"Ini kuncinya Har!" Ucap Wina yang sudah ngebut-ngebutan untuk pergi ke minimarket demi mengantarkan kunci. Wina memberikan kunci tersebut pada Haru dengan tenang. Namun Haru hanya terdiam menatap kedatangan Wina.
"Haru.. Ini kuncinya, aku mau balik nih." Ucap Wina lagi.
Haru masih diam tanpa kata dan berjalan mendekati Wina untuk mengambil kunci yang ada di tangan Wina.
"Makasih Win, udah datang pagi-pagi untuk mengantarkan kunci ini." Ucap Haru yang kemudian membuka gembok minimarket tersebut.
Wina hanya geleng-geleng melihat tingkah Haru. Mereka memang baru kenal karena Wina baru saja pindah ke minimarket ini tapi bukan berarti Haru harus bersikap jutek seperti itu, karena kedepannya mereka akan menjadi partner kerja.
Tanpa berlama lagi Wina pun berjalan menuju motor yang ada di parkiran, ia menghidupkan motornya lalu berlalu dari minimarket itu.
Diperjalanan menuju kosan Wina merasa ada yang aneh dengan perutnya.
"Duh sakit kali perutku, mules banget." Ucap Wina dalam hati sambil memegang perutnya.
Tangan kanan Wina masih memegang stang motor sedangkan yang kiri memegang perutnya. Kosan Wina tak jauh dari minimarket tempatnya bekerja namun entah kenapa perjalanan menuju pulang kali ini terasa sangat lama.
Bruk... Wina terjatuh dari motornya, Ia terjatuh sendiri tanpa ada yang menabrak dan jalanan masih sangat sepi karena masih pagi. Wina melihat sekitar siapa tau ada yang akan menolongnya, namun ia tak melihat siapa-siapa saking gak fokusnya karena mules. Beberapa pemuda yang ada di depan ruko menyaksikan adanya motor yang terjatuh mereka pun menghampiri Wina dan menolongnya.
"Gak apa-apa mbak?" Tanya salah satu pemuda itu.
"Iya gak apa-apa." Jawab Wina dengan malu karena menyadari jika dia mengalami kecelakaan tunggal.
Setelah tiba di kosan Wina segera menuju toilet untuk mengeluarkan segala keluh kesahnya yang ada di dalam perut.
Kring.. Kring.. Kring.. Ponsel Wina berbunyi, masih dalam keadaan memegang perut Wina mengangkat telpon itu usai dari toilet.
"Iya halo?" Ucap Wina.
"Halo.. Ini aku Windy teman kerja kamu nanti siang, jangan telat ya nanti."
"Em.. Aku baru saja jatuh dari motor, boleh gak kalau aku izin kerja hari ini." Pinta Wina yang sambilan berkaca memperhatikan dagunya yang terluka karena jatuh tadi.
"Hari ini kan hari pertama kamu kerja di sini setelah pindah. Jadi kayaknya gak bisa, masih bisa jalan kan? lukanya parah gak?" Tanya Windy.
"Yaudah aku bakal masuk kerja nanti." Jawab Wina dengan singkat dan langsung mematikan ponselnya.
Wina merasa kesal dengan sikap teman kerjanya itu padahal dia lagi sakit semua karena terjatuh mala gak di kasih izin untuk ambil cuti sehari.
Ting.. Sebuah pesan masuk, kalau kamu gak masuk saya gak bisa jaga kasir sendiri. Itu isi dari pesan yang dikirim oleh Windy.
"Dahlah." Keluh Wina.
Pukul 14:30 WIB, Wina buru-buru keluar dari kos untuk pergi kerja. Ia menyalahkan motor lalu pergi dengan ngebut karena Wina sudah biasa ngebut-ngebutan di jalan.
Tiba di minimarket Wina pun mengambil masker untuk Ia beli.
"Kenapa dengan dagu dan bibirmu?" Tanya Haru yang sedang melayani Wina dalam transaksi kasir.
"Aku jatuh dari motor." Jawab Wina.
Haru menatap Wina dengan dalam seolah ia terlihat iba dengan keadaan Wina.
"Kamu masih bisa kerja? Badanmu gak sakit semua kah?"
"Em.. Sakit semua si, tapi mau tak mau aku tetap harus kerja." Ucap Wina.
Haru berjalan menuju gudang meninggalkan Wina di depan kasir. Ternyata dia sedang berbicara dengan Windy yang sudah datang dari tadi.
Tak lama kemudian Haru kembali menghampiri Wina yang masih berdiri diam.
"Kamu gak usah kerja, cukup pinger aja biar aku yang gantikan kamu." Ucap Haru.
Wina tak mengeluarkan kata-kata karena ia sedang memakai masker yang sudah ia beli tadi.
"Serius?" Tanya Wina.
"Hem.." Jawab singkat Haru.
Wina pun akhirnya pulang setelah pinger untuk absen.
Keesokan harinya, Wina masuk pagi bersama dengan Haru. Mereka berdua sudah mulai akrab karena obrolan-obrolan yang ringan terasa sangat nyambung bagi keduanya.
Wina sebenarnya adalah anak baru, Ia baru kerja sekitar satu bulan lebih di minimarket lama atau cabang lainnya.
"Kamu sudah bisa transaksi yang ini belum?" Tanya Haru.
"Belum." Jawab singkat Wina.
"Mau aku ajarin? sini mendekat."
Wina akhirnya mendekat ke Haru dan Haru pun bangkit dari kursi untuk menyuruh Wina saja yang duduk di kursi yang ada di hadapan layar komputer.
Haru terus mengajari Wina sebuah transaksi yang belum Ia kuasai sebelumnya. Tangan Wina yang sedang memegang mouse yang ada terus saja bergerak namun tiba-tiba terjadi heng di komputer tersebut. Tangan Haru pun auto mengambil alih mouse itu tapi tangan Wina masih berada di atas mouse itu. Ya, terjadilah pegangan tangan di antara keduanya.
Haru yang berdiri di belakang Wina terus saja memainkan mouse itu bersama dengan tangan Wina.
Deg! Wina merasa agak canggung dengan suasana ini. Ia pun menoleh ke belakang dan mendongakkan leher ke atas untuk menatap Haru.
Tapi haru masih fokus menatap layar komputer.
"Ganteng juga ya ternyata si Haru, hidungnya mancung, kulit putih mulus." Ucap Wina dalam hati sambil menatap wajah Haru.
Haru merasakan ada yang aneh seperti sedang di tatap, Ia pun mengalihkan pandangannya dari layar ke wajah Wina yang ada di hadapannya. Keduanya saling menatap dan tangan Haru masih berada di atas tangan Wina.
Setelah saling menatap mata yang cukup lumayan lama keduanya sama-sama mengalihkan pandangannya. Haru yang berdiri di belakang Wina langsung berjalan menjauh sementara Wina pun bangkit dari kursi.
Seorang konsumen yang hendak membayar belanjaannya berdiri sejak tadi memperhatikan Wina dan Haru.
"Mbak sama Mas pacaran ya?" Ucap konsumen itu.
"Gak kok Bu." Jawab Wina dengan cepat dan segera melayani konsumen itu.
Hari-hari terus berjalan, Wina dan Haru makin akrab tidak hanya dengan Haru tapi dengan Windy dan juga Fery. Mereka berempat sudah menjadi team yang kompak. Wina pun sudah banyak mengenal pada konsumen.
Entah kenapa jadwal Wina dan Haru lebih banyak yang sama, jadi keduanya sangat sering ngeshift bareng.
Malam itu Wina sedang melayani konsumen dalam bertransaksi kasiran. Tiba-tiba seorang pria datang dalam keadaan basah kuyup.
"Mbak ada jual jas hujan?" Tanya Pria itu.
"Ada." Jawab Wina dan juga Haru yang kebetulan berbarengan menjawabnya.
Mata mereka berdua pun beradu saling menatap seolah mengatakan ini adalah takdir. Pria yang bertanya jas hujan tadi hanya diam menyaksikan keduanya dan matanya menjadi sinis. Karena pria itu adalah Riki mantan Wina yang kebetulan masih menyukai Wina.
"Kenapa Dia datang ke sini?" Ucap Wina dalam hati.
Tak lama kemudian seorang wanita cantik masuk ke dalam minimarket itu dalam keadaan basah kuyup juga.
"Yang.. mana jas hujannya? Aku udah kedinginan nih." Ucap wanita itu pada Riki yang masih mencari letak jas hujan.
"Iya bentar sayang." Ucap Riki sambil membawa dua jas hujan untuk di beli.
Riki dan pacarnya itu berjalan ke arah kasir untuk membayar belanjaannya. Keduanya menghampiri Wina dengan bergandengan tangan.
"Setelah putus dariku, kamu masih jomblo? Hem.. Gagal move on ya?" Ucap Riki pada Wina yang sedang mengscan jas ujan.
Mendengar hal itu, Haru pun menghampiri Wina dan merangkul bahu Wina.
"Kata siapa dia jomblo? Dia adalah pacarku." Ucap Haru.
Deg! Wina kaget mendengar pernyataan dari Haru, sebenarnya Wina belum move on dari Riki tapi karena perhatian dan keusilan dari Haru selama ini Wina pun tak sadar kalau Dia sudah berhasil melupakan kenangan dengan Riki dan sudah mulai menyukai Haru.
Setelah kejadian malam itu, Haru dan Wina benaran pacaran hanya karena ucapannya waktu itu.
"Apaan itu Haru? Kamu sarapan bubur ayam?" Tanya Wina pada Haru yang sedang makan di warung.
"Eh.. Winwin sini, ini enak banget loh." Jawab Haru sambil tersenyum bahagia karena melihat Wina.
Wina pun duduk di samping Haru yang sedang asik menikmati bubur ayam itu.
"Masa enak?" Ucap Wina sambil tersenyum melihat Haru.
Haru berhenti menyantap bubur itu dan menoleh ke arah Wina dengan tersenyum bahagia. Lalu ia pun mengambil sesendok bubur dan menyodorkannya ke mulut Wina yang sedang tersenyum juga.
"Ahhkk..." Ucap Haru menyuruh Wina untuk membuka mulutnya.
Tanpa sadar Wina pun membuka mulutnya, Ia mengunyah bubur itu dengan perlahan. Wajah Wina seketika berubah ekspresi, alisnya naik ke atas dan senyum-senyum tak karuan.
"Gimana enak?" Tanya Haru.
Wina hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan kemudian berjalan menghampiri bude yang sedang membuat bubur itu.
"Bude pesan satu mangkok ya." Ucap Wina.
Wina kembali lagi duduk di samping Haru.
"Bukannya kamu selalu mengejekku kalau aku sarapan bubur? kenapa mala pesan? Hahaha." Tanya Haru sambil ketawa mengejek.
"Gara-gara kamu aku jadi suka sam bubur ayam, padahal aku benci sekali dengan bubur. Apaan coba makanan orang sakit tau." Gerutu Wina.
"Sekarang gimana? kemakan omongan sendiri kan? Makanya coba dulu sebelum komentar."
"Itu kan karena kamu." Ucap Wina yang masih tak bisa menghentikan senyum malunya.
"Aku juga jadi suka banget sama bakso bakar kan gara-gara kamu juga, jadi kita impas ya." Ucap Haru.
Keduanya pun melahap bubur ayam dengan sangat asik setelah Bude mengantarkannya. Hari-hari berjalan dengan bahagia, Wina dan Haru makin hari makin akrab. Mereka berpacaran tapi serasa sahabatan. Di mata orang-orang mereka terlihat sangat romantis padahal keduanya biasa saja.
Enam bulan telah berlalu, hubungan Wina dan Haru masih baik-baik saja. Keduanya masih kerja di tempat yang sama dan juga sering satu sift. Tapi pada malam itu Wina mendapat telpon dari Windy yang mengatakan kalau uang yang Wina setor hari ini kurang 10 juta Rupiah. Wina benar-benar kaget mendengar pernyataan dari Windy. Ia pun segera berangkat ke minimarket untuk mencari tau kebenarannya.
Beberapa menit kemudian Wina tiba di minimarket tempat dia bekerja. Wina mencari data yang ada di komputer untuk mencocokkannya dengan hasil yang ia tulis tadi pagi.
"Tadi kamu ngesift bareng Haru kan Win?" Tanya Windy pada Wina.
Wina hanya mengangguk dan terus menghitung data dan membandingkannya.
"Aku mau buka CCTV." Ucap Wina dengan muka marah.
Sayangnya CCTV pagi itu tak berfungsi dan hanya ada layar hitam yang terpampang di komputer itu.
Windy menelpon semua patner kerja untuk datang ke minimarket sekarang juga untuk briefing. Sebelum masalah makin besar dan di ketahui oleh atasan yang ada di kantor alangkah baiknya untum briefing terlebih dahulu.
Wina, Windy, Haru dan Fery sudah berada di dalam gudang. Mereka berempat menatap saling mencurigai.
"Bagaimana bisa kamu bisa kurang setor Win?" Tanya Windy.
"Aku gak tau Di, tadi aku udah hitung berkali-kali dan pas. Aku gak tau kenapa bisa kurang." Ucap Wina membela diri sendiri.
"Kamu kan satu shift dengan Haru." Ucap Fery.
"Iya.. Memang aku satu shift dengan Wina, tapi kan yang bertanggung jawab dengan uang itu kan Wina." Ucap Haru.
"Yaudah kita harus datang ke kantornya untuk memastikan kebenarannya, siapa tau ada salah di sana." Ucap Windy.
Pagi-pagi sekali Wina sudah berada di depan kantor minimarket. Ia menunggu kedatangan karyawan yang ada di bagian keuangan.
Setelah pukul 8 pagi Wina tak ingin menghabiskan waktu dan langsung masuk ke dalam untuk menemui karyawan yang ada di sana.
"Oh yang kemarin ya? Ini datanya, disini memang gak balance." Ucap seorang karyawan bagian keuangan sambil memberikan selembar kertas yang ia print untuk menunjukkan datanya.
Tak sampai disitu saja, Wina langsung pergi menuju bagian IT. Ia memberitahukan masalahnya pada mereka dan ingin membuka CCTV pada pagi itu. Namun hasilnya masih nihil, CCTV tetap saja gelap tak berfungsi.
"Kok bisa ya? CCTV mati gini? padahal kalau mati listrik kan masih hidup CCTV-nya." Ucap salah seorang karyawan bagian IT itu.
Wina terduduk di sana.
"Jadi aku harus gimana? Apa benar pacarku yang sudah menjebakku? karena saat itu hanya ada aku dan dia." Ucap Wina dalam hati.
"Sini dek, coba kita lihat CCTV bagian keuangan yang menghitungnya." Ucap kembali karyawan itu.
Mereka menyaksikan sama-sama CCTV pada bagian keuangan hari itu tapi tak ada yang hal-hal yang aneh sama sekali. Air mata Wina seketika mengalir dengan deras.
"Saya permisi dulu kalau begitu, Pak! Makasih sudah mau menunjukkan CCTV-nya." Ucap Wina yang kemudian beranjak pergi meninggalkan kantor.
Wina berjalan menuju ke parkiran penuh dengan tangis. Ia pun menyalahkan motornya dan berniat untuk pulang, tapi karena hati dan pikirannya sedang sakit maka ia pun memutuskan untuk pergi ke mall demi menyenangkan diri sendiri.
Setiba di mall, Wina berjalan sendirian tanpa celingukan sedikit pun. Kriuk.. kriuk.. perut Wina berbunyi, dari tadi pagi Wina belum mengisi perutnya sama sekali dan sekarang sudah pukul 1 siang. Hari ini Wina masuk sore jadi dia pun tidak buru-buru untuk kerja.
Ia terus berjalan menuju kafe chinggu tempat langganannya kalau lagi nongkrong dengan temannya.
Namun langkah kaki Wina terhenti saat melihat seorang pria yang ia cintai saat ini sedang makan bersama dengan wanita lain. Dia adalah Haru, perlahan Wina mendekat ke tempat itu dan duduk di sebelah mereka yang kebetulan kafe itu ada batas setengah dinding kayu yang menutupi jadi walau duduk di meja yang sebelahan tidak akan kelihatan namun kata-kata yang diucapkan orang di sebelah masih sedikit terdengar.
Wina duduk di dekat dinding itu dan mulai mendengarkan percakapan Haru dan wanita itu.
"Yang, gimana? uang buat wisudamu udah ada?" Ucap wanita yang ada di hadapan Haru.
Wina masih terus mendengarkan pembicaraan mereka.
"Udah sayang.. Aku dapat uang hadiah 10 juta dari undian bank ono." Ucap Haru dengan nada bahagia.
"Sayang?" Ucap Wina dalam hati.
"Dapat hadiah 10 juta? Kenapa sama dengan nilai uang yang kurang setor? Gak salah lagi, memang dia yang sudah mengambilnya. Dasar lelaki jahanam." Ucap Wina lagi dalam hati.
Semua Karyawan minimarket Cahyo berkumpul di gudang bersama dengan kepala cabang. Mereka semua sedang membahas uang kurang setor dan memutuskan agar Wina menggantinya dengan segera.
"Tapi Pak, saya kan ngeshift bareng Haru? Bagaimana mungkin hanya saya yang bertanggung jawab?" Protes Wina.
"Gak ada tapi-tapi kamu harus ganti, besok saya tunggu di kantor." Ucap Bapak kepala cabang.
Wina keluar dari gudang dan menutup pintu dengan keras. Ia pun yang kerja masuk malam tidak datang untuk kerja.
Keesokan harinya, Wina pergi ke pegadaian untuk menggadaikan segala perhiasan yang ada mulai dari cincin, anting-anting, kalung dan gelang yang selama ini Ia simpan.
"Mbak mau gadai semua ini?" Tanya pegawai pegadaian.
"Iya Pak, berapa total semuanya yang bisa saya dapatkan." Tanya Wina dengan wajah datarnya.
"Sebentar kita cek dulu ya."
"Baik Pak."
"Total yang bisa di ambil 11 juta Rupiah, jadi mbak mau berapa?"
"10 juta aja Pak."
Setelah pergi ke pegadaian Wina langsung menuju ke kantor Cahyo untuk memberikan uang tersebut dan bertemu dengan Pak Adit kepala cabang.
"Ini Pak uangnya, dan ini surat pengunduran diri saya. Mulai hari ini saya berhenti kerja di sini." Ucap Wina lalu pergi begitu saja.
Wina sedang mengendarai motor dalam perjalanan yang belum tau mau kemana. Air matanya terus mengalir deras, napasnya terasa sesak seolah jantungnya berhenti. Dibalik helm yang ia pakai Wina sesegukan dalam tangisnya.
"Dia selingkuh dan juga menjebakku untuk mengambil uang itu." Ucap Wina.
Ia pun memutuskan untuk berhenti sejenak dari motor dan menelpon Haru.
"Halo, Haru kita ketemu di pantai Good Bye sekarang juga." Ucap Wina dalam telpon dan mematikannya.
Wina memutar balik arah dan mulai berkendara menuju pantai good bye. Tak butuh waktu lama ia pun tiba dan ternyata Haru sudah menunggu di sana.
Wina turun dari motor dan menghampiri Haru, Ia menatap Haru dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Eh udah datang Winwin." Ucap Haru
Haru memanggil Winwin adalah panggilan sayang yang ia berikan pada Wina.
"Iya."
"Kenapa ngajak kesini?"
"Karena kita akan berakhir seperti nama pantai ini."
"Good bye?" Tanya Haru heran.
"Iya, hubungan kita cukup sampai disini. Dan jangan pernah hubungi aku lagi. Aku kecewa sama kamu dan aku jijik dengan orang seperti Anda. Aku benar-benar nyesal telah jatuh cinta dengan orang yang sangat-sangat menjijikkan." Ucap Wina.
"Salahku apa Win?" Tanya Haru heran.
"Kamu introspeksi dirimu sendiri. Jangan hubungi aku lagi apapun itu." Ucap Wina lalu berbalik meninggalkan Haru.
Tangan Haru dengan segera meraih tangan Wina yang sedang berjalan itu.
"Win, aku sungguh menyayangimu. Jangan begini padaku."
Wina menoleh dan berkata, "Sayang? Ini yang di bilang sayang? Lepasin tanganku."
Haru pun melepaskan tangan Wina dan Wina melanjutkan langkahnya untuk pergi.
"Win aku sangat mencintaimu, tapi aku sedang membutuhkan uang itu Win.. Maafkan aku, seharusnya aku bilang padamu kalau aku akan mengembalikannya padamu." Ucap Haru dalam kesendiriannya yang penuh dengan air mata.
Di Minimarket Cahyo, pukul 15:00 karyawan sedang berkumpul untuk pergantian shift. Di Sana ada Windy, Fery dan juga Haru.
"Kenapa Wina belum datang?" Tanya Haru.
"Wina sudah mengundurkan diri dan yang gantiin dia hari ini dari minimarket cabang C jadi kamu tunggu aja." Ucap Windy.
"Resign?" Tanya Haru.
"Iya, ini semua gara-gara kamu" Jawab Fery dengan nada pelan.
"Shutt.." Tegur Windy pada Fery.
Haru hanya berdiri tak berdaya, ia benar-benar menyesali keputusannya.
Di Kafe Chinggu Wina sedang berkumpul dengan teman-temannya. Ia benar-benar menikmati waktu terakhirnya di kota ini.
"Jadi kamu akan ke Jakarta Win?" Tanya Lina temannya Wina.
"Iya.. Jadi nanti aku minta tolong untuk ambilkan perhiasanku yang ada di pegadaian, nanti aku transfer ke kamu ya lin." Ucap Wina.
"Hem.. Okay Win." Jawab Lina sambil berdiri dan memeluk Wina.
"Pagi yang cerah untuk memulai kehidupan yang baru, apapun yang terjadi aku tak boleh lagi goyah dengan perhatian dan juga kebaikan palsu." Ucap Wina yang sudah berdiri di depan kos menunggu kedatangan mobil jemputan untuk pergi ke bandara.
Tak lama kemudian taksi online itu tiba bersamaan juga dengan Haru yang datang tiba-tiba di depan kosnya. Haru melihat seorang supir taksi itu mengangkat sebuah koper yang dimasukkan ke dalam bagasi.
"Win.. mau kemana?" Tanya Haru sambil menahan Wina untuk masuk ke dalam mobil.
"Lepasin tangan saya, saya tidak kenal dengan anda." Ucap Wina dengan nada tinggi.
"Mbak ayo masuk, nanti telat ke bandaranya." Ucap seorang supir taksi itu.
"Win kamu yakin untuk pergi? Iya aku mengakui kalau aku ambil uang itu, tapi aku berniat untuk mengembalikannya padamu. Hanya saja waktu belum sempat untuk bilang samamu."
"Udah deh gak usah banyak omong. Terus wanita yang panggil sayang itu siapa?" Ucap Wina
Tangan Haru masih menahan tangan Wina.
"Win, itu aku cuma main-main aja. Perasaanku yang sebenarnya hanya untukmu. Aku sebelumnya memang selalu banyak pacar tapi hanya kamu orang yang bisa membuatku benar-benar jatuh cinta. Dan itu murni! aku tak mau kehilangan kamu, aku janji demi apapun aku tidak akan lagi punya pacar selain kamu dan juga gak akan mencuri uang lagi." Jelas Haru.
"Aku juga mencintaimu Haru, sangat mencintaimu.."
Haru tersenyum mendengar pernyataan Wina, sedikit harapan mulai ia taruh.
"Tapi memang sebaiknya kita untuk berpisah dan tak akan pernah kembali. Aku tau aku sedang menyakiti diriku sendiri, tapi akan lebih menyakitkan jika aku terus bersamamu." Ucap Wina dan melepaskan genggaman tangan dari Haru.
Wina pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Haru.
Di dalam mobil Wina menoleh ke belakang memperhatikan Haru yang sedang berjongkok sambil menutup matanya. Wina pun tersenyum dalam tangisnya.
"Selamat tinggal."