Diana adalah seorang gadis berusia 17 tahun. Memiliki rambut kecokelatan yang dipotong sebahu. Matanya juga berwarna hazel, hampir senada dengan rambutnya. Gayanya sedikit tomboy, akan tetapi dia tetaplah seorang perempuan yang memiliki sifat perasa.
Diana merupakan atlet renang yang tengah berlibur ke kota Azden, Inggris. Di sana dia tinggal bersama paman dan bibinya. Ayah dan ibunya pergi selama seminggu untuk perjalanan bisnis.
Diana baru lulus SMA, dan berniat melanjutkan studinya menjadi atlet. Gadis itu butuh tempat yang nyaman untuk berlatih. Menurutnya Azden-lah tempat yang tepat.
Azden tidak seramai kota-kota pada umumnya. Keadaan kota itu lebih tenang dan damai. Pekerjaan sebagian besar masyarakatnya pun adalah berkebun dan beternak.
"Apakah ada kolam renang yang dapat membantuku berlatih di kota ini?" tanya Diana sembari mengoleskan selai kacang ke rotinya. Dia tengah duduk menghadapi hidangan sarapan.
"Tentu saja sayang, kau bisa pergi ke sekolah Eden yang berjarak beberapa kilo dari sini, dan meminta izin terlebih dahulu," sahut bibinya Diana yang sering di sapa Cecil.
"Apa? kilo? bukankah itu jauh?" Diana melebarkan mata tak percaya.
"Bukankah ada kolam renang di rumah kosong jalan Sycamore Street?" Josh, pamannya Diana menyahut. Dia baru saja datang dari pintu belakang. Bajunya tampak kotor akibat baru selesai berkebun.
"Hush!" Cecil menyalangkan mata ke arah Josh. Sepertinya dia bermaksud menyembunyikan tempat yang tadi diberitahu Josh.
"Huhh, ayolah, aku sudah mendengar semuanya. Memangnya kenapa dengan rumah itu?" tanya Diana yang terlanjur mengetahui gerak-gerik mencurigakan Cecil.
"Tidak ada, hanya saja tempat itu terlalu sepi dan kotor. Aku tidak mau kau berlatih sendirian di sana," terang Cecil sambil membawa beberapa piring menuju wastafel.
"Okay..." Diana terpaksa menyetujui.
***
Sudah tiga hari lebih Diana ikut berlatih di kolam renang sekolah Eden. Dia menikmati waktu berlatihnya dengan baik. Bahkan sudah terbiasa dengan keadaan damai kota Azden.
Di hari ke-empatnya, saat malam mulai larut. Diana baru saja pulang berlatih. Namun mobil yang dikendarainya tiba-tiba mogok. Dia berhenti di jalan Sycamore Street. Tepat di depan rumah yang terlihat menyendiri. Tidak ada satu pun rumah lain disekitarnya.
Diana mencoba memeriksa ponselnya, tetapi sinyal sama sekali tidak ada di lokasi dirinya berada. Dia hanya bisa berdecak kesal sambil keluar dari mobil. Diana pun berjalan menuju satu-satunya rumah yang dilihatnya.
Diana sudah puluhan kali mengetuk, namun tak kunjung mendapat jawaban. Ia lantas berinisiatif berjalan ke arah pintu yang ada di samping.
"Hello?" Diana menjinjitkan kakinya seraya menatap ke arah jendela yang terbuka di lantai atas.
Diana hanya menghela nafas panjang. Sekarang matanya mengedar ke segala penjuru. Hingga atensinya terhenti pada sosok lelaki yang tengah berdiri di depan danau.
"Hei! apa yang kau lakukan?!" pekik Diana cemas.
Teng! Teng! Teng!
Suara denting jam berbunyi dua belas kali. Suaranya jelas terdengar dari rumah sepi yang ada di hadapan Diana. Saat itulah sosok lelaki di dekat danau mendadak melompat ke dalam air. Mata Diana langsung membulat sempurna. Ia pun segera berlari untuk menyelamatkan lelaki tersebut.
Byur!
Diana ikut menceburkan diri ke dalam danau. Jantungnya benar-benar diliputi perasaan panik. Namun pupus sudah perasaan takut itu, ketika menyaksikan pemandangan indah di dalam air. Sekali lagi mata Diana membola. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Segala tumbuhan dan hewan yang ada di dalam air tampak gemerlapan. Seperti memancarkan cahaya dari tubuhnya. Diana sungguh terpesona akan keindahan itu, rasa sukanya terhadap air semakin bertambah.
Tiba-tiba dari belakang sepasang tangan menarik tubuh Diana. Kemudian membawanya ke permukaan.
"Huaah!" Diana dan sosok yang memeganginya langsung mengambil oksigen. Mereka sekarang dalam keadaan saling berhadapan.
"Apa kau melihatnya?!" tanya lelaki berambut pirang yang sudah membawanya kembali ke permukaan.
"Maksudmu saat di dalam air tadi?" Diana memastikan.
"Ya!" sang lelaki berambut pirang mengangguk yakin.
"Aku melihatnya. Bagaimana itu bisa terjadi?" balas Diana melebarkan mata penuh akan ketertarikan.
"Aku juga tidak tahu. Tetapi itu akan terjadi saat jam di rumah kosong berdenting dua belas kali," lelaki berambut pirang tersebut menatap kagum Diana. "Kenalkan, aku Alan... Alan Gardner!" tambahnya menperkenalkan diri.
"Diana Robert!" sahut Diana, menyebutkan nama panjangnya.
"Ayo kita lihat lagi pemandangan di dalam air!" ajak Alan, yang menyelam lebih dahulu ke dalam air. Diana yang sudah terlanjur tertarik pun mengikuti.
Diana dan Alan bersama-sama menyaksikan pemandangan langka yang membuat mereka berdecak kagum. Mereka cukup lama berada di dalam air. Berenang kesana kemari demi mengamati hal-hal yang menarik perhatian. Jika kehabisan oksigen, maka keduanya akan ke permukaan air sejenak. Rasa dingin seolah tidak terasa lagi, karena dikalahkan dengan kesenangan dalam hati mereka.
Diana mencoba mengambil ikan yang memiliki kerlap-kerlip warna biru. Dia mencoba membawanya ke atas permukaan. Anehnya saat berada di atas air, warna ikan tersebut berubah menjadi normal.
"Ini aneh, sungguh!" ucap Diana tak percaya.
"Aneh tapi nyata," respon Alan tersenyum tipis.
Alan mengajak Diana untuk keluar dari air. Sebab dia sudah terlalu lama berada di dunia yang seharusnya tidak ditempati makhluk berparu-paru. Diana pun menurut dan duduk di pinggir danau bersama Alan. Hari itu memang pertemuan pertama mereka, namun Diana dan Alan akrab seperti telah lama saling mengenal.
"Kau sepertinya sangat menyukai air," celetuk Alan yang menatap Diana dengan ekor matanya.
"Sangat. Sampai-sampai aku pernah berharap bisa menukar paru-paruku dengan insang..." Diana mengakhiri ucapannya dengan tertawa kecil.
"Itu tidak salah, kita bebas berharap tentang apapun," sahut Alan pelan.
"Kau tahu, aku kira kau tadi mau bunuh diri. Tetapi ternyata tidak."
"Pfft... maaf, aku terbiasa berenang di malam hari." Alan menjeda sejenak kemudian melanjutkan, "Ayahku tidak suka dengan hobiku ini."
"Kenapa?"
"Aku rasa dia punya alasan sendiri."
"Kau tinggal dimana?" Diana kembali bertanya.
"Tidak jauh, kau? kenapa tiba-tiba ke sini?" balas Alan mengangkat kedua alisnya.
Diana langsung menepuk jidatnya sendiri. Dia baru ingat kalau mobilnya butuh pertolongan darurat. Alhasil dia pun meminta pertolongan Alan. Keduanya sekarang bergumul dengan mesin mobil.
Alan tampak bekerja keras mencari kesalahan di mesin mobil Diana. Raut wajahnya terlihat serius. Beberapa helai rambutnya sesekali terjatuh ke depan jidatnya. Alan mempunyai bentuk wajah yang tampan. Mata birunya membuat penampilannya nyaris sempurna. Diana mendadak terpaku dengan wajah itu.
"Sekarang coba nyalakan mobilnya!" suruh Alan, yang sontak menyadarkan Diana dari keterpakuan. Diana pun bergegas masuk dan mencoba menyalakan mobil.
Diana berusaha beberapa kali memutar-mutar kunci mobil. Hingga dia berhasil di usaha yang ke tujuh. Rekahan senyum terukir diwajah Diana kala mobilnya bisa menyala lagi.
"Sudah menyala!" Diana bersemangat sembari keluar dari mobil. Dia mencoba mencari keberadaan Alan. Nihil, ia tidak menemukan sosok lelaki itu lagi. Sekujur tubuhnya seketika merinding. Diana akhirnya memutuskan untuk pulang.
***
Lampu sorot mobil tampak dari luar, pertanda Diana telah datang. Cecil dan Josh segera menghampiri Diana. Mereka segera menyuruh Diana untuk menghangatkan tubuh dan tidur.
Diana sekarang beristirahat di dalam kamar. Jujur saja, kepalanya selalu mengingat sosok Alan yang sangat berkesan. Diana berniat akan pergi lagi besok malam. Berharap bisa bertemu dengan Alan lagi.
Malam berikutnya tiba, kali ini mobil Diana tidak mogok. Akan tetapi memang dihentikan tepat di depan rumah kosong Sycamore Street. Suara denting jam sudah terdengar dua belas kali. Anehnya, Diana sama sekali tidak melihat kehadiran Alan. Gadis tersebut memutuskan berjalan sendirian ke danau.
Byur!
Diana bercebur ke dalam air untuk menyaksikan pemandangan yang sebelumnya pernah dilihatnya. Dia kembali terpaku dengan kerlap-kerlip keindahan di dalam air. Diana merasa seperti berada di nirwana.
Setelah puas, Diana pun keluar dari dalam air. Matanya mengedar berharap menemukan Alan. Lagi-lagi ia tidak menemukan lelaki bermata biru itu.
'Mungkinkah dia hantu? aneh juga...' pikir Diana menebak-nebak. Dia mulai merasa ngeri saat memikirkan Alan ternyata adalah makhluk gaib.
Sejak itu, Diana selalu pergi ke danau sendirian. Sampai dia tidak lagi berlatih di sekolah Eden. Sebab Diana merasa sudah nyaman melatih gaya renangnya di danau. Meski tanpa peralatan renang yang lengkap. Baginya yang terpenting adalah menikmati latihannya sendiri.
Waktu berlalu cepat, hingga masa liburan Diana di kota Azden berakhir. Dia sebenarnya merasa sedih, karena tidak pernah melihat lagi kemunculan Alan. Alhasil Diana pun pulang dengan menyimpan rasa kecewa.
***
Mobil berhenti di depan sebuah bangunan besar. Yaitu kampus dimana Diana bisa melanjutkan studinya sebagai atlet renang. Setelah berpamitan dengan ayah dan ibunya, Diana segera berjalan sambil menarik kopernya. Kepalanya menunduk ke bawah, menatap pergerakan kakinya sendiri.
Langkah kaki Diana terhenti, ketika dua pasang sepatu berdiri di hadapannya. Perlahan ia mendongakkan kepala. Pupil matanya membesar saat melihat Alan berdiri di hadapannya.
"A-a-alan?" Diana sekarang mengerjapkan matanya beberapa kali. Takut apa yang dilihatnya hanyalah mimpi.
"Selamat datang." Alan mengulurkan tangannya sembari tersenyum tipis.
"Kau mahasiswa di sini?" Diana mencoba memastikan sekali lagi.
"Begitulah, aku rasa kita sekarang akan semakin sering bertemu!" ujar Alan. Kemudian segera menunjukkan jalan menuju asrama putri.
Alan menceritakan semuanya kepada Diana, termasuk alasan dia tiba-tiba menghilang malam itu. Dia bergegas pulang karena teringat ayahnya akan segera pulang. Alan juga mengatakan kalau dirinya sudah tidak tinggal lagi bersama ayahnya. Tapi hanya satu teka-teki yang tak terpecahkan, yaitu denting jam dan keindahan di danau dekat jalan Sycamore.
"Aku rasa itu rahasia kita berdua..." bisik Alan ke telinga kanan Diana.
'Damn! aku kira Alan hantu atau siluman. Tetapi ternyata tidak. Thank god...' batin Diana, lalu mengarahkan bola matanya ke arah Alan. Senyuman puas terpatri diwajahnya.