Happy Readers 😍
#Maaf kalo ada typo 😂
Ting...Ting...Ting
Suara lonceng berdentangan, Entah jam berapa tidak ada yang tau namun karena penasaran gadis itu pun meraih alarmnya yang dapat ia liat dengan jelas bahwa jam menunjukkan pukul 12 malam, Sungguh hal ini sangat menggangu tidurnya yang masih terlelap dalam dunia mimpinya. Dari mana asal suara lonceng itu berbunyi gadis itu pun tidak tau dan merasa heran, Padahal ia tidak di dekat gereja, karena hal yang paling bencinya adalah suara lonceng itu.
Tapi semakin lama ia mengabaikannya maka semakin keras pula suara dentingan itu.
Gadis itu masih kukuh dan tetap menutup matanya karena ia sangat mengantuk dan tak terasa sudah berapa kali ia menutupi telinganya agar tidak mendengarnya. Namun semakin menghindar malah semakin membuatnya kelelahan sampai pada akhirnya suara lonceng yang begitu keras membuatnya terlonjak kaget dan bangun.
Ting!!!
Suara lonceng yang sangat keras membuat jantungnya semakin lama semakin tak terkendali.
"Hah ...hah...hah..." Gadis itu menghela nafas panjang akibat suara lonceng tersebut seakan-akan membuatnya mati rasa dan jantungnya pun berhenti untuk berdetak. Akan tetapi, Tak lama kemudian aku mendengar suara seseorang yang tak jauh dari tempatnya.
"Yang Mulai Raja...Gadis itu tiba-tiba sadar, Bagaimana jika pengorbanan Roh pada malam purna kali ini gagal?!" Ujar seorang prajurit dengan tongkat yang lancip diujung sedang bersimpuh dihadapan seseorang dengan penampilan yang mengerikan.
Apa?! pengorbanan Roh?! Yang benar saja. Eh tunggu dulu...kenapa aku berada ditempat yang sangat mengerikan seperti ini? . Gadis itu kaget saat mendengar pernyataan dari orang itu dengan seketika membuatnya tersadar. Saat ia melihat dengan jelas di sekitar tempat yang kini ditinggalinya.
Sungguh tempat yang lebih buruk dari pada kandang sapi di rumahku. Batin gadis itu bergidik ngeri saat melihat sekeliling yang mana semuanya terlihat sangat gelap namun hanya sedikit cahaya gerhana bulan yang berwarna merah yang sebentar lagi akan menjadi gerhana bulan total.
Seorang dengan mengenakan jubah warna Merah mendekatinya, Entah itu jubah atau apalah gadis itu tidak paham sama sekali karena dia merupakan anak desa jadi maklumlah jika gadis itu tidak tau apa-apa.
Dengan ribuan pertanyaan dalam otaknya adalah bagaimana ia bisa bertemu dengan pria tampan tapi sekeji ini? Bagaimana ia akan melarikan diri jika banyak prajurit yang sedang menjaga keamanan.
"Hahaha... Gadis kecil...Ayahmu sungguh baik hati telah mengorbankan nyawamu untuk memulihkan kekuatanku!" Tawa pemuda itu dengan keras menggelegar di setiap sudut bahkan bisa di tebak bahwa suaranya bisa terdengar sampai keluar angkasa.
Siapa pemuda ini? Kenapa matanya tiba-tiba menjadi merah?. Gadis itu pun semakin ketakutan saat mata pemuda itu berubah menjadi merah dan petir pun saling bersautan di tengah-tengah malam.
"Yang Mulia.... Gerhana bulan total masih kurang setengah jam lagi! Bagiamana jika gadis ini melarikan diri?!" Teriak salah satu prajurit khawatir jika tawanan Tuannya akan pergi.
"Kamu tidak perlu khawatir... Pangeran ke tiga masih belum datang untuk menyaksikan kekasihnya mati....hahahaha..." Semakin lama suaranya terdengar sangat mengerikan.
Apa?! pangeran ke tiga?! Si cacat itu? Owh Tidak!!! ... Apakah dia bisa menyelamatkan Aku? Yang benar saja?! . Gumam gadis itu dengan pikirannya yang kacau balau.
"Apakah anda Yakin yang Mulia? Karena pangeran ketiga yang sudah beredar di seluruh dunia bahwa dia adalah seorang pangeran yang cacat!" Tutur seorang pengawal rahasia.
"Kau sangat pintar! Aku menunggu kedatangannya dan ingin melihat seberapa menderitanya dia...Hahaha..." Celetuknya sambil tertawa puas saat membayangkan wajah musuhnya yang menderita.
Tanpa ia sadari bahwa gerhana bulan akan tiba dalam beberapa menit kemudian. Namun karena kesombongannya sampai ia lupa akan waktu pengorbanannya.
"Hahaha... Sungguh naif dirimu Cheon Soo." Suara serta tawa menggelegar di tempat itu membuat semua orang yang ada disana kebingungan bahkan bertanya dari mana asal suara itu.
"Siapa kau??!! Tunjukkan wajahmu!!" Teriak Cheon Soo penuh amarah.
"Bukannya kau yang menunggu kedatanganku? Apakah kamu sudah takut?" Tanya suara itu tanpa menampakkan wujudnya.
Suara yang sangat familiar. Batin gadis itu saat mendengar suaranya.
"Zhou Wei!!! Jangan jadi pengecut kau?! Tunjukkan wajahmu!!" Teriak Cheon Soo semakin menggila sampai ia mengeluarkan kekuatannya untuk menyerang ke seluruh arah. Sedangkan para prajurit dan pengawalnya masih waspada.
Wushhh.....
"Cheon Soo.... Apakah kau sangat merindukan wajah tampan ku ini?" Tanya Zhou Wei yang tiba-tiba muncul dihadapan dengan tubuh yang sempurna tanpa cacat sedikitpun.
Hal itu membuat Cheon Soo ketakutan bagaimana jika orang yang ia tunggu tidak seperti yang dia harapkan.
Apakah itu dia? Sungguh pangeran ku sangat tampan!!. Batin gadis itu mulai kegirangan.
Awan yang awalnya gelap gulita kini pun secara sempurna cahaya bulan bersinar lebih terang dari pada sebelumnya dan hal itu menandakan bahwa gerhana bulan sudah berlalu.
"Sial!! Kau sudah merusak acara ku!" Teriak Cheon Soo .
"Bukannya kamu yang mencari masalah dengan ku?!"
"Rasakan ini!!!" Teriak Cheon Soo sambil mengeluarkan kekuatan sehingga cahaya merah mengarah ke arah Zhou Wei, Akan tetapi hal itu tidak akan pernah berpengaruh padanya.
"Hahaha... Permainanmu sangat membosankan!!!" Ucap Zhou Wei lalu mengeluarkan kekuatan untuk menyerang Cheon Soo dan para pasukannya.
Wushhh....
Dalam satu serangan Zhou Wei berhasil menghanguskan seluruh pasukan Cheon Soo. Sehingga pengorbanan Roh malam ini gagal.
Apakah itu Zhou Wei? Bukannya dia cacat? Kenapa bisa mengalahkan mereka?. Batin gadis itu.
Zhou Wei pun berjalan mendekati tempat gadis itu, yang mana tubuhnya masih terikat dengan tali besi.
Sringggg....
Zhou Wei pun melepaskan ikatan pada tubuh gadis itu.
"Hua.... Dasar Jahat!!!!" Teriak gadis itu menangis sambil memukul dada bidang pemuda itu.
"Hei... Siapa yang jahat?" Tanya pemuda itu lembut sambil mengusap air matanya yang mulai mengalir diwajahnya.
"Kau tega membohongiku...huhuhu~~~" Ujar gadis itu.
"Kapan aku membohongimu?"
"Bukannya kau cacat?" Tanya gadis itu lirih.
"Hahaha.... Dasar gadis bodoh!!!" Celetuk Zhou Wei menjitak kening gadis itu.
"Yang kau temui kemarin itu adalah kakakku... Aku saja baru sadar dari koma."
"Hah!!??!! Koma?!" Tanya gadis itu semakin tidak mengerti alur pembicaraan Zhou Wei.
"Sudahlah. Apakah kau masih ingin disini?"
"Tidak. Siapa yang mau?!"
"Lalu hadiah yang aku dapatkan apa?" Tanya Zhou Wei pada gadis itu.
"Hadiah untuk apa?"
"Menyelamatkanmu!"
"Bagaimana kalau..." Gadis itu pun sengaja memotong perkataannya lalu berjinjit dan meraih tekuk pemuda itu seraya ia menutup matanya lalu mendekatkan wajahnya.
Semakin mendekat..
Dan...
Mendekat
Sampai bibir gadis itu bersentuhan dengan ujung bibir milik pemuda itu.
Namun pada detik kemudian....
Tinggg....
Tinggg.....
Tinggg....
Lonceng pun kembali berbunyi membuat gadis itu kesal seketika. Bagaimana tidak? Jika ia hampir saja berciuman dengan seorang pangeran namun karena gangguan bunyi lonceng yang berdentangan membuat konsentrasinya hilang.
Bukkk ....
Seorang gadis jatuh dari atas tempat tidurnya ke lantai seraya bibir mayun seakan-akan ia ingin mencium seseorang.
Gadis itu yang merasa ada yang salah dengan tubuhnya dengan cepat ia mengusap bagian yang dan...
Cetakkk!
Lampu kembali menyala menyinari seluruh ruangan.
"Zelisa... Zelisa ....bangun..." Ucap seorang gadis berkacamata berusaha membangunkan temannya.
"Eughh...."
"Hei Apa kau mimpi buruk lagi?! Bangun Zelisa!!!!" Teriak gadis berkacamata itu sambil menggoyangkan tubuhnya sehingga berhasil membangunkan si kebo.
"Hah...haha..." Gadis yang jatuh tadi yang disebut dengan Zelisa masih mengatur nafasnya karena kaget seketika.
"Mimpi buruk lagi?" Ulang gadis itu bertanya pada Zelisa.
"Sialan lho!" Bentak Zelisa.
"Kenapa?"
"Gue hampir saja mau cium pangeran tampan... Gara2 bunyi lonceng dari Hp lho gue gagal!" Terik Zelisa kesal.
"Hahaha .... Zelisa... Zelisa... Makanya jangan main game online dan baca komik mulu... Istighfar yang banyak!! Jadi kebawa mimpi kan?"
"Lho ngapain sih kasih alarm jam segini?" Tanya Zelisa kesal.
"Eh byuseet... Maaf neng gue kira tadi alarmnya jam 12 siang ...eh tau-taunya jam tengah malam hehehe..." Ujar gadis berkacamata itu sambil cengengesan.
Tinggg.....
Tinggg.....
Lagi-lagi bunyi lonceng berdentang keras membuat emosi Zelisa memuncak.
"Mati'in gak alarmnya!" Bentak Zelisa kesal.
"Iya-iya maaf." Ujar gadis itu lirih.
"Huh... padahal mimpi gue udah kayak nyata beneran ketemu sama pangeran ganteng."
"Sudahlah tidur saja...siapa tau ketemu lagi...hahaha..." Ujar gadis itu tak bisa untuk menahan tawanya.
"Sialan lho!" Teriak Zelisa sambil melempar bantal ke arah teman laknatnya.
"Ampun dah... Ampun..." Ucap gadis itu memohon ampun.
"Rasain tuh!"
"Marah Yee???"
"Bodoh amat!" Ucap Zelisa lalu mengambil guling dan melanjutkan perjalanan mimpinya.
The End.