Di sebuah rumah yang tampak megah, terlihat seorang pria setengah baya yang tengah duduk termenung di kursi. Ia sudah di sana hampir 2 jam dan apa yang dipikirkannya tampaknya merupakan masalah yang sulit dipecahkan.
"Ah, sudah 3 tahun istriku hamil tetapi belum melahirkan juga padahal sudah banyak tabib, dukun dan orang sakti yang kudatangi tetapi hasil tetap tidak memuaskan. Malahan tanah sawah peninggalan orang tuaku juga ikut terjual untuk membayar hal tidak berguna itu." Batinnya sambil tertunduk lesu mengingat hal tersebut.
Tiba-tiba, datang seorang tua berpakaian serba hitam yang datang lalu meminta air, "Tuan, hamba meminta setetes air untuk sekedar membasahi tenggorokan yang kering kerontang. "
Mendengar itu tampak kesal wajah Warso namun tetap diambilkannya air untuk minum orang tua tersebut.
Setelah minum orang tua itu berucap, "Sebelum ayam berkokok subuh nanti istrimu akan melahirkan, tetapi jangan bingung akan keadaan anakmu!"
Mendengar itu Warso berniat bertanya, tetapi sebelum niatnya kesampaian orang tersebut sudah lenyap. " Ha, kemana orang itu belum mengucapkan terima kasih sudah menghilang dan berucap yang tidak jelas?" Ucapnya lirih sambil menggaruk kepalanya.
-------------------------
Benar ternyata istrinya saat subuh sudah melahirkan, anehnya ia melahirkan dalam wujud bayi manusia dan sebutir telur yang berwarna biru.Melihat hal itu Warso segera membuang telur itu ke hutan dan merawat bayi itu.
15 tahun kemudian,
desa nampak tenang tetapi sebenarnya mencekam karena adanya serangan gerombolan naga yang selalu menyerang tanpa kenal waktu.
Hingga ada seorang pendekar wanita yang berani melawan naga itu, tapi saat melancarkan serangan terakhir dan beradu dengan kepala naga tersebut sebuah keajaiban terjadi.
"Kak Sari hentikan ini aku Ratna adikmuyang sudah lama hilang." ucap naga tersebut yang sekarang telah berubah menjadi wanita cantik dan sambil menyerahkan seuntai kalung kepada Sari Yundanya itu seraya berkata, "Kakak berikan ini kepada ayah sebagai bukti kalau aku adalah anaknya yang telah lama menghilang!"
Setelah mengambil kalung itu dan mengajakan Ratna untuk bertemu ayahnya, maka menyesal Warso karena telah membuang putrinya, "Aku memang bodoh karena tidak bersyukur kepada Dewata yang agung dengan membuangmu waktu itu, jadi maukah kamu memaafkan ayahmu yang bodoh ini?" Ucap ayahnya dengan air mata yang bercucuran.
"Aku sudah memaafkan ayah sedari dulu karena menyadari wujudku yang tidak seperti manusia kebanyakan dan juga atas wejangan dan ilmu kakek baju hitam pula aku menjadi manusia seutuhnya seperti sekarang." Jawabnya sambil memeluk ayahnya.
Maka berkumpullah ayah dan anak itu hingga akhir hayat ayahnya.
TAMAT