Menikah adalah planning hampir setiap orang. Terlebih kalau usia dan pendapatan sudah mapan. Tapi tidak dengan diriku. Di usiaku yang sudah menginjak 33 tahun dan usahaku pun sudah sangat mapan, namun tidak terpikir dalam diriku untuk segera menikah. Bukannya tidak ada wanita yang tertarik padaku, bahkan aku sudah punya kekasih yang cantik bak model. Hubungan kami sudah berjalan 5 tahun. Dan kekasihku juga bahkan usianya 2 tahun lebih tua dari aku.
Hingga sejauh ini, belum ada pembahasan jika kami akan segera menikah. Menurut kekasihku, pernikahan tidak menjamin kebahagiaan. Berkaca dari teman-temannya yang sudah menikah, yang ternyata selalu ada cerita tentang konflik dalam rumah tangga mereka. Dan aku sendiri memang baru berencana akan menikah di usia 38-40 tahunan.
Aku sangat mencintai kekasihku, aku tidak peduli dengan masa lalunya yang kelam. Namun bagiku dia wanita yang sempurna, selain cantik, dia juga sangat baik. Mungkin kebaikan sifatnya inilah yang membuat aku mau menerima dia apa adanya.
Di tahun ke-5 hubungan kami, mulai muncul konflik yang membuat hubungan kami goyah. Yang jelas sih bukan karena adanya orang ketiga. Aku merasa prilaku kekasihku mulai berubah. Dia sering melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum. Inilah yang aku pikir jika kami sudah tidak bisa sejalan lagi. Hingga akhirnya aku pun mengakhiri hubungan kami.
Selang beberapa bulan...
Suatu hari aku dapat undangan pernikahan temanku. Di tempat resepsi itulah aku bertemu seorang wanita. Wanita cantik dengan perawakan mungil. Memang itu bukan pertemuan yang pertama kali, tapi pertemuan kali ini perasaanku beda. Aku sempat tukaran no. hp dengannya.
Dan sejak pertemuan tersebut aku sering mengirim pesan untuk sekedar bertanya kabarnya, namun jarang dibalasnya.
Suatu hari, aku dengar dia sedang keluar kota dan kebetulan aku juga sedang ada pekerjaan di kota yang sama. Di sana kami lebih leluasa bertemu dan mengobrol. Dan sejak itu komunikasi kami pun semakin sering. Aku coba datang ke keluarganya dan menyampaikan tujuanku ingin serius dengannya. Dan keluarganya pun merespon dengan baik.
Tidak berselang lama dari situ, aku meminta izin kepada keluarganya untuk mengajaknya menemui orangtuaku. Dan ternyata orangtuaku sangat menyukainya.
Tidak berselang lama pun aku melamarnya. Dan tidak lama dari waktu acara lamaran, kami pun melangsungkan pernikahan.
Ini semua sungguh keluar dari rencana hidupku selama ini. Aku yang dulu pacaran sampai 5 tahun, namun tidak pernah terbersit merencanakan pernikahan dalam waktu dekat. Namun begitu bertemu dengan wanita yang srkarang jadi isteriku, aku malah terus mengejarnya, dan memutuskan segera menikahinya.