🌙"Agung, Gunung Puntang, dan 3 Hantu"🌙
Cerpen Flobamora
Noveltoon
🕯🕯🕯
“Hahaha... Errrr... Aing mauuung..” Lelaki itu merangkak dan memamerkan giginya.
“Uk uk.. Ak ak..” Lalu lelaki itu duduk dan menggaruk-garuk kepala dan bokongnya, serta menyeringai bodoh seperti seekor kera.
“Hihihihi..” Lalu, suara wanita tertawa pun keluar dari kerongkongannya. Kemudian lelaki itu duduk menyamping, melipat lututnya sambil membelai-belai sesuatu di bahunya dengan ayu seperti wanita yang membelai rambut panjangnya.
“Astapillohalajiim,” Guru Imam bergumam dan menggeleng.
“Kang Agung? Kang? Cobalah tenangkan diri Akang atuh Kang. Yakinlah Akang bisa menang,” lanjut Guru Imam.
Lelaki yang sejak tadi berubah-rubah sikap itu mencoba memejamkan mata namun begitu sulit. Sosok-sosok asing itu kembali mengambil alih kesadarannya.
Malam itu, bulan sedang purnama. Waktu hampir tengah malam. Dataran lapang di atas Gunung Puntang sedang dihebohkan dengan fenomena kesurupan pada sosok pemuda populer bernama Agung.
Agung kala itu hendak syuting eksplorasi dunia gaib di tempat itu, yaitu Gunung Puntang, Jawa Barat. Namun, sayangnya syuting menjadi kacau. Beberapa temannya hanya bisa terdiam di tepian, memperhatikan pembawa acara horor itu sedang kesurupan.
Guru Imam melarang teman-temannya untuk merekam kejadian itu, sehingga aktivitas syuting pun dihentikan.
***
Kisah ini bermula sejak Agung meminta ijin Guru Imam, pengelola tempat wisata itu, untuk syuting acara eksplor dunia gaib. Awalnya Guru Imam menolak.
Guru Imam menjelaskan bahwa fenomena gaib itu hanyalah bawaan pada masing-masing orang dan sosok gaib yang nampak tidak benar-benar baku wujudnya. Agung lalu berdialog lebih dalam dengan Guru Imam perihal masalah itu.
“Jadi fenomena melihat penampakan itu subjektif, Guru?” ucap Agung dengan perasaan mengganjal yang ia pendam.
Dengan pembawaan yang tenang, Guru Imam menjelaskan bahwa pada orang-orang yang sehat mentalnya, maka gangguan negatif makhluk gaib tidak akan bisa mempengaruhinya.
“A n j r i t.. Ni orang ngatain gua sakit jiwa apa gimana?” Agung membatin.
Guru Imam mencoba mengajak Agung untuk menenangkan diri dengan cara meditasi, untuk mendapatkan sendiri jawaban yang bisa benar-benar ia pahami.
Agung dan Guru Imam lalu membuat janji, bahwa esok malam Agung akan datang lagi ke tempat Guru Imam untuk bermeditasi. Ia tidak menyebutkan aktivitas itu akan dijadikan konten gaibnya dan diam-diam ia berencana mengajak teman-teman kru untuk melakukan syuting.
***
Tibalah waktu temu itu. Agung mengenalkan teman-teman kru yang ia bawa kepada Guru Imam, dengan alasan teman-temannya itu penasaran dengan aktivitas meditasi yang dikatakan Guru Imam.
Sore hari, mereka baru saja tiba dari Jakarta. Untuk melepaskan lelah, Guru Imam pun mengarahkan Agung dan teman-teman untuk beristirahat di kaki bukit. Di sana mereka disambut dengan kolam serta pepohonan yang memagari, serta tumbuhan bawah yang rapi bagaikan sebuah taman.
Mereka beristirahat di sebuah saung, melonjorkan kaki mereka di lantainya untuk berlesehan.
“TUUNG.. TUUNG.. TUUNG..”
Suara potongan bambu beralirkan air yang berjungkat-jungkit mengenai batu. Betapa asrinya tempat itu. Mereka juga disuguhkan makanan minuman khas daerah itu, kalua jeruk, dodol susu, rujak cirehang, borondong, dan kopi hitam.
Malam pun tiba, pukul 21 mereka pun bersiap untuk melakukan meditasi. Mereka berjalan kaki menuju dataran lapang di atas gunung tanpa alas kaki, tanpa losyen anti nyamuk, dan mengganti apabila ada pakaian yang beraroma parfum. Mereka dituntut untuk menyatu dengan alam. Bahkan tidak diijinkan menepuk nyamuk yang hinggap di kulit mereka.
Setelah sampai, mereka pun duduk dan dipandu oleh Guru Imam. Mereka mulai memejamkan mata. Berkali-kali Guru Imam mengatakan agar membuang pikiran-pikiran kotor serta memaafkan segala kesalahan yang pernah diperbuat oleh masing-masing atau yang menjadi korban kesalahan orang lain.
Mereka mengatur ritme napas mereka dengan tenang. Semua seakan sedang larut dalam meditasi, namun ada seorang teman kru yang mencoba mengintip dan memperhatikan yang lain secara diam-diam. Ia perlahan merogoh saku di dadanya dan menekan sebuah tombol tanpa mengangkat alat itu keluar saku. Ya, dia merekam aktivitas itu diam-diam.
Tiba-tiba, semua orang terperanjat oleh Agung yang mengeluarkan suara macam-macam makhluk, lalu bertingkah sepertinya. Agung bertingkah seperti harimau, kera, dan yang terakhir adalah wanita yang selalu tertawa.
Teman-teman Agung terpaku mengelilinginya. Kemudian beberapa di antaranya memberikan isyarat dan mereka pun mengeluarkan alat perekam. Melihat itu, Guru Imam langsung merebut dan mematikannya. Ia melarang mereka merekam kejadian itu.
“Temannya sedang celaka kok malah direkam!” ucap Guru Imam marah.
Guru Imam pun mencoba menenangkan Agung. Emosi Agung naik-turun, sebab usaha Guru Imam menenangkannya tidak langsung berhasil.
Udara gunung yang dingin membuat teman-teman lainnya mengeluh, sebab sudah sekitar satu jam Agung tidak juga benar-benar sadarkan diri. Namun, Agung kini hanya terdiam, bersikap melamun. Sehingga, teman-temannya bisa memapahnya turun dari gunung.
Di kaki bukit, di tempat tadi sore mereka beristirahat, Agung didudukkan di saung. Tiba-tiba emosi Agung meledak, kemudian sosok-sosok hantu di dalam tubuh Agung itu pun menghilang. Ia pun sadarkan diri.
Mereka pun memutuskan pergi malam itu juga dari lokasi wisata Gunung Puntang. Mereka menginap di penginapan di Kota Bandung lalu berencana untuk pulang ke Jakarta keesokan harinya.
***
Sepekanpun berlalu. Agung dan teman-temannya beraktivitas seperti biasa di Jakarta, menggeluti kesehariannya sebagai mahasiswa.
Namun, ada sesuatu yang tidak biasa terjadi pada diri Agung. Agung dan teman-temannya berkumpul.
“Serius lu?”
“Iya, gua berani disamber geledek dah. Agung kan katanya boker, tapi gua tunggu-tunggu udah dua jam doi kaga keluar-keluar kamar mandi. Gua gedor dia kaga nyahut, jadi gua dobrak tu pintu. Eh, doi lagi bengong dong di tangkringannya. Gua tabok-tabok juga ni orang kaga sadar-sadar, bengong mulu doi,”
“A n y i n g, segitunya?”
“Jadi elu cebokin tu si Agung?”
“Somplak lu! Ini lagi ngomong serius wey!”
“Ga cuma itu aja sih Bray. Gua suka nge-blank juga di kelas. Tahu-tahu kelas udah sepi, padahal seingat gua khan waktu itu gua lagi masuk kuliahnya Bu Sarah. Eh, kok tiba-tiba tu kelas kosong aja gitu,” jelas Agung.
Agung pun kembali menghubungi Guru Imam. Guru Imam pun bersedia untuk membantunya menyembuhkan gangguan aneh itu pada diri Agung.
***
Agung dan teman-temannya kembali ke Gunung Puntang dan bertemu dengan Guru Imam. Namun, kali ini Guru Imam tidak sendiri, ia bersama dengan Pak Bayu, seorang praktisi regresi, bagian dari hipnoterapi.
Mereka kembali ke atas gunung. Agung didudukkan dan dibuat setenang mungkin. Guru Imam kembali memandunya pada sikap meditasi. Teman-temannya diminta hening dan cukup memperhatikan dari jarak tertentu saja.
Pak Bayu memulai dialognya dengan Agung. Agung menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Pak Bayu dengan mata tertutup dan suara yang pelan.
Sosok harimau di diri Agung pun mengambil alih pembicaraan. Ia mau menjawab pertanyaan-pertanyaan Pak Agung.
“Bapak saya k e p a r a t, dokter!” sosok suara menggerang itu memaki. Dia menjelaskan bahwa dulu bapaknya sering memecutnya dengan ikat pinggang tanpa ia tahu kesalahannya apa. Ia berkata bapaknya dulu sering pulang dalam keadaan mabuk.
“Eyak.. eyak.. uk uk uk.. Bunda khan g o b l o k, dokter. Tapi aku sayaaang banget sama bunda. Apalagi waktu bunda kitik-kitik perut aku.. Eyak.. Hahaha,” sosok suara kera bergantian berkata-kata pada tubuh Agung.
“Huhuhu..” terdengar suara selembut suara wanita menangis. “Aku membenci lelaki.. Mereka kasar.. Aku mohon, dokter, jangan siksa saya,” ucapnya.
“Terima kasih untuk kalian yang hadir. Saya paham dengan yang kalian rasakan. Tapi sekarang, bolehkah saya bertemu dengan Agung?” ucap Pak Bayu yang kemudian menengok ke arah Guru Imam.
“Agung? Kang Agung?” panggil Guru Imam. Agung pun diam saja. Guru Imam pun bergeleng kepada Pak Bayu.
“Agung, saya yakin kamu adalah seorang anak yang baik. Kamu suka membantu teman-temanmu bukan? Mereka menyukaimu Agung,” ucap Pak Bayu yang kemudian mengangguk pada beberapa teman Agung.
“Gung? Gua di sini Gung?”
“Gua juga..”
“Kita di sini ada buat elu Gung. Kita sayang sama elu,” ucap teman-teman Agung.
“Hahahaha...” sosok suara harimau tertawa.
“Saya percaya, Agung yang sebenarnya ada di sana. Saya percaya Agung yang sebenarnya cukup kuat untuk bisa memimpin lainnya. Ingat, siapapun mereka yang menyakiti Agung, mereka pada dasarnya sama seperti kita, bisa berbuat salah,” ucap Pak Bayu dengan tenang.
“Bayangkan orang-orang yang menyakiti Agung adalah sebagai balita-balita yang menggemaskan. Mereka telah memukul Agung dengan tangan mungilnya, atau melemparkan benda-benda kepada Agung. Mereka tidak bermaksud apa-apa bukan? Sebab mereka hanya balita-balita yang menggemaskan, yang sedikit nakal,” lanjut Pak Bayu.
“Sekarang, Agung coba maafkanlah kenakalan-kenakalan kecil mereka kepada diri Agung. Agung adalah seorang yang dewasa dan bijaksana, tidak mungkin menaruh dendam kepada balita yang tidak tahu apa-apa,” ucap Pak Bayu.
Tak lama, Agung pun bersuara normal. “Maafkan saya. Hiks-hiks..”
“Syukurlah, Agung sudah hadir,” ucap Pak Bayu.
“Sekarang, coba Agung pimpin mereka yang lain. Katakan kepada mereka yang lain agar tidak berlarian sesuka hati mereka. Tubuh ini adalah milik Agung, mereka tidak berhak mempermainkan Agung,” ucap Pak Bayu.
“Baiklah, dokter,” jawab Agung yang masih dengan mata tertutup.
Proses terapi pun berlangsung begitu berlarut-larut. Memerlukan waktu yang lama dalam dialog ini, sebab perlu kehati-hatian yang tinggi untuk melakukannya agar Agung tidak tersinggung atau salah tanggap. Untungnya Pak Bayu sudah cukup berpengalaman melakukannya.
Udara semakin menusuk tulang. Kini sudah pukul 12 malam. Mereka masih berkumpul di atas Gunung Puntang.
“Sudah yakin Agung telah berdamai dengan mereka semua?” tanya Pak Bayu. Agung pun mengangguk.
“Agung sudah benar-benar memaafkan orang-orang yang menyakiti Agung?”, lanjutnya. Agungpun kembali mengangguk.
“Baiklah, sekali lagi, Agung pimpin mereka bertiga, mereka harus tunduk kepada Agung, kalau bisa penjarakan dan kunci betul-betul,” ucap Pak Bayu. Agung kembali mengangguk.
Proses terapi pun berakhir. Mereka pun sudah lelah dan berjalan kaki menuruni gunung.
“Jadi sebenarnya ada apa dengan saya?” tanya Agung kepada Guru Imam.
“Kamu baru saja melepaskan trauma masa lalu, yang menyebabkan jiwamu terganggu selama ini. Pak Bayu lebih bisa menjelaskannya,” jawab Guru Imam.
“Gejalamu seperti pasien saya yang lainnya yang mengidap Skizofrenia. Ada kepribadianmu yang lain yang suka tiba-tiba mengambil alih kesadaranmu akibat kejadian traumatik masa lalu,” jelasnya.
“Pak Dokter, apakah setelah ini Agung masih bisa melihat penampakan-penampakan hantu?” celetuk salah seorang teman Agung.
“Eh! K a m p r e t! Bisa-bisanya lu nanya gituan?” protes temannya yang lain.
“Ssst.. Jangan berkata kotor di sini,” ucap Guru Imam memperingati.
“Iya, maaf Guru,” jawab orang itu.
“Fenomena melihat penampakan berbagai wujud asing itu biasanya karena seseorang sudah terkontaminasi Mikotoksin dari lingkungan yang ada di sekitarnya. Kebanyakan lingkungan yang pengap, atau identik dengan kesan seram itu banyak mengandung Mikotoksin,” jelas Pak Bayu.
“Miko.. Mikondria..” celetuk teman Agung.
“Ssst..! Rusuh amat sih lu Bray!” protes Agung.
“Itu adalah bakteri atau ada juga virus yang kalau kita terkontaminasi dengan itu bisa membuat pikiran kita berhalusinasi dan memvisualisasikan sosok-sosok gaib,” jawab Pak Bayu.
Mereka pun telah sampai di tujuan. Mereka hendak beranjak pergi dari lokasi Gunung Puntang menuju penginapan.
Hingga cerita ini berakhir, Agung tidak lagi mengalami kesurupan atau hilang kesadaran seperti biasanya.
***