#Renungan
Banjir, menurut manusia, itu bencana.
Gempa bumi, menurut manusia, itu bencana.
Tanah longsor, menurut manusia, itu bencana.
Gunung meletus, menurut manusia, itu bencana.
Namun, menurut Allôh, itu semua Sunnatullôh, aturan-Nya.
Itulah cara mereka beribadah kepada Allôh Maha Pencipta.
+++++
Said Barkhiya mendengarkan dengan khidmat setiap kata-kata dari Ustad ‘Ali Hasan itu. Dia berusaha keras untuk memahaminya dengan mendengarkan berulang 3 kali dari player HP-nya.
“Yaa akhi, ada apa denganmu? Kamu sedang melamun ya? Hehe …..”
Kata-kata Dharma Selendra memang selalu tanpa tedeng aling-aling. Sudah jadi kebiasaannya memang si Dharma begitulah adanya. Semua temannya bisa memaklumi laki laki yang ngakunya sangat paham dengan arti dharma itu. Gegara itulah anak asli Palembang itu dipanggil Dharma.
“Hmm … biso ajo kau nih, Dharma. Tak lihat po aku lagi dengerin kajian nih lho, akh!” Said yang asli Magelang langsung memperlihatkan HP 4G-nya kepada Dharma.
Said sejenak memandangi Dharma yang hari ini berbeda dari biasanya. Dia bersyukur Dharma menyapanya dengan panggilan yaa akhi. Dan Dharma juga datang ke Kost bersama seorang laki-laki berambut ikal.
“Ado apo kau nih, Said? Pandang awak macam gitu?” protes Dharma yang kemudian tangan kanan memegang pundak temannya.
Dharma lalu membisikkan sesuatu kepada temannya itu. Teman itu hanya memandangi Dharma dan memilih diam saja meski batinnya diliputi dengan berbagai pertanyaan seputar Said.
“Ehmm …..akh Dharma, siapa temenmu itu? Ngapain dia ke sini? Ada keperluan apa emangnya?”
Said berharap Dharma tidak berpikiran yang macam-macam karena pertanyaannya.
“Begini akh Said. Ini temanku namanyo Haikal Bajang. Kostnya dekat Stasiun Lempuyangan Asalnyo dari Mataram Lombok. Dia pengin ngaji sama kau!”
Dharma berkata langsung to the point. Dia memang ngga suka bertele-tele orangnya.
“Piye yo, Dhar. Aku wae masih cethek ilmuku!” Sahid berkata terus terang kepada Dharma dan Haikal pun mendengarnya.
“Tak apalah akh Said. Kau lebih pandai dari ambo pastinyo!” Dharma merajuk kepada Said. Dia memang pandai memuji. Tak diragukan lagi kemampuannya itu.
“Iyo akh Said. Aku pengin belajar Islam lebih dalam lagi. Mumpung masih di Jogja!” pinta Haikal sembari mendekat pada Said. Dharma pun mengikuti Haikal.
“Begini sajo, kawan. Kita sama-sama ngaji ke Ustadz ‘Ali Hasan. Beliau ngisi kajian Tauhid itu malam Jum’at pagi di Masjid Al Ikhlas dekat Kost Sagan ini!” Said menjelaskan kepada Haikal dan Dharma.
“Baiklah kalau begitu. Aku ngikut kamu aja gimana baiknya, akh Said. Terima kasih yaa akhi.” Haikal nurut pada yang diinginkan Said setelah mendapatkan persetujuan dari Dharma.
+++++
Said, Haikal, dan Dharma sedang mendengarkan kajian Tauhid dari Ustadz ‘Ali Hasan.
“Memurnikan Tauhid. Menegakkan Sunnah. Menghilangkan Bid’ah. Itulah inti dari dakwah kita sekarang ini, yaa akhi semuanya. Ingat itu baik-baik. Jangan sampai lupa!” Ustad menjelaskan sembari tersenyum kepada jama’ah malam Selasa ini.
Said melihat pada Haikal yang tampak agak kurang paham meski tetap mendengarkan dengan seksama. Dharma yang telah tertidur meski masih dalam posisi duduk bersila.
“Memurnikan Tauhid. Menegakkan Sunnah. Menghilangkan Bid’ah. Itu semua termasuk Sunnatullôh. Karena itulah kita harus belajar ketiga hal tersebut dengan sungguh-sungguh, kemudian memahami dan mengamalkannya semampunya.”