Jenar Ayundha Putri sangat terkejut ketika matanya melihat ada bekas darah selebar daun waru muda di celananya.
“Astaghfirullooh ....”
Jenar berkata lirih memohon ampun pada Sang Hyang Kuasa. Ia baru tersadar bahwa ketika tidur ia pasti melepas ajian Pagar Ghaib yang melindunginya. Karena itu memang sudah seharusnya.
“Kok bisa begini? Ada apa ini? Siapa yang telah melakukannya, Adhijaya?!”
Jenar terus bertanya berharap dapat jawaban dari kekasihnya, Armada Kanoman Adhijaya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamarnya. Tapi yang dicarinya tak ada.
Tiba-tiba Jenar merasakan badannya lunglai. Ia berusaha akan duduk di kasurnya. Tapi badannya lemas sehingga usahanya gagal. Ia kembali hanya bisa berbaring di kasur miliknya.
Jenar, seorang pendekar murid Ki Ageng Dhananjaya, tak menyerah begitu saja. Ia berusaha dengan sekuat tenaganya untuk menggerakkan tangan kanannya. Tapi sia-sia juga.
“Jenar, aku di sini!” suara lirih terdengar di telinga Jenar.
Matanya mencari-cari sumber suara. Kemudian terlihat olehnya ada seorang laki-laki berada di sampingnya. Tapi Jenar sangat yakin, laki-laki itu bukanlah Adhijaya.
“Hamadha? Kok kamu di sini?” Jenar keheranan mendapati pemuda asal Gadatapa itu bersamanya.
“Haha ..... lupakah kau, Jenar? Hamadha tertawa lirih mendengar pertanyaan perempuan asal Purwakerta itu.
Jenar tak sadarkan diri mendapati kejadian yang tak diduganya. Dalam mimpinya, ia teringat kebersamaannya dengan Hamadha Bharabhudhura.
Dengan menunggang kuda putih setinggi 2,2 meter, mereka berdua dari Astana Argapuri menuju Curug Cipendok lalu kemudian Andhang Pangrenan. Berakhir di Astana Argapuri lagi.
Astana Argapuri merupakan rumah hadiah dari orangtua Jenar yang pengusaha kaya raya. Astana ini terletak di puncak tertinggi kedua di Perbukitan Tumiyang sehingga pemandangannya sungguh indah. Memang tak sebagaimana wajarnya bahwa keluarga Jawa melakukan hal tersebut. Namun karena high trust pada anak perempuan tunggal itulah ayahanda Adhiguna Sastrabahu dan ibunda Dyah Purbasari memberikan rumah.
Dalam rumah yang bebas merdeka itulah Hamadha bisa tidur bersama dengan Jenar. Lebih tepatnya tertidur, tanpa sengaja, tanpa direncanakan sebelumnya. Benar-benar kecelakaan sejarah bagi Jenar dan juga Hamadha. Seorang Adhijaya saja yang jelas-jelas kekasihnya tak pernah sekalipun tidur bersamanya. Meski sering ke rumahnya, tapi Adhijaya tak pernah sekalipun memeluk dan menciumnya.
Namun sebelumnya, Jenar ingat bahwa ia bersama Armada Kanoman Adijaya, di Astana Argapuri. Bagaimana kemudian Adhijaya tergantikan oleh Hamadha, ia tak ingat lagi.
Sedangkan Hamadha Bharabhudhura tak ingin berlama-lama di Astana Argapuri, kemudian ia segera membopong tubuh Jenar Ayundha Putri dengan sangat hati-hati. Ia tak ingin menambah sakit yang tengah diderita kekasih hatinya itu. Kemudian ia membawanya pergi dari Astana Argapuri itu ke arah timur. Tujuannya hanya satu: Argakerta.
+++++
“Kurang ajar kau, Hamadha! Jangan merasa menang dulu! Aku pasti bisa mendapatkan Jenar kembali! Bagaimana pun caranya!”
Armada Kanoman Adhijaya sangat marah ketika tak mendapati kekasihnya, Jenar Ayundha Putri, di dalam kamarnya. Sebenarnya ia sangat malu, karena ia teringat bagaimana Hamadha Bharabhudhura telah mempengaruhi Jenar Ayundha Putri dengan ajian Pengasihan dan sekaligus membuat Adhijaya lemah tak berdaya. Sehingga kemudian Hamadha dengan leluasa membawa Jenar pergi meninggalkan Astana Argapuri.
“Tuan Adhijaya!” Adhijaya mengurungkan niatnya untuk menaiki kudanya yang setinggi 2,22 meter ketika ia mendengar seseorang memanggilnya. Ia mendapati ada seorang perempuan tua sudah berdiri tak jauh darinya.
“Iya, Bibi ada apa nggih?” tanya Adhijaya dengan ramah meski raut mukanya tampak sedih. Ia tidak begitu kenal dengan bibi Jumi meski beberapa kali melihatnya di Astana Argapuri untuk urusan bersih-bersih.
“Aaa ...nu, Tuan. Saya tak sanggup mengatakannya pada Tuan. Maaf .....” Bibi Jumi kemudian memberikan secarik kain yang ternoda darah kepada Adhijaya. Setelahnya, ia pergi meninggalkan Adhijaya begitu saja.
“Bibi ..... apa ini?” Adhijaya menerima kain tersebut dan tak ada niat untuk meminta penjelasan dari bibi Jumi. Kemudian ia menyimpan kain tersebut di saku celananya. Lalu ia cepat-cepat menghela kudanya menuju arah timur. Tujuannya hanya satu: Argakerta.
+++++
Singkat ceritanya.
Jenar Ayundha Putri sudah siuman ditengah perjalanan. Ia mengajak Hamadha menuju Astana Argakerta, rumah hadiah dari orangtuanya Adhijaya. Sebagai kekasihnya Adhijaya, tentu Jenar sering ke Astana Argakerta. Rumah ini bisa dibilang rumah yang bebas merdeka karena high trust ayahanda Dhanakerta Wijayaharta dan ibunda Dyah Kartinah kepada anak laki-laki bungsunya itu.
Akhirnya, Hamadha Bharabhudhura dan Armada Kanoman Adhijaya berjumpa di Astana Argakerta. Jenar mengakui ia sudah ternoda oleh Hamadha. Adhijaya sangat mencintainya dan juga tidak terima akan kejadian memalukan itu. Hamadha sudah mengutarakan rasa cintanya kepada Jenar dan tak merelakannya untuk laki-laki lain.
Karena itulah maka tak ada pilihan lain selain duel: Adhijaya vs Hamadha yang berlangsung di ruang terbuka hijau di dalam kompleks Astana Argakerta. Hamadha dikenal sebagai pendekar murid dari Ki Ageng Erucakra. Adhijaya juga dikenal sebagai pendekar murid dari Ki Ageng Dasacakra. Kedua guru tersebut merupakan kakak beradik, keturunan Ki Ageng Cakra Sudharsana atau dikenal dengan Wangsa Cakra.
“Bedebah kau, Hamadha!” Adhijaya murka. Ia menerjang Hamadha dengan kemampuan sepenuhnya.
“Jaga mulutmu, Adhijaya!” Hamadha tidak terpancing emosinya. Ia hanya meladeni setiap serangan Adhijaya.
Dalam duel selama 66 menit, baik Hamadha maupun Adhijaya tak ada yang bisa mengalahkan. Pun tak ada yang bisa sebagai pemenang. Karena itulah Jenar jadi panik. Ia kemudian meninggalkan tempat duel tanpa sepengetahuan Adhijaya dan Hamadha. Ia menunggang kuda hitam milik Adhijaya menuju Astana Argapuri.
Tak berapa lama, Hamadha merasakan desiran angin kepergian Jenar. Sehingga ia cepat-cepat melumpuhkan Adhijaya dengan ajian Sirep level tertinggi.
Adhijaya tak siap sehingga terlambat oleh serangan itu. Ia kalah dua kali. Ia melihat Hamadha memacu kuda putihnya keluar dari Astana Argakerta. Ia tak melihat Jenar di gelanggang tarung.
“Kali ini aku mengaku kalah, Hamadha. Kejarlah Jenar jika kau mampu! Haha ....!” teriak Adhijaya sembari tertawa meski ia lumpuh.
Adhijaya kalah tak berdaya.