Perkenalkan Namaku Nurul Apriani Asyifa aku adalah seorang gadis yang sangat pendiam dan jarang untuk tersenyum dan aku hanyan menampilkan wajah datarku saja tapi di balik itu aku menyimpan seribu luka dan rasa sakit yang ku rasakan bayangkan saja sejak dari kecil dia selalu di pukuli oleh ibunya bukan hanya di pukulin dengan sapa tapi ibunya juga sangat tega untuk menginjak-injak tubuhnya sambil mencaci maki dirinya Nurul kecil Anya bisa menangis dan menangis hati sangat sakit mendapatkan perlakuan seperti itu dari sang ibu hingga dia di masukkan ke pesantren oleh keluarga ayah nya di pesantren bukan malah berkurang penderitaan nya justeru makin menambah dia sering di fitnah oleh temenny dan kakak kelasnya dia juga sering di jadikan kambing hitam oleh temen-temennya untuk di hukum.
"Tuhan kenapa kau tidak pernah kasihan terhadap ku"
ucapnya sambil meneteskan air mata lalu ada orang yang mendatanginya yg dari tadi mendengar ucapannya orang itu berkata
"jangan pernah menangissi orang-orang seperti mereka air matamu sangat berharga"
dan Nurul pun hanya terkekeh pait dan berakata
"aku tau aku memang bodoh dan tak berguna kak apa kakak juga sama seperti mereka? yg hanya bisa membuatku terluka dan menambahkan rasa sakit yang aku Pendem selama ini kak Afraa?"
ucapannya sambil terisak kak Afraa pun menjawab
"Nurul tatap mata ku dan lihatlah baik-baik ini sekian kalinya aku berkata kepadamu dan sebelum kak Ana datang untuk menceramahi mu aku cuma mau berpesan kepada mu jadilah diri sendiri jangan pernah menjadi diri orang lain contohilah yg baik-baik dan jangan pernah melakukan hal yang membuat dirimu dalam bahaya ini pesen dari dan kak Ana untuk mu Nurul"
setelah kak Afraa berbicara keheningan pun terjadi sampai tiba-tiba ada seorang wanita cantik berjilbab nan anggun datang kepada ku
"Assalamualaikum Nurul Afraa sedang bicara apa kalian sampai serus begitu dan Nurul kenapa kau menangis apa si kacamata (Afraa) itu yang membuat mu nangis "???"
kata perempuan itu ya dia adalah kak ana seorang wanita berkulit hitam manis nan datar, kak Afraa pun angkat bicara untuk membela diri nya
"enak saja kau menuduh diri ku kan kau tahu aku gak akan pernah membiarkan nya keluarkan air mata nya karena air mata nya sangat berharga bagi ku" kak Ana pun menjawab sambil terkekeh
"Maaf eheh kan cuma bercanda kak Afraa jangan di hanggap serius dong, ohiya hampir lupa Nurul kamu gak siap-siap kan kamu mau dawa (undangan) bentar lagi" aku pun menjawab sambil tersenyum
"Astagfirullah maaf kak Nurul lupa makasih ya kak udah selalu mengingat kan Nurul lupa kak Nana (Ana) dan kak Rara (Afraa) emang yang baik deh Nurul sayang kalian berdua 😊 Nurul pergih dulu ya kak jangan lupa sama Nurul, Nurul sayang sama kalian dan kalau Nurul pergih kalian jangan pernah menangis karena kalian Air mata kalian sangat berharga bagi Nurul kak Assalamualaikum dadah kak wassalamu'alaikum ☺️☺️" aku tidak tahu kenapa aku berbicara seperti itu, karena perasaan ku tidak enak seolah-seolah ada hal buruk yang akan terjadi kepada ku dan aku merasa aku akan pergi meninggalkan mereka berdua untuk selamanya.
"waalaikumsalam warhamatullahi wabarhakatu Nurul" jawab mereka berdua kompak mereka pun terdiam sejenak setelah mereka berdua melihat senyum ku untuk pertama kalinya sekaligus yang terakhir kalinya, mereka berdua melihat ku dengan tatapan mata yang sulit di hartikan ada tampak kesedihan dan rasa takut kehilangan di mata mereka mereka memikirkan apa yang ku pikirkan mungkin,.
setelah habis dari tempat berkumpul aku pergi menuju kamar ku yang berbeda di lantai dua tapi ada seorang guru yang meminta tolong kepada ku untuk menghambil dagangan ustazah di rumah nya yang berbeda di sebrang jalan, aku pun bergegas pergi menuju rumah ustazah tersebut tanpa ku sadari ada sebuah mobil yang melaju sangat kencang ke arah ku belum sempat aku menghindar mobil itu sudah menabrak diri ku sampai terpental orang-orang pun berdatangan termasuk kak Afraa dan kak Ana sambil berlari ke arah ku, aku pun berkata,
"Apakah ini ahkir hidup ku kalau begitu aku ikhlas ya Allah" ucap ku dengan nafas yang semakin melemah
Tamat