"Eh, Na, jadi ikut nggak lo? Udah dapet izin dari ortu lo apa belum?" tanya Maya dengan semangat kepada Nana yang tampak melamun.
"Jadi dong! Tiba-tiba diizinin gitu aja sama ortu," balas Nana dingin.
"Eh, loh? Ada apa ini? Tumben-tumbennya lo lesu gitu, Na. Ada masalah apa?" ucap Rani sedikit heran.
"Nggak ada kok," jawab Nana lesu.
"Lo, sakit? Kok pucet banget?" tanya Maya khawatir.
"Tadi pagi udah minum obat kok," balas Nana dengan datar.
Kemudian bel masuk berbunyi, semua siswa segera kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Lalu datanglah ketua kelas dan ia memberikan sebuah pengumuman.
"Mohon perhatian! Pengumuman! Kata Pak Wali Kelas, Pak Didik yang mendidik anak didikannya menjadi anak terdidik, jadwal wisatanya dimajukan. Dari besok pagi jadi nanti malam. Kata beliau, supaya nanti kita cepat sampai Lamongannya. Berhubung sekarang sedang musim liburan, kemungkinan besar jalanan akan ramai bahkan mungkin macet. Sekian dari saya. Mohon dipersiapkan segala keperluan perjalanan untuk nanti malam," kata Amin si ketua kelas.
Setelah memberi pengumuman, Amir segera kembali ke tempat duduknya. Kemudian para siswa mulai berbincang-bincang lagi.
"Na, lo bawa berapa pakaian buat besok dan lusa? 5? 6?" tanya Maya dengan penuh semangat.
"Ha? Banyak banget! Emangnya kita mau pergi berapa hari sih? Bukannya cuma 3 hari 2 malam aja?" sindir Rani.
"Eh, biarin dong! Nanti 'kan bisa gonta-ganti pakaian. Pagi ganti sore juga ganti. Gitu loh!" sanggah Maya merasa bangga.
"Ngapain gonta-ganti pakaian kayak gitu. Kayak orang penting aja," balas Rani kesal.
"Mending gonta-ganti pakaian. Daripada lo, gonta-ganti cowok mulu. Kemarin sama dia, hari ini sama si dia. Besoknya sama dia siapa, lusa nanti ganti lagi," ejek Maya.
"Ha? Cari ribut lo, May?" ucap Rani yang mulai naik pitam.
"Udah, jangan ribut! Berisik?" kata Nana menengahi.
Mendengar Nana berbicara seperti itu, Maya dan Rani pun langsung berhenti berdebat.
"Maaf, Na. Kami nggak bermaksud bikin kamu tambah sakit," ucap Maya dan Rani bersamaan.
Nana hanya mengangguk.
Tidak terasa waktu berlalu, akhirnya tiba waktunya untuk berangkat ke Lamongan.
"Na, udah sampai aja lo! Aku keduluan nih," canda Maya seraya berlari menghampiri Nana yang duduk di dekat bus yang akan mereka tumpangi nanti.
"Eh? Kok masih pakek seragam sih, Na?" tanya Maya heran.
"Lagi pengen," jawab Nana datar.
Beberapa saat kemudian, sampailah Rani. Rani langsung berjalan menghampiri Nana dan Maya yang asik berbincang.
"Eh, Rani, kok baru sampai sih? Katanya mau dateng lebih awal?" sindir Maya dengan sinis.
"Tadi kerjaan di rumah gue masih banyak tau, jadi gue harus kerjain dulu. Baru gue bisa pergi," jelas Rani.
"Owh, gitu," balas Maya sambil mengangguk-angguk.
"Na, kok lo pakek seragam sih? Mana baju ganti lo? Ganti aja sekarang," tanya Rani heran.
"Lagi pengen, gak mau ganti," balas Nana datar.
Mendengar jawaban dari Nana, Rani pun sedikit menghargainya. Kemudian ia mengamati bus yang akan ia tumpangi nanti.
"Ini bus yang kita pakai buat pergi nanti?" tanya Rani tampak terkejut.
"Iya, emangnya kenapa?" tanya balik Maya.
"Tadi gue lihat di berita ada kecelakaan bus, busnya mirip banget sama yang ini," jelas Rani tampak cemas.
"Mirip? Bukannya itu biasa ya? Bus 'kan emang banyak yang kembaran. Udah deh! Jangan negatif thinking gitulah!" ucap Maya mencoba menenangkan Rani.
"Iya sih. Eh, May, kalo ortu marah tuh enaknya dibujuk sama apa ya?" tanya Rani penasaran.
"Ha? Emangnya kenapa? Lo lagi marahan sama ortu lo?" kata Maya penasaran.
"Iya, nih. Tadi ibu gue dingin banget sama gue. Gue panggil-panggil enggak direspon, gue didepannya juga dicuekin. Bapak gue juga gitu," jelas Rani dengan nada sedih.
"Kok bisa gitu sih? Emangnya lo marahan sama ortu lo gara-gara apa?" tanya Maya semakin penasaran.
"Sebelumnya ortu gue tuh ngelarang gue ikut wisata ini, tapi guenya ngotot pengen ikut. Jadinya mereka ngambek," jelas Rani tambah sedih.
"Owh, gitu. Untung bokap sama nyokap gue nggak di rumah. Jadi nggak ada yang ngelarang dan nggak ada yang ngambek," balas Maya sambil mengangkat bahunya.
"Hey kalian! Seharusnya kalian itu dengerin kata orang tua kalian. Mereka gitu tuh buat kebaikan kalian," sahut Nana tiba-tiba.
"Eh?" ucap Maya dan Rani bersamaan.
"Udah, sana masuk bus! Nanti ketinggalan loh!" suruh Nana pada Maya dan Rani.
Mereka berdua pun mengikuti apa yang dikatakan oleh Nana. Mereka berjalan bergantian menaiki tangga bus dan duduk berdampingan.
Setelah itu bus mulai berangkat, namun tiba-tiba bus mulai bergerak dengan tidak menentu. Semua siswa menjadi panik, begitu juga Maya dan Rani.
"Ran, gimana nih? Kayaknya jalanan licin deh gara-gara abis hujan. Pak supirnya kayak sulit banget ngendaliin busnya," ucap Maya khawatir.
"Iya nih, busnya jadi serong kiri serong kanan. Kaya nanjak di tikungan tajam," balas Rani juga cemas.
Tiba-tiba bus yang mereka tumpangi tiba di sebuah tempat yang asing bagi mereka. Tempat itu seperti hutan yang berkabut.
Para siswa termasuk supir dan guru pendamping turun dari bus satu per satu. Namun di sana, Maya dan Rani tidak melihat Nana.
"Ran, Nana mana? Kok nggak kelihatan?" tanya Maya khawatir.
"Eh, iya ya. Mana sih Nana?" balas Rani juga yang baru sadar.
Namun tiba-tiba sebuah tangan muncul dari bawah kaki seorang siswa dan menarik siswa itu ke bawah tanah. Mereka yang melihat kejadian itupun langsung panik dan kocar-kacir melarikan diri.
Namun sayang, sebagian besar siswa dan seluruh guru pendamping serta supir telah tertangkap oleh makhluk misterius itu.
Kemudian hanya tersisa Maya dan Rani, mereka pun langsung menyadari sesuatu.
"Ran, kayaknya tempat ini tidak asing deh," ucap Maya seperti menyadari sesuatu.
"Tempat ini bukannya…" kata Rani mengingat sesuatu.
_______FLASHBACK________
Hari itu hati wisata kelas 11 SMA Abadi, terlihat suasana ceria menghiasa perjalanan mereka. Namun tiba-tiba bus yang mereka kendarai mengalami masalah. Rem bus itu tidak berfungsi, sehingga supir berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan bus yang berkecepatan tinggi itu agar tidak keluar jalur dan menabrak sesuatu.
Namun naasnya, bus yang mereka kendarai malah terjun ke jurang. Mereka jatuh di dasar jurang, seperti hutan berkabut.
____AKHIR_FLASHBACK____
Kemudian tiba-tiba pemandangan hutan itu berubah. Di sana tampak sebuah batang bus yang Maya dan teman sekelasnya kendarai. Begitu juga dengan kerangka mereka.
Diketahui jika keberadaan mereka sampai sekarang belum ditemukan karena sulit dilacak. Sehingga akhirnya mereka membusuk di sana.
Merasa sudah bisa menerima keadaa Maya dan Rani pun memutuskan untuk segera meninggalkan dunia dan pergi dengan tenang. Tidak seperti teman-teman dan gurunya yang dibawa paksa oleh malaikat maut.
Di sisi lain, Nana sedang terbaring lemas di kamarnya dengan masih mengenakan pakaian seragam sekolah.
"Tadi menyenangkan, aku mengantarkan mereka. Kuharap mereka tenang di sana," gumam Nana sedih.
Kemudian terdengar Ibu Nana memanggilnya dari luar. Nana pun langsung bangkit dan pergi menghampiri Ibu dan Ayahnya.
"Na, apa kau sudah siap?" tanya Ibu Nana dengan penuh ketulusan.
"Udah, kok," balas Nana dengan meneteskan sedikit air mata.
"Kalau belum siap juga nggak apa-apa," sahut Ayah Nana.
"Nggak apa-apa kok, aku udah siap," balas Nana sekali lagi.
Tidak terasa air mata mulai membasahi pipi Nana. Perlahan namun pasti, kedua orang tua Nana mulai menghilang.
"Selamat Jalan, Bu, Yah. Nana pasti akan merindukan kalian," ucap Nana seraya meneteskan air mata.
Ternyata orang tua Nana telah meninggal karena kecelakaan ketika pulang dari pasar. Kecelakan itu tepat setelah kecelakaan yang menimpa teman-teman dan guru Nana.
"Aku harus ikhlas, aku udah nganter mereka dengan tenang. Ini udah 40 hari setelah kecelakaan itu, mereka harus pergi," gumam Nana sambil menangis tersedu-sedu.
Kemudian Nana menyalakan televisi dan di berita terdapat berita terbaru tentang kecelakaan teman sekelasnya.
"Bangkai bus dan kerangka para korban kecelakaan maut 17 Juni 2018 telah ditemukan pada jurang x di kedalam 700m. Seluruh tim penyelamat dikerahkan untuk mengevakuasi kerangka korban…"
Tiba-tiba Nana mematikan televisinya. Tangisnya makin menjadi, perasaan bahagia dan sedih bercampur menjadi satu.
"Akhirnya mereka ditemukan, aku sedih dan juga bahagia," kata Nana dengan tangis yang menjadi-jadi.
Keesokan harinya, Nana pergi ke pemakaman. Ia berziara ke makam orang tuanya juga para sahabatnya. Ia menaruh bunga di masing-masing makam.
"Sampai jumpa, aku pasti hidup sesuai keinginan kalian, Bu, Ya, May, dan juga Rani," ucap Nana sebelum meninggalkan pemakaman.
_____SELESAI_____