Ruo xi, Putri ke 2 istana suci yang baru saja tumbuh dewasa, ia kini tengah duduk termenung di sebuah gazebo yang ada di halaman kediamannya.
Ruo xi sangat kesepian, di istana ini tak ada yang mau menemaninya, dia dijuluki gadis nakal, sampai sampai hewan saja tak mau mendekatinya.
Tapi hari ini berbeda, hari ini adalah hari keberuntungan nya karena tiba-tiba ada seekor kupu-kupu yang lewat di hadapannya dan itu membuatnya sangat senang.
“Eh... ada kupu-kupu putih. Sayapnya Indah mengeluarkan cahaya. Cantik sekali...."
“Kemari, aku menginginkan mu!”
Gadis itu sangat tertarik dan berlari mengejar kupu-kupu aneh yang terbang ke luar dari taman istana suci.
Kupu-kupu itu terbang melewati lobang kecil bekas retakan tembok pembatas, tak ragu Ruo xi juga ikut menerobos lobang seukuran tubuhnya.
Asyik berlari mengejar kupu-kupu tanpa Ruo xi sadari, ia kini telah berada di perbatasan antara istana suci dan hutan terlarang.
Hutan yang dikabarkan tempat makhluk mitologi buas berada. Hutan itu adalah hutan yang tidak boleh di masuki oleh siapapun terutama para bangsawan.
“Argah.... susah sekali menangkapnya.”
Ruo xi berlari dan terus berlari semakin jauh masuk ke dalam hutan.
“Hosh... Hosh... Akhirnya berhenti juga kamu kupu-kupu kecil.”
Puk...
“Hehehe dapet ....”
Baru saja rasa senang didapatinya, Ruo xi sudah dikejutkan oleh suara seorang pria.
“Hei siapa itu yang menganggu tidur siangku?"
Seorang Pria tampan berbaju putih tebangun dari tidurnya. Turun terbang dari atas pohon besar dan menapak tepat di hadapan Ruo xi.
Tak sengaja pandangan mata mereka bertemu.
Long Fei, pria yang sedikit arogan tetapi memiliki wajah rupawan yang luar biasa mengagumkan, membuat Ruo xi terpana sejenak.
“Siapa kamu?” tanya Long Fei dan Ruo xi bersamaan.
“Ehem... Namaku Long Fei. Lalu kamu siapa dan kenapa ada disini?”
“Aku Ruo xi. Sepertinya aku tersesat karena mengikuti seekor kupu-kupu. Maaf sudah menggagumu tidur.”
Suara lembut nan manis Ruo xi membuat Long Fei terpesona.
“iya tidak apa-apa,” jawab long Fei sedikit gugup.
Mengetahui ada yang aneh dengan dirinya, Long Fei langsung menutupinya dengan senyum tipis.
Entah kenapa Ruo xi merasa cepat akrab dengan pria yang baru saja ditemuinya ini, sampai kewaspadaannya pun menghilang.
Dengan berani Ruo xi menyodorkan tangannya yang mengurung si kupu-kupu dan meregangkan nya supaya terlihat. “Lihat aku menangkap kupu-kupu putih yang cantik.”
Plakk...
“Ah tidak... Kenapa kamu memukul tangan ku. Susah payah aku menangkap nya malah lepas gara-gara kau memukul tangan ku.”
“Kupu-kupu itu beracun. Aku hanya mencoba menyelamatkan mu.”
“Benarkah?”
Wajah cantik Ruo xi sekilas tampak sedih.
“Tentu saja benar. Jika kau ingin keracunan aku akan menangkap nya kembali lalu kuberikan padamu lagi.”
“Ah tidak tidak. Aku akan percaya padamu.”
“Baguslah kalu kau mau percaya. Ini basuhlah tangan mu!” seru Long Fei menyerahkan tempat air.
“Eh dari mana kau mendapatkan air. Sepertinya tadi kau tak membawa wadah air ini.”
“Sudahlah jangan banyak tanya. Cepat, cuci saja tanganmu sampai bersih. Kalau kau keracunan aku tak akan menolong mu.”
“Huh.. baiklah.”
Sesudah mencuci tangan, Ruo xi berjalan menuju pohon besar tempat Long Fei istirahat. Ruo xi duduk bersandar di batang pohon.
“Huft... Lelah sekali.”
Melihat Ruo xi kelelahan, Long Fei tak tega untuk berdiam diri.
“Apakah kau mau memakan sesuatu?”
“Mau, kebetulan sekali perutku sedikit lapar.”
“Kalu begitu aku akan mengambilkan buah untukmu.”
Long Fei dengan cepat naik ke atas pohon.
Tak seperti manusia biasa, Long Fei melayang di udara kosong memetik buah buah-buahan di pohon tanpa berpijak pada dahan ataupun ranting pohon.
Di bawah pohon, Ruo xi memperhatikan Long Fei dengan takjub.
“Long Fei! apakah kau seorang kesatria atau seorang pendekar, kenapa kau bisa terbang?” tanya Ruo xi lantang.
“Aku bukan kesatria ataupun pendekar. Jika aku mengatakan identitas asli ku, aku khawatir kau akan takut padaku.” Jawab Long Fei sambil melayang di udara memetik buah.
“Kenapa aku harus takut padamu. Tak peduli siapa pun dirimu asal kau baik dan tidak berniat jahat padaku, aku tak akan takut padamu.”
“Apakah kau benar-benar tak akan takut meski aku adalah hantu?”
“Tidak. karena seandainya kau adalah hantu, kau adalah hantu tertampan.”
“Hahaha... kau adalah gadis yang menarik. Baiklah nanti aku akan memperlihatkan wujud asli ku asal kau berjanji tak akan mengatakan pada siapapun. Ini rahasia kita berdua."
“Oke, aku menantikan wujud aslimu.”
Tak lama kemudian Long Fei turun membawa buah berwarna Merah seperti buah Apel.
“Woah... buahnya besar-besar. Buah apa ini, apakah ini buah Apel?”
“Bukan, ini bukan buah Apel. Buah ini, buah hutan liar yang ku namai buah Manmer.”
“Manmer?” ucap Ruo xi mengulangi nama buah Asing itu.
“iya, buah si Manis merah. Jika kau memakan buah ini, lidah mu akan menjadi merah seperti buah ini dan manisnya akan bertahan 1 jam untuk satu buahnya.”
“Aneh sekali buah ini. Apakah ini tidak beracun?"
“Tentu saja tidak. Kalo buah ini beracun mana mungkin ku berikan untukmu.”
“Lalu kenapa kau tak memakannya juga?” tanya Ruo xi ragu.
“Aku tidak suka buah dan sayur, dan tidak akan memakannya. Hanya saja dulu aku pernah mencoba buah ini sekali saat kehausan di musim panas. Rasanya memang enak tapi sayangnya tidak cocok dengan seleraku.”
“Hahaha... ternyata pria tampan seperti mu tidak suka makan buah dan sayur ya.”
“Kenapa kau tertawa. Bukankah tidak ada yang lucu. Dan memangnya kenapa kalau aku tidak suka makan buah dan sayur.”
“Tentu saja ada. Kau mengingatkanku pada adik perempuan ku yang sangat takut makan buah dan sayur. Dia hanya mau memakan daging saja, alhasil tubuhnya penuh lemak hingga jalan saja susah, hahaha... hahaha... jadi jika membayangkan kau seperti adikku bukan kah sangat lucu, hahaha....”
Long Fei yang sebenarnya ditertawakan malah ikut tertawa terbahak bahak. Yah mungkin saja dia membayangkan dirinya sendiri gendut. Hahaha....
“Oh iya, tadi kau berkata akan memperlihatkan wujud aslimu. Kau tak lupa bukan."
“Tenang saja, seekor naga putih tak akan melupakan janji nya.”
Groaarrr....
Ruo xi terkejut melihat seekor naga putih yang sangat besar tengah berdiri dihadapannya. Tapi Ruo xi tidak takut ataupun lari, ia hanya tak menyangka bahwa Long Fei adalah jelmaan naga putih.
Ruo xi mendekat dan mencoba meraih kepala sang naga.
“Wow ini menakjubkan. Aku tak menyangka dapat bertemu makhluk mitologi yang melegenda. Bisakah kau membawa ku terbang ke angkasa?”
“Tentu saja tuan putriku.”
“Loh kenapa kau bisa tau aku adalah seorang putri”
“Itu sangat mudah di tebak. Siapa yang tak tahu kalau orang yang memakai pakaian mewah dengan kulit yang indah pastilah seorang bangsawan atau seorang putri.”
“Ah iya bener juga katamu.”
“Ayo naik ke punggung ku! aku akan membawa mu mengelilingi hutan ini dari atas langit.”
“oke siap, ayo berangkat..!” seru Ruo xi bersemangat.
Suatu keberutungan Ruo xi dapat mengendarai seekor naga.
pemandangan hutan dari ketinggian sangat menakjubkan.Tak terasa waktu berlalu begitu cepat.
“Long Fei maukah kau mengatarkan ku pulang ke istana?. Aku tak bisa meninggalkan istana terlalu lama.”
“Baikalah aku akan mengantarmu pulang. Tapi aku hanya bisa mengantarkan mu sampai sebelum perbatasan. Aku khawatir akan ada yang melihat wujud asli ku jika aku mengantar mu ke perbatasan."
“Tidak apa. Kau mau mengatarku pulang saja sudah membuatku sangat berterima kasih.”
“Baik, berpeganglah aku akan terbang sangat cepat.”
Tak terasa dalam sekejap mereka sudah sampai sedikit jauh dari perbatasan. Setelah Ruo xi turun, dengan cepat Long Fei langsung merubah wujudnya menjadi manusia.
“Terimakasih Long Fei, hari ini menyenangkan sekali. Bolehkah aku menemui mu besok siang?. Di istana sangat membosankan, berharap besok dapat melewati waktu yang menyenangkan bersama mu lagi.”
”Tentu saja sangat boleh. Aku akan menunggu mu disini. Aku juga senang kau mau menghabiskan waktu mu bersamaku, yang seorang jelmaan naga ini.”
“Berjanjilah kau akan menyambutku di sini.” pinta Ruo xi.
“Hemm...” angguk Long Fei berjanji.
Dengan wajah berseri-seri Ruo xi melangkah pergi.
“Aku menunggu mu disini Ruo xi..., ingat kau harus datang!” teriak Long Fei pada Ruo xi yang telah jauh darinya.
Meski hanya sebentar, pertemuan mereka penuh dengan hal menyenangkan dan membahagiakan, membuat tumbuhnya rasa cinta di dalam hati kedua insan itu.
....,....
Ruo xi pulang ke istana melalui jalan yang tadi ia lewati. Sesampainya di istana suci Ruo xi disambut dengan kemarahan ayahnya.
“Dasar gadis nakal!. kemana saja kau pergi?, bukankah aku sudah sering melarangmu berkeliaran, dan sudah menghukum mu berkali-kali. Apakah kau tidak kapok-kapok juga?”
“Maaf ayahanda, Tadi Ruo xi melihat seekor kupu-kupu putih dan tak sadar mengejarnya sampai ke hutan.”
“Apa? kau ke hutan terlarang?”
“Benar ayahanda,” jawab Ruo xi yang tak bisa berbohong pada ayahnya.
plakk...
sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Ruo xi.
“Lancang..., Kau melakukan kesalahan fatal nak. Kau ku hukum, mulai sekarang kau dilarang keluar dari kamarmu, sampai pangeran Donghae datang melamar mu. Introspeksi dirimu, jadilah gadis baik seperti kakak mu."
“Ayahanda... ku mohon jangan lakukan ini padaku ayahanda.”
“Diam...” bentak Sang Raja pada putrinya yang berlutut memohon.
“pengawal seret Putri ke kamar nya. Awasi dia, jangan sampai kabur!” perintah sang raja.
“Ayahanda... jangan kurung aku ayah... hiks... hiks... ” teriak Ruo xi menangis.
Sedih dirinya di hukum, Ruo xi menangis sesenggukan hingga tertidur.
cip...
cip...
cip...
Terdengar suara burung berkicau, matahari mulai terbit, sinar nya menerpa wajah Ruo xi, membuat nya terbangun karena silau.
Ruo xi mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya matahari di matanya yang sembab.
“Apakah aku ketiduran, dan apakah semua kejadian yang semalam ku alami hanya mimpi?” gumam Ruo xi bertanya pada diri sendiri.
Ruo xi berjalan menuju kaca besar di samping pintu, memastikan apakah ada bekas tamparan di wajahnya.
Terkejut sekaligus tak percaya, Ruo xi mendapati lebam di pipinya sangat nyata dan ia coba merabanya dan ternyata rasa sakit di pipinya juga terasa nyata.
Di lubuk hati terdalam, Ruo xi merasa senang ternyata pertemuannya dengan pria tampan kemaren bukan lah mimpi belaka tapi kenyataan yang indah.
Disisi lain, Ruo xi bersedih dan resah bagaimana cara ia bertemu dengan Long Fei sedangkan dirinya tak dapat keluar dari kamar.
Hatinya terasa hampa, rasa rindu menerpanya. kini ia sadari bahwa dirinya telah jauh cinta pada pandangan pertama dengan pria itu.
“Sepertinya aku sudah dewasa. Pria itu membuat hati ku berdebar dan membuat ku mengerti cinta. Aku menginginkan nya.”
Ruo xi yang tak tak pernah mendapatkan perhatian dan cinta dari siapapun, kini sudah tahu tentang semua yang tak pernah didapatkan nya dari istana ini melalui Long Fei di pertemuannya yang singkat.
Akhirnya Ruo xi memutuskan untuk kabur dari istana suci untuk mengutarakan isi hatinya pada Long Fei.
Ruo xi mengecoh 2 pengawal yang berjaga di depan pintu.
“Aaaa... ular..., ular..." teriak Ruo xi
Mendengar Tuan mereka berteriak-teriak, kedua pengawal itu langsung masuk ke dalam kamar dengan kekhawatiran.
Brakkk...
“Ada apa tuan putri!!”
“Sss... sakit tolong betis ku di gigit ular, ada ular besar di bawah kasur ku" ucap Ruo xi pura-pura meringis kesakitan.
“Hei cepat panggil tabib!, aku akan mencari ular itu.” seru salah satu pengawal.
“Baiklah." Bergegas seorang pengawal berlari pergi memangil tabib.
Pengawal yang tersisa menunduk mencari keberadaan si ular. Tak segan-segan Ruo xi memukul pundak pengawal hingga pingsan.
Tanpa pikir panjang Ruo xi langsung berlari ke luar.
Bersyukur hanya ada dua pengawal yang mengawasinya dan untungnya lobang itu belum di ketahui orang lain dan belum di tutup. Segera Ruo xi berlari kencang menuju hutan tempat Ia bertemu dengan Long Fei.
Di sana tampak Long Fei duduk di atas dahan pohon yang tak terlalu tinggi.
“Long Fei!!!” teriak Ruo xi memanggil.
Mendengar Suara teriakkan Ruo xi yang terdengar pilu dan menyedihkan, Long Fei langsung turun menghampirinya.
Long Fei yang baru saya turun, terkejut dengan tingkah Ruo xi yang tiba-tiba saja memeluk tubuhnya.
Long Fei sangat malu sampai tak menyadari bahwa Ruo xi sedang menitikkan air mata.
“Long Fei aku mencintaimu."
Deg...
Lagi-lagi Long Fei di buat kaget oleh Ruo xi.
“A~apakah aku salah dengar?" tanya Long Fei gugup.
“Tidak kau tidak salah dengar. Aku memang mencintai mu Long Fei."
Ruo xi melepaskan pelukannya, dia berdiri sangat dekat menatap lekat mata indah Long Fei. Dan mencium bibir Long Fei sambil menutup matanya.
Long Fei melebarkan matanya, bengong memikirkan apakah ini nyata. Long Fei dengan cepat tersadar dan berbalik mencium bibir Ruo xi.
Mereka terlihat begitu mesra dan menikmati.
Merasa Ruo xi hampir kehabisan nafas, Long Fei melepaskan ciumannya.
“Aku juga mencintai mu Ruo xi. Sejak awal bertemu aku langsung jatuh cinta pada mu. Semalam aku juga selalu memikirkan dan memimpikanmu. Tak ku sangka itu menjadi kenyataan."
Mendengar pernyataan cintanya di balas sesuai harapan, Ruo xi menangis bahagia, begitu juga dengan Long Fei, ia tersenyum hangat menggetarkan hati.
Namun teringat akan masalah yang dihadapinya, Ruo xi menundukkan kepalanya dan mengatakan kalau dirinya di hukum dan dilarang untuk ke hutan ini lagi, dan yang lebih menyakitkan lagi ia harus mengatakan bahwa dirinya telah di jodohkan dengan pangeran Donghae, pangeran dari istana Phoenik.
“Long Fei maaf kan aku sepertinya kita harus berpisah. Aku lega sudah menyatakan isi hatiku ini meski akhirnya aku tak bisa bersamamu. Ku harap kau tetap mencintai ku di saat aku tak dapat menemui lagi.”
“Apa yang kau katakan Ruo xi, kita saling mencintai aku akan menikahi mu dan menjadikanmu ratu ku. Bahkan jika kau sudah ditunangkan aku akan tetap menikahi mu, apapun yang terjadi.”
Drap...
Drap...
Drap...
Ratusan prajurit berkuda berhenti di hadapan mereka. Tampak seorang Pria paruh baya memimpin ratusan prajurit yang tak lain dan tak bukan adalah Raja dari istana suci dan Ayah dari Ruo xi.
“Prokk... prokk.. prokk... mengharukan, kisah cinta yang sangat menyentuh. Sayang sekali kalian tidak ditakdirkan bersama. Hubungan antara manusia dan naga itu tidak mungkin. Jadi dengan terpaksa kalian harus dibinasakan sebelum membawa Mala petaka. Pengawal bunuh manusia dan hewan rendahan itu!!!”
Tak ada kompromi dan musyawarah. Ratusan prajurit langsung menyerang Ruo xi dan Long Fei.
Meskipun naga adalah makhluk mitologi yang sangat kuat jika di dikeroyok tetap saja akan kesulitan, terlebih ia harus melindungi Ruo xi yang tak bisa melawan Prajurit pilihan.
Sebenarnya bisa saja mereka kabur dengan wujud naga milik Long Fei tapi sayangnya sang Raja mengunakan mantra pelumpuh, membuat Long Fei sulit untuk berubah menjadi naga.
Diam-diam sang raja menarik busur dan menembakkan anak panah itu tepat di jantung Ruo xi, anak panah itu tak dapat di hindarkan oleh Ruo xi dan langsung menebus dada Ruo xi, sedangkan Long Fei Lengah tak menyangka Kalau sang raja benar-benar akan membunuh anaknya sendiri.
“Tidakkkkkkk.....”
Melihat Ruo xi tumbang dengan anak panah di jantungnya, Kemarahan long Fei membuncah dan membesar membuat kekuatan abadinya bangkit dan mengalahkan mantra pelumpuh milik sang raja.
Long Fei berubah menjadi naga putih yang sangat besar. Dengan mudah mengalahkan dan membunuh ratusan prajurit yang dibawa raja istana suci.
Habis sudah semua prajurit itu, kini tinggallah Sang Raja yang memacu kudanya dengan kecepatan luar biasa menuju istana.
Sedangkan Long Fei tak bisa langsung mengejar Raja brengse* itu.
Long Fei mendekati Ruo xi, ia menangis melihat kekasihnya telah mati. Sang naga menitikkan air matanya. Long Fei sangat terpukul kini ia benar-benar terpukul. Bagaimana tidak sedih ia di tinggalkan sebelum merasakan cinta sesungguhnya oleh wanita yang sangat di cintanya.
Sebagai naga, Long Fei tak larut dalam kesedihannya. Ia bangkit dan membawa mayat Ruo xi ke sebuah goa lalu meletakkannya di atas batu besar yang ada di dalam goa itu.
Setelah itu Long Fei terbang ke istana dan memporan porandakan istana Raja suci, ia membunuh semua yang ada di istana itu tak peduli siapa pun itu terutama raja suci.
petir menggelegar, suara gemuruh menambah kengerian suasana kehancuran istana suci.
Di sela sela itu sebuah cahaya putih keluar dari langit seolah olah membelah awan. Tampak seorang wanita cantik keluar dari cahaya itu.
“Long Fei, hentikan lah tindakan mu.” ucap wanita itu lembut tapi tegas.
”Dewi, kau adalah Dewi?"
“ya aku adalah Dewi rengkarnasi. Aku datang untuk menghentikanmu melakukan hal konyol ini. Apakah kau tidak kasihan terhadap manusia tak berdosa yang harus menanggung amarahmu, sedangkan mereka tak tahu apa-apa. Bukankah kau akan jadi sama kejamnya dengan Raja egois yang membunuh putri nya sendiri, demi menghindari hukuman langit dan takut lengser dari tahtanya. Seharusnya kau cukup membunuh Raja itu saja dan tak perlu menghancurkan istana suci.”
“Tidak, aku akan mengucurkan istana suci ini, kau tak berhak mengatur hidupku, dan menceramahi ku."
“Long Fei, Long Fei, sungguh naga putih yang keras kepala. Aku menyarankanmu lebih baik kau menghentikan aksi mu ini dan menunggu Rengkarnasi Ruo xi, daripada Kau mati untuk selamanya karena hukuman langit.”
mendengar perkataan sang Dewi, Long Fei meredakan amarahnya.
“Benarkah? Ruo xi akan berengkarnasi.”
“Ya itu benar, aku akan membuatnya berrengkarnasi dan menakdirkan Ruo xi menjadi milik mu dengan syarat, kau harus melewati seribu rintangan hidup, seribu ujian kebaikan, seribu ujian kesengsaraan, dan yang terakhir ujian kesabran dan kesetiaan cintamu pada Ruo xi selama seribu tahun. Apakah kau mau?"
Sejenak Long Fei ragu dengan perkataan Sang Dewi tapi pada akhirnya long Fei menyetujui tawaran sang Dewi.
“Aku mau. Aku akan menuruti apa yang kau katakan, asalkan aku dapat kembali bersama Ruo xi, aku rela hidup menderita.”
“Bagus, kau naga yang baik, tak salah Ruo xi mencintaimu.”
Setelah Long Fei mengambil keputusan yang tepat. Sang Dewi menghilang di telan awan.
Dan Long Fei hidup berkelana menunggu Rengkarnasi Ruo xi.
.............°°............
Seribu tahun kemudian....
Istana suci yang telah hancur kembali berdiri megah dan jaya. Raja istana suci adalah Long Fei.
Meski sudah seribu tahun lamanya Long Fei tak menua sedikit pun. Ketampanannya malah bertambah melebihi ketampanan Dewa di surga.
Rakyatnya menjulukinya sebagai Raja abadi dari surga, ada juga yang menyebutnya Dewa Kejayaan, dan banyak lagi julukan lainnya.
Bukan tanpa alasan ia memiliki banyak julukan. Semua itu didapatinya karena keberhasilan dalam perjuangan nya melewati seluruh ujian dari Dewi Rengkarnasi.
Saat saat yang paling dinantikannya adalah hari ini, hari dimana ia akan di pertemuan oleh Ruo xi kekasihnya satu-satunya.
Dan benar saja Long Fei dan Ruo xi bertemu di hutan terlarang tempat pertama kali mereka bertemu.
Cara pertemuan mereka hampir sama dengan seribu tahun silam.
Long Fei tertidur di atas pohon Manmer yang semakin tinggi dan besar.
Sedangkan Ruo xi berlari lari sambil menari penuh kegembiraan, dikelilingi kupu-kupu putih bercahaya.
Lalu Long Fei terbangun dari tidurnya karena suara tawa yang sangat indah dari seorang gadis yang sangat mirip Ruo xi.
Ya itu sih memang Ruo xi yang sudah berrengkarnasi.
Tak berpikir sedikit pun, Long Fei langsung turun memeluk wanita yang dinantikan dan di rindukan nya selama seribu tahun ini dan mencium bibir Ruo xi.
Ciuman dari Long Fei seolah seperti sihir yang membuat Ruo xi mengingat masa lalunya.
Masih posisi berciuman, Ruo xi menitikkan air matanya, sedih sekaligus senang dengan kenangan indah bersama Long Fei yang terulang dalam pikirannya.
Ruo xi yang sudah mengetahui siapa pria yang menciumanya itu, tak ragu lagi Ruo xi membalas ciuman Long Fei.
Singkat cerita Ruo xi dan Long Fei menikah dan di karuniai sepasang anak kembar yang sangat tampan dan cantik.
Cinta mereka berdua tak lagi di halangi oleh hukum langit. Entah bagaimana bisa seperti itu, tapi ya sudahlah itu urusannya Dewi rengkarnasi.
Dan kini sempurna sudah kehidupan mereka berdua, menua bersama dengan umur ribuan tahun. Lalu meninggal bersamaan dengan tenang.
{Heppy Ending}
TAMAT.........
Terimakasih sudah membaca cerpen ini 😊,
kalo suka jangan lupa like and komennya ya;-)
Jika ada kata² yang kurang tepat, atau typo mohon dimaafkan🙏🙏🙏