Sepulang sekolah, Demian pergi menuju ayunan yang berada di tengah salah satu taman yang berada di komplek perumahannya. Taman yang Demian kunjungi amat luas nan indah, pohon-pohon berdiri dengan tegak, daun-daunnya hijau tak terkira, bunga-bunga subur, juga cerah warnanya. Coba cari daun yang kering, bunga yang layu, juga sampah yang dibuang sembarangan di taman tersebut, pastilah hasilnya akan sia-sia belaka. Di bagian tengah taman tersebut terdapat arena bermain anak-anak, salah satunya adalah ayunan yang sedang dimainkan Demian.
Demian adalah murid laki-laki yang kini duduk di kelas 7 SMP, tetapi ia masih bermain permainan kekanak-kanakan itu. Orang-orang di sekitar komplek perumahan pun tahu bahwa Demian bermain ayunan itu sepulang sekolah, dengan wajah yang berlawanan dengan indahnya taman itu, wajah sedih.
Hanya saja, dahulu Demian tak bermain ayunan itu sendirian.
Beginilah kisah Demian yang menjelaskan mengapa ia selalu bermain ayunan sepulang sekolah walaupun dirinya bukan anak-anak lagi, dengan muka sedih.
Dan pada saat itulah, Demian mengetahui bahwa betapa menyedihkan rasanya berpisah dengan seseorang yang ia kenal sejak lama, yang dahulu perasaan itu ia anggap sepele.
🙌🙌🙌
6 tahun lalu.
Demian duduk di kelas 1 SD pada saat itu. Tubuh Demian 2x lebih pendek daripada saat Demian duduk di kelas 7 SMP. Demian duduk bersebelahan dengan teman yang pertama kali ia kenali, namanya Dicky. Dicky adalah murid yang pertama kali dikenali oleh Demian, dan Demian adalah murid yang pertama kali dikenali oleh Dicky. Terdengar amat istimewa, seolah itu hanya kebetulan. Karena itulah mereka amat dekat dengan mudah, hingga diam-diam mereka dapat saling bersahabat.
Dicky tinggal di komplek perumahan yang sama dengan Demian, dan Demian amat gembira mendengar fakta itu. Tapi walau tinggal di komplek yang sama, jarak antara rumah Demian dan Dicky jauh.
Dicky memiliki tempat favorit, yaitu ayunan yang berada di salah satu komplek perumahannya. Dicky amat semangat ketika ia memberitahu pada Demian bahwa ia senang sekali bermain ayunan yang berada di bagian tengah taman itu, lantas mengajak Demian untuk bermain bersama. Pasangan sahabat laki-laki itu berteriak bahagia dalam setiap ayunannya, melebihi anak TK yang berteriak riang ketika bermain. Mereka berdua pun berjanji untuk bermain ayunan itu setiap pulang sekolah.
Janji itu pun tak pernah sekalipun mereka ingkar, mereka dengan semangat bermain ayunan itu, karena itulah persahabatan yang sesungguhnya, tak pernah ingkar janji.
Demian pernah terjatuh dari ayunan karena ia mengayun terlalu tinggi, lalu lututnya terluka, tapi tidak parah. Melihat luka di lutut Demian, Dicky langsung mengeluarkan plester, lalu menempelnya di bagian lutut Demian yang terluka. Dicky memang selalu membawa plester ke sekolah, karena ibunya yang menyuruh. "Terima kasih, Dicky." Ucap Demian ketika Dicky telah selesai menempel plester tersebut ke lututnya. Dicky tersenyum, ia melakukan hal itu dengan sungguh-sungguh, karena itulah persahabatan yang sesungguhnya, saling tolong menolong dikala sakit dan luka.
Pernah pada suatu hari di sekolah, Demian menyuruh Dicky untuk tidak berteman dengan Bagas, salah satu murid sekelas mereka, karena Bagas ngeselin. Dicky pun langsung menegur Demian, bilang kalau itu perbuatan dosa dan bisa masuk neraka karena itu. Demian pun balik menegur Dicky, bilang kalau menghakimi, menentukan dosa manusia adalah perbuatan yang salah, sebab manusia tak berhak melakukan hal tersebut. Mereka berdua saling melakukan kesalahan, dan mereka berdua pun saling minta maaf, karena begitulah persahabatan yang sesungguhnya, menegur apabila salah.
🙌🙌🙌
Tahun telah berlalu. Dicky dan Demian duduk di kelas 2 SD.
Kini, mereka sedang belajar mengenai "Peristiwa-Peristiwa Menyenangkan dan Menyedihkan" di sekolah.
Bu guru sedang menerangkan materi tersebut di depan kelas. Saat Bu guru menerangkan materi, Demian iseng membaca buku paketnya. Ketika ia membaca mengenai peristiwa menyedihkan, ia melihat "Berpisah dengan sahabat" adalah salah satu contohnya.
Demian berpikir sejenak.
Demian merasa itu bukanlah hal yang benar, lagipula saat disampingnya tidak ada Dicky, misalnya ketika ia sedang di rumahnya sendiri, ia merasa biasa saja. Dan ia pernah membayangkan kalau semisalnya ia sangat berjauhan dengan Dicky, ia juga merasa biasa saja.
"Demian, perhatian ke depan! Baca buku paket itu jika ibu suruh baca!" Seketika Demian ditegur oleh Bu Guru.
🙌🙌🙌
Tahun berlalu kembali, kini Demian dan Dicky telah duduk di kelas 6 SD.
Dan peristiwa menyedihkan yang ia anggap sepele itu... akhirnya ia dapat merasakannya.
Sepulang sekolah, Demian dan Dicky pergi menuju taman untuk bermain ayunan seperti biasa, tak peduli kalau mereka bukan anak TK lagi.
Dicky tak terlihat seperti biasanya, ia berjalan dengan lesu, mukanya terlihat tidak sesegar taman yang mereka kunjungi.
"Dicky, kamu sakit?" Tanya Demian penasaran, memulai pembicaraan. Mereka sebentar lagi hampir sampai ke taman itu.
"A...tidak koq, aku sehat-sehat saja." Dicky tersenyum lebar, terlihat sangat dipaksakan.
"Dicky, kalau kamu sakit, kamu pulang ke rumah aja ya, istirahat. Aku yang akan antar kamu." Ucap Demian.
"Ah, tidak usah, lagipula aku beneran baik-baik saja, Dem." Ucap Dicky lagi. Jika Demian sadar, wajah Dicky seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
Demian memutuskan diam, lalu mengangguk pada sahabatnya itu.
Ketika mereka berdua bermain ayunan, Dicky tetap terlihat lesu. Ayunan yang dimainkan Dicky tak sekencang biasanya, hanya diayun perlahan. Demian kembali merasakan bahwa ada yang tidak beres terhadap Dicky.
"Dem..." Dicky tiba-tiba saja memulai pembicaraan.
"Ya?"
Dicky seperti sedang menahan mulut untuk memberitahu suatu hal, rasanya seperti berat tuk diucapkan. Karena tak tahan, tiba-tiba dia menangis, terisak. Membuat Demian terkejut.
"Eh, kamu kenapa?!" Tanya Demian dengan wajah kaget.
"Aku sebenarnya tak mau memberitahu hal ini, Dem. Aku tak kuasa untuk memberitahu padamu. Tapi aku sadar, bahwa kita berdua adalah sahabat, sahabat harus saling terbuka. Jadi kau harus tahu, agar kau tak bertanya-tanya lagi." Wajah Dicky terlihat semakin sedih.
"Memberitahu tentang apa?" Tanya Demian penasaran.
"Aku...akan pindah minggu depan, Demian. Ayahku pindah kerja, jadi aku dan ibuku harus ikut dengan ayahku. Aku sedih karena akan berpisah denganmu, Demian." Dicky menangis dengan semakin keras.
"Lalu, apa masalahnya, aku tidak sedih kok?" Jawab Demian dengan amat santai, sebab ia belum tahu rasanya berpisah dengan seseorang yang ia kenal sejak lama.
"Kau akan merasakan rasa sedih itu jika aku benar-benar sudah pergi." Ucap Dicky sambil menghapus air mata.
Demian masih menganggap itu bukanlah apa-apa, ia menganggap itu tidaklah menyedihkan.
Tetapi, saat Minggu depan telah hadir, ia dapat merasakannya... rasa sedih itu. Terlalu lama tidak bersama dengan sahabat membuatnya sedih tak karuan.
🙌🙌🙌
Kembali ke kejadian sekarang.
Ia masih memainkan ayunan itu hingga sekarang, walau hanya seorang diri, sambil mengingat peristiwa ketika ia masih bersama dengan sahabatnya. Demian akhirnya telah mengetahui bahwa betapa menyedihkan rasanya berpisah dengan sahabat, seseorang yang ia kenal sejak lama.
Demian menatap ayunan di sampingnya, yang dahulu menjadi tempat Dicky untuk bermain ayunan. Lalu air matanya menetes perlahan.
Dalam tiap ayunan, ia membayangkan ketika ia ditolong oleh Dicky.
Dalam tiap ayunan, ia membayangkan ketika ia dan Dicky saling minta maaf.
Dalam tiap ayunan, ia membayangkan ketika ia dan Dicky bermain ayunan bersama.
Demian menamai ayunan itu dengan sebutan "Ayunan Rindu", sebagai luapan rasa rindu yang lebih dari kata "sangat besar" pada sahabatnya, Dicky.
"Entah bagaimana kabarmu sekarang, tapi aku yakin kau baik-baik saja di sana." Demian berbicara sendiri sambil mengayun dalam ayunan.
Hanya Ayunan Rindu itu yang menjadi tempat Demian mengenang Dicky kini.
~ TAMAT ~
Follow IG ku: @rainhard.frealdo
Follow MLBB ku: TheCircleOfFire. ID: 635724455
Jangan lupa untuk membaca cerpen karya saya yang lain di bawah ini ya :) 👇🙏
Jangan lupa juga untuk membaca novel pertama saya: "Dunia Langit". 🙏