Roman Fantasi.
Magic book sebuah buku sihir. Akan tetapi ini bukan buku yang membuat kalian berada didunia sihir seperti Harry Poters tetapi buku itu...
Jadi enggak usah lama-lama lagi. Check this out
Happy Reading.
Tengah malam itu, seorang gadis tengah berlari menuju sebuah rumah, tapi sayangnya ia justru malah tersesat disebuah hutan.
Gadis itu memegang sebuah buku yang sangat kuno. Entah apa yang berada didalamnya, sementara tangan yang satunya memegang sebuah bulu ayam yang digunakan untuk menulis.
Terlihat sangat klasik, tapi gadis itu malah ketakutan dengan yang terjadi, dia tidak menulis apapun dibuku itu. tapi saat ia membukannya..
Gadis itu berada disebuah ujung jurang, ia dikejar sekawanan serigala. membuatnya sangat terpojok, tidak ada pilihan sekarang, Jika ia maju ia akan dimakan serigala itu. tapi ia jatuh ia akan mati.
" Siapa yang menulis ini, bahkan aku tidak ingat menulis ini" gerutunya sambil menodongkan kayu yang dibawanya agar serigala itu menghilang.
" Tidak ada pilihan lain, Keduanya sama-sama membuatku mati." Putusnya.
Ia berbalik badan dan terjatuh di jurung yang dibawahnya ada sebuah sungai besar.
Lonceng tengah malam berbunyi. gadis itu terbangun dari mimpinya.
" Tidakkk" Teriak gadis itu. memegang dadanya yang berdebar dengan kencang. Ia mengambil gelas disampingnya.
" Mimpi apa tadi, kenapa sangat mencengkam dan menakutkan."
*****
Rebecca Nathalia Fernandes, gadis yang memiliki paras cantik itu memiliki profesi sebagai model itu sekarang berumur 23 tahun. karir yang begitu matang membuatnya sangat bergelimang masalah materi. Akan tetapi dilain sisi, ia juga memiliki banyak musuh yang mengicarnya
Rebecca atau bisa dipanggil Ecca tersebut tengah berada di sebuah Villa, untuk melakukan pemotretan.
" Cukup, bagus banget untuk hari Ini, Ecca." seru sang fotografer Ecca hanya tersenyum singkat. menuju ruang gantinya.
" Mbak Din, bajuku mana ?"
" Bentar mbak, " seru sang Asisten sambil berjalan mengambil tas yang berada disekitarnya.
Sang Asisten mengambilkannya sebuah gaun simple berwarna Hijau. Gadis itu mengganti pakaiannya.
" Nggak ada yang lebih panjang mbak ?"
" Sebentar saya carikan dulu"
Setelahnya ia keluar dari tempat ganti, Ecca mengamati bayangannya yang berada di sana sedang memakai pakaian itu.
Ia membenarkannya. " Mbak Din, nggak usah pakai yang ini aja."
" Ya udah mbak kalau gitu, mari ke kamar dulu"
Ecca mengangguk, keduanya berjalan ke kamarnya. Saat sudah sampai didepan kamarnya, asistennya membukakan pintu. Menyalakan lampu disana.
" Ini kamarnya mbak, saya keluar dulu ya. Selamat beristirahat"
Setelah Mbak Dina pergi, Ecca menutup pintu dan menguncinya, menelusuri tempat itu. Sampai ia berjalan kearah balkon yang langsung ke pemandangan hutan.
Ia sangat menikmati pemandangan itu. Mengeratkan jaketnya, meninggalkan tempat itu menuju ke kamarnya.
Ecca menutup pintu penghubung ke balkon itu dan menutupnya. Gadis itu berjalan menuju kamar mandi, membersihkan dirinya.
Setelahnya ia keluar menuju keluar dari Villanya.
" Mau kemana Lo, Ecc" tanya seseorang yang berada diluar. Disana ada sang fotografernya Axel. Ia sedang menyesap kopinya dan melihat kearahnya.
*Rebecca=Rebekka. Ecc= Ek. Tapi bukan biji Ek loh ya
" Mau kedepan sebentar. Kelihatannya Ramai tuh"
" Oalah itu pedagang yang jualan disekitar sini"
" Kok banyak?"
" Gue yang minta, siapa tahu kalian pengen ngemil jadi aku panggil kesini,"
Ecca hanya mengangguk paham, berjalan kedepan.
" Heh gue kagak lo ajak gitu "
" Haddeh jangan manja deh, yuklah ikut" ajaknya.
Dengan senyum yang mengembang Axel berjalan kearah Ecca. Merangkul pinggang wanita itu.
" Ehh tangannya dikondisikan" seru Ecca sambil mencoba melepas rangkulan itu.
Axel menatapnya sambil mengerucutkan bibirnya. " Beb " Rengeknya.
Ecca yang gemas mencubit pipi Axel. " Ya ampun kok gemes banget sih, dah yok kesana"
" Ihhh"
" Stop Axel, Geli gue lihatnya" Seru seseorang yang baru dateng.
" Heleh, Iri kan ? Bilang aja nggak bisa berduaan sama pacarmu" ejek Axel.
Ecca yang berada ditengah perdebatan mereka lebih memilih mengecup bibir Axel singkat lalu berjalan kepenjual telur gulung kesukaannya.
" Ya ampunn,, yang dicium siapa yang baper siapa. " Seru salah satu wanita yang melihat mereka tadi.
" Pak, pesan telur gulungnya 20 ribu ya "
Pesannya.
" Baik mbak silahkan ditunggu dulu"
Ecca duduk digazebo dekat penjual itu.
" Mbak Ecca" Panggil salah satu staff wanita.
Ecca menoleh " Duduk sama kita aja, Mbak. Daripada sendirian "
" Saya disini aja, Lin, makasih loh tawarannya."
" Ya udah deh mbak kalau gitu, saya permisi dulu "
Ecca mengangguk menoleh kesekitarnya.
Axel yang sudah sadar akan keterdiamannya tadi memilih buat mendatangi Ecca meluk pinggang gadis itu.
Ecca menoleh kearah sampingnya, " lepas ihh. Nggak malu apa dilihatin sama yang lain"
Axel menggelengkan kepalanya. Ia memasang wajah kesalnya, melepaskannya.
" Ini mbak pesanananya"
Ujar seseorang penjual yang baru datang.
Ecca mengambilnya lalu menuangkan saus sambel disana.
" Jangan banyak-banyak nanti kamu kepedasan lohh " ujar Axel.
Ecca hanya melihatnya sekilas lalu memakan telur gulung itu. " Kamu mau ? " tawarnya.
Axel membuka mulutnya minta disuapin. Ecca hanya terkekeh menyuapi kekasihnya itu.
" Haddeh, mbak mas, mesra-mesraanya di dalam sana, bikin yang jones makin ngenes aja " ucap seseorang didepan sana.
" Syirik aja deh" balas Axel.
" Yang mau halal mah beda, bro. Rasanya dunia milik berdua yang lain ngontrak" timpal cowok disamping seseorang tadi.
Ecca yang makan tidak memperdulikan mereka baginya, dia kenyang, itu adalah hal pentingnya.
" Nggak takut gemuk, Ecc? "
Ecca menggeleng, " Enggak "
" Ecca mau makan sampai banyak juga kagak bakalan gemuk, Sat. "
" Ya juga sih, Ken"
Ecca dan Axel hanya mendengarkan sambil saling suap suapan.
Ken dan Satria memutar bola matanya, menatap keuwuan yang ada didepannya. Sedangkan yang lainnya sedang memakan makanan mereka seraya mengobrol.
Kedua pria itu adalah Kenneth Wijayanto dan Satria Prunawijaya. keduanya adalah sahabat kekasihnya.
" Aishh dah kenyang " serunya. beranjak dari tempatnya.
" Mau kemana ? " tanyanya sambil mencekal tangan Ecca.
" Kedalam, mau tidur. Kamu yang bayarin oke ? "
" Oke " Jawab Axel
Ecca mengecup bibir kekasihnya sekilas. " Selamat malam "
" Bye Bangsat, Bangke " ujar Ecca dengan tampang polosnya, membuat Axel menahan tawa. Sedangkan kedua orang yang diberikan salam itu hanya memasang wajah Cengonya.
Setelah tersadar, Kenneth menatap punggung Ecca yang sudah menjauh.
" Anjirr, Cewek lo, Xel. "
" Bisa bisanya nama bagus gue malah dibuat kayak gitu. " seru Satria tidak terima.
Axel hanya mengangkat bahunya, lalu membayar pesanannya serta yang lainnya.
*
Axel menghampiri kekasihnya yang berada dikamarnya. memeluk gadis itu dari belakang.
" Astaga " seru Ecca.
Ecca membalikkan tubuhnya, namun Axel mencegahnya.
"Jangan balik badan, gini aja "
"Why, mau lihat wajah kamu juga ? " Rengeknya.
" Nggak ya, terakhir kamu ngadep badan ke aku, kamu malah ngecup bibir aku."
jelasnya.
Ecca yang mengerti hanya tertawa. Ia suka sekali menggoda kekasihnya itu, terbukti dari dirinya yang merepatkan tubuhnya.
" Ecca" Peringat Axel.
" Iya-iya enggak kok " Ecca memajukan tubuhnya memeluk guling disampingnya.
Axel pengeratkan pelukannya. " Sayang ?" panggilnya.
" Hm ?" jawabnya.
" Good Night "
" too "
Setelah itu hanya ada dengkuran yang terdengar antara keduanyanya.
****
Hari ini hampir tengah malam, Ecca terbangun dari tidurnya. Mimpi buruknya,
Ia Merasakan ada tangan yang memeluknya. Ia yang sadar siapa pemilik tangan itu. memilih untuk menyingkirkan tangan itu.
Axel yang emang mudah terbangun, mengeratkan pelukannya.
" kamu kenapa ?" tanyanya dengan nada seraknya.
" Ecca nggak papa, tadi cuman..."
ujarnya mengantung kalimatnya.
Membalikan tubuhnya, menatap kekasihnya yang memejamkan mata.
" Aku pasti bangunin kamu ya ?" tanyanya sambil memegang rahang Axel.
Axel menggelengkan kepalanya, ia mengambil tangan itu mengecupnya, " Udah tidur lagi yuk, udah larut malam ini."
" Takut.." Gumanya lirih. Axel membuka matanya menatap kekasihnya itu. Terlihat sekali pelipisnya berkeringat.
Axel merubah posisinya untuk duduk, Menarik Ecca sehingga gadis itu juga ikutan duduk disampingnya.
Ecca menyandarkan kepalanya di dada kekasihnya itu, memeluk perutnya begitupula Axel yang memeluk Ecca.
" Udah nggak papa, aku disini kok. kamu tenang ya" ujar Axel mencium pucuk kepala gadis itu.
Axel menyanyikan sebuah lagu untuknya dan lama kelamaan ia pun tertidur kembali.
**
Pagi harinya, Ecca terbangun dari tidurnya. mendapati kekasihnya sudah tidak ada ditempatnya.
Ecca bangun berjalan menuju kamar mandi. setelahnya ia beranjak di balkon kamarnya.
Ia menatap pemandangan disana. Disana terlihat begitu sangat teduh.
" Ecca" panggil seseorang.
Ecca mencari sumber yang memanggilnya.
" Di lantai bawah. Kolam " serunya.
ia menatap orang yang disana. mengangkat alisnya.
" Gabung sini yuk " Ujarnya.
" Nggak Deh, Jes. Bisa kena amuk nanti akunya "
" Tenang aja Anggota cowok nggak ada kok, mereka lagi di kebun teh "
" Kebun teh ?"
gadis dibawah sana mengangguk.
" Ngapain ?" tanya Ecca lagi.
" Pemotretan untuk model satunya masih ada, jadi mereka kesana buat sesi foto kedua."
" Sama Kirana ?"
" Iya "
Dengan kesal Ecca beranjak dari tempatnya sedangkan gadis yang berada dibawah sana memanggil namanya.
Ecca pergi dengan berjalan kaki meninggalkan Villa itu. berjalan-jalan disekitar situ.
Siapa tahu dengan ini amarahnya bisa reda. batinny kala itu.
Ditengah perjalanan,
Ecca melihat seorang kakek-kakek yang kesusahan menyebrang. Gadis itu kasihan pada kakek itu,
Ia menghampirinya. " Mari saya bantu kek " seru Ecca.
Kakek itu menoleh, menatap Ecca heran.
" Saya akan bantu kakek menyebrang" ujarnya.
Kakek itu mengangguk. Ecca meraih tangan kakek itu, menuntunnya menyebrangi jalan itu.
Sesampainya di sebrang jalan Ecca merasa aneh dengan posisinya.
Ahh mungkin perasaannya saja. Ecca melihat kakek yang berada disampingnya. " Kalau begitu saya pamit dulu kek "
Kakek itu masih diam saja. Ecca beranjak dari tempatnya.
" Nak " panggil kakek itu.
Ecca menghentikan langkahnya. menatap kakek itu.
" Kemarilah sebentar " pintanya.
Ecca menghampiri kakek itu lagi. mengambilkan sebuah bingkisan kepadanya.
" Ini apa kek ?"
tanyanya.
" Ambil saja, anggap itu sebagai ucapan terima kasih dari kakek "
" Ehh?"
Kakek itu mengambil tangan Ecca. Menyerahkan benda itu ditangannya.
" Tapi saya.. "
" Ambil aja, kalau begitu kakek permisi "
Setelah itu kakek itu berjalan ke belokan yang disana. Ecca yang tersadar apa yang dibawanya, segera berlari mencari kakek itu, ingin mengembalikannya.
" Lohh kok enggak ada ?" gumannya ketika kakek itu tidak berada ditempatnya.
***
Hari ini sudah tengah hari. lebih tepatnya pukul 12 siang.
Terdengar alarm lonceng tanda jam 12 di jam tangannya.
Ecca berjalan seraya membawa bingkisan itu. sampailah ia disebuah taman yang begitu indah. Ia masuk kesana melihat kesan kemari.
Gadis itu duduk di salah satu kursi yang disana. semakin kedalam ia bisa melihat hamparan kebun teh yang terlihat hijau sekali.
Ecca memutuskan duduk di dekat pembatas. membuka bingkisan itu. Dengan pelan ia mengurai ikatan pembungkus itu.
Namun ada seseorang yang menepuk bahunya.
Ecca menoleh, Terlihat seorang wanita yang berdiri dengan membawa sebuah kucing.
" Siapa kamu ?" tanyanya.
" Saya Oselia, Nama kamu siapa ?" jawabnya dudk disamping Ecca.
Ecca yang tadinya ingin membuka bingkisan itu menutupnya kembali.
" Rebecca " balasnya.
" Kucingmu terlihat cantik" lanjutnya.
" Terima kasih atas pujiannya. "
" Sepertinya kamu wisatawan disini ?"
" Iya, aku ada jadwal pemotretan disini "
" Woww kamu seorang model ?"
Ecca hanya mengangguk.
" Kenapa kamu berada disini, sedangkan mereka yang disana sedang asik berfoto ?"
" Sesiku foto kemarin, sekarang tinggal gadis itu. "
Gadis disebelahnya mengangguk.
" kalau begitu aku permisi " pamit Ecca.
" Senang berkenalan denganmu"
" Aku juga "
Ecca beranjak dari tempatnya. Saat itulah Kenneth datang menghampirinya.
" Kamu kemana aja sih dicariin juga " tanyanya dengan wajah khawatirnya.
" Untung aku lihat kamu disini, kalau enggak bisa dimarahin aku sama kekasih kamu itu "
" Maaf" cicitnya.
" Kamu sama siapa ?"
" Oalah tadi sama Os..." katanya sambil melihat kebelakangnya.
" Kemana gadis yang berada di sampingku ?"
" Gadis ?" tanya Kenneth heran.
" Iya dia gendong kucing disana. Pakai..."
sebuah ingatan memasukinya. " Tunggu, Pakaian kuno ?"
" Kamu jangan aneh aneh deh, Yuklah balik "Ajak pria itu.
Tapi Ecca yang mengingatnya menjadi ketakutan sendiri. beranjak duluan dari Kenneth menuju mobil pria itu.
***
Sesampainya di villa semua orang yang disana menatapnya dengan pandangan sulit diartikan.
Mereka mengelilingi Ecca.
" Ecc, Lo darimana aja sih ?" tanya Jessika.
" Maaf tadi habis jalan-jalan sebentar, cari angin "
Axel masuk ke villa dengan membanting pintu itu, Semua orang yang disana tidak terkecuali Ecca menoleh.
Ia memeluk Ecca dengan erat. membuat Ecca memandang mereka bingung.
" Aku yang bilang tadi kalau kamu pergi dari villa nggak ngasih tahu kita. " Ujar Kenneth angkat bicara.
Ecca hanya menggangguk saja, membalas pelukan kekasihnya. Ia merasa bajunya basah. Ecca menguarai pelukan itu mencoba melihat Axel, tapi pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya.
" Please Be, jangan ngilang dong " ujarnya dengan serak.
Mereka yang berada disana tahu akan situasi itu memilih untuk beranjak dari sana menuju kolam belakang.
" Enggak ngilang kok, kan disini ada aku sekarang, Aku juga nggak ngilang beberapa hari kok "
Axel menatap kekasihnya itu, memengang bahu Ecca. " Nggak ngilang beberapa hari ? " tanyanya dengan penuh selidik.
Ecca mengangguk.
Axel memutar bola matanya. " Tetep aja, sayang. aku kan khawatir jadinya. "
Gadis itu tersenyum, " Yang penting kan aku udah disini"
Axel menarik kekasihnya ke ruang keluarga yang berada di lantai atas.
****
Setelah kejadian itu rombongan Ecca dan semua yang berada disana pulang ke Jakarta kembali. Ecca yang duduk di mobilnya membuka bingkisan kemarin.
Mulai menguraikan ikatan itu, disana ada sebuah buku.
Tunggu bukankah ini buku yang dimimpiku kemarin , batinnya.
Ecca mengambil bulu yang terlihat ada tintanya. Ia memasang wajah herannya.
" Kenapa Sayang ? " tanya Axel.
" Enggak.. Aku cuman heran aja. Bukannkah inii"
Axel menoleh menatap barang yang dipegang kekasihnya itu.
" Kamu dapat dari mana ?" tanyanya.
" Dari kakek yang aku tolong kemarin. " Jawab Ecca.
Gadis itu dengan ragu membuka isi buku itu. Tapi cahaya silau dari sana membuat mobil yang dikendarai oleh Axel oleng kesamping hingga menabrak Sebuah pohon.
Ecca masih bisa menatap Axel yang duduk disana menatapnya, namun lama kelamaan ia merasakan sebuah kantuk dan akhirnya iapun tertidur.
Sedangkan Axel terus memanggil Ecca. Tapi tidak ada sahutan.
Axel keluar dari mobil itu dengan mengendong Ecca. Sesampainya di luar, Mobil itu meledak. Buku yang dipegang oleh Ecca tadi ikut terbakar bersamaan dengan mobil itu. tapi tintanya masih dipegang oleh Ecca.
***
Ecca dilarikan kerumah sakit dengan luka pada sisi tangannya. Axel masih berharap cemas akan keadaan Ecca yang berada disana.
Seorang dokter keluar dari UGD tersebut, Axel menghampiri dokter tersebut. " Bagaimana keadaannya dok ?"
" Anda wali pasien ?"
Axel mengangguk, " Saya tunangannya dok. "
" Keadaan pasien baik-baik saja, kemungkinan pasien mengalami syock sehingga ia pingsan tadi,"
" Pasien akan di pindahkan keruang rawat, kalau begitu saya permisi dulu mas" lanjutnya.
Axel mengangguk.
Ecca dibawa oleh suster ke ruang rawat inap. Axel mengikuti mereka.
Setelah suster selesai memindahkan Ecca, Axel diperbolehkan untuk menjenguknya.
Pria itu membuka pintu itu, menutupnya kembali.
Menghampiri Ecca yang tertidur. Axel mengelus dahi Ecca.
" Cepet sembuh dan bangun ya, aku kangen sama kamu " ujarnya.
Sebuah ketukan pintu membuat Axel menoleh.
" Ada apa ya sus ?"
tanya.
" Maaf mas, ini barang pasien yang ikut terbawa di UGD tadi, siapa tahu penting " jelasnya.
Axel menatap buku dan bulu itu, ia memandang dengan perasaan herannya. bukannya buku itu ikut terbakar dengan mobil tadi.
" Mas ?" panggil suster itu, sambil melambaikan tangannya.
" Ehh iya sus, makasih ya " seru Axel mengambil buku itu.
Suster mengangguk, lalu pergi dari tempat itu.
***
Tangan gadis itu bergerak, seiring dengan matanya yang terbuka. Ia merasakan semilir angin ditubuhnya.
Ia memandang sekitarnya, ia mencoba merubah posisinya menjadi duduk.
" Dimana ini kenapa aku bisa ada disini ? Bukankah aku mengalami kecelakaan tadi ?" batinnya
" Axel " Teriaknya. Namun tidak ada sautan.
Rebecca, gadis itu adalah dirinya. dia sekarang berada disebuah taman dengan begitu banyak Bunga yang bermekaran.
Ecca beranjak dari tempatnya. Keluar dari taman itu, mencoba mencari Axel.
Ia celingak celiguk kesana kemari sampai akhirnya ia berada di tepi jalan.
Sebuah mobil yang dikenalnya melintas didepannya. Ecca mencoba melambaikan tangannya disana.
Sampai akhirnya mobil itu berhenti didepannya. Orang yang berada di mobil itu keluar menghampirinya.
" Axel" Panggilnya dengan penuh antusias, ia memeluk gadis itu. Namun ada seseorang dibelakangnya, menghempaskannya hingga dia terjatuh.
" Maaf anda siapa ? " Ujar wanita itu.
" Oselia " cicitnya, gadis didepannya ini adalah gadis yang sama yang menghampirinya dulu.
" Beraninya kau memeluk tunanganku " geramnya
" Tunangan ?" Ulang gadis itu.
" Ya benar saya adalah tunangannya, kamu siapa ha?" Ujar wanita itu.
Ecca berdiri dengan pelan kakinya sekarang amatlah sakit. Ia mencoba meminta tolong, akan tetapi Axel hanya menatapnya sambil terdiam.
" Axel ini aku, Oselia apa yang kau lakukan, kau tahu bahwa dia adalah milikku " ujar Ecca.
" Milikmu? Apa kau sedang mimpi " marahnya sambil mendorong Ecca sampai terjatuh kembali.
Ecca memandang Axel dengan pandangan berkaca kaca.
Kenapa aku merasakan sakit, ketika melihat dia seperti itu, batin Axel.
Ecca sudah berdiri dengan kaki yang dipegangnya. memandang orang didepannya, " Axel ini aku Rebecca calon Istri kamu "
" Maaf, apa kamu kenal dengan saya ?" tanya Axel.
Pertanyaan itu bagaikan sebilah pisau yang menyanyat hatinya.
" Apa kita pernah bertemu sebelumnya ?" Ulangnya.
Dengan mata yang berkaca-kaca Ecca mengangguk. Ecca hanya bisa tersenyum kecut. Sungguh gadis yang berada disana itu tidak tahu malu.
" Babe, ayo pulang. Mama udah nungguin kita " Rengek wanita itu sambil melingkarkan tangannya ditangan Axel.
" Please, jangan lupain aku" gumannya pelan.
Akan tetapi sepertinya itu hanya sebuah anggan, karena wanita itu menarik Axel menuju mobil mereka.
Ecca sempat berkontak mata dengan Axel. tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Pandangannya mengabur, setelah itu terjatuh. setelah itu ia merasa berada disebuah tempat yang begitu gelap.
" Hutan ?" Cicitnya.
Ecca berdiri ditempatnya berpijak. Ia melangkah menjauh dari tempat itu. Ia mendengar sebuah geraman dari binatang buas.
Ia mematung ditempatnya tidak berani menoleh kebelakangnya.
Dengan keberanian yang dimilikinya, Ecca berlari dari tempat itu dan benar saja saat ia menoleh, banyak sekawanan serigala yang mengejarnya.
Ecca terus berlari, ia menabrak akar pohon, membelah semak belukar yang berada didepannya, menginjak ranting bahkan sebuah duri.
Sampai ia tersandung sesuatu. ia mengambilnya
" Bukankah ini buku yang waktu itu, kenapa berada disini " Batinnya sambil melihat barang itu.
Serigala itu semakin mendekat dibelakangnya, tapi tiba-tiba ia telah berpindah posisi di atas sebuah pohon.
Ecca menghembuskan nafasnya lega. akan tetapi ia masih keheranan, bagaimana ia bisa berada disini.
Ecca menundukkan untuk membuka buku itu. matanya membulat membaca setiap kata yang berada disana.
Siapa yang menulisnya? batinnya bertanya.
Ecca menghembuskan nafasnya kasar. tadi ia berada dihamparan padang rumput dengan cahaya matahari yang menyengatnya. Sekarang ia berada disebuah hutan dengan penuh kegelapan.
Ia menengok kebawah, Kawanan serigala itu masih berada dibawahnya.
Tidak terasa Ecca menuliskan sesuatu di buku itu.
Seandainya saja serigala itu menghilang, dan sebuah cahaya membuatku bisa keluar dari sini. tulisnya.
Namun Ecca tidak menyadarinya karena tulisan itu telah menghilang.
Ecca turun dari dahan pohon itu. berjalan mengikuti cahaya yang berada didepannya.
***.
Belum sampai ia menjangkah ke cahaya itu. serigala menghadang jalannya. membuatnya berlari menjauh, sampailah ia berada di tepi jurang.
Ini seperti mimpiku, apa aku sedang tertidur dan memimpikan ini lagi. Batinnya.
Ecca merasa terpojokan sekarang, ia menatap sekitarnya. pandangan serigala itu membuat nyalinya menciut.
Gadis itu berjalan mundur, sampai tidak terasa ia sudah berada ditepi jurang itu.
Tidak sengaja ia memandang bawah jurang itu. ia bergidik ngeri.
Ecca mencoba berfikir apa yang harus dilakukannya. Akhirnya ia melempar batu yang berada dibawahnya ke serigala itu.
Serigala itu tidak beranjak dari tempatnya padahal ia melemparnya. akhirnya Ecca melempar buku yang berada ditangannya tanpa sadar.
Saat memandang disana Ecca melihat ada seseorang yang menulis sesuatu lagi sampai akhirnya ia berada disini.
Serigala itu dengan buas menyobek-nyobek buku itu sampai tidak berbentuk. Ecca menciba berlari kesisi kanan sayangnya serigala itu mengikuti arahnya. kekiripun sama saja.
" Jika aku ketengah aku akan mati, jika kebelakang akupun akan mati."
" Meskipun ini mimpi rasanya sama saja, menakutkan" lanjutnya.
Semakin Serigala itu mendekat kearahnya, keringat dipelipisnya semakin banyak, dan akhirnya ia terjatuh dari jurang itu. Hewan buas itu bahkan dipinggir jurang memandang kebawah seolah mereka tengah melihat Ecca yang terjatuh.
Seekor serigala besar terjun dari jurang itu. Ecca memejamkan matanya, berharap serigala itu tidak akan mencabik-cabik tubuhnya diudara.
Namun ia merasakan sebuah dekapan disana, sangat erat sekali, membuatnya sangat nyaman.
Ecca melingkarkan tangannya disana. ia membuka matanya, disana hanya ada seorang yang amat sangat dicintainya.
" Axel ?" cicitnya.
" Maaf " ujarnya penuh sesal sampai akhirnya tubuh keduanya jatuh terkena air sungai. Membuat kedua tubuh sejoli itu terombang ambing didalam air, menuju air terjun yang berada tidak jauh dari tempat itu.
***
Dilain sisi Axel sedang menulis kata terakhir di buku klasik itu.
Nafas Ecca sangat tidak teratur, membuat Axel khawatir.
Pria itu mengelus tangan Ecca yang berada disampingnya.
" Sayang,, Ecca ?" panggilnya.
" Axel " panggilnya dengan mata yang terpejam.
" Iya sayang aku disini " ujarnya. mendengar itu Ecca terbangun dari mimpinya.
Memandang Axel. matanya sekarang berair.
" Hey kamu kenapa, kok nangis ?" tanyanya sambil menghapus air mata Ecca.
" Ja-jangan tingaliin aku ya ? Kamu nggak akan lupa sama aku kan ?"
Axel tersenyum, " Mana bisa aku lupa sama kesayangan aku ini dan aku tidak akan ninggalkan kamu." ia mengelus tangan Ecca.
gadis itu mencoba duduk, Axel yang mengerti membantu Ecca untuk duduk.
Ecca masih memegang tangan Axel, takut kekasihnya itu menghilang seperti apa yang ada dimimpinya tadi.
Axel beranjak dari tempatnya, Ecca terus memandangnya, sampai pandangannya jatuh ke arah buku dan tinta itu.
Ecca mencoba meraihnya. ia kesusahan mengambilnya. Axel yang baru tiba disampingnya membantunya mengambilnya.
" Nihh diminum dulu " ujarnya.
" terima kasih." balasnya.
Ecca mengambil gelas itu lalu meminumnya, akan tetapi air itu terjatuh di lembar kertas disana.
" Ecca, Jika suatu hari nanti aku tidak bersamamu dan bersama orang lain, atau mungkin mantanku yang bernama Oselia, aku akan tetap meminta tuhan untuk menyimpan perasaan yang berada di benak dan pikiranku hanya untuk kamu "
" Jika Suatu saat kamu tersesat disebuah hutan yang gelap dan dikerjar sekawanan Binatang buas, aku berharap akan ada keajaiban, yaitu sebuah cahaya yang sangat terang disekitarmu, yang membuat binatang buas itu mengilang"
" Akan tetapi jika kamu masih mendapat kendala menuju cahaya itu, dan kamu berada ditepi jurang, dan tidak ada pilihan selain jatuh disana. aku meminta salah satu hewan itu adalah aku, yang ikut terjun didalam air itu. mendekap kamu dan mati bersamamu. Axel "
" Dan aku berharap itu mimpi yang membuatmu terbangun dan kembali dalam dekapanku disini" sambung Axel membaca bait terakhir itu.
Ecca mendongakan kepalanya menatap Axel.
" Terima kasih" ujar Ecca.
" Makasih buat ?" tanyanya.
" Buat kamu yang membantuku didalam mimpi burukku tadi "
" Mimpi buruk ?"
Ecca menunjuk tulisan itu, " Tulisan kamu ini, sama persis dengan mimpiku tadi dan yang berapa waktu lalu. "
" Beberapa waktu lalu aku memimpikan hal yang sama tapi hanya dibagian pas ditepi jurang saja" lanjutnya.
Axel mendengarkan hal itu, mencoba percaya dan tidak, namun melihat keseriusan yang ada disana, pria itu mendekap Ecca.
" Maaf "
" Sepertinya buku ini membuat kita melengkapi mimpi yang kita alami."
***
END