Udara dingin menusuk pipi. Aku lebih mengeratkan jaket dan topi memantaskan diri. Desember penuh hujan, selalu membuat basah setiap jemuran. Huh, Rahmat Tuhan.
Gemuruh petir sedang asik - asiknya, kilat kilat cahaya berpendar pendar di seberang jendela kaca. Rumah kayu sederhana di tepi danau dengan di kepung pohon pohon yang rindang menjulang.sebuah surga dengan nuansa yang menyegarkan mata.
Gerimis berganti hujan,perahu kayuku memuntahkan air dari atap rumah.
Pukul 03.30 sore. Aku keluar kamar menuju dapur rumah untuk menyeduh kopi. Suasana yang pas menurutku. Kini secangkir kopi berukuran jumbo berloreng loreng hijau putih itu sudah terisi kopi hitam. Asap mengepul menantang.
Sore hari, ditemani suara alam. Bunyi hujan, paduan suara serangga yang bersahutan. Ku melangkah menuju teras belakang rumahku, sambil membawa secangkir kopi tadi. Dua buah kursi rotan dengan satu meja kayu bulat di antara keduanya. Aku beranjak duduk menatap danau yang tenang di hujani air. Tiga sruput kopi, nikmat sekali.
Kini, angin bertiup lebih kencang. Cipratan hujanpun sampai mengenaiku, menyegarkan badan. Cukup dengan waktu sebentar, aku langsung kebelet pipis. Dingin ini huuuh... Aku cepat berlari menuju kamar mandi dan hah! Tidak keluar? Akupun bangun tersadar, rasa kebelet ini sampai menyerang ku di dunia nyata, aku langsung bergegas ke kamar mandi dan syukurlah air urin keluar dengan derasnya, sambil memejamkan mata dan menikmati semuanya, aku mendapati bahwa kejadian semula hanyalah mimpi belaka.