaknya mengalami kecelakaan. Mama Ira menggeleng-gelangkan kepalanya seraya bergumam, "Maafkan Mama, Key."
Papa Hilman berusaha menenangkan istrinya walau ia sendiri merasa terguncang. "Tenang, Ma. Ini semua bukan salah, Mama." Ucapnya seraya mengelus punggung sang istri yang tampak naik turun.
***
"Ma !"
"Ma !"
"Mama !"
Seorang gadis berjalan luntang lantung di jalanan yang tampak sepi. Ia menengok kanan kiri, depan belakang. Tak ada seorang pun yang ia bisa ajak bicara sebab memang ia sama sekali tak melihat adanya manusia lain selain dirinya.
Gadis itu kembali memanggil mamanya karena ia yakin sejak tadi mamanya memanggil-manggil dirinya. Tapi sudah sejauh ini ia masih tak melihat keberadaan mamanya.
"Keyra, maafkan mama nak.."
Suara sang mama datang lagi. Tapi mau Keyra berteriak berkali-kali pun mamanya itu tak juga terlihat.
Keyra pun kesal. Ia memandang langit yang tampak sangat gelap tak ada satu pun bintang yang ia lihat. Tatapannya teralih pada bulan yang tampak tak seperti biasanya. Bulan yang ia lihat ini ukurannya jauh lebih besar.
Lama memperhatikan bulan, Keyra tak sadar jika ia sekarang berjalan mendekati jurang. Gadis itu terus melangkah tanpa memperhatikan kematian yang sedang menunggunya dan tepat saat gadis itu menoleh ke depan ia sudah terlambat karena sekarang tubuhnya terjun bebas dengan kecepatan yang tak dapat dihitung.
Keyra mencoba untuk tetap tenang walau dalam hati ia sudah memikirkan jika hari ini adalah hari terakhirnya. Tangan gadis itu dibuka dengan lebar, ia memilih untuk menikmati semuanya. Toh, ini adalah hari terakhirnya jadi ia akan membuat kesan yang bagus untuk itu.
"Ya Allah jika Keyra harus mati di sini, Keyra mohon tolong jaga Mama dan Papa. Ma, Pa maafkan Keyra." Gumamnya seraya memejamkan mata. Ia sekarang sudah benar-benar siap.
Lama tak juga mendarat, gadis itu membuka matanya. Seketika Keyra menyipitkan matanya kala sebuah cahaya yang sangat terang menubruk tubuhnya. Bukan, bukan cahaya yang menubruknya tapi dirinya lah yang secara tiba-tiba masuk ke dalam cahaya itu.
Brugh..
Keyra mengusap pantatnya yang tanpa terduga mendarat tepat di batuan. Ia beranjak berdiri melihat sekelilingnya. Tempat ini jauh berbeda dengan tempat sebelumnya.
Jika tempat sebelumnya begitu sepi berbeda dengan tempat ini yang tampak ramai. Keyra mencoba bertanya pada seorang wanita yang hendak melewatinya.
"Bu, ini dimana ?" Tanyanya. Ibu itu hanya memandangnya sebentar kemudian berlalu tanpa menjawab. Keyra terdiam dengan ekspresi bodoh.
"Hei, dasar ibu-ibu bau tanah !" Hardiknya setelah sadar dengan keterdiamannya. Ia kemudian berjalan dan kembali bertanya pada semua orang yang ia lalui tapi usahanya tetap sia-sia karena semua orang yang ia tanyai sama sekali tak ada yang menjawabnya bahkan terkesan abai.
Keyra akhirnya menyerah dan duduk bersandar di bawah pohon yang rindang. Gadis itu memejamkan matanya seraya membuang nafas berat.
Saat ia kembali membuka matanya ia melihat kilasan balik dirinya. Keyra melihat dengan jelas semua perbuatan yang pernah ia lakukan.
Dari mulai membentak orang-orang di dekatnya termasuk sang Mama dan Papa. Mem-bully temannya sampai temannya itu tak masuk sekolah selama 3 hari. Mengambil uang sang Mama tanpa meminta izin. Membohongi sang Mama dan Papa hanya untuk nongkrong bersama teman lelakinya. Dan masih banyak lagi.
Keyra menangis. Ia sungguh sangat menyesal. Jika ia memiliki kesempatan kedua untuk bertemu orang-orang yang pernah ia lukai, Keyra ingin sekali meminta maaf dan merubah semua sifatnya menjadi lebih baik lagi.
Dari kilasan itu ia sadar tidak ada satupun perbuatan baik yang pernah ia lakukan. Tapi, Keyra ingin sekali kembali pada mereka dan merubah semuanya.
"Ya, Allah. Berikan kesempatan untuk Keyra." Gumamnya lirih.
Tanpa diduga sebuah cahaya kembali muncul. Cahaya itu kian membesar tiap detiknya. Keyra menghalau cahaya itu dengan tangannya.
Setelah dirasa cahaya itu menghilang, Keyra segera membuka kembali matanya. Yang ia lihat sekarang adalah sebuah kain yang berada tepat di atas wajahnya. Ia juga mendengar suara tangisan tepat di samping ranjangnya. Keyra hafal suara itu, itu adalah suara mamanya.
Keyra dengan segera mengangkat tangannya menurunkan kain yang menghalangi wajahnya. Keyra menoleh ke samping, ternyata memang mamanya. Seketika ia menangis bahagia seraya bergumam, "Terima kasih ya Allah."
"Ma !" Panggilnya lirih.
Mama Ira tampak terkejut kala ia melihat anaknya bangun. Ia sama sekali tak menyangka. Tapi ia juga sangat bahagia melihat anaknya kembali bangun.
"Keyra, sayang." Ucapnya seraya menyentuh pipi Keyra yang terasa dingin.
"Ma, maafkan aku." Ucapnya sedih.
TAMAT