Setelah membaca, jangan lupa follow. Dan minta dukungannya~
Rumah Hantu🏚️
Sebuah mentari pagi memanjatkan mataku melihat panorama alam yang indah. Nyanyian burung mengantarku tuk meraih asaku hari ini. Semangat meniti hari menanggapi masa depan.
Pagi ini, aku menyiapkan sebuah kotak makan untuk dibawa kesekolah. Aku bersiap siap sejak jam 5 pagi. Kini waktunya aku untuk berangkat kesekolah.
Dari depan rumah, terlihat temanku sedang berlari menuju tempatku berada. Namanya adalah Evrard.
Dia berteriak memanggil namaku, aku yang mendengarnya kemudian berhenti tepat di depan toko buku milik Ibu Elizabeth, dia juga termasuk temanku.
"Adhelard!!!". Teriaknya ketika memanggil namaku.
Aku dengan senang menunggunya, kami sudah terbiasa berangkat bersama. Setelah Evrard berada di sampingku, kami kemudian berjalan bersama menuju sekolah. Letaknya lumayan jauh, sekitar 2000 rumah dari rumahku.
Beberapa menit kemudian, kami sampai di sekolah. Ketika aku beranjak memasuki ruangan kelas, Bak!!!. Anak anak di kelas sedang ribut mempermasalahkan sesuatu.
Aku yang merasa penasaran kemudian mendekati mereka, tetapi Evrard sudah duduk di bangkunya.
"Kalian sedang mempermasalahkan apa?". Tanyaku pada mereka, termasuk Elizabeth juga.
"Haha!!! Kami tidak sedang mempermasalahkan sesuatu, hanya saja Veronica sedang mengada ngada. Dan beberapa dari mereka ada yang tidak percaya". Jelas Elizabeth padaku.
Aku terdiam dan kebingungan lalu menggelengkan kepalaku.
"Memangnya kau mengada ngada masalah apa?". Tanyaku pada Veronica yang hendak keluar kelas.
"Cukup! Jika tidak percaya tidak perlu bertanya. Aku sedang tidak ingin ribut dengan kalian!!". Jawabnya dengan nada marah.
Aku heran dengan sikapnya hari ini, mungkin saja karena teman temannya tidak percaya.
Aku yang merasa tidak enak akhirnya mendekati Veronica, dia terlihat sangat kesal saat tahu kalau aku mendekatinya.
"Tadi kau bercerita soal apa? Aku akan percaya padamu". Ucapku sembari tersenyum.
Veronica kemudian menghela nafasnya panjang panjang, ia kemudian berkata,
"Aku....mendengar gosip kalau ada sebuah rumah hantu tak jauh dari kalangan tempat tinggal ku. Katanya, saat jam 23.30 tepat, di rumah itu ada sebuah benda yang dapat mengabulkan permintaan kita. Namun benda itu tak di ketahui dengan pasti. Tetapi, saat jam 24.00 tepat, siapapun yang masih berada di rumah itu untuk mencari bendanya, akan habis di lahap oleh monster. Tapi aku juga belum tahu pasti apakah itu benar atau tidak".
"Tidak masalah, kita bisa membuktikannya". Ucapku.
"Maksudmu?". Tanya Veronica padaku.
"Kita bisa membuktikannya nanti malam. Bagaimana? kita akan ke rumah hantu itu bersama sama. Aku akan mengajak yang lain". Jelas ku.
Veronica hanya mengangguk sambil tersenyum. Aku kemudian ikut tersenyum dan saat aku menengok ke belakang, ternyata Elizabeth, Evrard, serta teman yang lain sedang menguping pembicaraanku bersama Veronica.
"Hm...kalian mau ikut juga??". Ajak ku pada mereka. Aku sangat yakin kalau mereka pasti mau ikut denganku ke rumah hantu tersebut.
Sontak, firasat ku memang benar. Mereka mau ikut bersama dengan ku ke rumah hantu itu dan kami pun sudah sepakat akan kesana nanti malam.
Skip-
Malam pun tiba. Tepat pukul 23.00 aku, Evrard dan Elizabeth sudah berkumpul di rumah Veronica. Aku membawa sebuah lampu senter yang sangat terang untuk nanti berjaga jaga, sedangkan Evrard hanya membawa sebuah alat yang tak berguna, yakni kamera. Memang, Evrard begitu suka dengan sebuah kamera. Kemudian Elizabeth dan Veronica juga ikut membawa sebuah lampu senter.
"Hai, ini sudah jam 11 malam. Apa kalian yakin?". Tanya Elizabeth yang agak penakut.
"Tentu saja. Kami ingin membuktikan apakah gosip itu benar benar nyata atau hanya sebuah khayalan saja". jawabku yang kemudian menarik tangan Evrard.
Aku menarik tangan Evrard sampai di luar rumah. Kemudian Veronica dan Elizabeth menyusul keluar.
Kami segera bergegas menuju rumah tersebut, dan sesampainya disana aku berpikiran lain. Karena tampaknya rumah itu hanya akan membuat kami tersesat.
Tanpa berpikir lama, Veronica kemudian beranjak masuk kedalam rumah tersebut. Aku kemudian mengikutinya dari belakang.
"Sebaiknya kita berpencar sebelum waktu menunjukkan pukul 24.00". Ujar Veronica sambil berlari ke arah yang selatan.
Evrard ikut berlari ke arah yang berbeda, kemudian hanya tersisa aku dan Elizabeth.
"Bagaimana? kau yakin akan berpencar?". Tanyaku sembari menelan ludah.
Elizabeth menggelengkan kepalanya dan memegangi tanganku.
"Tidak. Aku sangat tidak yakin kalau kita berpencar. Kita bersama saja ya". Jawabnya dengan wajah yang begitu berkeringat karena ketakutan.
Aku kemudian menuruti apa katanya dan segera berlari menuju pintu yang berbeda dari Veronica dan Evrard.
Tepat saat di depan sebuah ruangan dapur, aku dan Elizabeth berhenti sejenak. Rasanya sangat aneh jika melewati ruangan itu.
"Sebaiknya kita lewat jalan lain saja. Aku merasa ada yang aneh jika melewati tempat ini". Ucap Elizabeth dengan nada gemetaran.
Tiba tiba sebuah gelas dari dalam lemari terjatuh.
Crak!!!!
Suaranya begitu mengerikan. Elizabeth menutup matanya rapat rapat. Tak kusangka, dari arah barat datanglah Evrard dengan membawa sebuah kotak besar.
"A....apa itu?". Tanyaku merasa heran.
Evrard menghiraukan ku dan berjalan melewati arah kananku.
Aku benar benar merasa bingung saat itu, dan kemudian Veronica tiba tiba datang dari belakangku.
"Ayo cepat kita kembali sebelum jam 12!". Teriak Veronica yang merasa begitu cemas. Dia kemudian berlari meninggalkan kami berdua.
Aku dan Elizabeth kemudian berlari mengikuti arah larinya Veronica.
Aku benar benar lupa kalau Evrard tidak bersama kami. Aku berhenti sejenak tepat di sebuah lemari yang kelihatannya begitu aneh.
"Kenapa berhenti? Bukankah sebentar lagi jam 12?!!". Ucap Elizabeth sambil memukul pundak ku.
"Dimana Evrard?". Tanyaku padanya. Dia terlihat terkejut saat mendengar pertanyaan dariku.
Kebetulan saat itu kami ber empat sama sama tidak membawa ponsel.
"Benar...bagaimana ini...!!". Kata Elizabeth merasa cemas.
Aku kemudian menundukkan kepalaku sambil memikirkan sesuatu. Tadi sebelum Veronica datang, Evrard berjalan tepat di samping tangan kananku.
Aku berlari ketempat tadi ketika bertemu dengan Evrard, dan aku meninggalkan Elizabeth sendirian.
"Evrard!!! Evrard!!!" Teriakku memanggil manggil nama Evrard yang entah berada dimana.
Saat aku hendak meraih sebuah serpihan kaca yang berada di bawah kakiku, tiba tiba ada sebuah tangan yang memegangi bahuku.
Aku terkejut dan kemudian menoleh kebelakang, dan ternyata.....
Itu adalah Evrard. Aku merasa lega setelah dia menemui ku tanpa aku yang harus mencarinya ber jam jam.
"Dari mana saja kau?! Aku benar benar khawatir!!!". Teriakku pada Evrard. Aku berteriak setengah memarahinya bukan karena aku malas untuk mencarinya, namun karena aku benar benar takut jika Evrard kenapa napa.
Anehnya, Evrard hanya terdiam. Setelah beberapa saat kami berada di tempat itu, akhirnya aku mengajak Evrard untuk segera pergi dari rumah ini.
"Ayo kita keluar sekarang, Veronica dan Elizabeth sepertinya sudah keluar". Ucapku sembari menarik tangan Evrard.
Namun tiba tiba, suara lonceng terdengar keras sampai kedalam telingaku. Entah dari mana datangnya suara lonceng itu, aku sangat yakin kalau di rumah itu tidak ada lonceng.
Aku kemudian berhenti menarik tangan Evrard. Aku berpikir sesuatu, apa jangan jangan suara lonceng itu ada hubungannya dengan jam 24.00.
"Habislah riwayatku....". Ucapku dalam hati. Namun Evrard terlihat tenang tenang saja, ia malah tersenyum saat mendengar suara lonceng itu.
Dan sebenarnya, Evrard bukanlah Evrard. Anak yang kukira Evrard, seketika berubah menjadi monster besar.
Aku hanya pasrah, tak ku sangka, Veronica dan yang lain datang menjemput ku disaat aku memang benar benar membutuhkan mereka.
"Jangan sakiti temanku!". Teriak Evrard sembari melempari monster itu dengan batu.
Veronica dan Elizabeth juga ikut melempari batu ke arah monster itu. Sampai akhirnya Veronica mengambil sebuah cermin dalan tasnya yang kemudian di arahkan ke arah monster itu.
Seketika monster itu hancur lebur ketika cermin itu diarahkan kepadanya.
Aku merasa senang, dan pada saat itu juga kami berlari keluar dari rumah hantu tersebut.
Skip
Kami pun akhirnya sampai di rumah Veronica. Aku bertanya pada Evrard, mengapa dia tiba tiba menghilang. Dan Evrard pun dengan senang hati menjelaskannya padaku.
"Sebenarnya, saat Veronica menyuruh kita untuk berpencar, aku melihat sebuah pintu menuju bagian belakang rumah itu. Aku membukanya dan kemudian keluar...lalu saat kalian bertemu Veronica, bukankah Veronica menyuruhmu dan Elizabeth lari? Itu karena aku yang menyuruhnya. Sebelum Veronica menemui kalian, dia sudah bertemu denganku terlebih dahulu...dan yang kau temui itu bukanlah aku, tetapi monster yang sebenarnya". Jelas Evrard.
Setelah itu, aku masih penasaran dengan satu hal, namun aku merasa sangat lelah dan akhirnya kami bersama sama pulang ke rumah masing masing.
Tamat**.
Terima kasih untuk kalian yang telah membaca cerpen ini~