Olivia adalah seorang penulis di salah satu platform online, karyanya banyak disukai pembaca. Kebanyakan pembacanya adalah kaum hawa, maklum genre romantis komedi dipilih Olivia untuk menarik minat pembaca, apalagi deretan mak-mak garis keras penggemar CEO. Keahliannya sukses mengobrak-abrik emosi pembaca, sehingga banyak pembaca yang memberikan like, komentar, dan juga tip pada novelnya.
Olivia juga penulis yang ramah, tak jarang ia membalas komentar para pembaca di novelnya. Dia sadar, tanpa pembaca dia bukanlah apa-apa. Seperti malam ini di kamar pribadinya, sebelum tidur ia selalu mengecek perkembangan novelnya.
Olivia membuka kolom komentar di bab terakhir, ia ingin tahu bagaimana respons pembacanya karena tadi pagi dia berhasil menamatkan ceritanya yang berjudul 'CEO tampan milik Pariyem'. Banyak reaksi pembaca di kolom komentar yang membuat Oliv tersenyum sendiri. Kali ini Olivia berhasil membuat pembaca menuntut ingin dibuatkan kelanjutan cerita musim kedua.
Olivia membaca komentar yang lain, ibu jarinya bergerak ke atas menggeser layar ponsel hingga ia berhenti ketika ada satu komentar yang ambigu menurutnya. Satu komentar dari pembaca yang royal pada novelnya. Pembaca dengan nama akun Jake Dawson. Dia menuliskan 'Sebenarnya aku menyukai semua ceritamu, tapi aku bosan dengan drama kehidupan orang kaya yang jatuh cinta pada si miskin. Apakah kau bisa menulis yang lain? Apa kau bisa menulis fantasi? Aku akan memberikan tip yang banyak untukmu." Olivia diam meresapi kata-katanya, ia berpikir bahwa pembacanya yang satu ini meragukan kemampuannya.
"Baiklah, aku terima tantanganmu Jake Dawson," ucap Olivia tersenyum sinis. Sebagai seorang penulis, Olivia ingin memuaskan apa yang diinginkan pembaca, apalagi Jake Dawson termasuk pembaca yang royal padanya, ia sering meberikan hadiah pada novelnya.
***
Dua minggu telah berlalu, Olivia dilanda stres karena cerita fantasi yang dibuatnya mengalami kebuntuan. Ternyata membuat cerita fantasi lebih sulit dari yang ia bayangkan. Sudah berjam-jam Olivia dikamar, tapi tidak mendapatkan ide juga untuk melanjutkan cerita yang sudah terlanjur dibuatnya. Besok pagi, ia harus segera mengirim naskah karena sudah dua hari ini Olivia tidak menambah bab baru. Beberapa kali ia mengetik beberapa kalimat tapi kemudian dihapus lagi.
"Semua ini karena Jake Dawson. Coba saja aku tidak tergiur dan sombong, mungkin aku tidak menerima tantangannya," ucap Olivia kesal lalu menuliskan nama Jake Dawson di kertas kemudian dicoret-coret, diremasnya, lalu dibuang ke sembarang arah. Itulah yang Olivia lakukan beberapa kali, hingga akhirnya lelah dan tertidur.
Pagi menjelang, embusan angin masuk hingga membuat tubuhnya kedinginan. Entah mengapa udara pagi ini terasa berbeda. Olivia menggeliat, merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Kesadarannya belum sempurna, dilihatnya sekeliling kamar, 'Aneh, mengapa kamarku besar ya?' batinnya. Olivia beranjak dari ranjang, ia mendengar suara bising dari luar dan ingin mengetahui kegaduhan apa yang terjadi. Saat melewati cermin besar, Olivia berhenti dan menatap cermin dengan perasaan aneh melihat sosok yang ada di dalam cermin. Penasaran, ia melangkah lebih dekat, tangannya menyentuh cermin, "Cermin ini nyata tidak tembus pandang. Lalu, siapa yang ada dicermin? Mengapa mirip denganku? Tapi ... dia berbeda." kemudian Olivia mencubit tangannya, "Aduh ... sakit. Berarti ini bukan mimpi."
Olivia masih mengingat-ingat apa yang terjadi, terakhir kali ia hanya mengingat ketiduran di kamar karena kelelahan tetapi kenapa saat bangun semua berubah! Di mana aku? Kenapa aku seperti mengenal tempat ini," pikirnya.
Olivia memutuskan keluar dari kamar, ia berjalan menapaki lorong-lorong bangunan ini. Sampai di sebuah aula besar, bukk ..., tiba-tiba kepalanya dipukul dari belakang, saat itu juga pandangannya kabur dan ambruk.
Di sebuah kastil tua, Olivia dikurung. Saat tersadar, ia melihat seorang pemuda tampan berdiri dengan pedang tajam ditangannya. Dia ingin bangun, tapi rantai besar membelenggu tangan dan kakinya.
"Bangun, penyihir!" bentak pemuda tampan itu
"Siapa kau? kenapa mengurungku?" tanya Olivia yang tau apa-apa tapi diperlakukan buruk pada orang yang tak dikenalnya.
"Jangan berpura-pura kau, Penyihir. Kali ini aku benar-benar akan menghabisimu." Pemuda itu mengangkat pedangnya tepat di leher Olivia hingga membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Aku bukan Penyihir, namaku Olivia. Aku tidak tahu, kenapa aku bisa di sini. Aku ingin pulang. Lepaskan aku, kumohon ...." lirihnya diiringi air mata yang lolos dari kedua matanya.
"Baiklah ... kau ingin lepas bukan? Tapi aku akan melepaskanmu ke neraka." Pemuda itu bersiap menebas kepala Olivia. namun, beruntung seseorang datang menghentikannya.
"Berhenti! Jake, dia bukan Azaera. Lepaskan dia!" perintah lelaki tua yang datang tepat waktu.
"Guru, aku tidak mungkin salah. Dia adalah penyihir jahat Azaera yang telah mengubahku seperti ini."
"Kau tidak percaya pada gurumu. Kau pikir Azaera bodoh, tidak bisa melepaskan diri dari rantai itu. Kau salah orang, karena saat ini penyihir Azaera sedang marah. Kau telah mengambil buruannya." Pak tua menunjuk Olivia yang ketakutan. "Cepat, pergi dari sini! Biar aku yang menghadapi mereka," lanjutnya.
Jake melepaskan Olivia, belum sempat mereka lari, pasukan Azaera sudah mengepung tempat ini dan bersiap menyerang siapa saja yang ada didalamnya. Perkelahian tak terelakkan, adu kekuatan tak seimbang karena pasukan Azaera terlalu banyak, sedangkan Jake hanya berdua dengan gurunya. Olivia hanya diam ketakutan dan memilih untuk bersembunyi.
Guru terlihat kelelahan menghadapi pasukan yang tak pernah ada habisnya. Mereka selalu datang dan datang lagi seperti tak pernah ada habisnya. Saat lengah, sebuah anak panah beracun menusuknya dari belakang tembus mengenai jantungnya. Darah mengucur deras, dari mulutnya keluar buih hingga membuat guru tumbang tidak bernyawa.
Jake melihat gurunya tewas di depan matanya. Amarahnya memuncak, matanya merah, ia berteriak buas hingga membuat pasukan berhenti bergerak. Tak sampai di situ, tubuhnya berubah berwarna hijau, tumbuh sisik mirip ikan tetapi lebih besar, di atas kepalanya muncul dua tanduk, dan tangannya berubah menjadi sayap. Jake mengerang kemudian terbang melesat ke atas. Suaranya mengerikan membuat Olivia yang sedang bersembunyi pun menggigil ketakutan. Merasa dirinya dalam bahaya, Olivia diam-diam keluar dari kastil tua. Untung saja tidak ada yang menyadari kepergiannya karena pasukan sibuk melepaskan anak panah ke atas menyerang Jake.
Olivia lari menuju semak belukar, akar yang menonjol membuatnya terjatuh beberapa kali tapi ia kembali terbangun dan berlari. Olivia berhenti mengatur napasnya yang terengah-engah, Dia berlari cukup jauh meninggalkan Jake bersama pasukan Azaera. Suara keras menggelar juga menakutkan menariknya untuk melihat ke belakang. Terlihat sesuatu hijau dan besar muncul dari langit, semakin turun semakin jelas terlihat sosok naga sangat besar sedang mengamuk, mengobrak-abrik kastil tua yang baru saja ia tinggalkan. Api keluar dari mulut naga, menyembur, dan membakar seluruh pasukan.
Olivia membulatkan bola matanya saat naga hijau mendekat ke arahnya. Setelah meluluhlantakkan bangunan itu, sang naga ternyata masih memburu mangsa. Olivia berbalik dan berlari sekuat tenaga, ia berharap tak bernasib sama seperti orang-orang yang terpanggang di sana. Akan tetapi, sang naga berhasil mencengkeram dan membawanya terbang.
***
Matahari pagi menunjukkan kekuasaannya, menyinari sepasang insan yang terlelap berselimut angin. Olivia membuka mata, melihat sekeliling ternyata ia berada di bawah pohon besar di atas tebing tinggi. Dia terkejut saat melihat ke samping, Jake tertidur. Olivia mengingat-ingat kejadian semalam, dia menyadari ada yang salah.
"Bagaimana bisa Jake ada bersamaku? Bukankah, dia berubah menjadi monster, dan ... naga yang membawaku? Oh, apakah Jake-?" gumam Olivia. Diperhatikan Jake lebih dalam ada gambar naga di tangan kanannya dan juga ada sisik berserakan di dekat Jake.
"Berarti Jake adalah naga hijau." Olivia mundur saat Jake mulai terbangun.
"Ja-Jake!" ucap Olivia ketakutan.
"Kau sudah tahu siapa aku sebenarnya. Pergilah! Maaf, aku sudah membawamu ke dalam masalahku." Jake bangun dan berdiri perlahan-lahan karena ia juga lemah saat kembali menjadi manusia.
"Jake, aku tak tahu harus kemana? Hanya kau yang ku kenal di sini. Aku ingin membantumu," ucap Olivia berdiri di samping Jake.
"Kau bukan penyihir Azaera tapi wajahmu mirip dengannya. Siapa kau sebenarnya?" tanya Jake.
"Namaku Olivia. Dalam duniaku, aku adalah seorang penulis. Aku belum mengenalmu Jake, bisa kau ceritakan padaku di mana aku sekarang."
"Jake Dawson, itu namaku. Kau lihat daerah kering dan kosong itu," ucap Jake sambil menujukkan bentangan tanah kering, "Itu adalah desaku. Desa berkabut yang dulunya adalah desa paling indah, makmur, dan penduduknya ramah. Penyihir jahat Azaera datang mengubah segalanya, dia menghancurkan desa, menjadikan penduduk menjadi pasukan yang tunduk padanya. Dia juga mengutukku menjadi siluman naga," jelas Jake tertunduk sedih mengenang masa lalunya.
Olivia merasakan kesedihan yang dialami Jake. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Jake, sepertinya namamu tak asing bagiku. Jake Dawson, desa berkabut. Oh ... tidak mungkin. Jake kau adalah imajinasiku. Desa berkabut juga penyihir Azaera ada dalam novel terbaruku," ucap Olivia tak percaya.
"Apa maksudmu?"
"Jake, percayalah ini semua ada dalam fantasiku. Aku tak menyukaimu jadi aku memasukanmu dalam karakter novelku." Olivia mencoba menjelaskan tapi Jake nampak tak mengerti sehingga Olivia melanjutkan ceritanya, "Jake, aku tahu semua tentangmu. Kau adalah Jake Dawson. Ayahmu bernama Abercio lalu ibumu bernama Ariana. Kau juga punya adik perempuan bernama Agsaina dan gurumu yang itu bernama Bedros."
"Semua orang juga tahu siapa keluargaku," balas Jake
"Baiklah, apa semua orang juga tahu kalau kau punya tanda lahir di paha kirimu?" tanya Oliv yang membuat Jake terdiam, mungkin sedikit mulai percaya.
"Baik, anggap saja aku percaya dengan ceritamu bahwa kau yang menulis ini semua. Apa kau tahu bagaimana cara menghilangkan kutukan ini?" tanya Jake
"Tentu saja, kutukan akan hilang jika ada seorang perempuan mencintaimu dan menciummu," jawab Olivia.
Jake menatap tajam Olivia, berpikir apakah benar yang dikatakannya bahwa kutukan akan hilang bila ada yang menciumnya. Sadar sedang diperhatikan, Olivia spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Hei, Mes*m. Kenapa kau menatapku seperti itu, aku tidak mungkin perempuan yang mau menciummu."
Jake tersadar dari lamunannya, sejenak ia terpanah dengan kecantikan alami Olivia.
"Siapa yang sudi menciummu," ucap Jake berbohong, padahal sebenarnya dia juga tak menolaknya. "Kalau begitu siapa perempuan yang akan melepaskan kutukan ini," lanjutnya.
"hmmm ... kalau itu aku tidak tahu."
"Apa kau bodoh? Bagaimana bisa kau menulis tapi tidak tahu." ejeknya
"Kau! Aku mau melanjutkan cerita tapi aku ketiduran dan saat bangun, aku sudah ada di tempat ini." Olivia merasa kesal dengan Jake yang menyindirnya, sama seperti Jake dalam dunia nyata.
kruk ... krukk ... suara perut Olivia berbunyi membuat Olivia malu dihadapan Jake.
"Kau lapar? Ayo kita cari makan," ajak Jake berjalan mendahului Olivia.
"I-iya dari kemarin aku belum makan, boleh aku minta pasta," jawab Olivia yang berjalan cepat mengejar Jake.
Jake berhenti tiba-tiba mendengar permintaan Olivia. Olivia yang kurang waspada pun menabrak punggungnya.
"Apa selain bodoh kau juga idiot, apa kau tidak sadar ini di zaman apa? Pasta tidak ada di sini. Kalau kau masih ingin hidup, makan apa saja yang ada," ucap Jake berbalik menatap Olivia sejenak lalu berjalan kembali.
Olivia menundukkan wajahnya, ia tak ingin membuat Jake marah. Dalam hati ia berkata 'Aku rindu rumahku, pasti Ibu membuatkan pasta untukku. Si Jake bodoh ini malah seenaknya saja memarahiku."
"Jangan mengumpatku!" teriak Jake yang berjalan agak jauh.
"Dia memdengarnya, padahal aku bicara dalam hati. Sepertinya yang cocok jadi penyihir itu dia," gumam Olivia kemudian berlari mengejar Jake.
Mereka sampai di sebuah desa yang belum tersentuh aura penyihir Azarea. Mungkin karena desa ini desa kecil dan terpencil, penyihir jahat tidak mengetahui keberadaan desa ini. Mereka pun di sambut oleh kepala suku, diberikan makanan juga tempat tinggal.
Saat Jake dan Olivia tertidur, di luar sudah banyak pasukan penyihir Azaera yang mengendap-endap masuk. Jake yang mendengar beberapa pijakan langkah terbangun. Di hadapannya sekarang banyak orang-orang yang dikenalnya, mereka adalah warga penduduk desa berkabut yang dijadikan pasukan oleh penyihir Azarea termasuk ayahnya yang saat ini berada di hadapannya.
Seorang perempuan dengan jubah hitam dan mahkota berlian di kepalanya berdiri di antara pasukan. Dia adalah perempuan yang paling ditakuti di negeri ini. Dialah penyihir Azarea. Aura hitam menguasai seluruh desa, tak ada warga yang tersisa karena semuanya sudah menjadi budak penyihir jahat itu.
Jake yang sudah menyimpan dendam, tak sabar ingin membunuh penyihir. Ia mulai mengerang, tubuhnya berubah berwarna hijau, Jake berubah menjadi naga yang buas. Naga terbang ke langit, penyihir jahat mengucapkan mantra, sekejap ia pun menjadi naga hitam menyeramkan. Perkelahian di langit sangat sengit, kilat dan api saling menyambar, langit malam seketika berubah menjadi merah menyala. Suara menggelegar saling adu kekuatan, sedangkan di bawah orang-orang sudah tergeletak tak berdaya.
Jake terluka, dia kembali menjadi manusia. Kakinya berdarah, dia tak bisa melawan kekuatan penyihir jahat. Sebuah kristal keluar dari tubuh jake, sang penyihir turun merubah dirinya menjadi wanita cantik. Sang penyihir berjalan mengambil kristal itu, namun dengan cepat Olivia berlari, ia lompat mengambil kristal itu dan langsung menusukkan ke jantung Azarea. Azarea berteriak karena memang kelemahannya adalah jantungnya ditusuk oleh kristal naga.
Azarea lemah dan keluar dua kristal dari dalam tubuhnya, milik Jake dan penyihir Azarea. Olivia memegangnya dan dengan bangga memiliki kedua kristal. Jake dan Azarea saling menatap kebingungan.
"Hahahaha ... akhirnya aku mendapatkan dua kristal naga yang menjadi legenda. Kini aku adalah penguasa yang abadi." ucap Olivia bahagia kemudian menatap Jake penuh iba.
"Jake, kau bingung? sudah kukatakan aku adalah penciptamu, Jadi aku yang menentukan bagaimana cerita ini akan berakhir. Kau hanyalah pionku agar aku bisa mengalahkan Azarea. Kini akulah sang penguasa."
"Kau salah, Olivia. Kau yang kalah. Kau yang terjebak dalam dunia fantasiku," ucap Jake tersenyum lalu tubuhnya hilang berubah menjadi cahaya hijau dan terbang ke langit.
Olivia menjadi penguasa desa berkabut, ia kekal dan abadi di dunia fantasi. Kekuatannya tak tertandingi karena berhasil memiliki dua kristal naga.
SELESAI
Terjebak Di Dunia Fantasi. by Jake Dawson.
Seseorang menutup naskah yang baru saja selesai ia baca.
"Wah, kau hebat Jake. Aku selalu suka dengan ceritamu. Jika ini diterbitkan, aku yakin pasti meledak di pasaran. Mengapa kali ini kau menggunakan dirimu dalam cerita ini," ucap seorang editor yang puas dengan cerita Jake.
"Aku hanya ingin membuat cerita ini terasa lebih nyata," balas Jake, lelaki tampan yang memiliki gambar naga di tangan kanan ini, dengan santai menyulutkan sebatang rokok di mulutnya.
"Lalu, Olivia. Apakah dia nyata?" tanya editor yang penasaran dengan sosok Olivia.
"Olivia ... Olivia hanya hidup dalam fantasiku." Jake Dawson berdiri menatap luar dari balik jendela.