Duaarrrr. Guntur bergemuruh dan kilat memancarkan cahaya nya. Putri Saphira yang sedang tertidur pulas terbangun terhenyak seketika karena suara petir.
"ALMIRAA...!" teriak putri Saphira memanggil pelayan nya.
Almira yang berada di luar pintu kamar sang putri langsung masuk dan tergopoh.
"Hamba yang mulia putri raja!" tutur sang pelayan istana.
"Bawakan aku segelas susu dan anggur kering!" titah sang putri Saphira.
Saphira merasa tak nyaman setelah terbangun dari tidurnya. Kamar yang mewah terasa menyeramkan baginya. Pelayan istana sudah menyiapkan pesanan sang putri dan kembali berjaga di depan kamar tuannya. Begitulah keadaan putri Saphira yang selalu dijaga ketat dan tak diperbolehkan untuk keluar dari istana. Umurnya sudah menginjak 18 tahun. Tapi, raja dan ratu tetap saja mengutus orang untuk melindungi putri di depan kamarnya.
Waktu pagi dan siang hari hanya dihabiskan putri Saphira untuk memperdalam ilmu pengetahuan nya. Semua orang di istana ini memperlakukan nya seolah ia hanya seorang anak kecil yang masih perlu perlindungan. Saphira sudah muak dengan itu semua. Ia selalu menginginkan kebebasan.
"Aku harus mencari cara agar suatu hari aku bisa keluar dari istana ini!" lirih sang putri.
"Maaf tuan putri, Yang Mulia Raja memanggil anda menghadap!" titah Almira.
"Ada apa lagi sih ayahanda memanggilku!" ucap Saphira kesal.
"Kamu tunggu disini! biar aku menghadap Raja seorang diri!" titah Saphira.
"Tapi tuan putri, hamba tidak boleh meninggalkan tuan putri seorang diri!" ucap Almira.
"Baiklah, kamu hanya boleh dibelakang ku sejauh lima meter! jangan terlalu dekat dengan ku!" titah Saphira.
Mereka berdua berjalan menghampiri Raja dan Ratu yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
Raja menyampaikan tujuan nya memanggil Saphira. Ia mau menjodohkan putrinya itu dengan pangeran Albertus dari kerajaan Batemour.
"APA...? APAKAH AYAHANDA SEDANG BERCANDA?" Saphira meninggikan suaranya.
"Janganlah bersikap tak sopan putri ku!" ujar sang Ratu penuh wibawa.
"Tapi ibunda, ananda tak mau menikah dengan pria yang ananda tak cintai!" sahut Saphira.
"Apa? cinta? apakah ananda tahu apa itu cinta? apakah ananda juga tahu kapan cinta itu akan datang?" tanya sang Ratu penuh wibawa.
"Tenang lah ananda! ayahanda akan memberikan waktu dan kesempatan agar kalian berdua bertemu dan berkenalan!" Raja tersenyum penuh arti.
"Terserah kalian lah! aku malas menanggapi nya!" Saphira menyahut dengan kesal.
Ia meninggalkan Raja dan Ratu tanpa permisi. Baru kali ini ia benar-benar ingin meninggalkan istana. Ia ingin kabur dan tak mau menikah dengan pangeran Albertus.
Seminggu telah berlalu. Pangeran Albertus beserta rombongan tiba. Albertus menampakkan wajah dinginnya. Wajahnya terlihat tampan, tapi raut wajah yang dia miliki terlihat sangat arogan dan tak mau di dekati siapapun.
Saphira dan Albertus berjalan bersama di sebuah taman labirin.
"Putri, saya tahu anda menolak keputusan ini! aku juga sama sepertimu! aku belum mau menikah! aku masih menginginkan kebebasan!" ucap pangeran Albertus.
"Aku ingin bebas seperti mu! tapi semua orang diistana ini selalu menjagaku!" putri bersedih.
Tak ada getar asmara antara keduanya. Mereka berdua hanya saling berbagi pengetahuan yang mereka pelajari. Tiba-tiba sang pangeran berencana mengajak putri keluar dari istana.
"Benarkah kamu mau membawa ku keluar dari sini?" Saphira mulai riang dan bersemangat
Albertus hanya mengangguk. Mereka meminta ijin pada Raja dan Ratu. Mereka berdua pergi berkuda tanpa didampingi seorang pengawal pun.
Karena permintaan pangeran Albertus tak mau mereka dikawal oleh siapapun. Keduanya saling berpandangan ketika berada diatas kuda.
Kuda berjalan perlahan, mereka berdua menikmati pemandangan sekitar. Banyak orang yang menunduk ketika berpapasan dengan keduanya.
"Mau kemana kah engkau putri Saphira?" tanya Albertus.
Belum sempat menjawab.
Tiba-tiba ada dua orang perampok yang kabur dari kejaran orang-orang di pasar.
Albertus tersenyum senang. Ia turun dari kuda dan berkata pada Saphira.
"Tunggu disini! aku akan memberikan pertunjukan yang bagus!"
Saphira hanya mengangguk. Ia melihat Albertus mengejar perampok dan memukul kepala mereka. Pertarungan sengit pun terjadi. Albertus hanya terkena luka ringan di sudut bibirnya. Sementara perampok itu luka berat dan ada yang pingsan.
Plok, plok, plok.
Saphira bertepuk tangan riang.
"Kamu sungguh hebat berkelahi pangeran Albertus! " ucap Saphira kagum.
Albertus kembali naik keatas kuda. Mereka berdua kembali menyusuri jalanan. Tibalah mereka di tengah hutan yang masih asri dan tak ada seorang pun yang berani mendekat. Hutan Andelle terkenal dengan rumor bahwa ada makhluk abadi menyeramkan yang berkuasa di dalamnya.
Putri Saphira tak tahu akan rumor tersebut. Ia hanya berada didalam istana selama ini. Inilah pertama kalinya ia keluar dari istana.
"Hutan ini sungguh indah! aku belum pernah pergi kehutan sebelumnya." Saphira sungguh bersemangat.
"Benarkah? apakah kamu tahu bahwa setiap tempat mempunyai sebuah rahasia besar didalamnya?" tanya Albertus.
"Tidak mungkin! hutan ini pasti mendapat berkah dari banyak dewa! lihatlah pohon yang menjulang tinggi dan aneka buah yang tumbuh dengan baik disini!" Saphira mulai turun dari kuda.
Ia merentangkan kedua tangannya, seakan menikmati keindahan alam di hutan ini.
Gemericik suara air terdengar ditelinga nya. Ia setengah berlari mencari tahu suara itu.
"Wah, indah sekali air terjunnya!" Saphira takjub dengan pemandangan di depannya.
"Jangan senang dulu tuan putri Saphira!" Albertus tersenyum licik.
Ia turun dari kudanya dan melompat masuk kedalam air terjun. Seketika ada makhluk keluar dari sana.
Byaaarr, byurrrr.
Seekor naga berwarna hijau dan campuran jingga muncul di depan Saphira. Saphira melongo tak percaya. Ia masih terpaku tanpa menjauh dari naga itu. Rasa takut dan takjub berkumpul menjadi satu. Ia pikir selama ini naga hanyalah makhluk mitos semata.
Naga itu melebarkan sayapnya. Ia menatap Saphira yang masih diam terpaku.
"Tenanglah tuan putri! aku ini pangeran Albertus!" ucap naga itu yang bersuara besar dan menggelegar.
"Apa? benarkah? aku tak percaya padamu! dimana dia sekarang? aku ingin pulang secepatnya!" Saphira mulai bergetar ketakutan. Ia melangkah mundur perlahan.
Mata naga mengawasi Saphira. Pangeran Albertus hanyalah jelmaan sang naga. Pangeran Albertus sebenarnya masih berada di kerajaan nya sendiri.
"Ha..ha..ha! aku ini memang lah seorang pangeran tuan putri! naiklah ke atas punggung ku! kamu akan aku ajak berkeliling mengitari kerajaan ini!" suara naga itu bergema.
"Aku tak pernah percaya padamu!" Saphira gemetar dan mulai berlari menjauh dari naga.
Naga itupun tak diam. Ia memainkan ekornya untuk menjatuhkan Saphira. Saphira terjerembab ke tanah. Dahinya terluka terkena batu. Naga itu langsung menaikkan Saphira ke atas punggung nya. Ia mengepakkan sayapnya untuk terbang.
Naga terbang rendah. Para rakyat kerajaan Batemour ketakutan dan memilih masuk kedalam rumah masing-masing. Suasana sungguh diluar kendali. Beberapa kali naga itu menyemburkan apinya kesegala arah.
Istana pun terlihat dan naga mendarat dengan indah di aula kerajaan. Matanya nyalang menatap sekeliling. Prajurit mengitari nya dengan pasukan dan senjata tajam. Naga itu hanya tersenyum meremehkan.
Ya, Ia naga yang besar dan kuat. Sementara mereka hanya kumpulan orang-orang kerdil. Begitulah pemikiran Betrand sang naga.
"Panggil raja kalian untuk keluar atau akan aku bunuh putri Saphira!" panggil sang naga.
Sontak semua isi istana terkejut akan permintaan Betrand. Sebenarnya apa hubungan naga ini dengan raja.
Raja yang mendengar suara Bertrand akhirnya pergi menemui nya.
"Akulah Raja Batemour! lepaskan putriku! maka aku akan berbaik hati padamu!" suara Raja lantang.
"Tidak mungkin aku melepaskan Saphira yang akan menjadi penerus ku kelak!" ucap Betrand.
"Apa kamu bilang? jangan bercanda dengan ku!" bentak sang Raja.
"Dia ini anakku! kamu tak berhak akan hidupnya. Selama ini kamu menyembunyikan nya dariku Raja Batemour yang sombong!" ucap Betrand sang naga.
"Tidak dia itu putri ku, dia tidak akan pernah menjadi naga seperti kamu!" ucap Raja lantang.
Ratu hanya bisa menangis mendengar perkataan Raja dan naga.
"Dia itu putri ku, kamu dan prajurit mu membunuh istriku ketika dia berubah jadi manusia! aku tak akan tinggal diam! kalian harus merasakan akibatnya!" seru Bertrand.
Naga mulai membangun kan Saphira. Ia mencekoki Saphira dengan air terjun tadi. Seketika Saphira sadar. Dan ada perasaan aneh di dalam tubuhnya.
Bertrand mulai membakar seluruh istana. Ia harus membalas dendam atas Kematian istrinya sepuluh tahun yang lalu. Tak butuh waktu lama, istana sudah terlahap oleh api sang naga. Saphira hanya bisa melihat saja. Ia masih bingung kenapa sekarang perasaan nya tak enak.
"Saphira anakku! kamu adalah anak kandung ku! mereka membunuh ibumu sewaktu kamu masih kecil! sekarang bergabung lah dengan ayahmu ini!" ucap Bertrand.
Saphira mulai berubah menjadi naga berwarna biru safir. Sisiknya berkilauan. Kukunya tajam dan sayapnya sungguh indah.
"Benarkah aku seekor naga? benarkah semua ini? ini semua bukan mimpi kan?" tanya Saphira yang sudah berwujud naga biru safir.
"Iya anakku! kamu mirip sekali dengan ibumu!" Bertrand pun mengangguk.
Seluruh kerajaan Batemour sudah hancur lebur dilalap api. Kini ayah dan anak itu kembali ke tempat mereka dan bersembunyi dari para manusia keji dan kejam. Keduanya sudah pergi jauh dari peradaban manusia.
*Selamat membaca
Jangan lupa untuk hatinya🥰