Hari itu sudah tiba jam makan siang, jam dinding menunjukkan jam 12 tepat. Nadja dan beberapa orang temannya bersiap untuk keluar makan siang tapi sebelum itu Nadja ingin terlebih dulu ke toilet.
Keluar dari toilet perempuan, Nadja berpapasan dengan Mba Eri yang bergantian dengannya masuk ke dalam. Mba Eri nampak terburu-buru sampai dia tidak menegur Nadja.
"Mba Er, mau maksi bareng ngga?" dari luar pintu toilet Nadja menunggu sebentar, menawarkan makan siang bersama.
"Ngga, duluan aja," jawab Mba Eri dari dalam toilet. Suaranya terdengar datar tanpa intonasi.
"Ok deh klo gitu gue duluan ya Mba,"
"Nitip gorengan 20 ribu," lanjut Mba Eri masih dari dalam toilet.
"Siapp. Gue berangkat ya," pamit Nadja sebelum pergi, dan tanpa menunggu jawaban dari Mba Eri Nadja langsung pergi karena Caca dan Inna sudah menunggu.
Sepulang makan siang, Nadja langsung naik ke lantai 2, ke ruangan Mba Eri untuk mengantarkan gorengan titipannya. Nadja sampai di meja Mba Eri tapi mejanya kosong dan rapi, seperti tidak dipakai untuk bekerja. Nadja berpikir mungkin Mba Eri sedang keluar meeting. Nadja akhirnya berinisiatif untuk meletakkan saja gorengan yang dibawanya di meja.
"Apaan tuh Nad?" tanya Diana, salah seorang staff divisi humas yang duduk di sebelah Mba Eri.
"Gorengan, tadi Mba Eri nitip,"
Diana mengerutkan dahi, dia nampak bingung.
"Mba Eri kan hari ini ngga masuk, lagi kurang enak badan katanya," jelas Diana yang justru membuat Nadja bingung.
"Masa sih? Tadi gue ketemu dia di toilet,"
"Iya.. Masa gue bo'ong sih, kalo ngga percaya telpon aja,"
Nadja menuruti saran Diana untuk menelpon Mba Eri, dan ternyata benar Mba Eri hari ini tidak masuk ke kantor karena tidak enak badan.
"Terus siapa donk yang tadi nitip gorengan ke gue?" tanya Nadja penasaran.
"Coba aja lo tanya ke divisi lain,"
"Ok deh, thanks ya Di,"
Karena penasaran, Nadja memutuskan mengikuti saran Diana. Dia berkeliling ke 5 divisi lain untuk bertanya perihal gorengan, tapi usahanya sia-sia. Tidak ada satupun yang mengakui hal itu.
Nadja kembali ke ruangannya dan kembali bekerja, mencoba menepikan rasa penasarannya sampai akhirnya pekerjaannya selesai tepat sebelum maghrib. Tidak mau mengulur waktu, Nadja membereskan mejanya dan bergegas keluar ruangan.
Nadja menyusuri koridor kecil yang sepi menuju lobby, lagi-lagi sekelebat Nadja melihat Mba Eri sedang berjalan melewati meja resepsionis.
"Nah, itu Mba Eri!" gumam Nadja.
"Mba! Mba Eri! Mba Eri!" Nadja mempercepat langkahnya mengikuti Mba Eri yang ternyata masuk ruang meeting yang letaknya tidak jauh dari lobby.
"Mbak Er.." ucapnya sambil membuka pintu ruang meeting, tapi seketika lidahnya kelu, tubuhnya kaku, saat melihat sosok di ruang meeting.
Sosok berjubah putih menutupi seluruh tubuh, dengan rambut panjang terurai, berwajah rata arahnya tanpa bola mata seperti sedang menatap ke arahnya.
======== END =======
Oke, tiga cerpen bertema horror udah coba gue buat meskipun mungkin kurang horror. It's b'coz sebenernya gue bukan tipe orang pemberani sama hal-hal berbau hantu. Cuma entah kenapa gue tertarik bikin tulisan yang berbau horror. Dan semakin sering gue berimajinasi atau mengingat-ingat cerita hantu, rasanya gue semakin jadi penakut 👻👻👻