Sebuah fiksi...
Kupersembahkan untuk semua orang..
Selamat membaca.
Pandangan Petro tertuju pada langit yang menceritakan banyak peristiwa dalam imajinasinya. Awan yang indah, bentangan biru langit yang menawan, serta terik matahari merupakan perpaduan khusus yang memberikan suasana nikmat untuk tidur lelap, dibawah pohon pinus yang berdiri tegak dan menjulang ke langit.
Sesekali pandangannya tertuju pada kedua adiknya yang tertidur lelap disampingnya. Setelah memastikan tidak ada nyamuk atau serangga yang mengganggu tidur adiknya, dia kembali menatap langit sambil menghela nafas panjang.
“sungguh indah ciptaan Tuhan.” pujinya dengan suara yang lembut.
Kemudian, dia tiba-tiba berdiri dan teringat sesuatu yang dibawa dari rumah sepertinya hilang entah kemana. Dia kaget, menjerit dan mencoba mengingat-ingat dengan berjalan mondar-mandir. Kedua adiknya yang tadi tidur terbangun karena terkejut.
“ada apa kak? Apakah kerbau kita hilang lagi?”
teriak Pahala, adik tertua Petro yang masih dalam keadaan mencoba untuk mengucek-ucek matanya dan menormalkannya. Dia terus berusaha untuk melihat ke arah ladang untuk memastikan apakah kerbau mereka disitu atau tidak.
Tidak ada jawaban dari Petro. Dia masih terus mondar-mandir sambil mengingat-ingat barang apakah yang telah hilang itu. Sedangkan Popo adik terkecil Petro, berjalan beberapa langkah dari tempat mereka tertidur tadi, sambil menghitung kerbau yang sejak tadi asyik menikmati rumput hijau yang ada di ladang tersebut, dengan telunjuk jarinya, “1, 2, 3, 4, 5, ada dua anak-anak dan ada tiga yang besar. Berarti kerbau kami disini semua.”
Dengan tersenyum manis, dia kembali lagi ke tempat semula
“kak, kerbau kita semuanya disitu kok.” Teriak Popo semangat.
Pahala yang mendengar itu bernafas lega. Namun tak begitu dengan Petro, dia tetap berjalan mondar-mandir seperti orang yang kesurupan. Sesekali dipukul kepalanya dengan tangannya sendiri sambil berkata-kata “ingat, ingat, ingat” Pahala dan Popo merasa ada yang janggal dengan tingkah kakaknya.
“kaaak...”
Suara Popo tampak bergetar ketakutan dan menggenggam erat tangan Pahala. Pahala hanya terdiam tetapi dia terus memperhatikan tingkah kakaknya. Kemudian dia menerka-nerka dalam hati “Tidak mungkin kakakku ini kesurupan, ini kan masih siang, katanya tidak ada hantu kalau siang. Ahh, tidak mungkin.” Pahala terus meyakinkan dirinya bahwa kakaknya tidak kesurupan.
Tiba-tiba, Petro langsung terdiam. Dia tidak lagi mondar-mandir dan berkata-kata sendirian. Kali ini pandangannya dengan tajam tertuju pada kedua adiknya, sangat tajam. Tangan Popo bergetar semakin kuat, wajahnya pucat dan matanya berkaca-kaca. Pahala yang tadinya berusaha bepikir positif menjadi benar-benar ketakutan. Dia memejamkan matanya dan berusaha tidak menatap kakaknya dengan memeluk Popo yang semakin gemetaran.
Karena melihat adiknya berpelukan, terlintas dalam ingatan Petro bahwa sebelum berangkat menggembalakan kerbau, dia membawa buku budi pekerti yang mana di sampul buku tersebut ada gambar orang-orang yang berpelukan sebagai tanda saling mengasihi.
“Ohh iya, tadi kan saya bawa buku budi pekerti biar bisa dibaca-baca di ladang ini.
Kalian tadi lihat gak dek buku kakak itu?”
Pahala terkejut dengan ungkapan kakaknya tersebut, kemudian dengan perlahan dia melepas pelukannya dan kembali menatap Petro.
“Kakak gak kesurupan kan?”
"Aduh dek, kok malah bilang kakak kesurupan, kakak hanya cemas dan bingung saja sejak tadi soalnya aku kayak merasa ada yang hilang dan ternyata benar, buku kakak budi pekerti yang sering kita baca-baca itu hilang, untung kalian tadi berpelukan. Makanya kakak jadi ingat kalau buku itu hilang, soalnya kan sampul buku itu ada orang yang berpelukan.”
“Kami berpelukan karena kami takut kak,"
sahut Popo dengan suara yang sudah membaik namun pipinya masih tampak basah, karena tidak dapat menahan ketakutannya.
Petro tersenyum melihat tingkah kedua adiknya lalu dengan langkah perlahan mendekati mereka, memeluknya dengan pelukan kasih sayang yang sangat hangat.
“Udah-udah, gak papa kok. Maafin kakak udah buat kalian jadi terbangun dan jadi takut begini ya, hehehehe jangan takut lagi kakak gak papa kok."
Petro berusaha menenangkan perasaan kedua adiknya.
Tiba-tiba Pahala teringat sesuatu, pada saat perjalanan mengiring kerbau ke ladang tadi, dia mengingat bahwa kakaknya terjatuh karena tergelincir di atas limbah perusahaan batu yang ada di desanya, yaitu desa Karanta. Dulu desa ini memiliki lahan hijau yang terbentang luas, serta merupakan daerah pegunungan yang asri dan sejuk. Namun seiring perkembangan teknologi yang dibawa oleh orang luar, berbagai perubahan mulai terlihat. Dimulai dari limbah perusahaan sampai pada asap kotor yang dikeluarkan oleh mesin-mesin tersebut.
Limbah tersebut awalnya merupakan cairan panas yang keluar dari bagian bawah mesin-mesin yang berdiri tegak untuk mengolah batu. Cairan panas yang keluar tersebut, jika sudah lama dibiarkan di tempat terbuka akan menjadi limbah yang padat dan licin jika berjalan di atasnya. Perusahaan mengolah batu menjadi bahan yang sangat diperlukan dalam pembangunan jalan raya. Kata yang paling akrab untuk mengenalnya adalah aspal. Begitulah orang tua Petro menjelaskan tentang peran dari perusahaan ini.
Perusahaan tersebut belum lama berdiri. Dulu, tempat perusahaan itu berdiri merupakan tempat terbaik bagi Petro untuk menggembalakan kerbau-kerbaunya. Mungkin tanah itu sudah dijual atau disewa kepada pemilik asing. Sebelum pembangunan perusahaan, ada beberapa orang yang berkulit putih dan mulus, bermata sipit, dan tampak dari penampilannya merupakan orang-orang yang sedang berbisnis mengunjungi lahan tersebut. Mereka merupakan orang Tionghoa.
Pembangunan perusahaan dilaksanakan tak lama setelah kedatangan orang Tionghoa tersebut. Banyak dan bahkan hampir semua yang melaksanakan pembangunan bukanlah orang-orang dari daerah setempat, melainkan dari daerah Jawa. Satu hal yang dapat dipelajari dari keadaan ini bahwa masyarakat daerah setempat masih sangat gagap teknologi. Maka tidak dapat diragukan, pihak-pihak asing datang ke tempat ini dengan berbagai macam teknologi yang dibawa. Sekalipun teknologi memberikan dampak buruk bagi lingkungan, masyarakat setempat tak dapat melakukan apa-apa. Pasrah saja, ikuti saja, demikian prinsipnya.
"Kak, coba kita lihat nanti di tempat kakak terjatuh tadi, kurasa pasti disana. " Pahala memberikan solusi.
“Ohh iya, menurutku juga demikian, yaudah sekarang kita pulang aja ya soalnya udah sore.."
Petro dan kedua adiknya mengiring kelima ekor kerbaunya untuk dibaawa pulang. Seperti biasanya, Pahala dan Popo naik ke atas kerbau saat perjalanan pulang. Sementara Petro berjalan di belakang dengan memegang kayu kecil yang biasa ia gunakan untuk menuntun kerbau.
Di perjalanan pulang, mereka melewati perusahaan tersebut, Petro bergegas menuju ke arah limbah. Namun hatinya remuk setelah sampai disana. Buku yang selama ini dicintainya dengan sepenuh hati, yang mengajarkannya bagaimana menghormati orang tua, guru, dan orang lain, buku yang mengajarkannnya betapa pentingnya pendidikan, dan juga bagaimana mencintai lingkungan, kini begitu buruk dengan bercampur dengan limbah yang masih terasa hangat di bawah kaki Petro. Tampak di atas buku dan sekitarnya jejak kaki orang yang lalu lalang.
Bukunya kini begitu hancur dan buruk dalam limbah itu. Tak dapat dibendung, air matanya mengalir membasahi wajahnya yang penuh dengan kesedihan.
"itu buku kesayanganku, kenapa harus berakhir seperti itu?” Petro terus menatap bukunya dengan penuh penyesalan. Lalu mengarahkan pandangan ke arah perusahaan tersebut. masih tampak disana buruh kasar yang membereskan peralatan-peralatan kerja.
Tampak dalam wajah mereka keletihan dalam melewati hari ini. Dalam hatinya, mungkin tak sabar ingin segera pulang bertemu isteri dan anak-anaknya. Pelindung kepala masih mereka gunakan dalam mengerjakan pekerjaan akhir tersebut, serta masker yang sudah tampak begitu buruk masih terpasang menutupi mulut dan hidungnya. Mereka, lelaki-lelaki tangguh yang merupakan kepala keluaga yang harus bekerja di perusahaan selama enam hari dalam satu minggu demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Mereka tak lain adalah tetangga-tetangga Petro dan ada juga yang datang dari desa-desa sebelah.
Demikianlah perusahaan itu beroperasi, dimiliki oleh orang asing, dibangun oleh orang asing pula, dan yang menjadi buruh-buruh kasar yang harus bekerja menghirup debu seharian merupakan masyarakat setempat. “Harus kuapakan perusahaan ini?” Hati Petro kini marah dan wajahnya menunjukkan ingin sekali mengubrak-abrik perusahaan tersebut.
Bagaimana tidak perasaan anak kelas V SD ini begitu marah, dulu ia sangat mencintai lahan hijau yang ada di daerahnya, tapi sekarang semua sudah berubah. Sejak adanya perusahaan pertama tersebut, sejumlah perusahan lain juga turut dibangun. Ada sekitar 4 perusahaan yang kini berkuasa di daerahnya. Semua perusahaan berdiri dengan angkuh, dengan menonjolkan kehebatan masing-masing. Dan kini, bukunya begitu terluka di dalam limbah yang tak berperasaan.
“Kak, udahlah kita pulang aja, ini udah sore nanti kita dimarahi bapak” teriak Pahala.
Petro memandangi sekitarnya lalu memandang ke atas, langit sudah mulai tampak gelap. Dia bergegas mengambil buku tersebut, dipegangnya erat-erat agar tidak semakin hancur. Harapannya ia dapat membersihkan buku tersebut sekalipun tidak bisa kembali seperti semula. Ia berlari menemui adik-adiknya yang sudah mulai jauh di depan dengan harapan bisa membantu meringankan penderitaan bukunya.
"Sudahlah putriku, buku itu sudah bercampur dengan bahan kimia yang berbahaya, lagipula sudah hancur begitu masih tetap kau bersihkan, buang aja gak berguna lagi itu, tulisannya pun tak bisa lagi kau baca.”
Bapak datang menghampiri Petro yang sejak pulang menggembalakan kerbau sampai dengan pukul delapan malam masih tetap berusaha membersihkan buku tersebut. Dia tidak beranjak dari dapur kecil itu sejak tadi.
"Bapak gak ngerti gimana sakitnya kehilangan buku ini, dari buku ini aku belajar banyak hal. Tapi karna terjatuh tadi di limbah perusahaan itu, ya jadinya begini.”
“Trus kenapa masih kau bersihkan padahal udah hancur? Gak bisa lagi dibaca tuh...”
“Mau ku simpan pak, ini tuh buku bersejarah sama aku, jadi kalo pun disimpankan harus bersih, menurut bapak harus gimana ni?”
" Harus gimana apa? Jangan buat bapak bingung."
“Begini pak, yang ku pelajari sekarang ini di sekolah itu tentang banyaknya orang yang tidak peduli lagi sama lingkungan. Seperti di desa kita ini, limbah, asap kotor, dan sampah plastik yang berserakan dimana-mana. Seperti di sungai kita kan banyak sampah, di sekolah Petro juga banyak, di desa kita ini juga banyak. Kata guru kami kan pak, limbah, asap kotor, sama sampah itu berdampak buruk sama alam. Dari buku ini juga aku pernah baca, kalau sampah plastik itu butuh waktu yang sangat lama biar bisa diproses tanah. Sementara pemakaian manusia dalam menggunakan plastik semakin tidak terkendali juga.” Petro berusaha menjelaskan kepada bapaknya, rupanya hal-hal tersebut selalu terngiang dalam kepala Petro selama ini.
"Wah, wah, wah, ternyata putri ibu sudah tau banyak hal ya.” Ibu datang tiba-tiba mengelus kepala Petro dengan lembut. sejak tadi ibu sudah mendengar percakapan mereka.
Mendengar pernyataan Petro, bapak terdiam sejenak. Diambilnya kursi kecil yang sudah berwarna hitam pekat dengan debu yang menghiasi seluruh bagian kursi. Dia duduk di atas kursi itu lalu diraihnya dua batang kayu kecil dan dilemparkan dengan pelan ke dalam tungku masak yang juga senasib dengan kursi. Warnanya hitam pekat dan juga dihiasi dengan debu. Nampaknya tungku dan kursi sudah bersahabat sejak lama. Api yang dikeluarkan kayu tersebut, semakin menambah hangatnya suasana. Lalu bapak kembali menatap putrinya. Jauh didalam matanya seperti tampak aura seorang ayah yang bijaksana akan berkata-kata. Sebuah hal yang benar-benar dinantikan oleh Petro.
"Putriku, alam lebih dulu ada daripada kita. Dengan segala kebaikannnya, dia mencukupi kebutuhan-kebutuhan manusia. Semua hal yang kita butuhkan disediakan oleh alam ini. Tapi kehidupan manusia berkembang dan terus berkembang, sehingga kita semakin ingin mengetahui lebih dalam dan terus menggali untuk mencukupi kebutuhan kita. Semakin banyak teknologi-teknologi yang digunakan. Kau tahu apa yang membuat kita memiliki teknologi itu?”
Petro berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan percaya diri
“Teknologi-teknologi itu diciptakan untuk memperkaya diri sendiri pak, tapi dia tidak melihat dampak buruk yang terjadi ke lingkungan”
Bapak tersenyum mendengar jawaban polos dari putrinya.
“iya, itu memang benar. Tapi teknologi-teknologi itu ditemukan oleh orang-orang yang pintar, memiliki bakat, dan juga berpendidikan. Sebenarnya teknologi canggih itu memberikan kita kemudahan dalam memenuhi kehidupan manusia. Contohnya, kalo tidak ada perusahaan itu dengan teknologinya, tidak mungkin kan jalan raya bisa digunakan oleh kendaraan? Semua pasti kesusahan mengendarai kendaraan jika jalan raya tidak layak untuk dipakai. Dan orang-orang yang bekerja di perusahaan tersebut, mereka kan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Begitu juga dengan sampah yang berserakan dimana-mana. Kalo Petro beli makanan tapi tidak ada bungkusnya gimana? Pasti berpikiran kalo makanan itu jorok kan? Semua teknologi itu memiliki dampak baik dan buruk terhadap lingkungan dan juga terhadap manusia. Nah, sekarang kita memiliki masalah dari perkembangan itu, seperti sampah plastik, limbah dan asap kotor perusahaan. Sekarang ini tugas dari orang yang pintar, berbakat dan berpendidikan untuk memperbaikinya. Itulah sebabnya, Petro sama teman-teman Petro yang sekolah dinamakan generasi penerus bangsa. Gimana, udah siap jadi generasi bangsa?”
Petro terdiam dan terus menelaah perkataan-perkataan bapaknya. Di dalam wajahnya terdapat kecemasan dan kekhawatiran. Dia hanya menatap bukunya di lantai yang sejak tadi sudah diletakkan disitu. Ia berpikir bahwa bapaknya menyekolahkan dia untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang ada. Demikianlah Petro dibentuk oleh orangtuanya, bersikap kritis terhadap segala sesuatu, bertangggungjawab atas segala sesuatu yang ia lakukan, dan yang paling penting adalah jiwa untuk mencintai.
Petro terus berpikir tentang perkataan bapaknya bahkan sampai ke tempat tidur. Lalu segera bangun, diambilnya buku dari tumpukan buku yang ada di dalam karton, dan pulpen dari dalam tas, lalu mulai menuliskan puisi yang menurutnya akan memotivasi dirinya.
HIJAU HITAM
Kau tersenyum terhadap setiap orang yang melihatmu
Kedamaian kau tuliskan juga pada hatiku
Kehidupanmu berarti kehidupanku juga
Hijaumu berarti hijauku juga
Tetapi untuk saat ini
Kau menyembunyikan dirimu
Adakah sesuatu menyakiti hatimu?
Tahukah engkau?
Aku tak lagi merasa damai
Kematianmu berarti matiku juga
Hitammu berarti hitamku juga
Disini
Di aliran yang membawaku dalam surat
Kusampaikan padamu
Berjuanglah bersama denganku
Mari kita berjalan bersama
Mengembalikan hijaumu, mengubah hitammu.
Tertanda, Petro
Puisi itu dia ciptakan lalu membuatnya menjadi lipatan-lipatan yang dibentuk menjadi sebuah kapal. Dia tersenyum lalu mencium kapal itu.
“Besok akan kulayarkan kapal ini untuk membawa harapanku.”
Suasana sangat panas tak tertahankan dan Petro hanya berdiri sendiri di atas batu. Panas, kehausan, dan terengah-engah semakin membuat tubuh Petro begitu lemah. Dia melihat kerbau-kerbaunya tidak berdaya dan hanya bisa terbaring di tanah, lidahnya sesekali menjulur keluar. Tatapan mata kerbaunya yang sudah bercampur air mata dan darah seolah meminta pertolongan. Petro ingin melompat dari batu besar tempat dia berdiri tetapi limbah perusahaan mengalir begitu kuat melewati tanah-tanah gersang dan memasuki celah-celah kegersangannya. Sampah plastik berserak di segala tempat dan bersahabat dengan limbah hitam pekat. Tak ada satu pun orang lain di tempat itu kecuali Petro. Petro menjerit dan terus memanggil bapak, ibu, dan adik-adiknya. Tidak ada jawaban sama sekali. Dia kembali melayangkan pandangan sejauh mungkin, berharap ada orang untuk menolongnya. Tetapi tetap saja, semua yang dia lihat hanya kegersangan saja. Tidak ada lagi tumbuhan hijau yang selama ini selalu dipandanginya. Petro menangis dengan suara yang tersisa. Dia terus memanggil bapak, ibu dan adik-adiknya. Semakin lama dia menangis semakin tak terdengar suaranya.
“Petro, Petro, Petro, bangun nak bangun, kenapa? Ada apa? Ibu disini...” Ibu berusaha membangunkan Petro dengan mengelus-elus pipi Petro. Tubuh Petro panas dan sangat berkeringat. Petro terbangun dan langsung melihat ibunya, dipandanginya sekitar kamar sejenak.
“Ternyata hanya mimpi bu” Petro memeluk ibunya dan menangis layaknya anak kecil.
“Kenapa anakku? Kamu mimpi buruk?”
“Iya bu, aku takut bu, aku takut.”
“Udah, udah, gak papa kok, ibu kan disini ngapain takut lagi. Tadi ibu mendengar kamu nangis sambil manggil-manggil makanya ibu datang kesini. Tadi ibu masak di dapur.”
“Udah pagi ya bu?”
“Udah, mandi sana gak usah dipikirin mimpi buruk itu, pasti kamu mimpi karena dinasehati bapak mu ya?”
“Enggak kok bu, aku mungkin hanya terlalu berpikir aja sama yang akan terjadi nantinya sama lingkungan kita makanya sampai terbawa mimpi buruk..”
“Anak ibu ternyata udah bisa mikir ya, udah sana mandi nanti terlambat sekolah.”
“Kenapa nak? Kamu mimpi buruk?” sahut ayah yang sudah mendengar percakapan Petro dengan ibunya sejak tadi.
“Iya pak”
“Udah gak usah terlalu dipikirkan, kamu kan masih kecil. Makanya harus sekolah biar nanti kalau sudah besar bisa jadi orang yang bisa melindungi lingkungan kita.”
“Iya pak” Petro tersenyum dan sangat bersemangat dengan dukungan orangtuanya. Ia berjanji dalam hati, bahwa dia akan berusaha sekuat mungkin.
Suasana ruangan kelas sangat ribut karena di sekolah kedatangan guru baru. Dan kelas pertama yang dimasuki oleh guru baru adalah kelas Petro. Guru baru itu katanya adalah guru yang dulu mengajar di Jakarta. Parasnya cantik dan juga memiliki wajah ramah yang enak dipandang.
"Selamat pagi anak-anakku..."
“Pagi ibu."
"Wah semangat kali ya anak-anakku yang cantik-cantik dan ganteng ini..”
Semua murid tersipu malu dan merasa melayang dengan pujian guru baru ini. Siapakah gerangan dia yang mampu memikat hati semua murid?
"Perkenalkan nama ibu, Rina Sibarani. Ibu membawakan mata pelajaran Bahasa Indonesia, ibu dulu mengajar di Jakarta. Tapi sudah pindah kesini. Nah, sekarang kalian harus memperkenalkan diri masing-masing disertai dengan cita-citanya ya..”
Semua murid gelisah mempersiapkan apa yang hendak dikatakan tentang cita-cita. Ada yang bercita-cita dokter, guru, polisi, tentara, presiden, dan lain sebagainya. Semua merasa bahagia ketika mengungkapkan isi hatinya. Petro yang sejak tadi gelisah kini harus berdiri di depan kelas memperkenalkan diri dan juga mengungkapkan cita-citanya.
Petro terus tertunduk namun ia menanamkan keberanian untuk mengungkapkannya.
"Perkenalkan nama saya Petro, dan cita-cita saya....” Petro terdiam, dia terus menunduk dan tidak tau harus mengatakan apa.
Dia malu mengungkapkan apa yang seharusnya dia harus ungkapkan. Sementara teman-temannya merasa ada yang aneh dengan Petro, sebab bagi mereka mengungkapkan cita-cita adalah hal yang mudah.
" Ada apa nak? Ungkapkan saja, jangan malu” bujuk bu Rina.
"Cita-cita saya, cita-cita saya ingin menjadi, ehhhh ingin menjadi...”
" Ingin menjadi apa anakku? Bilang saja, ibu mendukung kok. "
Mendengar ibu Rina mendukung, kini semangat Petro semakin meluap, lalu dengan tatapan yang penuh keberanian dia mengatakan.
"Saya ingin menjadi Menteri Lingkungan Hidup."
Seluruh murid terdiam, dan juga bu Rina. Belum pernah dia mendengar ada anak yang bercita-cita seperti itu.
"Kenapa Petro ingin menjadi Menteri Lingkungan Hidup?”
" Karena saya ingin membersihkan lingkungan kita bu, sekarang itu udah kotor dan harus segera dibersihkan agar tetap memberikan kita kehidupan, di sekolah banyak sampah, di rumah juga banyak sampah, banyak debu kotor dan limbah dari perusahaan yang merusak alam, saya kasihan melihat itu bu. Saya kasihan.”
Semua terdiam mendengar jawaban polos tapi mengesankan dari Petro. Lalu salah seorang murid bertepuk tangan dan diikuti oleh semua murid yang ada di kelas tersebut. Bu Rina pun demikian, dia bertepuk tangan dan mendekati Petro.
"Sungguh mulia cita-cita mu anakku, perjuangkanlah, ibu dan teman-temanmu mendukungmu."
Petro merasa sangat bersemangat dengan perkataan bu Rina. Kini, ada banyak pihak yang mendukung cita-citanya. Bapak, ibu, bu Rina, dan juga teman sekelasnya mendukung Petro agar terus berjuang.
"Akan ku perjuangkan” teriak Petro dalam hati.
Sepulang sekolah, Petro pergi ke sebuah sungai yang mengalir dengan kelembutan. Dia membuka tasnya, dan mengeluarkan kapal yang dibuat tadi malam. Dilayarkannya kapal itu dengan terlebih dahulu menciumnya seraya berkata,
"Pergilah, sampaikan harapanku."
Kapal tersebut berlayar dibawa aliran sungai. Pergi menjauh mengikuti aliran membawa harapan Petro pergi dan tak tahu dimanakah akan berlabuh. Petro terus memandangi kapal tersebut sampai hilang dalam pandangan. Lalu dia tersenyum bahagia penuh harapan baik.
"Aku akan berjuang, dan berjuanglah bersamaku," katanya dengan lembut.