"Daruma-san jatuh.. Daruma-san jatuh..Daruma-san jatuh". Tidak lama kemudian terdengar suara gemericik air dari belakang ku.
.
.
Beberapa jam sebelummnya...
Aku sedang menjelajahi dunia internet. Mencari tahu tentang permainan Daruma-san yang sedang hangat dibicarakan. Aku tidak percaya dengan hal hal yang berbau mistis, maka dari itu aku memutuskan untuk mencobanya.
Setelah membaca beberapa artikel tentang Daruma-san aku memutuskan untuk melakukan permainan itu malam ini. Apakah akan berhasil? Kalaupun berhasil sepertinya tidak terlalu menakutkan, itulah yang kupikirkan.
.
.
Sekarang saatnya. Aku membuka keran bathtub ku dan mulai mencuci rabutku sambil menutup mata dan duduk menghadap keran. Menurut peraturannya aku harus memanggilnya dengan berkata "Darumas-an jatuh" sambil terus mencuci rambutku.
"Daruma-san jatuh.. Daruma-san jatuh..Daruma-san jatuh". Tidak lama kemudian terdengar suara gemericik air dari belakang ku. Apakah dia sudah datang? Kenapa rasanya disini menjadi sangat dingin dan menakutkan?. Semakin lama gemericik air itu semakin kencang dan tambah kencang.
“Kenapa kamu jatuh ke dalam bathub?” akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutku. Gemericik air itu perlahan mereda. Aku membasuh rambutku dan berjalan menuju kamar dengan mata tertutup.
Permainan petak umpet itu akan benar-benar dimulai saat aku membuka mata. Dan aku tidak mau bermain pada jam segini, ini terlalu malam.
Tiba-tiba terdengar suara lonceng yang berbunyi. menandakan waktu tengah malam. Sontak aku membuka mata karena kaget mendengar suara jam yang berbunyi begitu kencang. Rasanya lebih kencang dari hari hari sebelumnya.
Mataku terbuka, jantung ku berdegup kencang. Baru kali ini aku merasa sangat ketakutan. Ku kira tidak akan semenakutkan ini.
Dengan cepat aku menyambar sakelar lampu dan menyalakan lampu di setiap ruangan. Lalu aku duduk di ruang tengah dengan tubuh diselimuti dan menyalakan televisi.
Dalam peraturannya kita diminta untuk menjauhi tempat-tempat gelap dan berair, karena disanalah Daruma-san akan muncul. Walaupun aku menjauhi tempat-tempat itu aku tetap merasa takut karena sepertinya Daruma-san mengawasiku dari kejauhan.
.
.
Sekarang sudah pagi, tapi dia belum menunjukkan dirinya kepada ku. Jangan, jangan sampai dia menunjukkan dirinya.
Aku datang ke kampus dengan rasa was-was bercampur takut dan risih. Jujur aku takut kalau tiba-tiba dia datang, aku juga risih karena merasa ada orang yang terus mengawasiku.
.
.
Dia sama sekali tidak menunjukkan dirinya sampai sekarang. Mengapa? Aku senang namun aku juga merasa sedikit aneh, apa aku takut karena artikel artikel yang kubaca tentangnya walaupun sebenarnya dia tidak ada atau karena dia benar-benar ada dan aku juga merasakannya? Namun mengapa dia tidak datang menemuiku? Atau dia sedang merencanakan sesuatu? Tapi apakah hantu dapat merencanakan sesuatu?
.
.
Aku sekarang yakin bahwa Daruma-san tidak ada. Aku berjalan ke kamar mandi berniat untuk mendi, mengingat bahwa aku belum mandi seharian ini.
Entah mengapa rasanya jantung ku seperti sedang berlari. Semakin dekat aku dengan kamar mandi rasanya aku semakin takut.
Tidak-tidak aku takut karena artikel itu bukan karena Daruma-san ada di sini. Aku meyakinkan diriku dan membuka gagang pintu kamar mandi.
Aku merasakan ada sesuatu yang menjalar di bahuku. Aku perlahan memutar kepalaku. Tangan, tangan dengan barcak darah dan kuku kuku panjang itu mempererat genggamanya.
"Tomare" seruku dengan nada seikit teriak. Aku berlari memasuki kamarku dan menguncinya.
Aku harus mengucapkan kata keramat itu agar bisa kabur darinya. Setidaknya sampai tengah malam ini.
Aku melihat jam yang melingkar di tangan ku. Sudah 3 jam aku berdiam diri di kamar. Sabar, tinggal 2 jam tersisa dan permainan akan selesai. Aku hanya tinggal diam disini saja.
.
.
Tepat jam 11 malam, tiba-tiba lampu kamar ku mati. Aku menyalakan senter handphone dan berjalan menuju sakelar lampu namun lampunya tidak mau menyala.
Karena aku merasa ada sesuatu di belakangku aku segera keluar kamar. Ternyata semua lampu di rumah ini mati. Apa sekarang sedang mati lampu? Yang benar saja mengapa harus sekarang, keluh ku dalam hati.
Aku lelah sangat lelah. Aku terus terusan mengucapkan kata "Tomare" dan berlari mengelilingi rumah. Mengapa aku tidak keluar rumah? Jika aku keluar rumah orang orang akan menganggapku aneh, aku juga tidak bisa memberitahu mereka kalau aku sedang melakukan permainan ini atau aku akan kalah.
Cukup aku tidak tahan lagi, apa aku harus menyerah sekarang? Aku tidaj kuat lagi untuk berlari. Badan ku juga sakit karena beberapa kali menabrak benda di dalam rumah ini.
Ingin sekali aku melihat jam tapi handphone ku terjatuh tadi dan juga sepertinya jam tangan ku rusak karena beberapa kali terbentur benda tajam.
Dia menjulurkan tanganya lagi di pundakku. Aku sudah tidak peduli lagi. Aku sudah menyerah. Terserah dia mau melakukan apa kepada ku. Aku sudah tidak kuat lagi untuk berlari.
terdengar suara lonceng yang berbunyi. Dengan semangat aku mengatakan "Kitta" akhirnya, akhirnya kata yang sedari tadi ingin ku ucapkan keluar juga. Akhirnya aku bebas dari Daruma-san dan permainan ini.
Lampu rumah ku menyala lagi, perlahan aku tersenyum. Aku tidak akan melakukan permainan ini lagi, tidak akan.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen yaa 💜