Alkisah dimulai dari perjalanan seorang mahasiswi disalah satu Universitas, seorang remaja yang memiliki aura energik dan positif, sebut saja namanya Vidi. Duduk di bangku kuliah dengan tenang mengikuti pelajaran. Tapi jangan terpukau dulu sama ketenangannya, dibalik tenangnya dia ada suatu keisengan yang ada saja dia perbuat sama kawan sekelasnya. Vidi tau kawan kawannya itu tidak pernah mematikan nada dering ponselnya. Hingga saatnya....
"tlung... Tlung... Tlung... " nada dering grup BBM pun terdengar jelas. Semua melihat kearahku, namun aku tetap duduk dengan tenangnya.
Dosen yang mendengar pun melihat sekelilingnya dengan alis yang ditekuk. Dalam hatiku berkata (ditekuk mulu tuh alis, ckckck tua belom pada waktunya aiiisshhh)
Namun tak menghiraukan, dosen kembali dengan buku dan spidolnya, tak lupa kacamata antiknya dengan kaca setebal botol. Ups 🙊
"Drrttt drrrttt" hp ku bergetar. Kulihat isinya, grup BBM "kim**, sam***, mati ja sana" isinya makian gengs 😂
Oya kenapa BBM, karna jaman ku dulu itu masih tenar yang namanya Blackberry Messenger. Masih kalah saing sama WA.
Dengan suara lantang dosen ku membahas soal KKN, (ya karna emang udah waktunya sih 😂 kelamaan dikampus juga gak bagus buat kesehatan jasmani) kasih materi sedikit soal KKN, dan endingnya ngasih daftar nama kelompok. Kawan ku yang lain menyaut "pak saya mau satu kelompok sama Vidi" yang lain ikutan "saya juga pak" begitulah semuanya... Aku hanya terheran heran melihat mereka sambil berbisik dan mengelus jidat "kok mau gitu satu kelompok sama ku yang modelannya begini"
"kalian yakin mau satu kelompok sama Vidi ? " tanya dosenku.
"kalian gak lupa kan apa yang udah dia perbuat sama kalian selama ini. Emangnya kalian gak takut nanti di kerjai sama dia waktu KKN ? Kalian itu nantinya 24 jam ketemu terus, sudah siap satu kelompok sama Vidi ?" tanya dosenku lagi.
Aku nyengir nyengir gak jelas. Dalam hatiku berkata (ini dosen kurang vitamin A kali yac)
Tapi ya tetap saja kawan sekelas ngeyel mau satu kelompok.
Endingnya gak semuanya yang satu kelompok denganku, hanya beberapa saja. Karna satu kelompok itu cuma 10 orang, lah dikelas ada 20 orang. Kalau semuanya jadi satu kelompok, sekalian aja bawa kelasnya ke lokasi KKN 😂
.
.
Kelompok sudah ditetapkan. Tinggal penentuan lokasi.
Alhamdulillah dapat lokasi yang dekat dari rumah. Dekat dari segala tempat jajanan 😂 itu hanya bayanganku saja.
.
.
"besok kumpul di kampus bersama kelompoknya, pake alma beserta atribut lain (topi kebangsaan kampus😂) " kata dosenku.
"pak, komisaris dari kelompok kami siapa ?" tanyaku
"oiya saya belum menyebutkannya ya ? Maaf lupa" kata dosenku.
"faktor U ya pak ?" tanyaku lagi sambil tertawa kecil
"kamu ini, lama lama saya nikahi juga. Mulutnya gak bisa di rem apa ?" kata dosenku sambil nunjuk nunjuk ke arah ku
Aku hanya bisa menghela napas, sambil berkata "coba saja kalau bapak berani nikahi saya"
Semuanya tertawa, hingga kelas jadi rame.
Penentuan komisaris, tidak menduga dan tidak berharap dapat si dosen tua galak. Aku mencium ada bau balas dendam. Hahaha
.
.
Hari kumpul arisan tiba... Eh bukan arisan deng, kumpul kelompok KKN. Seperti biasa baris dengan rapi (kaya anak SD mau masuk kelas gengs). Komisaris pidato sebentar, "jangan singgah kemana mana selama dalam perjalanan ke lokasi KKN"
.
.
Perjalanan menuju lokasi
Sampai dikantor camat lingkungan. Kumpul lagi sesuai kelompok. Gak lupa tu alma dan topi kebangsaan kampus.
Cuaca cerah dan ya lumayan membakar.
Dari kantor camat kita menuju ke lokasi KKN yang sebenarnya. Karna disitu kita cuma nyari lokasi dari alamat yang di kasih sama pihak kampus.
Jalannya berbatu, berlobang, becek. Dalam hatiku "ckckckck gak sesuai ekspektasi" kawanku dibelakang ngedumel (sebut saja Ika) "ya ampun Vi ni jalanan gini amat, sakit pantatku Vi"
Aku ngakak donk dia bilang gitu. "jadi maunya gimana ? Ya kali lewat jalur atas "
Kepalaku langsung didepak donk. Untung pake helm 😂
Komisaris berhenti disebuah kantor, iya itu kantor lurah dari lingkungannya. Ku lihat sekeliling, rumah kayu bertingkat, ayam berlarian, bebek yang berbaris (lagi ikut wamil kali ya ?)
"disini Vi ?" tanya Ika
"menurutmu ?" kataku, sambil senyum nyinyir
"kampung Vi ? Banyak bebek, ayam, jalannya juga begitu, terus nanti kita nginap dimana ?" tanya Ika lagi
"ekhem... Ika sayangku cintaku, jangan melihat hanya dari casing nya saja. Belum tentu isinya seburuk apa yang kita lihat sekarang ini. Coba perhatikan Ibu disana, lusuh ga ? Tuh rumahnya begitu. Coba liat Bapak itu pake sendal jepit, mau didekatin ga bau apa engga ? Tapi kalo dilihat dari penampilan, kayanya bersih tuh. Coba lihat aku (sambil ngakak) tau aku kan gimana ? Aslinya aku gimana ? Itu cuma kamu yang tau, karna cuma kamu dari awal yang nempel sama ku wahahahahaha" kataku sambil ketawa
Dosen melihat ke arah ku, sambil mengernyitkan alisnya yang tebal itu.
"iya sih, yaudahlah... Tapi kita sekamar ya..." kata Ika
"jangan berdualah... Ntar aku khilaf gimana ??? Hahahahaha " kataku dengan ketawa yang nyaring menyebabkan jantung si dosen menyala kemudian barjalan ke arah ku.
"kamu dari tadi ketawa terus, apa yang lucu disini ? Disini ada Lurahnya, bikin malu kamu " ketus dosenku
"nikahin ja udah pak" celoteh kawanku dari sudut sana
Semuanya malah tertawa. Dan aku hanya memberikan senyuman lebar untuk si dosen tua kiler.
.
.
Rapat selesai, kami dibawa seorang Ibu untuk menuju kerumahnya. Rumah tua bertingkat tapi masih kokoh.
Sangkin kagum dan terpesonanya, aku sampai melongo melihat betapa bagusnya itu rumah.
Dirumah itu hanya ada seorang nenek tua dan seorang ibu.
"hanya berdua saja bu ?" tanyaku.
"iya, anak saya merantau. Suami saya sudah meninggal. Ini ibu saya, karna saya tinggal sendiri. Jadi saya yang merawat ibu" kata si ibu pemilik rumah (sebut saja Ibu Mila)
"anaknya umur berapa bu ? Udah nikah belom ?" tanyaku.
"umur 20 tahun, belum. Katanya mau nyenengin orangtua dulu" kata Ibu Mila.
"ibu mau gak jadi ibu mertua saya ?" celoteh ku
Si ibu malah senyum sendiri.
Kamar sudah dibagi. Di dalam rumah ada 3 kamar. Itu rumah ternyata besar gengs. Jadi kami dibagi 2 kamar.
Eits kita itu gak cuma cewek cewek ja... Cowok juga ada, tapi mereka dirumah yang berbeda. Katanya biar gak jadi fitnah. Para cowok tinggal di rumah bapak kepala desa. Nah disini itu lurah sama kepala desa beda ya gengs.
Malam tiba, kita adain meeting buat schedule besok. Jadi gak bingung waktu turun kelapangan. Meetingnya dirumah Ibu Mila.
Besok pagi udah pada ngumpul depan rumah Ibu Mila, rencana mau ke kantor lurah dulu, minta peta daerah disitu. Karna kata Ibu lurahnya, disini itu desanya luas. Dari jalan jalan kecil itu bisa masuk ke desa yang lain. Dan di desa itulah tempat dimana ibu ibu berwirausaha.
Sampai di kantor lurah, kebetulan ada Ibu lurahnya.
"kebetulan hari ini ada posyandu di Puskesmas Desa Jati, kalian mau ikut bantu disana ?" tanya Bu lurah.
Aku dan temen saling melihat ( telepati mata maksudnya gengs)
"yaudah boleh deh bu, tapi kami ada yang bawain jalan kesana. Karna takutnya kalau ngandelin peta yang ibu kasih, bisa bisa kita sampai ke Puskesmas posyandu nya udah selesai" kataku.
"hmmm yaudah bapak ini yang akan bawa kalian kesana" kata Bu lurah
"makasih Bu..." serentak kami semua.
Sampai ke Puskesmas.
Lah aku ga tau Ika takut sama jarum 🤣
Anaknya ngumpet dibelakangku.
"kenapa Ka ?" tanya kawanku (sebut saja Nirwan)
"dia takut disuntik. Hahaha" kataku sambil tertawa
"hahahahahaha" yang lain ikut tertawa
Setengah hari di Puskesmas. Sisa waktu kami manfaatin buat berbincang dengan ibu ibu disitu.
Lumayan bekal selama sebulan.
.
.
Gak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB
menuju arah pulang, Nirwan melihat ada warung baso. Dia berhenti dan menawarkan untuk singgah.
Aku beruntung dapat satu kelompok sama mereka. Karna waktunya gak disia siain gitu ja. Tetap ja yang dibahas program KKN 😂
Keesokan harinya
Selesai sarapan Ibu Mila sibuk membereskan barang.
"ada yang bisa saya bantu bu ?" tanyaku.
"eh cah ayu, engga nak... Ibu cuma mau beresin sedikit baju, abang ipar ibu meninggal. Jadi ibu sama nenek pagi ini mau berangkat menuju Binjai" kata Bu Mila
"lho jadi kami ditinggal nih bu ? Sedih donk " kataku.
"lah kamu ini udah gede, toh ibu cuma 3 hari disana " kata Bu Mila.
"hehe yasudah bu, ntar pulang bawa bika ambon ya" kataku sambil senyum gak jelas
"InsyaAllah nak. Kamu sama teman kamu tolong jagain rumah ya. Anggap saja rumah sendiri" kata Bu Mila.
"ya pasti lah anggap rumah sendiri, kan saya calon mantu disini hahaha" kataku.
"weleh kamu ini. Belajar yang bener" kata Bu Mila.
"lho ibu mau kemana ?" tanya temenku (sebut saja Dewi).
"nah panggil kawan kawanmu kesini" jawab Bu Mila.
"ibu sama nenek mau berangkat ke Binjai. Abang ipar ibu meninggal tadi malam. Jadi ibu disana 3 hari. Ibu minta tolong kalian jaga rumah ini gimana rumah kalian sendiri" pesan Bu Mila.
"iya bu... Pasti dijaga. Ibu hati hati ya sama nenek" serentak kami menjawab.
Seperti biasa KKN berjalan dengan lancar. Karna hari ke dua hanya menelusuri desa desa yang wirausaha nya masih berjalan dengan baik.
Malam tiba tanpa Bu Mila dan Nenek.
Ika gelisah. Begitu juga dengan Dewi. Ga ketinggalan kawanku dikamar sebelah.
Drrrttt... Drrrttt...
Getar hp ku
BBM grup kelompok 2
Mbak Ayu : weeiii aku ngrasa aneh
Lastri : aku juga wei. Mendadak merinding yo
Nirwan : kenapa ?
Ika : aku juga nih. Kok ada yang aneh ya
Aku hanya membaca keluhan dari kawan kawanku. Karna ku tau apa yang mereka rasakan itu emang nyata. Aku yang udah ngrasai lebih dulu, paham apa yang mereka rasakan malam itu.
Dewi : merinding woi😵
Yani : jangan gitu woi. Aku penakut 😭😭😭
Nirwan : ada apa we ?
Aku : tidak ada apa apa disini. Kalian itu hanya berhalusinasi ja. Jangan terlalu mikir yang engga engga lah. Fokus buat besok. Baca doa ja.
Nirwan : kalian kenapa ?
Mbak Ayu : ih tapi merinding Vi...
Dewi : aku juga mulai merinding ini 😥
Bang Zul : ada apa ?
Bang Agus : iya kenapa
Yani : kita sekamar aja yok we
Uqi : para cewe cewe kenapa ?
Aku : OGAH !!! SEMPIT !!! TIDUR SANA !!!
Bang Zul : kenap dek ?
.
.
.
Ku lihat mata Ika mulai basah. Kuhela napasku yang mulai berat, karna emang aku udah ngantuk.
Ku peluk Ika dengan erat dan berkata "semua akan baik baik ja, gak ada yang akan terjadi. Dan tidak ada apa apa disini. Pejamkan saja mata sambil bayangin muka ku yang manis semanis gula merah ini. Udah besok kita beli gula merah buat es kelapa yang di belakang rumah Bu Mila"
Ika tidak membantah apa yang ku lakukan dan ku bilang padanya. Tapi Dewi malah meringsuk kepunggungku. Dalam hatiku tertawa kecil.
Baru juga mau memejamkan mata. Tiba tiba ku dengar teman dari kamar sebelah berteriak. Sontak mataku terbuka lebar dan bangkit dari kasur. Tapi tanganku masih saja digenggam oleh Ika. Baru juga mau keluar dari kamar, pintu kamar ku di gedor dengan sangat keras.
Tok tok tok
"Viiii...... Buka pintunya"
ku dengat suara lirihan dari luar. Ku buka pintu dan langsung didorong dari luar. Sontak saja aku terjatuh dibuat 3 orang ini.
"ada apa ?" tanyaku.
"kunci dulu pintunya" pintaku.
Ika dan Dewi ikut terbangun mendengar kerusuhan yang terjadi.
Mbak Ayu : ada orang dikamar Vi
Lastri : iyo Vi, itam yo. Apa itu
Aku melihat Yani yang ga bisa berkata, wajahnya pusat pasi kaya mayat. Terlihat jelas dia emang sudah sangat takut. Karna anaknya emang penakut. Sama kecoa saja dia takut, apalah sama makhluk yang disebutkan sama kawanku itu.
"coba bicara yang jelas" kataku
Mbak Ayu : abis kita bicara di grup tadi, aku langsung nutup mata. Kaya katamu Vi. Tapi aku merasa dibelakangku kaya ada orang gitu. Kan aku ngadap Yani ya. Yani ditengah. Jadi aku tu rasanya mau buka mata ja. Pengen liat ada apa. Eh pas ku buka mata, aku liatnya Yani udah nangis ja. Ku tanya kenapa, dia ga jawab. Malah makin nangis. Trus Lastri bangun, langsung bilang eh apa itu dibelakang mu mbak. Ya aku takut. Langsung bangkit lari kesini.
"apa yang kamu lihat Las ?" tanyaku
"menyerupai laki laki, besar hitam tinggi" jawab Lastri
Aku hanya bisa menghela napas. Karna ku tau apa yang ada dirumah ini hanya bisa dilihat oleh ku. Awalnya aku ingin membahas masalah ini sama dosen, tapi ku urungkan niat itu karna ku tau di desa ini penuh dengan hawa mistis.
Dengan usaha yang sangat keras ku tenangkan teman temanku. Namun hasilnya nihil. Mereka tetap saja menangis ketakutan. Kucoba telpon teman laki laki ku, namun hasilnya nihil. Mungkin mereka sudah tidur. Ku rasakan ada suara langkah kaki samar menuju kamar kami. Tepat didepan pintu aku merasa ada aura yang begitu luar biasa. Sempat terdiam, keringat pun mulai bercucuran. Ku coba untuk tetap tenang.
Ku raih handphone ku, ku coba menelpon kawan ku kembali.
Tuuuuut... Tuuutt...
Bang Zul : halo siapa ni ? (dengan suara parau)
Aku : bang tolong ajak kawan yang lain untuk segera datang ke rumah Bu Mila. (pintaku dengan suara lirih, namun tetap tenang)
Bang Zul : kenapa dek ? Ada apa ? (dia mulai panik)
Aku : tolong saja datang.
Bang Zul : jangan matikan telponnya.
Gak berapa lama, terdengar suara langkah kaki yang bersahutan ramai.
Tok tok tok
terdengar suara pintu. Aku masih saja diam. Masih berpikir keras bagaimana caranya biar aku bisa melangkah keluar tanpa bertemu atah melihat sosok bayangan hitam itu.
Drrrttt drrrttt
getar hp ku.
Bang Zul : dek, abang udah didepan. Buka pintunya.
Aku : (ku hela napas panjang namun terasa berat) sebentar bang.
10 menit
Drrttt drrtttt
Bang Zul : dek, lama kali. Ada apa didalam ?
Aku : bang, apa pak Kades ikut ?
Bang Zul : iya abang ajak lah... Takut kenapa kenapa, takut juga dikeroyok warga kan.
Aku : kasihkan tolong hp nya sama pak Kades.
Pak Kades : halo nak, apa yang terjadi didalam ?
Aku menceritakan semuanya, termasuk sosok bayangan hitam yang sekarang masih enggan untuk beranjak pergi dari depan pintu kamar itu.
10menit
Braakkk !!!
Ku dengar suara pintu didobrak.
Tok tok tok
"dek, buka pintunya. Abang sama yang lain didepan kamar" kata bang Zul
Ku hela napas panjang. "Alhamdulillah" kataku
Namun kawan kawanku masih saja terdiam.
Segera ku pakai jilbabku dan kubuka pintu kamar.
Mereka semua melontarkan banyak pertanyaan.
"lihatlah mereka" kataku
"Astaghfirullah" ucap Pak Kades
"mereka sudah seperti itu sejak 1 jam yang lalu, aku udah berkali kali mencoba nelpon kalian, tapi baru diangkat setengah jam kemudian. Aku gatau lagi apa yang harus ku perbuat sama mereka. Mereka hanya bisa diam dan menangis" kataku dengan suara terisak. Yah... Aku hanya bisa menanahan tangisku untuk mengurangi rasa cemas.
Pak Kades yang ternyata seorang Ustadz meruqyah kawan kawan ku. Dan ya benar saja mereka langsung tenang. Namun ku tau ada 1 kawanku yang ga bisa tenang dan makin menggila, Yani. Dia emang suka menghayal. Suka menyendiri. Alhasil dia dirasuki sama makhluk astral yang biasa main dibelakang rumah Bu Mila. Aku tak ingin melihat dan masih saja dengan kepura puraan ku yang tak bisa melihat mereka.
Yani ditangani sama Pak Kades dan dibantu sama kawan laki laki.
1 jam berlalu, Alhamdulillah Yani kembali tenang. Makhluk astralnya kembali ke asal.
Ku lihat wajah Yani, pucat, basah karna keringat. Tanganku masih saja digenggam kuat sama Ika. Yah Ika sudah seperti adikku sendiri. Terlalu sering manja samaku. Mbak Ayu, Lastri, dan Dewi masih saja berpelukan.
Pak Kades melihat ke arahku dan berkata "ini masih jam 2 pagi, kalian masih bisa istirahat menunggu subuh"
Genggaman Ika makin saja kuat, ku tau dia ga akan mau tidur dirumah ini lagi.
Aku masih saja diam.
Bang Zul : gimana dek ?
Nirwan : atau kami tidur disini juga malam ni sampe Bu Mila pulang ?
Cletak !!!
Sontak saja telinga Nirwan di sentil sama Bang zul "geblek, di grebek warga kita disni, urusannya sama komisaris. Jangan mengada ngada"
Bang Agus : jangan kita, biar mereka saja yang ikut kita kerumah Pak Kades. Gimana pak ?
Pak Kades : itu lebih baik. Daripada kalian yang harus disini.
Bang Agus : udah jangan banyak mikir. Udah jam segini, besok masih harus ke desa sebelah. Kalo ga tidur sekarang, jamin besok ga konsen di lapangan.
"yaudah, kalian mau gitu ja atau mau ganti baju dulu ? Udah basah mena keringat kan ?" tanyaku.
Mereka setuju untuk ikut. Menunggu yang lain beberes. Aku hanya bisa berusaha untuk tidak mengingat kejadian tadi.
Otewe kerumah Pak Kades. Cuuusss
Sampai dirumah Pak Kades disambut donk gengs sama Bu Kades 😂 ga pake karpet merah, lagi di doorsmer hehe
Bu Kades : ayk sini sini nak minum dulu teh nya.
Ternyata si Bu Kades udah siapin teh gengs. Ngapa ga kopi gitu kan 😂
Aku : ngerepotin Bu hehe
Bu Kades : gpp nduk. Malam gini kan, kena angis, kalian juga kena musibah. Ngeteh dulu
Aku : gada cemilannya sekalian bu ? Hehe
Ya masih saja dengan sisa candaanku.
Bu Kades malah nawari roti kelapa.
Pukul 2.30 WIB dini hari
Ku lihat kawan kawanku mulai nyenyak. Namun mataku masih saja terjaga. Tanpa disadari air mataku mengalir.
Drrtt drrttt
getar hp ku
Bang Zul : tidur saja, jangan dipikirin 😉
Aku : siap bos 😎
Bang Zul ini sepupuku. Dia tau masalah aku bisa melihat makhluk astral. Dan dia juga tau kondisiku saat mengalami kejadian seperti itu. Jadiya wajar saja kalau dia perhatian.
Reader jangan salah paham ya...
Alarm ku berbunyi, menunjukkan pukul 04.30WIB. Masih ngantuk banget, mataku berat, ya jelas saja. Ku buat nangis semalaman sampe tertidur 😂
Kupaksa untuk bangun, terasa pusing.
Aku keluar kamar, dan ketemu sama Bu Kades.
"kamar mandinya dimana ya Bu ?" tanyaku.
"sebelah kanan darisini" jawab Bu Kades.
Selesai sholat, ku bangunkan kawanku yang lain. Dengan keadaan yang sama. Masih ngantuk 😂
Pukul 07.00WIB
Semuanya berkumpul diteras rumah Pak Kades. Aku yang baru saja keluar, melihat komisaris sudah duduk dengan santainya di kursi. Ya dia dosen tua ku yang killer. Tanpa bertanya, aku ikut duduk bersama dengan yang lain.
"saya dapat kabar dari ketua kelompok, katanya ada kejadian yang membuat semuanya berkumpul dirumah Pak Kades tadi malam. Bagaimana kabar kalian hari ini ?" tanya Dosen.
Sepi, tidak ada yang menjawab.
"vidi, kenapa dengan suaramu ? Biasanya kamu yang paling lantang menjawab saya" kata Dosen.
"semuanya dalam keadaan baik Pak" jawabku dengan menghela napas berat.
Dosen: apa kalian mau pindah lokasi KKN ?
Sontak saja aku kaget dan bertanya tanya. Alisku mulai ikut berkerut kaya Dosen ku ini.
"kenapa harus pindah pak ?" tanyaku.
"daripada kalian harus mengalami hal serupa lagi, lebih baik kalian pindah lokasi"jawab si Dosen.
"ga perlu pindah pak, kami disini saja. Kami sudah nyaman dsini, orang orang disini ramah dan penuh rasa kekeluargaan. Masalah tadi malam ga akan terulang lagi. Itu biar kami yang mencari cara sendiri. Bapak ga perlu turun tangan. Yang penting jangan tekan nilai kami itu aja udah cukup buat kami" kataku
Sontak saja yang lain kaget dan melihat ke arahku. Dan membenarkan apa kataku.
Dosenku yang menyerah dengan kami, tidak mempermasalahkannya lagi. Dia pamit untuk kembali ke kampus.
Pak Kades pamit untuk ke kantor Lurah. Dan kami juga pamit dengan Bu Kades untuk kembali ke rumah Bu Mila. Sebelumnya Bu Mila menelponku, nanya keadaan disini. Dan ternyata dimalam kejadian waktu kami masih di rumah Bu Mila, Pak Kades menelpon Bu Mila minta izin untuk mendobrak pintu. Tapi Bu Mila ga pulang hari itu juga. Jadi selama 3malam ni kami tidur dirumah Pak Kades. Mayan gengs anaknya Bu Kades ternyata ada yang seumuran kami. Itung itung cuci matalah 😂
Saat kami lagi berganti baju, kawanku yang cowo benerin pintu rumahnya Bu Mila.
1 bulan kemudian...
KKN berjalan seperti biasa. Dari program kerja itu sendiri, kami bisa menghasilkan uang sendiri. Ilmunya dapet, kantong terisi gengs😂
Paginya jam 08.00WIB kami kembali berkumpul di Kantor Lurah, untuk upacara pelepasan dari desa.
Upacara selesai. Kami balik lagi ke rumah Bu Mila dan Pak Kades untuk berpamitan. Ya tentu saja ada perasaan sedih. Karna selama sebulan merekalah keluarga kami.
Diperjalanan menuju kampus, dosen memberhentikan kami semua. "sebelum balik kampus, gimana kalau kita makan diwarung baso ini dulu, saya yang traktir" kata Dosen.
Alisku naik sebelah karna bingung. "tumben Vi" kata Ika.
"hahahaha mungkin tadi malam bulan tenggelamnya di sebelah timur" sindirku
.
.
.
.
.
.
.
Sampai dikampus
Upacara pembubaran KKN. 30menit selesai.
Laporan KKN selsai diserahkan.
Begitu juga dengan ceritaku selesai sampai disini.
Ini kisah nyata. Karna di perkampungan tersebut memang masih ada sebagian orang percaya sama hal mistis. Waktu aku masuk ke desa itu, aku sudah mulai merasa aura yang asing dan sangat kuat. Dan dirumah Bu Mila memang benar adanya. Dan bahkan dirumah Pak Kades !!!