"Aku tidak seberani itu untuk mengungkap sesuatu yang sudah tersembunyi sejak dulu, aku tidak seberani itu untuk percaya segalanya, bahwa kini kamu berbalik mencintai. Tidak segampang itu, meski hati sepenuhnya adalah untuk kamu bahkan sudah sejak dulu. Namun ketidak pastian takdir membuat seseorang lemah, termasuk aku. Jika nanti takdirku bukan denganmu, setidaknya kekecewaan itu tidak terlalu menyakitkan."
-Hanya satu cinta-
#Awal kembali meraih rasa~
Aku melirik layar ponselku yang menyala dengan nama seseorang di layar. Dan menghela nafas, saat ingat, ini adalah kali pertama aku dan dia kembali saling bertukar kabar semenjak dua bulan lalu.
saat perjalanan pulang kerja, ponselku berdering tanda panggilan masuk dari Whatshap.
Satu jam lima belas menit tiga detik adalah waktu panggilan berjalan sejak tadi. Aku melirik jam di ponselku pukul sebelas malam. Namun belum ada tanda-tanda telepon akan di tutup, helaan napas kembali kuhembuskan, untuk menghilangkan sedikit rasa penat. Sebenarnya aku lelah, dan ingin sekali segera menutup mata. Tapi rasa enggan karena rindu membuatku tetap setia mendengar suaranya.
Untuk beberapa saat kami hanya terdiam dalam keheningan.
Aku berbaring sambil menatap ke atas langit-langit kamar kontrakan. Aku teringat rutinitas hari ini. Setiap hari rasanya seperti di kejar waktu. Teman-teman semasa sekolahku mungkin saat ini sudah menginjak semester dua, sekarang. Mereka beruntung bisa melanjutkan kuliah, minimal mengejar S1.
Sudah hampir delapan bulan semenjak aku lulus SMA. Yang kulakukan hanya memikirkan cara mencari uang. Aku tau kemampuanku bukan di bidang akademik, tapi cita-citaku adalah menjadi dokter psikolog. Tapi aku sadar itu semua hanya akan menjadi keinginan.
"Shan? "
Aku mengerjap, Kembali pada relita. " ya?"
"lo masih inget gak pas kita foto berdua di depan gerbang sekolah? "
"berfoto? Kapan? Perasaan gue nggak pernah foto sama lo, deh. "
"ada, masa lo gak inget. Waktu itu lu pake kemeja, lari-lari, kayak yang lagi buru-buru. "
"masa sih? Kapan? Bentar, gue inget-inget dulu, gue lupa soalnya. "
"Dasar, pikun. " kekehnya di seberang sana.
Aku bergerak mengganti posisi jadi miring, menghadap tembok. Sambil menggali ingatanku beberapa bulan lalu.
"tunggu, sebentar.. Oh! Gue inget sekarang!"
"udah inget? "
"kalo gak salah waktu itu pas latihan ujikom kan?"
"iya. "
Aku tertawa. Aku ingat hari itu adalah hari yang paling memalukan sekaligus membahagiakan untukku.
"gue inget, waktu itu gue terlambat masuk kelas buat latihan ujikom makanya gue lari-lari. waktu itu kita papasan kan? lo naik motor sama temen lo. tapi waktu itu gue nggak terlalu perhatiin soalnya lagi buru-buru. Terus gue kaget pas lo balik lagi buat cegat gue. Gue bingung, 'lah ini anak ngapain balik lagi pake acara ngalangin jalan lagi, udah tau gue lagi buru-buru. Gue kira ada apaan lo cegat gue segala. Eh, taunya lo cuma minta foto bareng. "
"hahaha.. Yaa kan, sekali-kali gue mau foto bareng lo Shan. "
"ngapain lo minta foto bareng gue? Emangnya gue selebritis. " dengusku.
"yee.. Kan, buat kenang-kenangan Shan. "
"kenangan apaan. Lagian gue udah tolak, lo tetep aja maksa gue buat foto. "
"ya kalo nggak gitu mana mau lu difoto bareng gue. "
Aku menguap. "ya, terserah.. "
"lo tidur gih."
Aku melihat jam lagi. Pukul 00.45. Ngantuk sih. Pengen tidur. Tapi..
"iya.. Nanti. " hanya itu yang pasti keluar dari bibirku.
"udah malem Shan lo juga besok kerja kan? " Ferdinan sedang memberi perhatian. Aku tau.
"hm.. " gumamku sambil memejamkan mata.
"iya, udah sana lo udah ngantuk gitu." cowok ini berkata seolah-olah tahu saja dirinya sedang apa.
"nanti. " jawabku malas sambil membuka mata.
Terdengar helaan nafas di seberang sana. Aku menarik selimut hingga batas leher. Melirik sebentar ke arah teman sekontrakanku yang sudah pergi ke alam mimpi dari semenjak satu jam lalu.
Ferdinan Raditya. Cowok yang kutaksir di sekolah selama hampir empat tahun. Dia tinggi dan populer. aku mulai menyukainya saat pertama kali melihatnya di kelas MPLS. Entah apa yang aku pikirkan saat itu. Aku tersenyum getir mengingatnya.
Ah, bukan apa apa itu hanya perasaan suka seperti sebelumnya, seperti hasutan syaitan. Tapi ternyata aku sadar setelah beberapa waktu lama, itu bukan sekedar hasutan syaitan.
Itu lebih dari itu.
Sejak dulu sampai sekarang aku tidak pernah berani berharap. Yang aku tau di dalam hati, Allah memberi cinta itu berlabuh atas namanya. Bahkan aku tidak menginginkan apa-apa selain hanya mencintai, itu sudah cukup untukku. Meski kadang rasa ingin memiliki itu pasti ada.
Delapan bulan terakhir ini aku mulai tidak lagi memperdulikan perasaanku padanya hingga jika aku berani mengatakan perasaanku pun, rasanya, sekarang aku sudah bisa bersikap biasa. Tidak seperti dulu, aku yang selalu berhati-hati untuk tetap terlihat bersikap biasa ketika dekat dengannya. aku takut perasaanku akan nampak.
Bahkan, terkadang perasaan itu dijadikan sebuah candaan. Meski tau rasa yang Allah kasih pada hatiku tidak sebercanda itu. sekarang perasaanku mulai iklas dan jauh dalam perasaan yang dulu diam-diam aku damba kini mulai redup dan padam, hingga mungkin akan hilang tak berbekas kapan saja. jadi dengan mudahnya aku mengungkapkan isi hatiku dulu.
"Fer?"
"iya?"
"Tahu nggak gue suka sama lo dari dulu?"
Dia tertawa. "Tahu. Secara gitu yah gue kan ganteng. Jadi udah biasa banyak yang suka termasuk lo, iyakan?"
Aku mencibir. "Dih. Kepedean banget lo! Dasar anak alay!" balasku sadis.
"emang bener kali gue ganteng." elaknya, terdengar tidak terima di bilang alay.
"iya, iya. Ganteng."
"eh, tapi kalo gue beneran suka sama lo gimana?" tanyaku berubah serius.
Penasaran dengan reaksinya, karena setahuku dia tidak pernah sadar tentang perasaanku. Anehnya aku tidak berdebar atau takut saat mengajukan pertanyaan koyol itu. Aku tidak peduli bagaimana jawabannya, yang pasti aku pikir dia hanya akan menganggap aku bercanda. Dan aku memang bercanda.
"selamat kamu mendapatkan hati aku."
Hah?
Aku butuh beberapa saat untuk mencernanya.
Seketika aku manahan tawa setelah mencerna kalimatnya. kata 'selamat' yang di gunakan cowok itu untuk pernyataan hatinya membuatku geli, untuk beberapa detik aku menganggap itu hanya candaanya saja. Tapi akhirnya, yang bisa aku lakukan hanya tersenyum.
"apaan sih lebay banget fer!" seruku. Tapi tidak bisa aku pungkiri bahwa sekarang aku sedikit tersipu. Dan aku ngerasa seperti remaja labil. Memalukan! Jeritku dalam hati.
Aku mendengar dia terkekeh di seberang sana.
"enggak apa-apa biar kamu percaya."
"tapi aku masih tetep nggak percaya loh fer. Serius, kenapa ya?" godaku, sambil tertawa, mesih menganggap itu hanya candaan.
"kamu hanya perlu percaya, sejak dulu aku sadar kalo aku tidak hanya menginginkan kamu di hidup aku, aku menyukai kamu. Dan itu sejak saat aku tahu perhatian kecil kamu ke aku. Jika emang benar hati kamu udah dari dulu menyukaiku, begitupun denganku.."
Deg.
Astagfirullah kok nadanya seperti dia serius gini? Niatnya kan cuma bercanda. Kenapa tiba-tiba jadi serius?
Aku menggigit bibir mendengar perkataan Ferdi soal perasaannya selama ini. Antara rasa tidak percaya dan cemas mendengar pengakuannya. Tidak percaya karena mungkin saja itu hanya kebohongan atau bahkan hanya candaan belaka. Dan, cemas jika iya benar itu perasaannya, artinya selama ini dia tahu aku menyukainya bahkan aku menyimpan perasaan selama tiga tahun ini untuknya. Dan itu membuatku sedikit gugup. Bagaimana bisa dia tahu? Padahal sikapku jelas tidak menunjukan ketertarikan sama sekali kepada Ferdi. Hingga aku yakin jika orang di sekitarku tidak ada yang tahu, atau sampai curiga sekalipun soal perasaanku. Terbukti dari sikap yang aku tunjukan selama ini di sekolah.
Ya Allah..
ketika aku hanya diam, di seberang sana dia melanjutkan.
"aku tahu perasaan kamu yang diam-diam memperhatikan aku dari jauh. saat aku juga memiliki ketertarikan yang sama. meski samar, aku tetap menyadarinya. Perasaan kamu tulus, dan aku tidak ingin merusaknya, hanya dengan menjadikan kamu sebatas pacar masa SMA.."
"posisiku dulu juga sulit karena masih memiliki status hubungan dengan Tiara, dan saat aku putus dengannya aku ingin menyatakan perasaanku tapi terlambat, kamu sudah di miliki orang lain.."
Tiba-tiba ingatanku melayang ke masa lalu saat aku melihat Ferdinan datang ke kelas hanya untuk menemui pacarnya yang ternyata adalah teman sekelasku.
".. Perasaan kamu sama sekali tidak bertepuk sebelah tangan Shania.." Suara lembutnya terdengar menyenangkan saat masuk ke dalam gendang telingaku.
Aku di buat tidak bisa berkata-kata dengan pengakuannya. Perasaanku bergemuruh antara ingin menangis dan seketika aku membisu saat mendengar kelanjutan Ferdinan.
"karena aku mencintai kamu.."
bersambung..