Lonceng berbunyi pada pukul 12 adalah awal dari sebuah cerita, juga akhir dari sebuah cerita
Pukul 12 malam berarti akhir hari, tetapi juga awal hari. Pada pukul 12 tengah malam, berbagai peristiwa juga terjadi. Ada yang bertemu hantu di hutan, ada yang merencanakan pembunuhan, ada yang tidur dengan tenang dan juga ada cerita romantis sedang terjadi.
Tetapi sebelum malam tentu ada pagi, siang dan sore di saat orang-orang melakukan kegiatan untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Ada dengan cara halal ada juga dengan cara haram.
*****
"Hei minggir, kawan-kawanku mau masuk!" Teriaknya kepada pria tua yang tergeletak di lantai tepat di ambang pintu bagian dalam rumah tersebut.
Pria tua itu tak lain adalah ayah kandungnya sendiri. Karena terkena penyakit struk sekian lama ia jadi tidak bisa banyak bergerak. Dan karena ia belum bergerak akhirnya anaknya dan teman-temannya masuk dengan melangkahi tubuhnya.
"Yaikss ihh ayah buang kotoran sembarangan lagi! Kalau tidak bisa ke WC makan saja kotoranmu itu!" Teriaknya kencang dan disambut dengan gelak tawa oleh teman-temannya.
Mereka pun pergi menuju sebuah kamar yang terletak di bagian ujung rumah itu. Kamar yang dijadikan "sarang" oleh Bobby dan teman-temannya. Disana mereka berbuat semua yang mereka inginkan. Berjudi dan memakai obat-obatan terlarang.
Pagi itu mereka berhasil menjual barang curian mereka lalu hasilnya dibagi berempat. Dan setelah itu uangnya mereka jadikan modal bermain judi.
Dari pagi Bobby kalah terus sehingga dia menjadi kesal. Uangnya sudah habis. Perutnya jadi terasa lapar saat dia cuma bisa menatap ketiga temannya yang masih bermain kartu.
Bobby pun keluar kamar dan melihat ayahnya tergeletak menatapnya sambil mulutnya komat-kamit.
"Makan"
Itulah bentuk dari ucapan ayahnya yang sudah tidak bersuara lagi. Dia sudah kehilangan suaranya sejak setahun lalu dan sudah 10 tahun mengalami struk sejak ditinggal istrinya. Dan penderitaannya bertambah saat anaknya tidak memperdulikannya.
Perlahan-lahan ia kehilangan kemampuannya dan saat hampir lumpuh ia pun sudah tidak bisa mempertahankan harta bendanya. Uang simpanan mau tidak mau habis di tangan putranya. Dan sedikit demi sedikit isi rumah dijual oleh putranya yang malas bekerja untuk biaya makan mereka dan untuk membeli obat-obatan terlarang. Dan ketika tidak ada lagi yang tersisa anaknya mulai mencuri.
Sering kali anaknya kedapatan mencuri tapi kemudian dilepas oleh warga mengingat jasa ayahnya membangun balai desa di sana.
Tetapi kini ayahnya hanya makan saat ada yang memberinya makan. Terkadang sisa-sisa makanan dari Bobby dan teman-temannyalah yang ia makan. Sebab hanya itu yang Bobby berikan.
Saat ini Bobby sangat kesal, sudah kalah, sekarang ayahnya minta makan. Ditambah kotoran berserakan dimana-mana. Ayahnya yang sudah tidak memakai sehelai benang pun dan hanya bisa terbaring saat membuang hajat, membuat tumpukan kotoran dimana-mana. Dan Bobby sudah kehabisan kain untuk sekedar mengelap ataupun menutupi kotoran ayahnya. Dia tidak mau mengorbankan pakaiannya sendiri. Untuk dipakaikan pada ayahnya saja dia tidak mau, apalagi untuk membersihkan kotoran ayahnya.
Akhirnya Bobby pergi ke kamar mandi dan saat kembali dia membawa seember air lalu menyiramkannya ke pada ayahnya.
"Dasar penjorok dan tidak berguna."
Berulang-ulang dia melakukan hal yang sama dan kelelahan tapi kotoran itu tetap tidak menghilang justru malah menjadi berserakan kemana-mana dan ayahnya tak luput dari ceceren kotoran tersebut. Karena lantai justru jadi becek dan membuat genangan air. Dan Bobby membiarkan ayahnya tergenang tanpa mengeringkannya.
"Heiii bau banget nih?"
"Iya Bob, ngapain lu?"
"Huek..."
Akibat perbuatannya teman-temannya pun pulang meski masih asik bermain kartu tadinya. Tinggallah mereka berdua. Tidak ada makanan. Tidak ada minuman. Bobby pun meninggalkan ayahnya sendirian.
Hari sudah malam lampu di rumah tidak menyala. Di dalam gelap di atas lantai yang dingin. Ayahnya meratapi nasip.
Bobby bersama temannya tengah menikmati makanan yang dibelikan oleh pemenang judi diantara mereka. Sambil makan mereka membicarakan sebuah rencana. Rumah mana yang akan mereka jarah malam ini. Siapa yang melakukan eksekusi dan siapa yang menjadi pengintai.
Sebelum mencuri Bobby kembali kerumah mengambil alat-alat yang dibutuhkan. Saat hendak keluar ia melihat ayahnya hendak memegang kakinya.
"Jangan pergi." Ucap Ayahnya tapi tidak bersuara
Bobby tidak memperhatikan ucapan atau pun gerak bibir ayahnya. Dia pergi ketempat teman-temannya berkumpul agar lebih dekat dengan tempat tujuan.
Ketika jam yang ditentukan tiba, mereka pun melakukan rencananya. Seperti biasa Bobby yang akan melakukan pencurian. Karena biasanya jika Bobby yang mencuri maka pemilik hanya akan mengambil kembali barang yang dicuri dan sedikit menceramahi Bobby dan akhirnya dilepas begitu saja.
Saat hendak mencuri tiba-tiba Bobby berkali-kali mendengar suara Ayahnya yang menyuruhnya pulang. Bobby sangat heran. Tidak mungkin Ayahnya bisa sampai ke sini dan berbicara setelah sekian lama tidak bisa bicara.
Bobby pun kembali fokus, saat barang yang di curi ada ditangannya siapa sangka dia ketahuan.
Bunyi lonceng terdengar tepat jam 12 malam membangunkan warga yang terlelap dan juga mengusik perhatian muda-mudi yang sedang dimabuk cinta di kamas kostnya yang sedang sepi.
MALING...!!! MALING...!!!
Dalam sekejap orang berbondong-bondong menuju arah suara. Teman-temannya sudah lari duluan tanpa aba-aba. Bobby yang tidak berhasil melarikan diri ditangkap lalu dihajar oleh orang-orang tersebut sampai Bobby tidak sadarkan diri.
Saat sadar Bobby sudah ada dirumahnya. Rumah yang kotor dan bau serta lantai yang dingin. Bobby mengira orang-orang yang tadi memukulinya mengantarkannya ke rumahnya. Bobby sedikit merasa heran. Tidak terasa rasa sakit akibar luka sedikit pun pada tubuhnya seperti habis dipukuli. Hanga tubunya terasa dingin, tulangnya ngilu dan perutnya yang nyeri dan keroncongan. Dan rasa sakit ditenggorokan karena kering.
Bobby meraba perutnya dan seketika ia sadar ia tidak berpakaian. Dan bukan hanya itu ia juga merasakan tulang-tulangnya yang menonjol semakin ia meraba tubuhnya, ia semakin tidak percaya. Tidak mungkin ia menjadi sangat kurus hanya karena di pukuli.
"Hei pak tua, apa kabar?" Sebuah suara dari ambang pintu membuat Bobby terkejut.
Apa mereka akan menghajarku lagi? Ayahku? Dimana dia? Kenapa aku tidak melihatnya?
Tapi ternyata orang itu tidak menghajarnya melaikan memberinya minum. Ia juga memberikan makanan. Setelah itu orang tersebut memperlihatkan wajah yang makin murung.
"Maafkan saya pak tua, saya tidak bisa menyelamatkan anak bapak. Ia sudah tidak bernyawa ketika kami tiba." Ucap orang tersebut.
Beberapa orang mengangkat sebuah tandu. Dan di tandu itu ada seseorang terbujur kaku. Ketika kain penutupnya dibuka terkejutlah dia. Itu adalah tubuhnya sendiri.
Sadarlah Bobby kini ia bertukar tubuh dengan Ayahnya.
"Kami akan segera memakamkan putra bapak."
Saat pemakaman Bobby yang berada didalam tubuh ayahnya sudah berpakaian dan melihat tubuhnya sendiri masuk keliang lahat.
Bobby diantar kembali kerumahnya. Rumah yang sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Hanya menunggu waktu untuk disita oleh pihak Bank karena sudah ia gadaikan, dan tidak sanggup membayar biaya tebusan.
Kini ia meratapi nasipnya, dengan penuh penyesalan. Menghitung sisa hidupnya dan harus menjalani hidup seperti yang Ayahnya rasakan semasa sisa hidupnya.
***Tamat***