"Teman, Hamadha akan masuk ke Astana Argapuri. Lakukanlah sesukamu, Handharu!” perintah Adhijaya kepada Handharu yang tak terbantahkan lewat hand phone.
“Jangan khawatir, Sobat! Siap laksanakan!” Handharu membalasnya dengan sigap.
Kemudian Adhijaya mengirimkan pesan serupa kepada sahabatnya yang lain.
+++++
Handharu Destakarna merupakan satu dari 7 sahabat Armada Kanoman Adhijaya. Pertemanan mereka terjalin karena harta. Adhijaya memberikan uang 100 juta kepada Handharu ketika ia harus melunasi hutangnya pada lintah darat bernama Boma Govardhana.
Adhijaya semakin senang dengan Handharu karena Boma kemudian ikut ke dalam Geng Adhijaya. Karena tau kekayaan orangtua Adhijaya, kemudian Boma mengajak sahabatnya yang bernama Pandekerta Tantragama untuk bergabung.
Tantra teringat kepada saudaranya yang menganggur. Lalu ia mengajak Namo Modadhana masuk ke dalam Geng Adhijaya. Kemudian berturut-turut adalah Bendhe Yudhatama, Kala Majapura, Jinggo Pramodhata, dan Untung Garboja melalui audisi ajang pencarian bakat beladiri.
Kemudian, Adhijaya sendiri yang menggembleng mereka sehingga semakin bertambah kemampuannya.
+++++
Handharu tiba di pos pengintaian terdepan. Ia melihat Hamadha Bharabhudhura bersama kudanya sudah berjarak 1,2 meter lagi sampai di gerbang Astana Argapuri.
“Teman, ada Hamadha tuh!” hand phone Handharu mengirimkan pesan kepada Boma yang sudah di balik gerbang yang berbentuk gunungan wayang.
“oke, Bro. Mangsa kita datang! Haha ….” balas Boma memakai hand phone bertanduknya.
Sementara itu Hamadha melambatkan laju kudanya. Ia merasakan ada sesuatu yang tak beres mengikutinya dari belakang. Desiran angin membawa kabar tak sedap itu.
“Handharu mau membokongmu. Waspadalah, Hamadha.” Angin berkata lirih mengingatkan Hamadha.
“Terima kasih, Maruta.” Balas Hamadha sembari menambahkan kewaspadaannya. Maruta merupakan pemimpin kawanan angin.
Hamadha kemudian turun dari punggung kuda. Ia berjalan sembari menuntun kudanya yang tampak melindunginya.
“Hamadha, aku akan melindungimu.” Turangga berkata lirih. Turangga adalah seekor kuda putih yang sedang bersama Hamadha.
+++++
Hamadha Bharabhudhura dianugerahi kemampuan mumpuni oleh Sang Hyang Kuasa sehingga ia bisa berbicara dan mengendalikan angin dan binatang. Ayahanda Ki Ageng Udhara dan ibunda Dyah Maharani merupakan pasangan pendekar terkenal seantero pantai selatan Jawa Tengah. Mereka mendirikan Padhepokan Cakratungga dengan ilmu turun temurun dari eyang buyutnya, Ki Ageng Cakra Sudharsana.
+++++
Handharu tak sabar dengan kelambatannya Hamadha. Ia menyerang Hamadha dengan ajian Jaring Laba-labanya dari belakang. Ia yakin bisa menangkap Hamadha hidup-hidup.
Namun keyakinan Handharu tidaklah terbukti. Hamadha bisa lolos dari serangannya karena sudah mendapatkan peringatan sebelumnya dari Maruta dan Turangga.
“Sial! Semoga saja Boma bisa mencegatnya!” umpat Handharu karena kegagalannya.
Handharu pun sontak kembali ke pos pengintaian secepatnya. Ia sebenarnya gelisah pada pembalasan Hamadha. Namun pikiran itu ditepisnya jauh-jauh setelah melihat Hamadha berjalan semakin dekat dengan gerbang Astana Argapuri.
“Hamadha! Jangan berani-berani kau masuk Astana! Rasakan ini!” Boma menyerang Hamadha dengan tongkat baja hitamnya.
Boma semakin brutal sehingga Hamadha lebih meningkatkan kemampuan beladirinya. Tak berapa lama kemudian Boma tersungkur dan tongkatnya terlempar hingga ke pos pengintaian.
“Ambil tongkatmu sana dan temui temanmu di pos sana!” perintah Hamadha kepada Boma yang berlari ketakutan menuju pos pengintaian.
Kemudian Hamadha memasuki Astana Argapuri untuk menemui Jenar Ayundha Putri. Hamadha sangat bahagia melihat Jenar baik-baik saja.
“Jenar, I love u.” kata Hamadha sembari tersenyum.
“I love u too, Hamadha.” Balas Jenar sembari tersenyum lalu memeluk Hamadha.
Hamadha kemudian balas memeluknya lebih hangat sehingga memunculkan selubung pelindung bagi mereka berdua. Karena kebahagian Hamadhalah, maka selubung pelindung itu muncul sehingga membentengi mereka dari segala penglihatan dan marabahaya yang ditimbulkan oleh makhluk-makhluk yang jahat.
Tempat perjumpaan Hamadha dan Jenar pun mendadak berubah sebagaimana di sebuah telaga berair bening dengan latar perbukitan hijau.
+++++
Boma dan Handharu sampai di Astana Argakerta. Mereka melaporkan kepada Adhijaya bahwa Hamadha sedang berduaan di Astana Argapuri.
“Kerja kalian tak becus! Kalian pembohong! Hamadha sama Jenar tak ada di Argapuri!” Adhijaya marah karena melalui ilmu Terawangannya, Hamadha dan Jenar tidak tampak.
“Aku tak bohong, teman.” Boma membela diri.
“Aku melihatnya Hamadha masuk ke dalam Argapuri, teman.” Handharu menjelaskan kepada Adhijaya.
“Ya sudah! Kita buat perhitungan lain kali lagi!” ucap Adhijaya ketika ia sudah menjauh 2,5 meter dari kedua temannya itu.